Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 15 April 2014

Hari pemakaman Ibuku penuh dengan haru. Aku sangat sedih dengan kepergian Ibuku yang sangat aku sayangi walaupun ia sering tidak terlalu memperhatikanku. Tapi aku sangat menyayanginya, kenapa Ibu meninggal dengan cara yang sangat tragis. Mas Akhmad selalu berada di sampingku, menenangkanku dan menjagaku. Dan aku sangat menghargai perbuatan suamiku. Ketika malam tahlilan, dan membaca Surah Yaasin mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata sampai aku tak sanggup lagi dan beranjak masuk ke dalam kamar rumah paman dan bibiku. Orang-orang pun selesai mengirimkan Do’a untuk Ibuku, kudengar para wanita yang berada di dapur telah menyuguhkan makanan untuk semua orang yang datang dalam tahlilan malam itu. Pintu kamar yang aku masuki terbuka, sosok mas Akhmad yang menggunakan baju koko dan memakai kopiah menghampiriku.
“Ai… sudahlah. Ikhlaskan saja,” Kata mas Akhmad dengan suaranya yang lembut. Tangannya yang besar dan kokoh mengusap air mataku yang masih berjatuhan.
“Aku sudah merelakannya, mas. Tapi kondisi Ibu ketika meninggal sangat membuatku terpukul.”
Mas Akhmad diam.
“Ai… bagaimana kalau kita membangun rumah?”
“Hah… membangung rumah.”
“Iya. Bagaimana kita berkeluarga dan tinggal di kampung halamanku dan meninggalkan kehidupan kota. Kita akan membangunnya di dekat pantai, tapi agak jauh dari rumah Ayah dan Ibuku. Bahan-bahannya sudah disediakan disana biayanya pun menggunakan uang gajiku.”
Aku terdiam.
“Apakah engkau mau, Ai?” Tanyanya dengan nada sendu.
Aku berfikir sejenak. Menimbang-nimbang penawaran mas Akhmad yang sangat memungkinkan untukku. Aku mendongkakkan kepalaku, dan menatap mata mas Akhmad dengan tajam. Dan aku pun berkata.
“Baiklah. Aku mau, mas.”
“Allhamdullillah. Ternyata kamu setuju dengan penawaranku. Aku sudah minta izin dengan paman dan bibimu, dan mereka menyetujuinya.”
Aku tersenyum kecil. Wajah ceria mas Akhmad terpancar ketika aku berkata setuju kepadanya. Dan aku merasa aku sangat beruntung mempunyai suami yang bijaksana seperti mas Akhmad, walaupun ia lebih muda dariku. Dan ia tidak membandingi perbedaan umur kami.

Kami berdua akan berangkat pada hari senin. Aku dan mas Akhmad pamit pada hari senin itu. Perjalanan jauh dan melelahkan menunggu kami, perjalanan melalui udara dan darat. Setelah 16 jam perjalanan kami pun sampai di kampung halaman mas Akhmad. Memang benar apa kata mas Akhmad, kampung ini sangat indah tepat berada di dekat pantai. Pohon-pohon kelapa mengelilingi kampung ini, dan hebatnya lagi kampung ini sangat bersih dan asri.
“Nah… Ai. Selamat datang di Kampung Kalap. Ini adalah kampung yang sangat aku cintai dan sayangi,”
Aku melangkahkan kakiku di atas kampung yang aku tidak kenali ini, tapi kampung ini sangat membuatku takjub dengan pemandangan pantai yang sangat indah serta kampungnya.

Mas Akhmad membimbingku menuju sebuah rumah berpondasikan kayu ulin yang sangat kuat. Rumah itu agak besar tetapi lebar, dan desainnya ala Kalimantan Tengah sekali. Sekerumunan orang-orang yang berada di kampung menyambut kami berdua. Ternyata mas Akhmad sangat dikenal di kampungnya, dan orang-orang yang ada di kampung ini sangatlah ramah. Dan kulihat di muka rumah yang kusebutkan tadi berdiri dua orang wanita dan lelaki paruh baya dan aku juga melihat kakak Akhmad. Jangan-jangan wanita dan lelaki itu mertuaku, orangtua mas Akhmad. Ketika kami menghampiri orangtua mas Akhmad, mereka langsung memeluk mas Akhmad. Mas Akhmad mencium tangan kedua orangtuanya dan kakaknya. Keluarga yang sangat harmonis, aku selalu mendambakan keluarga seperti ini.

“Mai, jituh sawan kula,” (Bu, ini istri saya). Kata mas Akhmad dalam bahasa yang sama sekali tidak aku ketahui.
Lalu Ibu mas Akhmad tersenyum dan memegang pipiku, dengan refleks aku langsung mencium tangan Ibu mas Akhmad. Ibu mas Akhmad berkata sesuatu dan aku sama sekali tidak mengerti. Mas Akhmad menyadari raut wajahku yang sangat kebingungan, lalu membisikkan sesuatu di telinga Ibunya. Lalu Ibunya langsung seperti orang terkejut dan lupa.
“Jadi ini namanya nak Aisyah. Kamu cantik sekali, nak. Akhmad, Aisyah ayo masuk. Masa kita berdiri di sini, nanti kaki cepat lunglai.” Kata Ibu mas Akhmad dengan Bahasa Indonesia yang sangat lancar, sambil tertawa dan mempersilahkan masuk.
“Ah, ibu ini,” kata mas Akhmad.

Kami semua pun masuk ke dalam rumah orangtua mas Akhmad. Keadaan di dalam rumah sangat rapih dan terurus, dan sangat bersih serta tertata. Kami semua bercerita-cerita tentang kisah masing-masing. Sangat menyenangkan tinggal bersama keluargaku yang baru ini, terutama Ibu dan Ayah mas Akhmad yang sangat baik hati.

Malamnya kami makan malam, masakan yang dibuat Ibu mas Akhmad sangat enak. Aku sampai nambah dua kali. Dan aku langsung minta diajarkan resep masakan Ibu mas Akhmad yang namanya ‘Gangan asam’. Ternyata ‘Gangan Asam’ itu dalam Bahasa Indonesianya itu sayur asem, tapi yang di buat Ibu mas Akhmad sangat enak dan bisa diacungi jempol. Keharmonisan yang aku dapatkan bersama keluarga baruku sangatlah membuatku terharu. Pernah mas Akhmad mengatakan kepada Ibunya bahwa aku saat ini sebatang kara dan Ibuku telah meninggal. Dan Ibu mas Akhmad pun berkata “Kamu telah mempunyai keluarga baru disini. Dan Ibu sangat senang jika kamu memanggil Ibu dengan panggilan ‘Ibu’” saat itu aku langsung meneteskan air mataku, seumur-umur Ibuku tidak pernah berkata seperti itu. baru kali ini ada seseorang yang berkata dengan ikhlas seperti itu. Lalu pada suatu hari aku minta izin kepada mas Akhmad untuk berjalan-jalan di tepi pantai, selagi mas Akhmad sedang membangun rumah untuk kami.

Ketika aku berjalan-jalan di pinggir pantai, dari kejauhan terlihat seorang nenek berjubah hitam berjalan menghampiriku. Kulitnya sangat mengeriput, matanya yang memutih sangat membuatku ketakutan. Lalu ia menunjukku dengan telunjuknya, dan berkata.
“Kau… kau tidak pantas berada disini.” Katanya dengan nada parau layaknya seorang nenek yang sudah memasuki usia senja.
“Memangnya kenapa, nek? Ini adalah kampung halaman suami saya dan kami akan tinggal di sini. Dan saya sangat menyukai penduduk kampung di sini.” Balasku.
“TIDAK! Kau harus pergi dari sini sesegera mungkin,”
Aku bingung dengan perkataan nenek yang sedang berada di depanku ini. Lalu ketika sesuatu luput dari mataku aku menoleh ke belakang. Dan ketika aku menoleh kembali, nenek yang berada di depanku sudah menghilang. Aku sangat terkejut. Secepat itukah nenek tersebut pergi. Lalu malamnya aku mengalami muntah-muntah hebat. Aku terus keluar dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutku, dan itu sangat menyakitkan. Mas Akhmad cemas melihat keadaanku dan mendampingiku.

Beberapa minggu kemudian, rumah dambaan kami pun jadi. Rumah yang dibangun dengan kayu sama seperti rumah Ayah dan Ibu mertuaku. Terbuat dari kayu ulin dan berada di dekat pantai dan agak jauh dari rumah Ibu dan Ayah mertuaku. Kami berdua pun kembali bekerja. Aku berkerja sebagai manejer di Perusahaan Sawit dan mas Akhmad membuka cabang toko komputernya di Kota Sampit. Kami pulang pergi dari rumah menggunakan travel. Sungguh hari-hari yang melelahkan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami. Lalu malamnya aku muntah-muntah lagi, rasa sakit pada perut dan saluran nafasku tak tertahankan lagi. Mas Akhmad semakin cemas dengan keadaanku, dan ia pun menaruh curiga kepadaku.
“Ai, apa kamu tidak apa-apa. Ini minum air putih.” Katanya, sembari menyorongkan gelas berisi air putih.
“Makasih, mas.”
“Ai, dari semalam kamu terus muntah-muntah. Jangan-jangan kamu hamil.”
“Bisa saja, mas. Aku sudah telat 3 bulan. Tapi… tunggu. Aku ambil alat tes kehamilan dulu.”

Aku pun mengambil alat tes kehamilan di dalam lemari dan beranjak menuju kamar mandi. Ketika aku melihat hasilnya aku sangat terkejut. Lalu aku keluar mendatangi mas Akhmad.
“Mas…” Panggilku.
Mas Akhmad pun berdiri. Dengan pandangan cemas ia menatapku.
“Mas… aku… aku POSITIF HAMIL.” Sorakku. Dan menghamburkan pelukkan ke mas Akhmad.
“Akhirnya Aisyah. Kita akan segera memiliki anak.”

Kabar bahwa aku hamil pun di beritahukan kepada Ayah dan Ibu. Mereka sangat senang dan berkunjung ke rumah kami. Sungguh hari yang sangat menyenangkan. Buah hati yang selalu kami dambakan akan segera datang. Setiap hari aku mengelus-elus perutku dan menyanyikan Salawat Nabi untuk janin yang berada di dalam perutku ini. Mas Akhmad juga kegirangan dan sering menempelkan telinganya di perutku. Bulan demi bulan berlalu, aku cuti bekerja karena sedang mengandung. Perutku kian menjadi besar, menandakan bahwa kandunganku semakin tumbuh. Dan bayi yang berada dalam perutku ini sering kali menendang-nendang. Ketika ia menendang, aku selalu membacakan Salawat Nabi untuknya dan ia berhenti menendang. Kelak anak ini akan menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orangtuanya dan menolong sesama. Mas Akhmad pun menunjukkan ekspresi aneh ketika bayi yang ada di dalam perutku ini menendang dan aku tertawa geli melihatnya. Aku sangat bersyukur karena Allah SWT telah mengirimkan buah hati yang akan selalu mengisi hari-hari kami.

Pada suatu sore, aku kembali berjalan-jalan di pinggir pantai agar anakku dapat merasakan angin sepoi-sepoi dan suara ombak yang berderu. Tapi ketika aku ingin beranjak pulang ke rumah, sosok nenek yang aku temui beberapa bulan lalu tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku langsung mundur beberapa langkah. Ia terus maju dan aku mundur beberapa langkah lagi.
“M, mau apa kau?” Tukasku.
Nenek itu cuma tersenyum. Dan mulai mendekatkan tangannya ke perutku. Aku langsung menepisnya.
“Apa yang kau lakukan?!” Kataku, kemudian menjauh dari nenek tersebut.
“Aku ingin sesuatu yang berada dalam perutmu.”
“Apa?! Tidak! Aku tidak akan memberikan anakku kepadamu. Lagipula apa salahku?”
“Salahmu…”
Lalu dalam sekejap nenek itu berubah menjadi perempuan dan bayangan hitam bermata merah darah yang membunuh Ibuku. Aku sangat terkejut melihatnya.
“Kau…”
“Iya. Aku lah yang membunuh Ibumu. Ibumu berjanji untuk memberikanmu kepadaku sebagai tumbal. Tapi saat ini yang aku mau adalah bayi yang ada di dalam perutmu itu.”
“TIDAK! Aku tidak akan memberikannya kepadamu!”
Nenek itu terus mendekat mencoba memegang perutku. Aku terus menjauh, berusaha untuk tidak menyerahkannya kepada nenek jahat yang berada di depanku.
“AISYAH! Menjauhlah dari nenek itu.”
Sebuah suara terdengar di telingaku, suara yang sangat familiar. Ketika kutoleh asal suara itu, kulihat mas Akhmad berdiri di pinggir dinding pasir disertai dengan seluruh penduduk dan keluargaku. Ayah dan Ibu mertuaku juga ikut. Lalu kulihat nenek itu sangat terdesak. Mas Akhmad pun mendekatiku merangkulku dan mencoba membawaku menjauh dari nenek itu. lalu seluruh penduduk yang ada di kampung kalap menyerang nenek itu.
“Kau tidak akan bahagia hidup bersama laki-laki itu Aisyah. Dia bukanlah laki-laki seperti yang kau kira. Kau akan menyesalinya.” lalu nenek itu akhirnya mati dan berubah menjadi abu yang ditiup angin laut.

Aku yang masih syok, dibawa mas Akhmad, Ayah dan Ibuku menuju rumah kami. Ketika kami berada di dalam, mas Akhmad meminta untuk membiarkanku berdua saja bersamanya. Mas Akhmad duduk di sampingku. Aku masih memikirkan kata-kata terakhir yang dikatakan nenek itu. lalu aku mulai bertanya kepada mas Akhmad.
“Mas, apa mas menyembunyikan sesuatu dariku?” Tanyaku.
Mas Akhmad terkejut dengan pertanyaanku. Lalu ia pun memegang tanganku.
“Ai, sebelumnya aku minta maaf. Kata-kata nenek itu benar. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kau kira,”
“Sebenarnya aku bukanlah manusia sepertimu,”
Sudah kuduga. Batinku.
“Aku memang bisa dibilang manusia biasa karena menjalani kegiatan yang sama seperti manusia normal lainnya. Tapi aku beda, aku tidak memiliki raga. Dan aku sudah mengetahui bakatmu dalam melihat hal-hal aneh, makanya aku berani membawamu ke kampung ini. Apakah kau marah, Ai?”
Aku diam. Menatap wajah suamiku yang sangat polos ini. Tertera jelas rasa kecewa di wajahnya. Aku pun memegang tangannya.
“Mas, aku sudah tahu dari dulu.”
Mas Akhmad terkejut dengan perkataanku.
“Hah. Kamu sudah tahu. Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu?”
“Itu cuma tebakkan Ai saja, mas. Tapi ternyata tebakkan itu benar. Aku sudah merasakan hal yang berbeda padamu dan keluargamu yang sangat baik.”
Kulihat wajah mas Akhmad berubah jadi murung.
“Jadi… kamu mau kita cerai?”
“Ya Allah mas… mas… memang aku ada berkata seperti itu?”
“Ya tidak ada, sih. Tapi aku tahu kamu pasti mau minta cerai.”
“Ya tidaklah, mas. Aku sudah menerimamu apa adanya. Kamu tetap mas Akhmad milikku, aku menerimamu apa adanya. Aku menerima semua kekuranganmu. Bagiku kamu adalah orang satu-satunya yang memberikan kebahagiaan kepadaku. Dan kamu adalah suami yang hebat dan aku yakin kamu akan menjadi ayah yang hebat ketika buah hati kita nanti lahir.” Kataku, tulus. Mengeluarkan segala isi hatiku.
“Oh… Ai… aku sangat menyayangimu. Kamu adalah istri terbaik yang ada di dunia.”
Mas Akhmad memelukku dengan erat. Aku meneteskan air mataku di pelukkan mas Akhmad. Lalu tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa dari perut dan selangkanganku. Sesuatu ingin keluar.
“Aduh! Mas… perutku sakit!!” Teriakku. Mas Akhmad terkejut mendengar jeritanku.
“Jangan-jangan kamu mau melahirkan. Tunggu sebentar Ai, mas akan panggilkan Ibu dan dukun beranak.”
“Aaakkkhhh!!!”

Mas Akhmad pergi keluar sebentar untuk memanggilkan Ibu dan dukun beranak. Beberapa saat kemudian mas Akhmad datang membawa Ibu dan dukun beranak. Ibu langsung membaringkanku di atas kasur, dan dukun beranak langsung memberi instruksi kepadaku. Rasa sakit yang luar biasa menyiksaku, berusaha untuk membawa anakku melihat dunia baru bumi. Aku terus menjerit dan menyebut nama Allah SWT, berharap di berikan kemudahan dan tidak terjadi halangan apa pun. Aku terus mendorong dan mengikuti arahan dari dukun beranak tersebut. Rasa sakit sangat menyiksaku, kulihat mas Akhmad memegangi tanganku, besimpuh di sampingku.

OOEEKK!!!
Suara tangisan bayi terdengar di telingaku. Seluruh orang yang berada di sekitarku mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa begitu pula aku. Seorang anak manusia telah terlahir di muka bumi untuk mengisi hari-hariku bersama mas Akhmad. Seorang anak yang akan memberikan kebahagiaan kepada kami.
“Kamu sudah berusaha Aisyah,” Kata mas Akhmad, kemudian mengecup keningku.

Kulihat anakku sedang digendong ayahnya, kemudian ia memberikannya kepadaku. Anakku yang kutunggu-tunggu telah datang. Lalu mas Akhmad menyerukan Takbiratul Ilham sebagaimana ajaran Islam ketika bayi di lahirkan di bumi. Ketika mas Akhamd menyerukan Takbir, bayi yang berada dipelukkan aku tersenyum kecil dengan mata terpejamnya. Dan hal itu sangat memukau. Seluruh keluargaku menyaksikan pemandangan itu. Anak dari orangtua yang berbeda dunia. Tapi itulah kelebihannya, anak shaleh telah terlahir di dunia dan membawa kebahagiaan untuk semua orang.
“Mas, saatnya memberikan nama.” Ucapku.
“Menurutmu nama anak kita apa?”
“Aku tahu. Namanya adalah Muhammad Akbari.”
“Nama yang bagus Aisyah.” Sahut Ibu mertuaku.
“Iya. Nama yang bagus Ai. Akbari.”
“Ibu harap kamu akan menjadi anak yang Shaleh dan memberikan kebahagiaan kepada kami kelak. Akbar kecil.” Aku tersenyum.

Kehidupanku bersama seorang lelaki berbeda dunia tidak akan pernah kusesali. Karena lelaki itulah yang telah memeberikan kebahagiaan yang sama sekali tidak dapat kubayar dengan uang. Karena dialah orang yang dikirim Allah SWT untuk membahagiakanku.

MUHAMMAD NUR.

SELESAI

Cerpen Karangan: Meisy Pratiwi
Blog: agehanostory.blogspot.com
Facebook: haruna suzuno

Cerpen Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Forever For You

Oleh:
Pagi yang cerah, aku terbangun dari mimpiku. Menurutku itu adalah mimpi yang indah. “Semoga mimpi itu tercapai!” seruku dalam hati. kemudian aku masuk ke kamar mandi dan bersenandung riang.

Ketidaksengajaan Rasa

Oleh:
Hari minggu adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua pelajar di indonesia, karena hari weekend merupakan hari bebas dari pelajaran yang memabukkan itu menurut Tasya Anggraini, seorang siswa SMAN 1

Dan Bila Dia Datang

Oleh:
Panggil saja aku saskya, Sekarang aku sedang memasuki semester enam buat menyelesaikan study akuntansiku di suatu universitas terbuka di kota Yogyakarta. Ceritaku berawal semenjak aku mengenal dirinya tanpa sengaja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

14 responses to “Hidupku Bahagia Bersama Lelaki Berbeda Dunia (Part 3)”

  1. Maria Adeliaa says:

    Bagus….

  2. c putri centill says:

    wahhhh cerita.a bagus
    i like it 🙂

  3. Erika Septia L says:

    I fell happy when me reading it ! ^_^

  4. Atina Marini says:

    Aku asli Kalimantan Tengah,Sampit.Tentang Kampung Kalap itu emang benar2 ada,sering jadi omongan..dan kampung itu emang kampung makhluk gaib ,btw nih cerita nyata ya?

  5. Hilma says:

    Ini sih cerpennya termasuk ke cerpen islami juga, tapi seru banget kok cerpennya…!!!

  6. may says:

    bagusssss,banget ceritanya ^_^,
    menarik dan beda

  7. Fyrda yanti says:

    ya ampun sampe nangis bacanya,makasi udah di post in disini.. bisa di post in cerpen menarik lainnya gak?

  8. risma says:

    Cerpennya keren banget kak
    Sampai terbawa suasana(^_^
    Kak ni cerpen asli
    Atau gak?

    -sukses ya kak:D

  9. Tika says:

    Crtanya bgus,,menarik btw ni ksah nyata ya..?jdi pngent tau lebih bnyak tentang kampung it..penasaran..tp crtanya sungguh sangat menyentuh..

  10. wida almia destiyani says:

    Sungguh kisahnya sangat menyentuh hati,tetapi ini asli atau tidak ya? Aku jadi penasaran.

  11. Meisy Pratiei says:

    Halo para pembaca setia… Sorry ya bru bisa bls pertanyaan kalian skrng. Soal nya adminnya lg sibuk kuliah… Nh buat buat yg nanya cerita d ats itu nyata ap gk sih? Hehe… Sbnrx cerita d ats gk terlalu nyata. Tapi kampung kalap itu emng benar2 ad lho. Trs emng ad segelintir orng yg nikah dan bertemu sma mereka seperti cerita d atas. Lalu buat cerita selanjut x nanti bsa mimin post deh klo klian mau lbh. Thanks ya buat komen kalian, krna itu sngt membantu mimin. Tunggu cerita berikutnya ya….

  12. Reysnha haryati says:

    Ngebaca y smpe terbawa suasana serasa ada didlam cerita itu,,
    kk hebat, sukses yah 🙂

  13. ATUL says:

    TERBAWA SUASANA HEBAT,,,!!

  14. Citra says:

    aku msih rada bingung sama ceritanya , itu si akhmad bukan manusia , tapi paman bibinya ai, temen kampusnya , kok bisa ngliat akhmad semua ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *