Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 15 April 2014

Malam itu menjadi malam yang sangat suram ketika aku berada di rumah. Akhir-akhir ini aku sering mendengar suara Ibuku sedang berbicara dengan seseorang. Padahal selama beberapa tahun ini tidak ada satu orang pun yang berkunjung ke rumah kami. Tetangga kami pun tak pernah berkunjung. Tapi aku yakin, orang yang berbicara dengan Ibuku bukanlah manusia. Aku merebahkan kepalaku di atas bantal, dan mulai memejamkan mataku.

Keesokan harinya aku kembali menjalani hari-hariku di kampus. Aku dipanggil Dosen dan di suruh untuk segera menyiapkan bahan untuk Proposal, mengingat bahwa tahun ini adalah tahun terakhirku dalam kuliah. Ketika aku keluar dari ruang Dosen, dari kejauhan kulihat laki-laki yang kemarin yang mengajakku berbicara berjalan ke arahku dengan melambaikan tangannya. Dan aku langsung membelokkan arah tujuanku kembali ke arah sebaliknya.
“Eh… eh… kak, tunggu…!” Teriaknya.
Aku tak memperdulikan panggilannya dan terus berjalan cepat, berusaha menjauh darinya.
“KAK…! TUNGGU…!” Teriaknya lagi.
Aku berjalan berakhir di pohon beringin di tengah halaman kampus. Dan kulihat dari belakang dia masih mengikutiku. Dia berlari menujuku, dan dengan nafas terengah-engah ia menghampiriku.
“Haah… haah… haah… kakak cepat sekali jalannya. Aku sampai kelelahan.” Desahnya.
“Lalu… kenapa kau mengikutiku?” Kataku, jutek.
“Aku kan sudah bilang kemarin. Aku akan menemui kakak lagi. Memangnya tidak boleh kenalan dan berteman dengan Senior?” Tanyanya dengan nada lugu.
Aku melirik ke wajahnya. Ternyata ia memasang wajah yang polos, sehingga membuatku menjadi gemes melihat wajahnya. Andaikan aku mempunyai adik seperti dia, akan kupeluk setiap hari. Batinku.
“B… boleh saja. Tapi apa tidak apa-apa?” Tanyaku.
“Kenapa apanya, kak?”
“Aku kan dikenal sebagai orang yang aneh di sini. Apa tidak apa-apa kamu berteman dengan Senior yang aneh sepertiku ini? Nanti popularitasmu turun, lho.”
“Tidak apa-apa. Memangnya mereka yang mengatur aku dalam memilih teman. Aku tidak popular. Mereka saja yang mendekatiku.”
“Baiklah. Namaku Nur Aisyah, panggil saja Ai. Senang berkenalan denganmu.” Kataku mengulurkan tangan. Dan ia pun membalas jabatanku.
“Nama saya Muhammad Nur. Panggil saja Akhmad. Wah… nama kita hampir mirip ya, kak. Cuma beda belakang sama di mukanya saja.”
Aku tersenyum kecil. Akhirnya aku bisa merasakan yang namanya berteman. Sudah sekian lama aku tidak merasakannya. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung, kenapa ia tidak mempunyai belahan bibir. Biasanya setiap orang memilikinya. Aku memandangnya, memperhatikan bibirnya. Siapa tahu saja aku salah.
“Ada apa, kak?”
Ternyata memang tidak ada belahannya. Mungkin karena faktor keturunan.
“Kak?”
“Ah… tidak. Tidak ada apa-apa.”

Selama aku berteman dengan Akhmad, aku mendapatkan hari-hari yang menyenangkan. Tidak ada lagi hari-hari suram yang aku rasakan, mungkin Akhmad dikirim oleh yang Maha Kuasa untuk memberikan kebahagiaan kepadaku dan aku sangat mensyukuri itu. Sekian lama kami berdua berteman, Akhmad pernah diolok-olok oleh teman-temannya pada tahun kedua kuliahnya. Dan aku pernah menyarankan untuk memperjauh hubungan pertemanan kami supaya ia tidak diolok-olok lagi, tapi ia tidak menyetujui saranku. Ia berkata ‘Bukan mereka yang mengatur aku untuk memilih teman. Kalau aku mau berteman dengan kakak, ya aku berteman denganmu’ hal indah yang dikatakan oleh Akhmad melalui mulutnya sangat menyentuh hatiku. Dan pada saat tahun terakhirku, aku disibukkan dengan pekerjaan dalam membuat Skripsi. Tentu saja aku sangat kesusahan dalam mencari bahan. Tapi dimana aku kesusahan, Akhmad selalu ada untuk membantuku. Walaupun saat itu dia masih semester ke-3, dia mengerti bahan yang bagus untuk Skripsiku. Dan itu sangat mengagumkan untuk laki-laki yang masih bergelut di semester ke-3. Aku sangat mengagumi laki-laki yang membantuku ini.

Hari itu adalah hari Ujian Skripsi. Dan aku diwawancarai mengenai topik skripsi yang aku buat. Di dalam aku melihat Dosen Yuda juga turut ikut mewawancaraiku. Di dalam ruangan yang berisi 5 orang Dosen pembimbing dan aku. Mereka menanyakan topik dan tujuanku memilih judul dalam Skripsiku. Aku menjelaskan kepada mereka dari awal hingga akhir mengapa aku memilih judul yang aku buat dalam Skripsiku. Hingga aku pun memberikan alasan dan kesimpulannya, dosen yang memperhatikan dan mendengarku, berangguk pelan. Setelah aku selesai mengatakan semua penjelasanku, aku pun melihat ke para Dosen. Reaksi mereka sangat tenang, kemudian mereka saling berpandang satu sama lain berkomunikasi lewat kontak mata. Dan dengan tersenyum mereka berkata,
“Penjelasan yang bagus Nona Ai. Tidak salah Yuda menyuruhmu untuk masuk ke dalam ruang lebih dahulu. Kami sangat puas. Kamu secara resmi dinyatakan LULUS,”
“Allhamdullillahirabbilallammin…” Aku mengusap dada, dan mengucapkan kata syukur.

Lalu aku pun keluar dengan rasa berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikanku ketegaran dan mempermudahkan aku dalam menghadapi ujian kali ini. Aku melangkahkan kaki ke luar dari ruangan itu, ketika aku sudah berada di luar kulihat Akhmad sudah menungguku dengan cemas.
“Bagaimana, kak?” Tanyanya dengan nada cemas.
“AKU LULUS, AKHMAD! KYAAA…” Aku bersorak riang dan menghamburkan pelukkanku ke Akhmad.
“Selamat ya, kak. Kakak sudah berusaha.”
“Ini semua juga berkat kamu, Akhmad. Terima kasih ya.”
“Sama-sama. Selebihnya kan kakak yang mengerjakannya. Oh iya, kak. Mau sampai kapan meluk aku?”
Mendengar pertanyaan Akhmad, aku langsung melepaskan pelukkanku. Dan aku merasakan pipiku panas.
“Oh… maaf ya,”
“Tidak apa-apa,”

Suasana menjadi hening.

“Kak…?” Tanyanya lagi.
“Iya? Ada apa?” Jawabku.
Akhmad menatapku dengan pandangan serius. Lalu dengan sigap ia langsung memegang tangaku.
“Kak! Baru kali ini aku melihat kakak sesenang ini. Aku ingin membuat kakak bahagia selamanya. Aku ingin di sisi kakak dan menghibur kakak,”
Aku tercengang. Serasa tidak percaya dengan yang baru saja Akhmad katakan. Apakah ini yang dinamakan pernyataan cinta.
“A… aku. Tapi Akhmad, umur kita berbeda jauh dan itu sangat tidak mungkin.”
“Tapi…”
“Akhmad aku tidak bermaksud untuk tidak menolak tawaranmu. Coba kamu pikir lagi. Apa kamu mau menerimaku yang seperti ini?”
“Tentu saja. Aku tidak pernah melihat perempuan tegar seperti kakak dan aku sangat menyukai sifat kakak yang seperti itu. Jadi mau kah kakak berada di sisiku selamanya?”
Aku mengangguk. Lalu dengan sekejap Akhmad langsung memelukku dan mengangkatku. Senyum gembira tertera di wajahnya yang polos. Aku memberikannya senyuman kecil. Sesuatu hal mengganjal pikiranku mengenai hubunganku dengan Akhmad. Masalahnya, dalam hukum Islam jika seorang lelaki dan perempuan telah mengetahui sifat satu sama lain, dan lelaki tersebut menyatakan perasaannya. Itu menyatakan bahwa lelaki itu sedang mempersunting perempuan tersebut. Sedangkan Akhmad tidak tahu asal usul keluargaku, dan keadaan Ibuku. Dan aku sangat bingung ketika aku menerima tawarannya, dia langsung ingin segera menemui orangtuaku. Dengan terpaksa aku membawanya kepada Ibuku.

Sesampainya di rumah, aku mempersilahkannya duduk di ruang tengah. Aku naik ke atas dan memasuki ruangan itu lagi. Kubuka pintu itu, di dalam kutemui Ibuku yang sedang berdiri di depan cermin.
“Bu… ada seseorang yang ingin bertemu dengan ibu. Calon suami Ai, dia ingin meminta restu dengan Ibu,”
Ibu langsung berjalan melewatiku, keluar dari ruangan itu. Baru kali ini Ibu keluar dari ruangan semedinya setelah sekian lama. Ibuku dan aku menuruni tangga, Akhmad yang melihat langsung berdiri. Tapi ketika Ibuku melihat ke Akhmad, bola mata Ibu langsung membesar.
“HAH! Sedang apa kau disini?! Keluar kau! Kau tidak berhak berada disini! KELUAR!!!” Teriaknya.
Aku terkejut dengan kelakuan Ibu yang mendadak histeris.
“Ibu! Ibu kenapa?! Ini Akhmad calon suami Ai, bu.”
“TIDAK! KELUAR!!!”
Akhmad hanya memasang wajah serius ketika bertemu dengan Ibuku. Kami berdua pun keluar. Mengantar Akhmad ke depan pintu, jeritan histeris Ibu masih terdengar dari luar.
“Maaf ya, Akhmad.”
“Tidak apa-apa, kak. Kalau begitu aku pulang dulu. Assallammuallaikum.”
“Wallaikumsallam. Akhmad.” Panggilku.
Ia menoleh.
“Jangan panggil aku dengan sebutan ‘kakak’ lagi. Panggil saja aku Ai.”

Ia tersenyum dan pergi meninggalkan rumahku. Tapi pada keesokkan harinya aku meminta nasihat kepada paman dan bibiku mengenai lamaran Akhmad kepadaku. Dan aku masih memiliki kendala untuk mendapatkan restu. Akhirnya paman dan bibiku menyuruhku untuk membawa Akhmad dan memperkenalkannya kepada mereka. Dan tepat pada malam hari, aku memperkenalkan Akhmad kepada paman dan bibiku. Dan luar biasa, reaksi paman dan bibiku terhadap Akhmad sangat memukau. Dalam sekejap paman dan bibiku langsung menyukai Akhmad. Dan pada malam itu juga Akhmad mendapatkan restu dari paman dan bibiku, lebih baiknya lagi paman bersedia untuk menjadi waliku.
“Tolong jaga keponakan kami, nak Akhmad.” Ucap pamanku sembari tersenyum.

Pernikahan kami di selenggarakan pada Tanggal 05 Mei 2010. Aku duduk bersanding bersama Akhmad. Proses akad nikah berjalan lancar dan tidak ada kendala sama sekali. Aku dan Akhmad sangat bahagia pada saat itu, sayangnya orangtua Akhmad tidak dapat datang pada hari itu. Dikarenakan jarak yang sangat jauh dapat memungkinkan penyakit Ayahnya kambuh lagi. Dan yang dapat mewakilkannya hanya kakak dari Akhmad. Setelah proses akad nikah selesai, kami semua pergi ke rumah pamanku untuk acara pestanya. Tapi keesokkan harinya, Akhmad harus segera turun kuliah untuk mengajukan Skripsinya. Dan aku mulai merekomendasikan diriku kepada salah satu Perusahaan Marketing terbesar di Semarang, dan aku sangat bersyukur aku diterima dengan senang hati. Dan aku langsung diangkat menjadi Manejer Marketing karena nilai yang kuperoleh pada saat kuliah.

Hari-hari yang kulalui penuh dengan pekerjaan, dan Akhmad pun sibuk dalam menyelesaikan kuliahnya dan minggu depan ia akan Ujian Skripsi. Waktu untuk kami saling bertemu sangatlah sedikit, dan kami berdua belum mempunyai rumah. Dan masih belum terpikir untuk membeli rumah, mengingat Akhmad masih belum lulus. Dan pada minggu Akhmad Ujian Skripsi aku minta cuti dengan atasanku untuk mendampinginya. Seperti dia mendampingiku saat aku Ujian Skripsi pada waktu itu. Dengan gelisah aku menunggunya di luar ruangan. Beberapa menit kemudian aku melihat pintu ruangan itu pun terbuka, kulihat sosok Akhmad yang sedang berjalan. Lalu ia pun menghampiriku, wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi senang. Melainkan ekspresi datar, pada saat itu kukira ia tidak lulus. Tapi beberapa detik kemudian ia langsung berteriak memeluk dan mengangkatku.
“AKU LULUS, AI…” Soraknya.
Aku yang mendengarnya langsung meneteskan air mata bahagia. Dan juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan kemudahan untuk Akhmad.

Malamnya Akhmad dan aku berencana mengundang paman dan bibiku untuk makan malam di luar dalam rangka kelulusan Akhmad. Paman dan bibi sangat bangga kepada Akhmad. Dan pada hari berikutnya Akhmad mulai membuka toko komputernya, dan menunjukkan keahliannya dalam Bidang Teknologi.

Bulan demi bulan kami isi dengan kesibukkan masing-masing dalam pekerjaan sampai pada suatu hari Akhmad mempertanyakan sesuatu ketika kami sedang makan siang di luar.
“Ai?” Tanyanya.
“Iya, mas?” Balasku.
“Begini, lusa kan aku mau cuti sebentar dan ingin pulang ke kampung halamanku.”
“Kenapa mendesak sekali, mas?”
“Penyakit Ayah kambuh lagi,” Tukasnya.
“Astagfirrullahallazim. Kenapa?” Kataku, terkejut.
“Mas juga tidak tahu, Ai. Makanya kalau mas pulang kamu mau tidak ikut sama mas?”
Aku mendongkakkan kepalaku.
“Tapi… apa tidak apa-apa, mas. Aku masih masih belum siap bertemu dengan orangtuamu. Malu. Bisa-bisa pas aku bertemu dengan orangtuamu, mereka langsung menyuruh kita cerai.”
“Ya Allah… Ai… Ai… pikiran kamu jauh sekali. Masa orangtuaku sekejam itu, ya tidak lah. Ikut saja sekalian bertemu dengan keluarga besarku di sana.”
“Aku mau saja, mas. Tapi apa tidak apa-apa?”
“Aduh ai… kamu ini segugup itu ketika ingin ku bawa ke mertuamu.”
“He… he…”
Aku menyeringai.
“Di mana kampung halaman kamu, mas.”
“Di Kalimantan Tengah.”
“Wah… jauh sekali. Pantas orangtuamu tidak bisa datang ke pernikahan kita.”
“Walaupun jauh pemandangan di sana sangat indah sekali, lho. Dan kampungnya di pinggir pantai lagi.”
“Yang benar? Tapi mas, aku juga kebetulan ditugaskan atasanku untuk menjadi manajer di salah satu Perusahaan Sawit yang ada di Kalimantan Tengah. Dan minggu depan aku berangkat.”
“Nah… sekalian saja. Tapi di kota mana?”
“Di kota Sampit. Tapi harus pulang pergi lagi menggunakan travel ke kilometer 21.”
“Nah… kalau begitu kita berangkatnya minggu depan saja.”
Aku pun mengangguk tanda setuju.
“Tapi sebelum berangkat, kita berpamitan dengan Ibumu dulu. Sudah lama kamu tidak menjenguk Ibumu.” Kata mas Akhmad.
Aku pun menundukkan kepalaku. Iya sudah lama aku tidak menjenguk Ibu. Aku tak tahu keadaannya saat ini semenjak aku tinggal di rumah paman dan bibi.
“Iya. Baiklah, mas.”

Aku dan mas Akhmad sudah menentukan hari kapan kami berangkat. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu mertuaku. Mereka seperti apa ya? Pasti mereka orangnya baik sama seperti mas Akhmad.

Hari demi hari terus berlalu. Waktu untuk berpamitan dengan Ibuku pun telah tiba, aku berdua mas Akhmad mengendarai mobil menuju rumah Ibu. Kami memasuki rumah megah, tapi keadaan rumah saat itu sangat berantakkan seakan tidak ada sama sekali orang yang mengurusnya. Aku memandang rumah yang dulunya kutinggali, keadaannya sangat jauh berbeda ketika aku meninggalkan rumah ini. Aku dan mas Akhmad memandang tak percaya dengan apa yang kami lihat. Rumah yang dulu sangat megah dan indah, kini terlihat seperti rumah kosong dan bernuansa angker.

“AAARRRGGGHHH!!!”
Aku terkejut mendengar jeritan keras yang berasal dari rumah. IBU! Aku pun langsung berlari masuk ke dalam rumah dan tak menghiraukan panggilan mas Akhmad. Aku menaiki tangga dengan cepat, menuju ke ruangan yang dulunya sangat kubenci. Ruangan berpintu besar berada di hadapanku, langsung kubuka pintunya. Ketika kubuka, kulihat Ibuku telah terkapar di atas lantai. Lalu aku serasa tak percaya dengan apa yang telah kulihat di depan mata kepalaku. Perempuan yang membuatku koma selama 3 minggu berdiri di samping Ibuku. Ia melihatku dengan mata merahnya, lalu menghilang meninggalkan asap hitam pekat.

Aku langsung memeluk Ibuku yang tergeletak diam di lantai dengan mata membelalak lebar dan mulut ternganga serta mengeluarkan lidahnya.
“Ibu! Ibu! Ibu!”
Aku meraih pergelangan tangan Ibuku, dan merasakan denyut nadinya. Tidak ada!
“Ibu…! Ibu…! IBU…! MAS…! MAS AKHMAD…!” Teriakku. Memanggil mas Akhmad.
Mas Akhmad muncul di balik pintu dengan wajah cemas. Aku langsung menangis dengan Ibu dalam pelukkanku.
“Mas… Ibu mas…”
Mas Akhmad mendekat dan merasakan denyut nadi Ibuku sekali lagi.
“Innallillahhi Wainnallillahhiroziun. Ai, Ibu telah berpulang kepada yang maha kuasa.” Tukas mas Akhmad.
Aku langsung menangis dengan keras dan memeluk erat mayat Ibuku. Dan mas Akhmad pun ikut memelukku, menenangkanku.
“Kita harus hubungi keluargamu, Ai.”

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Blog: agehanostory.blogspot.com
Facebook: haruna suzuno

Cerpen Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpustakaan Angker

Oleh:
Kring.. Kring, pertanda istirahat. “Gita, ayo ke perpustakaan,” ajakan Meyran sahabatku. “Ayo, aku juga mau balikkin buku nih ke perpus,” kataku. Saat di perpustakaan, penjaga perpus sedang tidak hadir,

Kamulah Takdirku

Oleh:
Tak terasa kini sudah 2 minggu, tapi kenapa rasa kecewa bercampur dengan kesedihan ini tak kunjung surut dimakan oleh waktu. Apa karena diriku terlalu sedih dan tak dapat menerima

Love At First Sight

Oleh:
Aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Baru kali ini aku bangun kesiangan, lebih sialnya lagi papa juga tidak bisa mengantarkan aku ke sekolah dikarenakan papa sudah berangkat ke kantor. Jam

Untuk Sebuah Nama

Oleh:
Si, dengarkanlah kata hatimu. Semua yang dikatakannya benar! Hidup bersama seorang penulis sepertiku ini adalah kesia-siaan. Tak ada guna. Tak ada harap. Yang ada hanya kelaparan. Melarat. Sengsara! Jika

Ketulusan

Oleh:
Saat ini seorang gadis kelas 3 SMP yang bernama Queen sedang tersenyum memandang layar handphonenya, ia baru saja mendapatkan SMS dari Andra, orang yang disukainya. Andra mengirimkan pesan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 2)”

  1. Tiana says:

    Masih ada lanjutannya yaa ? Gak sabar tunggu crita selanjutnyaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *