Hantu Penyambung Lagu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 September 2021

Sore itu, aku dan kedua temanku, Shilla dan Dena, mencari tempat teduh untuk istirahat. Kami kepanasan setelah selesai bermain. Kebetulan di belakang rumah Shilla banyak pohon-pohon dan ada sebuah gubuk yang tidak berdinding. Tempatnya enak banget buat ngadem. Di belakang gubuk itu ada kebun yang sudah tidak terawat lagi. Dipenuhi tumbuhan berduri dan semak-semak.

Shilla bilang kalau kebun itu dahulunya merupakan kuburan orang-orang lama. Tetapi dia tidak tahu juga pastinya. Cerita itu memang sudah turun-temurun, berkembang dari mulut ke mulut. Kami mengetahuinya juga dari para orangtua kami. Banyak juga larangan-larangan dari tetua-tetua disini untuk anak-anak muda.

Di tempat kami memang banyak yang berbau-bau mistis. Kepercayaan sebagian masyarakat masih kental. Hal yang boleh saja tidak dipercayai orang lain, namun aku percaya. Jika yang ghaib itu ada

Aku lirik sebentar kebun itu. Ada yang aneh, namun itu mungkin hanya firasatku saja. Tapi firasat terkadang kerapkali salah, tetapi kadang juga benar. Aku abaikan pemikiranku yang berkeliaran itu. Dan kembali menikmati semilir angin yang sepoi-sepoi.

Ini juga baru pertama kali aku nongrong di belakang rumah Shilla. Biasanya kami hanya bermain di dalam rumah ataupun pergi ke alun-alun melihat pertunjukan kesenian. Tapi hari ini kami urungkan.
Tempatnya benar-benar sejuk. Kami memainkan ponsel sambil bercerita. Aku yang tertawa mendengar cerita Shilla karena lucu, dan juga Dena yang menimpali dengan lawakan-lawakannya.

“Eh lo pada tahu ngga? Kalau Naufal itu pernah ngompol di celana waktu dideketin cewek?” tanya Shilla antusias.
Naufal adalah salah satu teman kami di kelas. Anaknya memang cupu dan sering dibully.
“Eh masa sih? Tuh anak emang culun,” timpal Dena, kemudian tertawa.
“Udah ah, ngga boleh gitu, kasihan,” ucapku, namun juga ikut tertawa teringat wajah naufal yang super culun.

Tenggorokanku kering juga karena bercerita dan tertawa. Lalu aku meminum air yang tadi kami beli di warung. Setelah aku meminum air, Shilla bernyanyi-nyayi kecil.
Lagu yang kami betiga sukai, yaitu lagu Gaby yang judulnya Tinggal Kenangan. Sehingga aku dan Dena pun ikutan bernyayi. Lagu itu sudah menjadi lagu wajib yang kami putar saat nongkrong bersama. Selera musik kami bertiga juga tidak terlalu jauh. Hanya saja kemampuan dan suaraku yang tidak enak didengar. Kalau Dena lumayan daripada aku. Namun tidak lebih bagus daripada suara Shilla.

Bait pertama dinyanyikan oleh Shilla, dan berjalan mulus. Pernah ada rasa cinta …, antara kita …, kini tinggal kenangan … dan seterusnya dinyanyikan dengan baik.
“Gila, makin bagus aja suara kamu Shil” pujiku. Selanjutnya kami bernyanyi bersama-sama, dengan suaraku yang cempreng. Alhasil Shilla menyuruhku diam, katanya merusak nada.

Lagi-lagi Shilla menyanyikan lagi dari awal dengan tempo yang agak lambat. Pernah ada …, “ehm, suara gua serak nih” ucap Shilla lalu ia meneguk air mineral.
Namun tiba-tiba lirik lagunya ada yang menyambung. Rasa cinta … antara kita … kini tinggal kenangan … Suara perempuan. Bukan aku. Lalu kulirik Dena bukan juga. Bulu kudukku meremang. Lantas kami sama-sama berlari ke rumah Shilla. Sampai-sampai nafasku tersengal-sengal. Kami secara bersamaan berebut masuk ke dalam rumah. Satu pintu jadi rebutan untuk badan kami masuk. Badanku yang kecil rasanya sangat sakit terjepit diantara badan Shilla dan Dena yang berisi. Namun bisa lolos juga karena Dena mengalah dan masuk paling akhir.

Sesampainya di dalam, Shilla bertanya, “Kalian dengar hal yang sama juga kan?” Shilla berusaha mengatur nafasnya. Sontak aku dan Dena mengiyakan. Bulu kudukku belum berhenti meremang. Mukaku mungkin sudah pucat saking takutnya.
”Gua takut banget Shill” ucap Dena gemeteran.
“Gua kayaknya izin pulang dulu,” tambahnya.

Dena pulang ke rumahnya dengan berlari, sepertinya dia bakalan trauma nongkrong di dekat rumah Shilla. Tinggal aku dan Shilla di rumahnya. Hanya kami berdua. Dalam ketakutan. Ibu dan Ayah Shilla belum pulang bekerja.

Lagu itu kembali disambung oleh makhluk yang aku sendiri tidak tahu apa. Namun aku sendiri walaupun takut juga penasaran. Ingin memastikan kalau yang menyambung lagu yang kami nyanyikan bukan manusia. Letak rumah Shilla dan kebun tersebut tidak terlalu jauh. Saking penasarannya aku mengajak Shilla kembali ke gubuk itu.

“Shill, emangnya lo ngga penasaran? Siapa tau aja nih yang nyambung lagu kita tadi manusia,” kataku lirih.
“Ngga berani gua, ya siapa lagi coba, ngga ada siapa-siapa disana,” jawab Shilla sekenanya. Sepertinya jika aku ajak Shilla ke sana lagi dia tidak akan mau. Maka kuputuskan untuk pulang ke rumah. Asalkan kalian tahu, jalan ke rumahku melewati kebun tersebut. Ngeri-ngeri sedap rasanya.

Aku berjalan di sana pelan-pelan, bulu kudukku berdiri semua. Aku mendengar suara gemerisik-gemerisik dedaunan. Kuberanikan melirik ke arah kebun itu. Aku melihat sepasang bola mata merah sekilas. Ya tuhan, aku benar-benar merasa lemas. Dalam hitungan tiga aku langsung lari dengan cepat ke rumah. Menceritakan kepada Keluargaku namun mereka tidak ada yang percaya. Apalagi ayahku, malah tertawa sangat keras.

“Ada-ada aja kamu, yakali dulu hantunya ngebet banget pengen jadi penyanyi,” ucap ayah disela tawanya.
Aku pun jadi ikutan ketawa. Namun sepasang mata merah itu masih terbayang-bayang olehku setiap malam. Membuat aku jadi tidak bisa tidur.

Sebuah kebiasaanku kalau tidak bisa tidur biasanya aku menghidupkan playlist lagu-lagu kesukaanku. Setelah lima menit, ternyata ponselku kehabisan daya. Waktu itu sedang memutar lagu Shepia dari Sheila On Seven, dan di lirik lagu “Selamat tidur kekasih gelapku ….”

Aku segera mengambil charger untuk mengisi daya ponsel. Namun sayup-sayup kudengar dari luar jendela kamar orang bernyanyi. Tepatnya menyambung lirik lagu yang tadi sempat terhenti.

“semoga cepat kau lupakan aku …” Dengan suara yang amat pelan, lirih dan sedikit bergema.

Tidak salah lagi. Hantu penyambung lagu itu mengikutiku sampai ke rumah. Aku pastikan, dengan mengintip di dekat tirai jendela ke arah luar. Tidak ada siapa-siapa. Dua bola mata bewarna merah mengintip di balik pohon yang ada di luar. Pandang kami bertemu. Namun sebentar saja. Wujudnya menghilang lagi. Seketika cicak di kamarku heboh. Anjingku yang semula diam dalam kandangnya, melolong dengan panjang.

Aku dengan cepat menghubungi Shilla dan Dena setelah ponselku baterainya terisi penuh. Karena hari sudah larut malam, tidak ada satupun yang mengangkat telepon.

Aku menahan takut sekaligus ingin buang air kecil. Suara itu kembali terdengar menyambung lirik demi lirik lagu Sheila On Seven. Aku mulai terpikirkan kata-kata Ayah, jangan-jangan hantunya dulu ngebet jadi penyanyi. Untung saja dia hanya mengetahui lagu-lagu lama, tidak lagu-lagu alay zaman sekarang. Kan ngga lucu aja hantunya jadi ikutan alay.

Cerpen Karangan: RenaiLikeRain
Blog / Facebook: Reni Putri Yanti

Cerpen Hantu Penyambung Lagu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata

Oleh:
Siska menuruni tangga pelan. Gadis cilik yang cantik ini tengah mencari seseorang. Tania, sahabatnya, belum ditemukan sejak pesta kelas VI selesai. Sebelumnya Tania mau buang air di toilet. Tapi

My Twins

Oleh:
Hari ini shania tampak tidak bersemangat pergi ke sekolah, dia berjalan di koridor dengan langkah gontai. Di luar langit tampak mendung disertai hujan gerimis tampaknya pagi ini cuaca sedang

Perantara

Oleh:
27 Desember 2016 “Ga mau ah. Kenapa sih kita harus pindah-pindah rumaaaaah terus?” Hahhhhh, aku menghembuskan nafas keras. Memang sudah menjadi kewajiban ayahku memenuhi tugas dari atasannya, jadi ini

Horor Mencekam

Oleh:
Jam dinding berbunyi menunjuk 08:23 malam. Kamis-22-2012. Malam ini sepi tanpa suara tawa yang ingin ku dengar. Hujan malam ini menyisahkan rintik yang sepenuhnya belum berakhir. Suara musik dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *