Hantu Rumah Kosong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Aura di sekitar jalan menuju kos tempatku tinggal sekarang memang terasa agak berbeda. Suasana jalanya begitu sepi, tanpa ada lalu lalang kendaraan maupun orang, dan di pinggir jalan tumbuh pohon-pohon besar, yang menambah aura mistis begitu kental terasa. Apalagi sekarang sudah hampir jam dua belas malam, harus kulewati jalan itu seorang diri, karena ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan malam itu juga di kampus tadi, aku harus menyusuri jalan ini di malam hari. Ini pertama kalinya aku melewati jalan itu malam hari, tak pernah kusangka akan seperti ini rasanya. Terus jalan, memandang ke depan tanpa menoleh-noleh itulah yang aku lakukan demi mengurangi rasa takut yang mulai aku rasakan, tapi, tiba-tiba terdengar.

“Ayu… Ayu…” Tiba-tiba terdengar suara lirih memanggilku dari arah belakang, rasa takutku seolah menyebar ke seluruh tubuh.
“Siapa itu” Kataku sambil menoleh ke belakang, yang teryata tidak ada siapa siapa, fikiranku mulai melayang ke mana-mana tanpa otakku bisa mengontrolnya, tapi aku coba untuk bersikap tenang sambil meneruskan jalanku seperti tidak terjadi apa-apa, walau rasanya ada yang sedang mengawasiku dari belakang.

Tidak terasa teryata aku sudah berada di depan sebuah rumah kosong yang cukup besar, cat putih dan banyak sarang laba-laba di area depan rumah, ditambah lampu yang hidup, mati, hidup, mati, langsung membuat bulu kudukku berdiri semua. Menurut kabar burung yang aku dengar, dulu ada seorang anak perempuan membunuh ayah dan ibunya sendiri waktu tidur, dengan cara menusuknya menggunakan pisau dapur berkali-kali, dan anak itu menggantung dirinya sendiri di depan mayat ayah dan ibunya itu, setelah melakukan semua itu.

“Ayu, tolong” kini suara itu terdengar di dalam rumah angker itu, seketika itu pula tanganku mulai gemetaran tak terkendali. Aku berusaha mengabaikan kembali suara- suara itu dan terus saja berjalan.

“Toloong aku” Suara itu terdengar lirih, kembali tertangkap ke dua gendang telingaku, seolah memendam rasa sakit yang begitu mendalam.

Lari seketika, itulah yang tubuhku kehendaki setelah beberapa kali terdengar suara-suara aneh dari belakang dan rumah itu. Aauu!!!, “sial” kataku, karena lari terburu-buru aku tersandung sesuatu yang membuatku jatuh tersungkur itu, mataku mulai mencari-cari apa yang sampai membuatku jatuh itu, akhirnya yang kutemukan adalah sebuah boneka beruang yang sudah terlihat lusuh, dan kepalanya sudah terlepas dari tubuhnya itu yang membuatku terjatuh. Takutku semakin menjadi jadi, melihat apa yang membuatku terjatuh itu, tanpa fikir panjang langsung aku tinggalkan boneka itu dan terus berlari menju kos yang mulai terlihat.

Sesampainya di kos, hatiku masih berdetak begitu kencang, keringat-keringat masih mengucur deras dari seluruh badanku, aku tenangkan diriku sejenak, sambil minum teh hangat dan mengambil nafas panjang lalu mengeluarkanya aku lakukan berkali-kali, hatiku mulai tenang. Akhirnya aku putuskan membersihkan badanku dulu sebelum tidur, selesai mandi aku duduk di sofa sambil memikirkan kejadian yang barusan terjadi yang masih membuat bulu kudukku berdiri semua itu. Tidak begitu lama rasa takutku berubah menjadi rasa kantuk yang sudah tidak bisa aku tahan lagi. Akhirnya aku baringkan badanku di ranjang tidur dan mulai aku pejamkan kedua mataku.

Tokk… Tokk…, tiba-tiba terdengar suara aneh itu membangunkanku dari lelapnya tidurku malam itu. “Tokk… Tokk…”, suara itu kembali terdengar dan asalnya teryata ada di luar kamarku, akhirnya aku putuskan untuk memeriksa sumber suara itu, pintu kamar mulai aku buka perlahan, mataku mulai mencari-cari asal suara itu dari sela pintu yang aku buka sedikit itu.

“Tokk… Tokk…” kembali terdengar suara itu, yang akhirnya aku tau asal suara itu berasal dari arah dapur. Aku berjalan ke arah dapur, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, di dalam dapur terlihat ada sesosok seorang anak kecil perempuan rambut panjang, memakai baju serba hitam dan terlihat banyak noda darah itu sedang menghadap tembok, sambil membawa boneka beruang tanpa kepala yang aku tau itu adalah boneka yang membuatku jatuh tadi di tangan kiri, dan menusuk-nusukuk tembok memakai pisau dapur menggunakan tangan kanannya.

“Si ‘ siapa kamu?” Tanyaku terpatah memberanikan diri.
Kakiku dan tanganku mulai gemetar ketakutan, mataku seolah tidak biasa mengalihkan pandanganku ke arah anak itu.
“Kakak, boneka kak, boneka” Anak perempuan itu menjawab sambil menatap ke arahku.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha menggerakkan kakiku yang masih gemetaran itu, masuk ke dalam kamar meningkalkan anak itu. Tapi seolah tak percaya, anak itu sudah ada di dalam kamarku berdiri di atas tempat tidurku sambil tersenyum menakutkan, kedua matanya menatap tajam ke arahku.
“Kak… kak…, boneka!!!” Kembali anak perempuan itu menanyakan boneka.

Mulutku sudah tidak sanggup berkata-kata, air mata mulai keluar dari kedua bola mataku, tanganku coba meraih daun pintu tapi ternyata pintu itu terkunci.
Anak perempuan itu mulai mendekat ke arahku, yang bisa aku lakukan hanyalah terduduk di lantai sambil menangis menatapnya.

“Kak…, boneka kak…” anak itu menanyakan kembali bonekanya sambil mengarahkan mata pisau dapur yang ada di tangan kananya ke leherku.
Dinging mulai terasa di sekujur tubuhku, kulihat darah sudah membanjiri lantai kamarku dan tiba-tiba saja semua menjadi gelap…

Cerpen Karangan: Wakhid Abdul Rohim
Facebook: Ryu Takumi

Cerpen Hantu Rumah Kosong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarinah (Last Part)

Oleh:
Audy, Andre dan July memalingkan pandangannya kearah kanan mereka begitu terlihat ada seberkas cahaya dan bayangan seseorang dari arah dapur. Mbok Surti berjalan pelan-pelan, tangan kanannya memapah Mbah sarinah

Cermin Setan

Oleh:
“kamu Ibu hukum, bersihin gudang sana” “busyet, gudang itu kan udah lama nggak dijajah, Ibu yang bener aja” gumamku hanya berani dalam hati. “ya Bu” jawabku. “Santi, Ibu harap

Rintihan Gadis Kecil

Oleh:
Jam sudah menunjukkan pukul 17:45 WIB dan aku masih saja berada di jalan bersama sepeda motor kesayanganku. Kupercepat laju motorku tapi tetap saja jalanan ini terasa sangat jauh padahal

Damned Song (Gloomy Sunday)

Oleh:
Namaku Alice Safitri, biasa dipanggil Alice. Alice berumur 13 tahun. Tepatnya kelas 1 SMP. Lagu Gloomy Sunday berkumandang. Menurut Alice, lagu itu sangat bagus. Setiap hari ia mendengarkan lagu

Persami

Oleh:
Aku adalah senior di salah satu SMA di kota ini. Aku memiliki dendam kepada seniorku terdahulu. Kala itu aku masih menjadi junior yang mungkin bagi mereka adalah makanan empuk.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *