Hiburlah Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Tidak, tidak.
Apa mereka bercanda? Sesungguhnya aku bukan seorang yang terlalu lihai merayu. Tapi mau bagaimana lagi, toh aku juga nanti dapet ketenaran.

“Hei, selamat!” ayunda tersenyum, ia seorang saingan kuat dalam kompetisi queen of school yang diadakan setahun sekali.
“Terima kasih, kamu juga hebat, tadi kok.” ujarku tersenyum kecil. Gadis bernama ayunda itu mendesah kecil, kemudian berjalan ke luar pintu.

Sejak saat itu, aku mendapat ketenaran dan kepopuleran. Aku semakin banyak dikerubungi fans yang ingin foto bersamaku.

Setiap hal yang kulalui terasa menyenangkan bersama para fansku hingga beberapa minggu kemudian setelah kemenanganku dalam kompetisi itu, aku masih dikerubungi fansku.
“Hei, cia. Bisa kita bicara?”
Aku mengangguk, mengiyakan. Ayunda tersenyum manis, aku heran mengapa gadis itu tidak jadi memenangkan kompetisi itu. Padahal dia anaknya manis, lho. Itu karena lesung pipi yang tercetak ketika ia tersenyum.

“Kenapa kita ke sini?” tanyaku dengan wajah heran.
Tempat yang dituju itu masalahnya adalah gudang sekolah yang jaraknya agak jauh dari kelasku. Lagipula tempatnya agak kotor karena banyak sampah yang bertebaran. Gudang ini sudah tak terpakai lagi.

Bruk!
Mataku melebar. Ayunda tertawa, gadis itu baru saja mendorongku hingga keningku mencium dinding. Aku mengusap jidatku dan menatap ayunda yang tersenyum misterius.

“Apa yang kamu lakukan?”
“Tentu saja… Membuatmu ada di sini. Selamanya! Ideku keren kan?”
Ia tertawa, mataku membulat mendengar ucapan tidak jelasnya itu. Kemudian aku terkejut lagi ketika ada benda yang menghantam perutku,

Ugh! Perih!
Aku terpelanting ke lantai marmer gudang, tahu-tahu ayunda sudah menindihku dan memegang pisau.

Jleb!
“Ayunda!”
“Iya! Teruslah! Terus berseru ketakutan!”
Gadis gila!

Ia menikam tanganku, darah bercucuran dari lengan atasku. Mataku berkunang-kunang karena melihat darah.
Sejak kecil aku takut darah.

“Dasar!”

Ayunda tertawa keras lagi, kemudian menancapkan pisau tebal di tanganya. Pisau itu menancap dan menembus jantungku.

Ia menarik pisaunya, merobek kulit perutku. Aku menatap ngeri pada diriku sendiri.
Asam lambung bercampur darah, bau itu menggangguku. Semakin lama aku semakin merasa keperihan yang menggerogoti diriku.
Ia terus menorehkan luka, hingga aku memuntahkan sesuatu. Cairan merah. Air mataku keluar, nafasku memburu. Mataku menatapnya dengan tatapan kecewa.

“bunuh! Bunuh saja aku!” kataku frustasi.
“Sayangnya, itulah tujuanku.” ia tertawa senang, “menyakitimu, hingga kau ketakutan, merasa keperihan dan kau meronta minta kematian.”

Dasar iblis!

“Ukh… Apa… Apa sa.. Salahku?”
“Kau bertanya padaku?” tanyanya kembali, “hei, aneh. Aku bukan melakukan ini karena aku kalah di runaway kompetisi tak berguna itu.”
“Lalu?”
“Ini huburan tahu?”

Ia menarik pisaunya ke samping. Aku meringis kesakitan. Jeritanku seolah memecah langit. Sekolah yang sepi itu menjadi saksi bisu akan diriku.
Saksi bahwa arwahku terikat pada sekolah itu, dan akan terus memburu korban.

Aku berjanji akan membunuh satu persatu pemenang kontes queen of school itu. Aku berjanji akan membunuhnya, di lain kesempatan.
Jahat sekali membunuh orang yang tak bersalah karena kesenangan semata. Membunuh untuk mendapat hiburan, untuk tertawa lagi, itu ciri psikopat.
Aku benci padanya, ia bermain dengan nyawa orang lain. Dan itu cara yang salah untuk bersenang-senang.

Cerpen Karangan: Dian
Blog / Facebook: cuman dian

Cerpen Hiburlah Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Laughing Corpse

Oleh:
“Brarr.. Brarr!!” Terdengar suara petir yang saling menyambar. Kilatnya terlihat sangat menakjubkan namun menakutkan. Aku yang sedang duduk di kursi, perlahan terbuai rasa kantuk yang hebat. Musim hujan seperti

Hanako San

Oleh:
Hanako adalah urban legend menyeramkan yang berasal dari Jepang. Katanya, ia dapat dipanggil di toilet perempuan urutan ketiga dari depan. Caranya adalah dengan mengatakan, “Apakah Hanako-san ada di dalam?”.

Watashi Wa Kirei Desu Ka?

Oleh:
Bulan purnama sedang bundar-bundarnya. Aku berjalan sambil menggandeng gunting raksasaku. Tanyakan mengapa ada darah mengalir dari ujungnya, maka aku akan menjawab bahwa ia baru saja memakan santapan malamnya, seorang

Misteri Arwah Gentayangan

Oleh:
Hujan rintik rintik ditambah lagi suara petir yang berguram, aku pun terjaga, jarum jam menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Suasana menyeramkan mulai menyelimuti keadaan di sekitar pos ronda yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *