I am Mon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 May 2017

Namaku adalah Mechana. Tapi orang-orang memanggilku Mon (Monster) -si makhluk menakutkan-, sejak orangtuaku meninggal 7 tahun yang lalu. Aku menjadi orang yang aneh. Aku menjauhi semuanya. Keheninganlah yang selalu menemaniku. Bisa dibilang.. aku lebih memahami keheningan daripada orang lain.
Dari keheningan kita dapat mendengar suara daun yang bergerak dengan pelan.
Dari keheningan kita bisa mendengar suara serangga yang mengepakkan sayapnya.
Bunyi jam yang berdetak…
Bunyi detak jantung…
Dan… mendengar suara batinmu. Tapi yang terakhir adalah… dapat mendengar suara roh yang sedang bicara padamu.

Aku membasahi wajahku di toilet sekolah. Pagi yang sangat gelap, dingin dan… menusuk. aku berdiri di depan cermin yang cukup besar sampai terlihat semua ruangan toilet ini. aku Memperbaiki dasi sekolahku. Aku menghela nafas dengan perlahan, namun… Aku menghirup aroma yang aneh. Dia menyengat dan sangat mengganggu.
“kenapa kau mengikutiku??!!” ketusku dengan menatap diriku sendiri di depan cermin. Tidak ada yang menjawab. Hanya keheningan. “kenapa kau diam? Jawab aku!!” teriakku kembali saat aroma itu lebih mendekatiku dan sangat menyengat di hidungku. Lampu toilet kemudian kelap-kelip. Aku sedikit ketakutan. Tapi aku harus bisa melawan ketakutan itu. Aku membiarkan lampunya kelap-kelip, sampai beberapa saat lampunya kembali menyala dengan normal. “sudah puas?” kataku. Masih tidak ada jawaban. Yah.. aku tahu itu. Bahkan roh saja enggan bicara padaku. aku membencinya!

Aku masih merasakan aroma itu.. “kau masih di sini?” kataku sambil merapikan dasiku. Aku menunduk untuk merapikannya. Ssrt.. aku merasakan ada sesuatu di belakangku. Dia besar.. hitam.. dan aku tidak tahu itu apa. Aku mendengus.. ternyata dia mendengarkanku dan mencoba bicara padaku..
“jangan tampakkan wujudmu!” ketusku dan langsung meninggalkan toilet.

Udara pagi sangat mencekam. Apalagi aku masih sendirian di sekolah yang sangat besar ini. setiap hari aku selalu datang lebih awal, aku benci dengan keributan.
Aku duduk di bawah pohon besar. Daun-daun itu berjatuhan ke tanah. Pandanganku terasa kosong. Aku tidak bisa mencerna pada objek yang sedang aku lihat.
Tiba-tiba saja ada yang mengejutkanku dalam pandanganku. Dia tidak bersuara tapi berhasil membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Aku tidak tahu, entah itu mimpi.. atau.. dia. Roh yang ingin berteman denganku. Aku diam cukup lama, sampai akhirnya seorang gadis yang berseragam sama sepertiku memukul pundakku. Aku tidak tahu sejak kapan dia ada di dekatku.

“apa yang sedang kau lakukan di sini?” katanya. Aku diam dan tidak melihatnya.
“baiklah… kau tidak akan menjawabku. Tapi aku akan duduk di sampingmu” katanya lagi. Aku tidak pikirkan soal itu. Aku hanya memandang kelas yang ada di depanku. Kelas yang sangat jauh dari tempat yang aku duduki bersama gadis ini.
“kau tahu Mon, aku benci suasana pagi ini. dia begitu mencekam. Dingin. Dan membuat jantungku serasa tertusuk benda tajam…” gadis ini berhenti sejenak, “suasana ini mengingatkan aku dalam film I am Ghost yang tayang seminggu yang lalu. Apa kau menontonnya, Mon?…” lanjutnya dan aku tidak menggubris pertanyaan dia untukku.
“film itu menyeramkan. Hampir saja aku pingsan saat menontonnya. Dan kau tahu, Mon.. Alex sangat keren dalam film itu. Dia sangat tampan ya. Apalagi saat Alex menyibakkan sedikit rambut yang menutup dahinya. Astaga… Dia memang tampan. Dan yah.. kau tahu.. aku juga ingin meniru gaya… ng.. siapa ya nama wanita itu.. oh ya.. jennifer.. ya.. benar. Aku akan mengikuti gaya rambutnya. Bukankah itu menarik, Mon?” gadis ini tetap bersikeras mencoba berteman baik denganku. Dia sangat bertentangan dengan sikapku. Dia sangat gemar bercerita dan itu membuat keheninganku hancur dipagi ini.

“Mon.. ada jugaa…”
“hentikan! Jangan mengangguku lagi!!” bentakku dan aku langsung pergi meninggalkan gadis itu. Dia siapa?! Aku tidak mengenalnya! Aku menatap sinis orang-orang yang mulai berdatangan ke sekolah. Aku lihat, mereka sedang berbisik sambil melihat ke arahku. Aku sudah tahu itu.
“Siapa yang tahan berteman dengannya? Wajahnya selalu pucat. Hidupnya dingin. Dan… Secara perlahan dia akan membunuh! Dia itu makhluk yang mengerikan!” seru orang itu dengan menatapku penuh kebencian. Aku tidak menggubris perkataan mereka.

Sepulang sekolah…
Aku pergi ke perpustakaan umum untuk menghilangkan keributan yang aku dapat sewaktu di sekolah tadi. Perpustakan itu sudah tua dan jarang dikunjungi masyarakat setempat.

“Hei.. Kau datang, Mon?” tanya penjaga perpustakaan padaku. Aku hanya diam dan berjalan menelusuri rak-rak buku. Mataku mengarah pada buku yang bersampul merah dan hitam. Buku itu memiliki judul yaitu –MYSTERI-. Aku membuka lalu membacanya dengan hikmat. Tiba-tiba buku yang ada di belakangku terjatuh. Tanpa ada angin ataupun orang. Aroma aneh itu lagi yang terhirup di hidungku.

“Kau ingin membacanya?” gumamku.
Tidak ada yang menjawab. Aku rasa aku benar-benar sudah gila bicara pada makhluk halus. Aku sudah frustasi! Aku merindukan orangtuaku. Biarlah aku bicara padanya walau aku tahu mereka sudah mati. Aku merindukan mereka!!
Brak!! Buku lain juga jatuh secara mendadak. Aku tersentak kemudian mendengus sambil berkata, “jangan mengikutiku lagi!” aku akhirnya pergi meninggalkan perpustakaan dan pulang ke rumah saat aku sadar ternyata hari juga sudah larut sore.

Aku berada sendirian di dalam rumah. Pamanku sedang merantau ke luar kota. Dialah yang mengurus kehidupanku selama ini. Aku harus berterimakasih padanya.
Aku melepaskan pakaianku dan segera mandi dengan air yang cukup dingin. Aku rasa air ini berpengaruh pada cuaca.
Ada darah dan beberapa helai rambut di lantai toiletku. Aku langsung meraba kapalaku. Tidak ada darah ataupun rambut yang rontok. Aku menghela nafas. Aku tahu itu pasti dia.
Selesai mandi, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Kamar yang gelap dan sangat sepi. Aku sampai mendengar suara detak jarum jam dinding. Sunyi. Dan selalu sunyi. Aku tertidur.

Di sekolahan tepatnya di kantin..
Aku sedang melahap makananku. dari arah depan ternyata gadis itu membawa makanannya ke mejaku dan langsung duduk. “Oh ya aku melupakan namaku. aku Ann” gumam gadis itu yang ternyata bernama Ann. Aku hanya diam. Dia tetap sama. Dia selalu mengajak aku dalam ceritanya. Dia terlalu asyik sampai dia tidak sadar aku terganggu karenanya.
Aku meninggalkan Ann tanpa pedulikan perasaannya seperti apa. Aku heran.. Kenapa dia berantusias sekali ingin berteman baik denganku. Apa dia tidak menyadari aku adalah makhluk mengerikan?! Diamku bisa saja membunuh siapapun!

Aku duduk di bawah pohon besar yang berada di belakang halaman sekolah. Tempat yang sunyi dan ini yang membuat aku menjadi lebih baik.
Ssrt!! Sesuatu ada yang menggenggam kakiku, tapi kemudian dia melepaskannya karnea aku menoleh ke bawah. Tidak ada apapun. Hanya sampah dedaunan yang berserakan di kolong meja.
“Awas Mon!!” teriak Ann tiba-tiba. Aku langsung mengelak dari sesuatu yang ingin mencelakaiku dengan batu yang cukup besar. Batu itu datang dari belakang pohon besar. Aku tersentak dan merasa ketakutan. Dia semakin menjadi!
Aku menatap Ann dengan penuh rasa terimakasih. Entah apa jadinya kepalaku jika dia tidak berteriak.
Aku menghampirinya dan langsung memeluk Ann. Dia tersenyum.

“Kau baik-baik saja, Mon?” katanya membuat aku terharu
“Kenapa kau lakukan ini padaku?” kataku
Ann duduk di batu besar. Aku rasa dia akan berkata serius. Aku ikut duduk di sampingnya.
“Aku dulu juga sepertimu, Mon. Tidak ingin bicara apapun pada dunia semenjak ibuku meninggalkanku. Tapi itu dulu…” Ann terdiam sejenak, “Sampai ayahku menceritakan seorang anak yang diganggu makhluk halus karena dia tidak memiliki teman. Anak itu mati secara tragis. Sejak saat itu… Aku harus berubah dan menghilangkan kesedihanku terlalu lama. Bukankah jika kita masih bersedih tidak akan mengembalikan apapun?” Ann menatapku dengan lembut. Yah.. Dia sangat benar. Aku bodoh. Kenapa aku tidak menyadari hal itu. Aku menangis dan Ann memelukku. Aku rasa dia tahu tentang perasaanku selama ini. Maka dariitu dia tidak meninggalkanku.

Mulai saat ini. Aku berjanji tidak akan murung ataupun bersikap Dingin. Dan… Aku akan bergaul layaknya manusia pada umumnya. aku berterimakasih pada Ann karna telah peduli padaku. Ann adalah orang pertama yang berani berteman denganku setelah 7 tahun lalu aku tidak memiliki teman.
Aku menghirup aroma itu lagi. Ann sepertinya merasakan hal yang sama. Kami sama-sama menatap. kemudian…
“Lari!!!” teriak kami sambil tertawa terbahak-bahak. Aku akhirnya tidak merasa kesepian lagi. Itu semua karena Ann.
Namaku adalah Mechana. Dulu aku dipanggil Mon -si makhluk menakutkan-, dan sekarang aku sering dipanggil Viu -si manis- nama yang dibuat oleh Ann, sahabat termanis sedunia.

selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen I am Mon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wanita di Ujung Lorong itu

Oleh:
Selalu begini, setiap pulang sekolah, aku harus melewati sebuah lorong yang gelap sendirian di ujung jalan Kota Sakurayami. Aku sebenarnya tidak suka lewat lorong tersebut, tapi apa boleh buat,

Janji

Oleh:
Bukk… Suatu benda terjatuh dari meja belajarku. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal namun mampu menghasilkan suara yang sedikit keras hingga membuat kedua mataku terbuka. Sedikit usapan tertuju pada

Serpih Kenangan

Oleh:
“Kau berubah, Ra ..” ujarmu suatu waktu. “Kita seolah tak pernah akrab sebelumnya. Kau bahkan seperti asing bertemu tatap denganku. Segala tingkah pun lakuku seakan-akan selalu salah di matamu.

Kuntilanak (Part 1)

Oleh:
Hari ini sangat melelahkan, bagaimana tidak, seharian Gading harus mengerjakan semua tugas yang tertunda beberapa hari yang lalu di sekolah. Tidak biasanya Gading menunda tugasnya sebanyak itu, paling banyak

Maafkan Kecuranganku Dalam Friendzone

Oleh:
Duapuluh tahun bukan kurun waktu yang singkat dalam pertemanan. Antara aku dan dia teman masa kecilku, Projo. Dari masa taman kanak-kanak sampai saat ini usia seperempat abad kami masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “I am Mon”

  1. ayu says:

    Ceritanya bagus, mengingatkan saya pada film thailand berjudul runpee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *