I’m Death and He’s My Soulmate (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 23 June 2016

Langkahku ringan, nyaris melayang di atas tanah. Bohlam di sisi jalan berkedip seolah menyapa saat kulewati. Malam semakin sepi dan dingin, tampak dari butir salju yang makin menggunung menutupi jalanan. Aku menghembuskan napas tanpa tanda udara di musim dingin dapat mempengaruhi suhu tubuhku seperti ketika aku masih hidup. Aku tak merasakan dingin, terik matahari, bahkan orang-orang dengan bebas tembus melewati tubuhku. Tak ada yang menyahut ketika aku bertanya. Mencekam. Duniaku sunyi. Tiba-tiba semua terasa menakutkan. Aku sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku berjalan seorang diri di dunia yang luas ini.

Aku telah meninggal. Tiga hari lalu, bahkan mayatku masih teronggok di semak belukar di dalam hutan. Gigiku gemeretak. Tangan mengepal. Buku-buku jemari mencuat isyaratkan amarah memuncak. Aku tak rela. Seribu tahun sekalipun aku tak akan memaafkannya. Pembunuh terkutuk itu. Akan kubalas!

Gendang telingaku mau pecah.

Well, memang diragukan apa masih dapat pecah?
Kupikir-pikir, kenapa dulu aku banjir air mata karena dia? Padahal lihat saja. Kakiku bahkan tak bisa melangkah. Bekas kaleng minuman dan sampah tak jelas berserakan di tanah. Bergerak mengikuti alunan musik DJ yang disetel seolah konser, tubuh mereka saling menempel, kelewat dekat. Ah.. dia tak pernah berubah. Setiap minggu berpesta pora. Barangkali karena dia juga kesepian. Orangtuanya selalu ke luar negeri. Mungkin itu sebabnya ia lebih mementingkan popularitas dan senang-senang. Tapi setidaknya ia punya banyak teman. Aku mengenal satu dua wajah dari… kurasa hampir seluruh warga kampus di sini.

Aku ingin sekali mengabaikannya tapi ketika mau lewat, seorang wanita dan pria berdiri di depan pintu masuk. Mereka tampak asyik mengobrol, aku menghentikan langkah. Karena di detik berikutnya wajah mereka saling mendekat, makin dekat, lalu…

Aku memalingkan wajah. Bila saja darah masih mengalir di kulit, pasti sekarang mukaku merah seperti tomat matang. Tingkah remaja jaman sekarang…

Mengapa aku di sini?
Kepalaku serasa mau pecah. Perutku mual bukan main. Sedari tadi kucoba memuntahkan isi dalam perut tapi tak ada yang keluar dari mulutku. Kesal. Jengkel! Semua gara-gara dia!

Kenapa rumah si brengsek itu berdekatan dengan rumahku? Kenapa pula bisa-bisanya aku mampir kemari, cuma karena tak tahan melihat Ibu menangisi potretku. Ah… Ibu, maafkan anakmu ini. Meski sudah jadi makhluk tak kasat mata pun, aku masih saja membenci diriku. Harus apa lagi? Aku tak dapat bicara dengan siapapun, bahkan mereka tak dapat meliha-

“Woi! lo ngapain nungging di situ?”

“Lo… lo bicara sama gue?”

“Cih! terus siapa lagi? Setan?”

Deg.

“Ugh… ah.. maksud gue lo bisa ngliat gue?”

Ya, Tuhan, rasanya jantungku mau copot!

“Lo pikir gue buta?! Pantat segede gitu nggak keliatan?”

Dia melangkah maju, “minggir gue mau kencing,” menoleh padaku, “atau lo mau pegangin…?”
Senyum miringnya mengembang.

“Ewww…” sambil memasang muka jijik aku membalik badan dan menutup pintu selagi sudut bibirku meruncing.

Aku senang sekali. Sampai-sampai jantungku tak berhenti berdebar. Ya, mesti tak sesenang itu, sih, karena…

“Apasi lo, ngikutin gue mulu?!!”

Dia. Si brengsek itu satu-satunya orang yang dapat melihat dan bicara denganku.
“Ga, lo nggak tahu situasi penting seperti apa sekarang?”

“Nggak mau tahu.”

“Tapi Ga, gue kan udah ceritain semua ke lo, dan satu-satunya orang yang bisa bantu gue ya cuma elu.”

“Bodo.”

Argh!!!

Sebenarnya aku tak sudi minta bantuan sama cecunguk ini. Tapi apa mau dikata. Entah mengapa cuma dia yang dapat melihatku.
“Aga please…”
Dia berlalu. Aku mengejar.

Di dapur “Aga pleasee…”

Di kamar “Aga pleassee…”

Kamar mandi “…pleaseee…”

Ruang tamu, halaman, bahkan ketika dia mulai berjoget dengan cewek-cewek ber-rok mini itu, aku tetap dan tanpa jeda bergumam di kupingnya, “Aga please… Aga please… Aga pleas-”

“Ok. Stop. Fine!!”

Kaget semuanya berhenti bersamaan. Meraka saling pandang. Bingung dengan sikap tuan rumahnya itu. Aga menarik lenganku menuju dapur. Tak ada orang.
“Mau lo apa?!”

Aku nyengir lebar, “gue mau lo bantu gue nyari pembunuh itu.”
Aga mematung sesaat. Tampak berpikir.

“Ok. Tapi setelah itu lo harus jauh-jauh dari hidup gue. Atau sebaiknya lo cari pohon gede kek, terus ketawa-ketiwi deh di situ, yang penting jangan ganggu gue lagi, ngerti?!!”

Mataku menyipit, “lo pikir gue kuntilanak?”

“Whatever.”

Well, setidaknya Aga mau membantuku menemukan pembunuh kamvret itu.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: https://mobile.facebook.com/mella.amelia2
Mohon kritik dan sarannya ya

Cerpen I’m Death and He’s My Soulmate (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Tidak Sia Sia

Oleh:
Seperti biasa, rutinitasku setiap hari adalah berangkat pagi-pagi sekali untuk melakukan ritual pagiku di sebuah loker milik seseorang. Seseorang yang telah berhasil membuatku begitu tergila-gila padanya, meskipun aku tak

Jodoh Di Tangan Tuhan

Oleh:
Semua berawal tahun 2007 ketika kami masuk di sekolah menengah pertama, tidak ada yang terlalu spesial saat itu, tapi semua mulai berbeda saat aku kenal dengan seorang perempuan, Vanny

Sandara

Oleh:
Sandara, gadis manis yang satu ini telah membuat hati Nico dag dig dug. Kelembutan dan keramahannya telah meluluh lantakkan hatinya. Wajahnya yang indah bagai rembulan, semakin memantapkan perasaan Nico

Nama Ke-1001

Oleh:
Cupid masih berbaring dengan tenang di salah satu dahan terbesar pohon tua, pohon tua di tengah ilalang kekuningan yang selalu menajdi tempat kesukaannya. Angin senja yang hangat masih setia

Sepi Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini seperti biasanya dira habis pulang dari kegiatan kerja kelompok di rumah temannya, dira adalah gadis sma yang manis, dan mempunyai keperibadian yang baik. Hari ini dira melewati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “I’m Death and He’s My Soulmate (Part 2)”

  1. Iva says:

    Lanjutanx kak? Aku juga lama nunggu lnjutan ‘love story’ n ‘terpaksa kupacari saja.’ Suka cerpen2x kak tp blm ada lnjutan smua.

  2. layla salsabila says:

    Kak mella cepet lanjutin ya…
    Aku dah nunggu dari dulu cerpen yang ke 3
    Semangat dan terus di lanjutin… oke?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *