Hari Pertama Pindah Sekolah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 1 December 2018

“Yana, ke kantin yuk?”
“Eh, aku sudah bawa bekal”
“Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya”
Aku mengangguk tersenyum.

Ini hari pertama aku di sekolah baru, karena suatu alasan yang membuatku harus pindah sekolah. Sedikit kesal memang ketika harus meninggalkan sekolah lama, meninggakkan semua teman-teman yang sudah dua tahun bersama, tapi mau bagaimana lagi keinginan orangtua tidak bisa kutolak.

Waktu itu aku mengira pindah sekolah adalah hal yang paling tidak menyenangkan, terbayang di kepalaku aku dicuekin dan tidak punya teman karena dianggap asing. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, tadi ketika baru masuk kelas ternyata sudah banyak yang menyapaku dan mengajak kenalan. “Mungkin aku akan betah di sini dan sepertinya besok tidak perlu lagi membawa bekal agar bisa ke kantin bareng mereka” pikirku.

Setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu, ruang kelas 12 IPA 1 menjadi benar-benar sepi hanya menyisakan aku dan satu murid perempuan lain di pojok sana, murid yang membuatku merasa tidak nyaman sekarang. Bagaimana tidak sekarang dia memperhatikanku secara terang-terangan dengan sorot matanya yang tajam.

“Hai” kataku yang entah mengapa berani menyapanya.
Bukannya membalas sapaanku gadis itu malah semangkin mengangkat wajahnya menatapku tajam, dengan wajah yang pucat.
“Apa kamu sakit?” Kataku lagi. Lagi-lagi tidak ada jawaban dia malah keluar kelas dengan langkah kasar.
“Apa aku mengganggunya?” Membuatku bertanya dalam hati.

Toot… toot
Bel masuk berbunyi, mendadak ruang kelas kembali dipenuhi murid-murid.
Karin, Sari, Yanti, Vina, Linda, Riko, murid yang namanya kuingat juga sudah memasuki kelas. Dan gadis itu, yang menatapku tajam beberapa menit yang lalu tersenyum padaku ketika aku menoleh ke tempat duduknya, dengan wajah yang ceria dan terlihat segar jelas berbeda dari sebelumnya. Membuatku bingung saja.

“Hei! Kenapa bengong?” Karin, teman sebangkuku mengagetkan.
“Eh nggak kok, Rin cewek yang duduk di kursi paling pojok itu namanya siapa?”
“Yang mana?”
“Yang paling kanan itu”
“Ooh itu namanya Alisa Puspita, biasa dipanggil Lisa”
“Ooh”
“Mau ngobrol? Lisa baik kok orangnya” Karin berkata lagi
“Emp… boleh” jawabku ragu
“Oke, nanti istirahat kedua ya”
“Baiklah”

Pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung tanpa ada rasa kantuk menghampiriku. 15 menit lagi istirahat tapi rasanya aku benar-benar ingin pipis sekarang. Kulihat Karin sangat fokus menyimak pelajaran yang disampaikan oleh Pak Arif, membuatku ragu untuk memintanya menemaniku ke luar.

“Kenapa Yan?” Karin menyadari kegelisahanku
“Pengen pipis”
“Ya ampun Yana kenapa nggak bilang dari radi sih, yuk aku temenin”
“Hehe” jujur, aku sedikit malu pada Karin.
“Ayo, kenapa masih diam di tempat?”
“Kamu yang minta izin”
“Ya ampun Yana iya, yuk”

Jadilah aku ke wc ditemani Karin, sahabat baruku yang paling mengerti aku. Setelah pipis aku ke kamar mandi, dan sedikit terkejut melihat Lisa ada di sana sedang mencuci tangan.
“Lisa” dengan ragu aku menyapanya, lagi.
Kepalanya terangkat menghadapku, wajah pucat itu terlihat dingin sama seperti sebelum aku tahu namanya.
“Kamu Lisa kan?”
Masih tidak ada jawaban dari mulutnya yang seperti terkunci itu. Lisa melangkah mendekatiku dengan tangan terangkat.
“Lisa kamu kenapa?” Tanyaku gugup, bingung dengan apa yang akan dia lakukan.
“Aku membencimu” ucapan itu keluar ketika tangannya yang terasa begitu dingin berada di leherku dan,
“Yan, kamu kenapa?”
Suara Karin membuat gadis menakutkan itu melepaskan tangannya dari leherku lalu pergi melewati Karin yang berdiri di ambang pintu. Dadaku terasa sesak, sepertinya aku menahan nafas tadi tapi dengan bodohnya aku masih bingung dengan semua ini.

“Yan muka kamu pucat, kenapa sih?” Kamu lihat hantu ya? ngomong sama hantu?”
“Maksud kamu ngomong sama hantu?”
“Iya tadi itu kamu ngomong sendirian”
Aku kaget mendengar ucapan karin. Ngomong sendiri katanya, apa dia tidak melihat Lisa yang jelas-jelas melewatinya tadi?.
“ke kelas yuk!” Tidak berniat menjawab pertanyaan Karin, aku berjalan cepat menarik tangannya dengan kasar.

Setiba di kelas kuperhatikan Lisa yang sekarang berubah menjadi terlihat segar dan baik lagi, sampai bel istirahat kedua berbunyi mataku terus tertuju padanya. Sekali-kali Lisa menyadari tatapanku yang disambutnya dengan senyuman manis. Sebenarnya yang kulihat di kamar mandi tadi benar-benar Lisa atau bukan sih? Tanda tanya besar membebani kepalaku sekarang.

“Yana, yuk!” Karin kembali membuatku kaget
“Ke mana?”
“Ke sana Yan, ke tempat Lisa”
“Nanti saja ya Rin, sekarang rasanya aku mau tidur” jawabku berpura-pura tidur dengan kepala di meja.
“Loh kok gitu sih Yan”
“Mataku udah nggak bisa dibuka Rin”
“Ya ampun Yan sampai segitunya. Oke kalau gitu untuk membuka kembali matamu itu gimana kalau kita dengerin cerita saja? Yuk!”

Tanpa sempat aku bersuara lagi, Karin menarik tanganku menuju beberapa siswa yang sedang berkumpul. Yang jelas Lisa tidak ada di sana.
“Eh Yana, ayo gabung sama kita” ucap salah salah satu murid di sana. Aku tersenyum lalu duduk di kursi kosong.
“Kok diem? Cerita lagi dong kami mau dengar” ucap Karin
“Udah habis ceritanya, kalian lagi dong” ucap Sari
“Oh iya aku punya cerita! Tapi cerita seram, kalian mau dengar?” Ucap karin lagi
“Mau dong! Itu baru seru!”
“Oke, tapi yang cerita Yana”
“Loh kok aku Rin?” Ucapan karin membuatku kaget
“Iya kamu, yang di Kamar mandi tadi itu, waktu iatirahat. Kamu lihat hantu kan? Kamu ngomong sama hantunya kan? Cerita dong yan..”
“Kamu ngomong apa sih Rin, siapa yang lihat hantu”
“Eeh bohong, tadi wajahmu pucat benget. Oh iya aku ingat kamu menyebut nama Lisa kan tadi! Nama hantunya Lisa ya?”
Karin berkata dengan keras. Membuat murid lain berkumpul mengerumuniku, memintaku bercerita.
“Ha! Beneran? Cerita dong yaaan..”
“Iya yaan.. cerita dong”
“Cerita dunk yaan… pleaseee. Ya! Ya!”
Pinta mereka dengan nada memohon yang menurutku terlalu berlebihan.
“Haha kalian mau saja dibohongi Karin”
Kataku lalu berjalan ke mejaku dengan perasaan campur aduk apalagi melihat wajah Lisa di pojok sana yang tampak tidak seceria tadi. Pasti dia mendengarnya. Lalu?

Setelah beberapa jam menghabiskan waktu dengan mengisi memori otak, akhirnya bel pulang pun berbunyi. Aku keluar kelas bersama Karin dan beberapa murid lainnya, sungguh tidak menyangka sejak kapan hujan turun yang membuat genangan air di beberapa tempat. Hawa dingin terasa menusuk kulit membuat beberapa murid memilih tinggal di kelas menunggu hujan reda, tapi ada juga yang dengan tanpa ragu menerobos derasnya hujan.
“Hadeeh, hujan kapan mau berhenti??. Oh hujan… oh hujan” karin berbicara sendiri membuatku geli
“Kamu sekolah diantar jemput atau gimana Rin?” Aku bersuara menghentikan nyanyian Karin
“Aku naik sepeda Yan, rumahku dekat”
“Ohh”
“Kalau kamu Yan?”
“Aku antar jemput”.

Beberapa menit berlalu kami habiskan dengan mengobrol, hujan mulai reda membuat para murid bergegas pulang termasuk Karin. Tapi tidak denganku.

Dari: Rio
Yan kakak agak telat jemput kamu soalnya ban motor kakak bocor, sekarang lagi di bengkel. Kamu nungguin kakak agak lama nggk apa-apa ya.

Pesan itu jelas membuatku sangat kesal. Aku menendang tempat sampah dengan kasar, apalagi alasanku pindah sekolah kalau bukan karena ibuku menikah dengan papa orang ini, orang yang berani sok akrab denganku padahal tinggal satu rumah baru tiga hari. Kusimpan kembali ponselku tanpa berniat membalas pesan dari Rio itu.

Kupandangi seluruh sekolah yang ternyata sudah benar-benar sepi, tapi mataku tidak sengaja tertuju pada sosok gadis yang membuatku takut sekarang, sedang berdiri di dekat ruang Lab komputer. Matanya tertuju pada halaman sekolah, terlihat seperti melamun. Kuabaikan gadis itu dan memilih bernyanyi pelan untuk mengisi kesunyian.

“Yana” aku terperanjat
“Lisa? Kamu belum pulang?”
Tanyaku gugup lalu dengan cepat menoleh ke tempat di mana aku melihat Lisa beberapa detik yang lalu. Tentu saja dia tidak ada di sana karena sekarang dia di sini, tepat di sampingku yang membuatku ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“Belum, masih ada urusan. Kalau kamu?”
“Eh, anu, itu aku nunggu jemputan” kataku tambah gugup memikirkan urusan apa yang dia maksud.
“Yan, jalan-jalan ke belakang sekolah yuk, di sana ada tempat yang indah menurut aku, mungkin kamu juga menyukainya?”
“Tapi,
“Ayo, aku yakin kamu menyukainya”
Lisa menarik tanganku dengan agak kasar. Akhirnya aku berjalan mengikuti Lisa. Mendengar kata “indah” aku selalu menyukainya.

Hujan sudah benar-benar berhenti, hanya menyisakan hawa dingin dan tetesan air dari pepohonan yang kami lewati disaat angin berhembus. Tidak terlalu jauh kami berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah sungai yang tidak terlalu besar dengan airnya yang jernih. Di seberang sungai berjejer pohon yang cukup lebat, banyak daun kering berjatuhan ke air lalu terseret arus yang deras, terlihat juga banyak bunga liar cantik yang tumbuh di tepi sungai. Kuhirup udara yang segar ini dengan rakus. Lisa kau benar, tempat ini sangat indah.
Lisa! Sejak kapan dia tidak bersamaku!
“Lisa”
“Lisa! Kamu di mana?”
Aku memanggil nama Lisa berulang kali, tapi dia benar-benar tidak ada di sini. Tiba-tiba rasanya jantungku berdetak lebih cepat. Dug dug dug, tidak bisa kukendalikan.
Aku mencoba lebih tenang, mengingat beberapa hal yang kualami hari ini.

Ketika Rio mengatakan “semoga lancar ya hari pertamanya”.
Aku mengangguk lalu berlari memasuki gerbang sekolah.
Dengan malu-malu aku masuk ke kalas 12 IPA 1 bersama Pak Wandi, memperkenalkan diri lalu disapa teman baruku.
Jam istirahat pertama aku di kelas bersama Lisa, dia menatapku tajam tanpa sedikitpun mengeluarkan suara.
Jam istirahat kedua aku bertemu lisa di kamar mandi, dia menatapku tajam lagi dan ingin melakukan sesuatu yang menakutkan.
Dan tadi, ketika hujan reda semua murid memutuskan untuk pulang, dia sendiri masih punya urusan. Tiba-tiba mengajakku ke belakang sekolah dan sekarang dia menghilang.
Aku benar-benar merasa bodoh, mengingat semua hal aneh pada gadis itu bukankah berarti dia ingin melakukan sesuatu? Bukankah sekarang dia sedang menjebakku?.
Yah benar, di sana tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang Lisa menatap tajam ke arahkku, lagi.

“Lisa apa yang kau inginkan?” Aku berteriak. Lisa melangkah mendekatiku, semangkin dekat hingga akhirnya benar-benar di hadapanku.
“Aku membencimu! Pergi dari sini!”
“Apa yang kau inginkan Lisa? Apa salahku?” Aku berkata sambil terisak menahan sakit di leherku.
“Mati saja kau!” Ucapnya tepat di depan wajahku.

“Hentikan!”
Tiba-tiba suara seseorang membuat Lisa melepaskan tangannya dari leherku.
Lisa! Yang di sana benar-benar Lisa, lalu yang ini?
“Cukup Lina! Dia hanya murid baru. Namanya Yana dan dia bukan orang yang telah merebut laki-laki yang sangat kau sayangi itu. Bukan dia Lina, bukan dia”
Pikiranku semangkin kacau, Lisa yang di sana memanggil Lina gadis di depanku dan mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.
“Jangan ikut campur Lisa! Ini urusanku!” Ucap Lisa yang dipanggil Lina
“Tolong sadar Lina, kenapa kamu lebih menyayangi laki-laki itu dibanding kami yang selalu menyayangimu. Ayah, ibu, aku, kami semua menyayangimu. Berhenti melakukan ini Lina. Aku tahu kamu sangat membenci Riska, tapi sebesar apapun rasa bencimu pada perempuan itu, bukankah kau tetap tidak bisa bersama laki-laki yang katamu telah direbutnya darimu?. Sekarang kau bahkan menyakiti orang yang tidak tahu apa-apa. Kalau ibu dan ayah tahu hal ini mereka pasti sangat kecewa”. Lisa di sana berkata pelan dengan pipi yang sudah dibanjiri air matanya sendiri.
Terlihat Lina dengan wajah sedih melangkah mendekati Lisa, lalu berhenti. Beberapa detik tidak ada yang bersuara, aku menyaksikan dua orang gadis yang terlihat sangat mirip itu saling berpandangan, melihat wajah sedih itu membuatku ikut sedih walaupun masih bingung dengan semua ini.
“Maafkan aku” suara itu keluar dari mulut Lina disusul isakan yang cukup keras lalu dia berlari dan hilang entah ke mana.

“Aku tidak bermaksud menjebakmu Yana, sekali lagi maaf” ucap Lisa disaat kami berada di parkiran sekolah
“Iya tidak apa-apa, berhenti meminta maaf. Yang penting sekarang Lina sudah sadar dan tidak mengulanginya lagi”
Lisa mengangguk
“Eh itu kak Rio! Aku duluan ya Lis, bye”
Lisa tersenyum. Aku menghampiri kakakku yang sudah datang.
“Maaf ya kakak lama banget, soalnya waktu di bengkel tadi ad..”
“Iya nggak apa-apa, ayo jalan”
“Beneran nggak apa-apa?”
“Iya kak beneran”
“Kak?”
“Iya kakak, kenapa memangnya? Mau aku panggil om?”
“Ya nggak mau lah. Hehe”
“Terus masalahnya?”
“Yaa aneh aja Yan, yang kemarin-kemarinkan kamu panggil kakak pakai nama, Rio”
“Kapan?, perasaan nggak pernah”
“Haha, kamu ya”.

Motor melaju, hembusan angin membuatku lebih tenang sekarang. Mengingatkanku pada cerita Lisa tadi.
“Namanya Elina Puspita, dia kakakku. Kami sangat mirip kan? Orang-orang selalu bilang begitu dulu. Dulu waktu SMA Lina punya pacar bernama Niko, dia sangat mencintai laki-laki itu bahkan hampir gila ketika Niko berpaling darinya. Niko mengakhiri hubungan dengan Lina lalu pacaran sama Riska, murid baru di kelas 12 IPA 1, kelas kita. Kami sekeluarga sering menasehati Lina agar melupakan Niko, tapi dia tidak pernah mau mendengarkan, hingga akhirnya dia nekat mencelakai Riska di sungai yang kita datangi tadi, tapi entah bagaimana ceritanya malah Lisa yang tercebur ke sungai itu dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Itu terjadi empat tahun yang lalu, aku sungguh tidak menyangka Lina masih punya dendam pada anak baru 12 IPA 1 walau itu jelas bukan Riska.
Kau tahu Yana?, ada satu hal yang membuatku sangat menyesal hingga kini, dulu disaat Lina masih hidup aku tidak pernah mencoba akrab dengannya, kami sangat jarang berbicara berdua, bahkan mungkin kami tidak terlihat seperti saudara jika wajah kami tidak semirip ini. Setelah dia tiada aku baru merasakan bahwa dulu aku punya seorang kakak. Aku sangat menyesal tidak menjadi adik yang berguna, apalagi ketika dia sedang punya masalah”.

“Ternyata yang seperti itu ada ya” ucapku pelan.
Aku mengeratkan pelukanku pada perut kak Rio, mulai sekarang aku harus mencoba akrab dan menyayangi kakakku ini, agar dia percaya pada kata-kataku, agar dia mau mendengar nasihatku, agar aku tidak menyesal nantinya.

Cerpen Karangan: Lydia
Blog / Facebook: Lydia

Cerpen Hari Pertama Pindah Sekolah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lagu Terakhir Untuk Bunda (Part 1)

Oleh:
Namaku Tya, Ayahku meninggal ketika aku berumur 11 tahun, tepatnya 4 tahun yang lalu. Kini aku tinggal bersama Ibu yang sangat menyayangiku dan Kakakku yang selalu mendukungku. Nama Kakakku

Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku

Oleh:
Seraya bulan mengitari bumi, malam itu aku dan adikku aliyah sedang menonton televisi. Oh ya, perkenalkan, namaku ika, aku anak sma kartika rinaf bangsa, aku kelas x. A, kelasku

Surat Misterius (Part 1)

Oleh:
Ketika Vira siuman, ia terkejut saat tersadar dirinya berada dalam pangkuan seorang pemuda berkulit putih dengan binar di matanya yang cokelat. Hembusan angin di sekitar danau merayap, perlahan menjamah

Aku Kakek dan Foto

Oleh:
Sudah lebih satu jam ku bolak-balikan lembar foto yang berserakan di atas meja kerjaku. Aku lelah dan mulai putus asa. 113 foto, karya terbaiku sudah aku tunjukan, tapi belum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *