Hologramkah Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Kala itu, sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi, dan aku juga berpikir mengapa harus aku yang seperti ini. Detik itu ku mulai merasakan guncangan dalam jiwaku, tangan dan kakiku lemas, hatiku resah, rasanya ku ingin teriak, menangis, tapi rasanya air mataku tak ingin ke luar. Pikiranku hanya tertuju pada empat kata, ‘Pergi dari situasi ini’. Karena itu, aku berusaha secepat mungkin kabur dari sana, dan itu juga yang membuatku takut untuk menoleh ke belakang. Aku takut mereka akan mendapatkanku, lalu menerkamku selahap mereka, serta masih banyak hal negatif yang muncul, bahkan mungkin mampu mengalahkan arah logika otakku. Aku sungguh ketakutan. Tidak ada orang yang bisa menolongku. Aku berlari untuk menjauhinya dengan sepedaku, ku kayuh dengan sekuat tenagaku, tanganku menggenggam pedal sepeda sekuat mungkin walau sedikit gemetar akan dia.

JEDDAAARRRR!!

Suaranya.. Sungguh memekakkan telinga, membuatku getir. Ku kira rasa itu membuatku semakin cepat untuk berlari, namun, tiba-tiba ada cahaya menyilaukan dari langit.

BRAAKK!!

“Auw.. Hhhahh.. Hhhahahh..” Erangku panik.
Aku terjatuh dari sepeda, secepat mungkin aku berusaha untuk bangkit dan langsung menjauhi awan hitam beserta teman-temannya.

JEDDAAARRRR!!
JEDDAAARRRR!!

Mendengar dia menyambar semua yang ada di dekatnya, dan dengan bantuan kilauan cahaya itu, entah kenapa perasaanku sangat buruk, bahkan lebih buruk dari situasi awal. Ku merasa ada yang janggal. Suara itu terdengar berulang kali. Aku tidak tahu, tapi aku merasa dia mengejarku, semakin lama semakin dekat, seperti hanya berjarak kurang dari satu meter di balik punggungku. Ini semakin mempersulitku, aku tidak dapat menghindar lagi darinya, tenagaku telah terkuras habis karena ini. Aku semakin berada di ujung tanduk. Tuhan, bagaimana ini? Aku takut, aku takut dengan semua ini. Aku tidak tahu akan berlari ke mana lagi, aku sungguh takut, ya Tuhan.. Tolong, tolonglah aku.

JEDDAAARRRR!!

Aku tersambar habis olehnya. Aku merasa listrik ribuan volt mengaliri tubuhku, mengalir hingga merasuk ke bagian dalam tubuhku, bahkan jantungku seperti ditusuk dan di remas, otakku pun sudah kian melemah. Tulang dan ragaku sudah tak bisa bertahan, rasanya rapuh. Mataku. Hanya mataku yang masih bertahan walau tidak lama. Aku melihat sepedaku yang ternyata juga ikut hancur denganku. Aku juga melihat remang-remang tubuhku hangus. Tapi, aku masih merasa ini bukan akhir kisahku, aku merasa masih ada sesuatu yang akan aku lihat, dan ku ketahui. Dan, ternyata benar. Tiba-tiba tubuhku melayang ke udara, melayang tidak terkendali, tapi aku berusaha mengendalikannya.

Setelah terkendali, akhirnya, aku menyadari dua hal, yaitu, pertama, suara dia dan kawan-kawannya telah berhenti, sepertinya mereka telah menghilang. Kedua, aku terkejut, saat aku tahu ternyata aku bukan lagi manusia, melainkan Hologram. Hologram mungkin hampir sama dengan Shadow. Tapi bedanya, Hologram berwarna transparan, dan masih bisa dirasakan oleh pancaindra. Sedangkan Shadow, malah sebaliknya. Aku merasa aneh dengan semua ini. Aku tidak mengerti sekaligus bingung. ‘Apa jangan-jangan, petir dan kilat itu ajaib, dan merekalah yang membuatku seperti ini?’ batinku. Jika mereka tidak ajaib, lantas siapa yang mengubahku menjadi Hologram?

Uh… aku tidak tahu lagi. Aku tidak tahu siapa yang akan menjawab pertanyaanku, dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa kembali dalam keadaan semula. Aku hanya bisa mengingat kejadian detik-detik sebelum aku dikejar oleh petir dan kawan-kawannya itu. Tragedi itu bermula tepatnya setelah pulang sekolah. Aku sudah biasa bersepeda pulang pergi dari rumah ke sekolah, begitupun sebaliknya. Sudah menjadi tradisiku kalau mau pulang, mengambil jalan memutar ke arah rumahku. Walaupun agak jauh, tapi aku sangat menikmati saat-saat yang seperti ini. Angin yang sepoi-sepoi, memasuki tubuhku melalui celah-celah seragam sekolahku. Oya, aku bersekolah di salah satu Sekolah Negeri di desa, tepatnya Sekolah Menengah Atas. Aku memakai rok panjang berwarna abu-abu, jilbab putih sebagai mahkotaku, dan atasan warna putih dengan jahitan namaku di sebelah kirinya, ‘Zakiah Qonitah’. Ya, itulah namaku, aku biasa dipanggil Qoni.

Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Sejak aku meninggalkan sekolah, mendadak awan menjadi hitam pekat. Tak apalah, sesekali aku ingin hujan-hujan, dengan diterpa angin sore. Benar dugaanku. Titik-titik air itu perlahan turun ke bumi, membasahi bajuku tanpa ampun. Walau sesekali melambai-lambai diterpa angin. Dingin, sih. Tapi, aku sangat menikmatinya. Hmm.. Aku penasaran bagaimana ekspresi ibu saat tahu kalau anaknya pulang dengan basah kuyup? Tahukah kawan, mengapa aku lebih memilih jalan memutar? Karena di sepanjang sisi-sisi jalan terdapat ladang ilalang, luasnya bukan main, kawan. Mungkin bisa mencapai hektare. Di sana sangat indah, apalagi banyak semburat cahaya mentari yang muncul di balik tingginya tumbuhan itu. Mataku jauh memandang dari sudut ladang ilalang hingga sudut ladang selanjutnya. Tapi, sayang, tidak banyak yang tahu jalan tersebut. Mungkin bagi orang-orang itu jalan menuju hutan.

Aku sungguh menikmati saat-saat yang seperti ini, malah aku ingin mengabadikannya dalam video. Ah… Indah sekali! Batinku. Bahkan mereka melambai-lambai padaku, entah itu digoyangkan angin, atau apalah itu. Tapi, menurutku mereka setuju dengan apa yang ku rasakan selama ini. Awalnya, aku tidak memedulikan perasaan ganjilku terhadap suasana ini. Tapi tiba-tiba peristiwa itu terjadi yang membuatku seperti ini hingga detik sekarang. ‘Huh, aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang?’ batinku. Aku masih tidak terima dengan semua ini. Sedih, kesal, marah, gundah gulana itulah perasaanku saat ini. Bahkan, sampai detik ini aku belum juga pulang. Pasti ibu mencemaskanku. Biar ku tebak, kalau aku tiba di rumah terlambat, ditambah seragam basah pula. Aku yakin seyakin-yakinnya ibu akan mengomeliku tak henti-hentinya.

Eits, tunggu. Aku kan sudah berubah menjadi hologram. ‘Bagaimana bisa aku pulang dengan wujud seperti ini?’ batinku. Aku kan tidak mau ibu sangat cemas padaku nanti. Waktu telah lama berlalu. Ku duduk termangu di batu besar sambil melihat mentari yang sedang membenamkan tubuhnya. Aku masih berpikir bagaimana reaksi ibu ketika melihatku seperti ini. Hmm.. Semakin memikirkannya, semakin aku rindu padanya. ‘Sudahlah, aku pulang saja, lebih baik aku terang-terangan bercerita pada ibu, bagaimanapun caranya.’ Tekadku. Hujan telah lama sirna, seakan tidak peduli dengan apa pun, aku langsung beranjak pulang ke rumah, meski banyak resiko yang menungguku. Saking tidak pedulinya, aku bahkan membiarkan ada keributan yang diciptakan polisi dengan warga.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin ada peristiwa besar. Tapi, yang mengherankan, dari mana mereka tahu jalan dan daerah tersebut, sedang jarang ada orang yang mengetahuinya?
Sesampainya di rumah, aku terkejut bukan main. Rumahku ramai, sangat ramai. Tidak biasanya seperti ini. Tapi, itu bukan masalah pokoknya. Masalahnya adalah mengapa ada bendera kuning yang ditancapkan di depan rumahku? Tanganku bergetar. Aku pun memberanikan diri masuk, sebelum warga merasakan keberadaanku. Di sana terbaring seseorang dengan diselimuti kain putih yang diiringi oleh bacaan surat Yasin, dan lain-lain. Sanak keluargaku semuanya hadir, dengan baju hitam dan mata sembab tentunya. Ku mencoba absen mereka satu per satu, sambil menerka-nerka. Tapi, ternyata hasilnya nihil. ‘Lantas, siapa yang terbaring di balik kain itu?’ batinku.

Tiba-tiba.. DEG! Ada yang menepuk pundakku, bagaimana bisa? Saat aku menoleh, ternyata dia adalah seorang malaikat. Kini, aku mengetahui siapa yang di balik kain itu.
“Tuhan, mengapa harus dia? Mengapa harus dia yang di balik kain itu? Mengapa tidak orang lain saja? Mengapa hidupnya harus cepat berakhir? Tuhan….” ujarku terisak.
“Tuhan, mengapa dia adalah aku?”

Cerpen Karangan: Izzasita

Cerpen Hologramkah Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepergian Dirinya

Oleh:
Aku terbangun dari tidurku pagi ini. Sesungguhnya aku sangat merasa sedih, karena hari ini, hari terakhir aku tinggal di rumah ini dan kota ini. Ku langkahkan kakiku memasuki sekolahku.

Jari Yang Cantik

Oleh:
“Bruugghh …” Seorang perempuan terjatuh dengan beberapa kantung kresek belanjaannya yang berserakan di tanah. Malam itu sungguh sepi hanya ada beberapa kendaraan saja yang melintas. Perempuan itu mencoba memunguti

Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Datangku Deritaku

Oleh:
“Ku mendengar tangisan bayi mungilku yang semalam menetas, kurasa dia sedang kedinginan dalam dekapan lembut Ibunya.” Kataku dalam hati sambil merentangkan sayap putih bercorak kuning oranyeku lebar-lebar mencari makanan

Hanum Bidadari Kecil

Oleh:
Seperti biasa setiap malamnya Hanum gadis manis kelas 3 SD dari pasangan Herman dan Sarah ini hanya asyik dengan buku gambarnya, malamnya hanya dilalui dengan asisten rumah tangganya yaitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hologramkah Aku”

  1. Bukan hologram, tapi arwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *