Ice Prince

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 February 2018

Hujan baru saja berhenti. Meninggalkan pelangi untuk menghiasi langit yang masih berkabung. Pelangi itu sangat indah, aku bisa melihatnya dari jendela kamarku.

Aku tersenyum melihat pelangi itu. Sudah tiga bulan semenjak kejadian itu terjadi. Sudah tiga bulan kedua orangtuaku pergi. Sudah tiga bulan juga aku tinggal bersama paman dan bibi. Bahkan sudah tiga bulan aku lupa bagaimana caranya tertawa.

“Azura.”
Ah, suara itu.
Dan sudah tiga bulan juga aku mendengar suara itu. Itu suara Gwen, temanku satu-satunya selama tiga bulan ini.

“Apa kau menangis?” tanya Gwen.
“Ah, tidak, ini hanya sedikit cipratan air hujan yang tak sengaja terkena wajahku.” tentu saja itu hanya alibiku. Aku baru saja menangis. Aku rindu kedua orangtuaku. Aku merindukan mereka…, sungguh.

Gwen melayang-layang di udara lalu menuju tepat ke sampingku. Entahlah, aku pun bingung. Aku ini bukan indigo atau semacamnya, tapi mengapa aku bisa melihat Gwen yang bahkan bukan manusia? Dan kenapa aku hanya bisa melihat Gwen saja?

“Gwen, darahmu, membuatku takut,” ucapku lirih. Jujur, aku merasa takut kala Gwen muncul di hadapanku dengan tampilan berdarah-darah. Ia tersenyum lalu merubah tampilannya menjadi anak laki-laki yang seumuran denganku.

“Maafkan aku,” ucapnya.

“Gwen,” aku menoleh ke arah Gwen berada. “sampai kapan kau akan terus mengikutiku?”
“Sampai aku percaya kepada seseorang yang bisa melindungimu.”
“Mengapa kau harus bilang begitu?”
“Mengapa kau terus menanyakan hal itu?” Gwen menghela napas, “Maafkan Pamanku yang waktu itu membawa mobil ketika mabuk hingga menambrak mobilmu dan merenggut nyawa kedua orangtuamu.”

“Mengapa kau terus meminta maaf, Gwen?” tanyaku polos.
“Karena aku merasa bersalah, Azura.”
“Mengapa kau merasa bersalah? Kan kamu juga menjadi korban.”
Gwen hanya diam.

Sejak kejadian itu, Gwen selalu bersamaku. Dia bilang jika ia akan melindungiku –sampai ada seseorang yang dapat melindungiku selain dia– sebagai ucapan maaf. Padahal aku sudah memaafkannya, tapi ia masih bersikeras dengan pendiriannya.

Terdengar suara pintu dibuka, aku pun menoleh. Oh, ternya Bibi. “Ada apa, Bi?” tanyaku.
“Istirahatlah, Azura. Besok kau akan ikut study tour. Tidak ada bantahan, oke?” Bibi mengusap kepala ku pelan, lalu pergi melangkah ke luar.
“Baiklah.”

“Berhentilah melayang-layang, Gwen.” kegiatan mengepak barangku pun terhenti karena Gwen yang terus melayang-layang membuatku jengah.
“Kau mau aku menapak? Kan, aku sudah bukan manusia, Azura.”
“Iya juga, sih,” ucapku sedih. Aku menoleh ke arahnya yang masih asik melayang-layang. “Gwen, nanti kau tidak usah mengikutiku yaa?”
Gwen memicingkan matanya kearah ku. “Tidak,” ucapnya singkat, padat, dan jelas.

“Kumohon yaaa…” aku menangkup kedua tanganku sambil memasang puppy eyes andalanku.
“Tidak.”

“Azura,” ah, ternyata itu Bibi. “kau sudah bangun rupanya?”
“Cepatlah turun lalu sarapan, jam setengah enam nanti kita berangkat ke sekolah,” lanjut Bibi.
“Baiklah, aku akan turun sebentar lagi.” senyumku pudar tepat saat Bibi ke luar dari kamar. Aku tidak terlalu suka dengan acara study tour. Menurutku itu melelahkan, dan aku tidak suka jika berkelompok dengan anak perempuan yang terus bergosip.

Oh, satu lagi, jangan tanyakan mengapa aku bangun pagi-pagi subuh begini. Ini semua ulah Gwen yang telah membangunkanku.

Setelah selesai, aku langsung turun ke bawah untuk sarapan dan bergegas ke sekolah –dengan Gwen yang masih terus mengikutiku tentunya.

“Gwen, hati-hati ya,” ucap Paman sambil mengacak pelan rambutku.
Bibi memelukku sebentar. “Jaga diri baik-baik, Tuan Putri.”

Mereka langsung berangkat ke kantor kala aku sampai di sekolah. Masih pagi, dan di sini sudah ramai sekali. Sedikit aku mendengar percakapan anak perempuan yang terlalu excited bahkan ada beberapa dari mereka yang terang terangan ingin sekelompok dengan lelaki tampan –yang bahkan aku tidak tau namanya.

Tiba-tiba, Bu Theodora telah berdiri di podium yang telah disiapkan sambil memegang mikrofon di tangan kanannya. “Perhatian, semuanya. Ibu akan membacakan kelompok yang telah dipersiapkan. Harap perhatiannya. Kelompok satu, Fasya Adinda, Sarah Vanesa, Gita Putri, Farhan Wijaya, dan Leonard Ath. Kelompok dua—”

“Kyaaa! Aku sekelompok dengan Leo.”
Teriakan histeris keluar dari mulut tiga orang perempuan yang kuyakini sekelompok dengan Leo.

“Kelompok terakhir, Gilang Sanjaya, Azura Abriella, Netta Gabriella, Sonic Ambrosius, dan Anetta Feyrin.” ucapnya. “Dimulai dari kelompok satu, silahkan kalian memasuki hutan itu, lalu mencatat tumbuhan yang sudah kalian pelajari. Dan berjalanlah sesuai dengan peta yang telah Ibu berikan.”

Bu Theodora menunjuk hutan mengerikan itu. Yang benar saja? Apa itu tidak berbahaya? Bahkan cahaya mentari hanya bisa masuk sedikit lewat celah yang tidak tertutup dedaunan.

Acara itu dimulai dari kelompok satu yang pertama masuk, dilanjut kelompok dua, tiga, dan seterusnya sampai kelompokku giliran terakhir untuk masuk.

Aku masuk ke dalam hutan dengan berjalan di paling belakang, sementara yang paling depan adalah Sonic, karena hanya dia di kelompok ini yang bisa membaca peta.

Di tengah perjalanan, mataku tak sengaja melihat kelinci yang terjebak oleh jebakan yang biasa dipakai pemburu. Aku menghampiri kelinci itu lalu melepaskannya, untung saja tidak ada bagian yang luka dari tubuh kelinci itu.

Aku berbalik ke belakang, dan ternyata aku telah tertinggal. Bagus, aku terjebak di dalam hutan sendirian, dan kabar buruknya aku adalah kelompok terakhir yang mana nantinya tidak ada kelompok lain yang melewati hutan ini lagi.

“Tunggu.”
Suara siapa itu? Oh, Tuhan kumohon jauhkan aku dari segala monster jahat yang ada. Takut-takut aku menengok ke belakang, mataku membulat sempurna kala melihat lelaki seumuranku dengan pakaian penuh lumpur.

“Dagingku pahit! Tolong jangan makan aku!”

“Aku tidak doyan.”

Tapi tunggu, sepertinya suara ini tidak asing. Aku membuka mataku perlahan, ternyata lelaki itu telah mendekat ke arahku. Dia Leo. Tapi mengapa tubuhnya penuh lumpur?

“Jangan bilang kau juga tertinggal.” wajahnya mendekat ke arahku, otomatis aku menjauhkan wajahku agar tidak terlalu dekat.

“Mengapa kau penuh dengan lumpur?”
“Aku terjebak di lumpur hidup dan parahnya, tidak ada yang menyadari itu.”
“Mangapa kau tidak teriak meminta bantuan?”
“Malas menggunakan suara.”

Ok, itu jawaban yang tidak masuk akal.

“Sebaiknya, kita tunggu kelompok lain lewat.”
“Kabar buruk, karena akulah kelompok terakhir.”

Yang kupertanyakan adalah, di mana Gwen saat ini?

“Kalau begitu, mari kita cari jalan keluar sendiri.” Leo berjalan duluan meninggalkanku yang masih diam berdiri.
“Tunggu!”
Akhirnya aku terpaksa mengikutinya.

Kami berjalan melewati pohon pohon besar dan jurang. Aku hampir saja terjun bebas ke jurang jika Leo tak sigap menarik tanganku.
“Lain kali, hati-hati,” ucapnya sambil menatapku dengan tajam.

Kami terus berjalan hingga akhirnya menemukan tenda-tenda yang berdiri, dan sudah pasti itu tenda dari sekolah kami karna logonya pun sama persis.

“Astaga, Leo! Bu Theodora dan Pak Gugun sedang mencarimu tau? Kau ke mana saja?” tanya, siapa ini? Fasya ya? Ah siapa saja lah, aku tak mengenal mereka.
“Kenapa kau penuh lumpur seperti ini?” tanya Gita.
“Maafkan kami, Leo,” ucap Sarah

Sementara Farhan hanya menatap gadis-gadis itu dengan tatapan memuakkan. “Dasar lebay!” ucapnya.

Leo tampak masa bodoh dengan wajah datarnya. Ia melirikku sebentar lalu menarik tanganku menjauh dari kerumunan orang-orang yang panik akan hilangnya Leo.

Aneh, dasar Singa.

Setelah sampai di tempat yang lumayan sepi, Leo hanya diam berdiri tanpa ingin berbicara.
“Untuk apa kita ke sini?”
Leo melirikku dari sudut mata tajamnya. “Menjauh dari kerumunan orang-orang.”
“Mengapa kau mengajakku?”

Leo menatapku dengan tatapan tajam miliknya. Oke, apa aku terlalu cerewet? Kurasa tidak.

“Aku hanya…,” Leo menarik napas lalu membuangnya secara kasar. “sudahlah, lupakan,” ucapnya sambil meninggalkanku
Lalu Leo pergi meninggalkanku sendiri. Apa maksudnya ya? Untuk apa ia membawaku kemari tapi ia sendiri malah pergi?
Aku mengela napas lelah, sampai sebuah suara membuatku celingukan.

“Dia pelindungmu, Azura. Kau akan baik-baik saja. Aku akan terus menyayangimu, Azura.”

Itu pasti, Gwen.

Cerpen Karangan: Abyzier
Facebook: Abell

Cerpen Ice Prince merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Cinderella

Oleh:
Namaku Cinderella. Ya, Cinderella. Seperti nama tokoh dongeng yang sangat terkenal. Dan kebetulan atau memang takdirnya, ibuku meninggal saat aku kecil dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak dua.

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah

Seberapa Besar Kasih Sayangmu

Oleh:
Suatu hari ada seorang gadis yang lugu nan cantik, gadis yang berusia 18 tahun ini tinggal bersama ayah kandungnya tanpa saudara karena dia anak tunggal dan tanpa Ibu dikarenakan

Rumah Baruku

Oleh:
Namaku Kiva, lengkapnya Kiva Andara. Di rumah ini aku hanya tinggal bersama kakak laki-lakiku. Orangtuaku sudah meninggalkanku dan kakakku dua tahun yang lalu. Sebenarnya sejak awal aku sudah tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ice Prince”

  1. Fathia salsabila says:

    Ada kesalahan ketik pada kata, “Gwen hati-hati ya.” padahal seharusnya nama Azura. Itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *