Invisible

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 7 February 2018

Mataku terpejam seakan semua hal dalam hidupku tak berarti. Aku berangan untuk mengetahui hal besar dalam hidupku. Dalam hidup terdapat hal penting, aku akan mencari hal itu. Meski itu tak nyata atau hanya sebuah khayalan belaka, aku pun akan tetap mencarinya, dan aku akan mendapatkannya. Sebab aku butuh kebahagiaan. Walau pun mati, tapi tak apa, asalkan aku dapat bersamanya. Dari pada hidup dengan penuh kekosongan dan penuh dengan penderitaan.

Dalam sebuah mimpi aku bertemu seseorang yang mungkin itu penting dalam hidupku. Dan mungkin juga ia tujuan hidupku yang aku cari selama ini. Namun yang tak aku mengerti kenapa ia tak nyata, atau pun bisa dibilang aku dan dia hidup di alam yang berbeda. “Ya aku yakin itu..” aku memutuskan akan mencarinya. Entah itu bagaimana, namun aku yakin aku dapat bertemu dengannya.

“zoy, buka matamu dan bangunlah.. sayang” ibuku membangunkanku.
Ya ia Emly Louis, itu ibuku. Ia sangat perhatian dan sangat sayang denganku. Walau pun terkadang aku jengkel padanya atas perlakuan berlebihannya. Ya konyol, memang. Aku merupakan gadis pendiam, dan suka menyediri. Di sekolahku pun tak ada satu teman yang mau berteman denganku. Ya.. itulah aku ”Zoy Louis”. Anak pendiam, penyediri, cupu, aneh. Tapi buatku emang aku seperti itu mau gimana lagi. Orang ini pilihanku.

Ayahku, George smith adalah seorang lelaki yang hebat dan aku tau itu. Ia berkerja menjadi seorang penjaga di mercusuar dekat pantai. Menurutku itu pekerjaan yang tak mudah, sebab itu memerlukan keberanian besar. Ia juga termasuk orang yang pendiam yang tak banyak bicara, walaupun dengan ibuku. Ya aneh rasanya hidup di sebuah rumah yang di dalamnya ada ibu cerewet, ayah cuek, anak cupu. Emang itulah kehidupanku.

Hari-hari kujalani seperti biasa menjadi gadis cupu, pendiam. Namun ada sedikit perubahan, sebab hari ini aku melangkah untuk hidup dan ada meraih tujuanku. Tujuan itu adalah disaat aku akan mendapatkanmu.
Mati pun tak apa.. jika hidupku sudah tak beralasan, berpenyebab, dan berakibat untuk orang lain. Aku mencarinya, itu privasi besarku, tak pernah tereelakan dalam hidupku.

Lautan yang penuh dengan tantangan dilewati oleh seorang lelaki muda dengan menggunakan sebuah perahu besar yang ia miliki. Dan pada saat ini ia merasa bingung dengan apa yang akan ia tuju, sebab ia merasa semua hal yang ada di dunia ini sudah pernah ia rasakan dan ia miliki. Namun satu hal yang belum ia punya yaitu seseorang yang terpenting dalam hidupnya. Lelaki itu beranama Roper Dramision, ia dulu hidup menjadi seorang anak bangsawan yang sangat kaya di desa terpencil yaitu desa Guide Sanderm. Sekarang ia memutuskan untuk berkelana mencari sesuatu hal yang belum pernah ia temukan di hidupnya.

Dengan tangan yang kuat, ia menarik layar kapalnya dan menarik lagi sampai angin dapat menghembus kapalnya sehingga kapal tersebut dapat berlayar. Semua persediaan sudah ia siapkan untuk keperluan selama beberapa hari berlayar, ia berpikir dalam hidupnya akan ada sesuatu hal yang besar akan terjadi kepadanya. Apakah itu? Ia belum mengerti. Jika itu baik ia akan sangat bahagia, dan jika itu tak baik ia tak akan menyesalinya namun ia akan menjalaninya. Sebab ia merasa apa yang ada di dalam hidupnya adalah sesuatu hal yang paling penting untuk dijalani dan dirasakan, ya ia percaya itu. Untuk seorang remaja berusia 18 tahun untuk berlayar seorang diri adalah hal yang tidak mudah, ya semua orang tau akan hal itu. Ia mempunyai ambisi yang sangat besar untuk menguatkan tekat yang dimilikinya.

Malam datang, bulan dan bintang menyapanya dengan senyuman manis. Untuk malam ini cuacanya cerah dan tak ada gumpalan awan yang menandakan akan terjadinya badai tengah samudra. Gelombang air laut pun tenang, sehingga ia berpikir bahwa malam ini ia akan aman. Roper memanjat, berlari, di kapalnya. Tepat di depan kapal, ia memanjatnya dan melihat alam yang sangat indah yang kiranya ini hanya ada dalam alam khayalnya. Dengan menggunakan teropong kecil yang terbuat dari tembaga putih yang dilapisi cat berwarna abu-abu, itu membuat ia tampak gagah. Roper pun juga merasakan hal itu. Gelombang membesar dengan sangat cepat, angin berhembus sangat cepat, hujan yang berubah dengan begitu cepat menjadi badai. Tanpa diragukan lagi badai itu pun terjadi. Dengan perasaan panik ia mencoba menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bagian bawah kapal, tepatnya disela-sela barang bawaannya dari desa. Ia berpikir ia akan mati di sini.

Air masuk melalui celah-celah kapal sehinga kapal Roper pun dengan perlahan-lahan akan tenggelam. Ia pun pun pasrah dengan semua hal tersebut entah apa yang akan ia alaminya nanti, entah ia akan mati atau masih diberi kesempatan untuk hidup. Kapal besar itu pun tenggelam, dengan membawa mimpi besar seorang bangsawan muda yang berkelana. Dengan ombak yang terpontang panting kesana kemari, itu membuat kapal tersebut pecah menjadi tiga bagian. Yaitu bagian depan kapal, tengah, dan belakang. Roper berusaha agar tetap dapat hidup, ia mencari papan kayu bagian pecahan dari kapalnya yang digunakannya untuk membatunya mengapung di permukaan air, sebab Roper tak bisa berenang. Namun nasibnya sangat tak begitu baik sehingga ia meninggal karena kedinginan dan tak mampu untuk menyelamatkan dirinya dengan tubuh lemahnya. Jasadnya pun akhirnya terdampar di sebuah pulau kecil yang berpenghuni. Dan jasadnya ditemukan oleh seseorang pedagang ikan. Kemudian ia membawanya kedesa dan memakamkanya.

“sungguh malang nasib pemuda ini, ia terdampar dengan keaadan yang tak bernyawa”. Kata orang-orang desa.
“apa ya yang sebenarnya terjadi olehnya” keraguan dan keingin tahuan muncul pada orang-orang desa tersebut.

Pasir pantai yang indah aku berada di tengah- tengahnya, seperti dalam mimpi. Lautan yang biru, gelombang laut menari memecah karang-karang besar, dan pohon-pohon kelapa yang berayun-ayun seakan-akan menyapaku. Aku senang, ada waktuku untuk sendiri. Aku berjalan di pinggiran pantai dan terus menerus mengkhyal. Sampai-sampai melihat sebuah benda aneh yang tak berpemilik yang ikut hayut terbawa gelombang air menuju kedaratan, tepatnya di depanku, pinggir pantai. Dan ternyata setelah aku ambil dan aku perhatikan teryanta itu sebuah teropong yang unik dan aneh. Yang kemudian aku bawa pulang. Aku terus menerus memperhatikan benda tersebut, dan aku berpikir itu benda yang berharga sebab terdapat tulisan kecil di teropong tersebut tertera nama pemilik teropong tersebut. “ROPER DRAMISION”.Seperti nama-nama seorang bangsawan. Aku pun berkeinginan untuk menyimpanya.

“zoy dari mana saja kamu, ibu mengkwatirkanmu, sayang..?”
“dari pantai untuk menyegarkan pikiran”. Jawabku
“oh.. lain kali kamu harus berpamitan terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah, ya sayang !”
“iya, mom”

Rasanya benar-benar tak enak jika hidupku terus begini, aku mencoba untuk menjalaninya. Dan aku masih berpikir tentang teropong aneh tadi. Siapa ya pemilik teropong dan nama tersebut. Ah.. aku coba mengabaikannya. Aku bergegas masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan mencari kotak untuk menyimpan teropong tersebut. Aneh, kenapa jendela kamarku terbuka sendiri. Padahal tadi aku sudah menutupnya. Mungkin itu angin, ya angin. Tapi bagaimana kalau itu bukan angin.

“aku beharap itu dia, lelaki misterius yang ada dimimpiku yang datang saat malam tiba. Aku berharap itu benar dia. Gila… mungkin untuk sebagian besar orang, sebab ada seorang yang di hidupnya ingin bertemu hantu. Tapi walau pun ia tak nyata atau pun bisa dibilang makhluk tak berjiwa. Aku tetap menganggap ia ada. Sekarang aku ingin bertemu ia secara langsung. Aku mempunyai banyak alasan untuk itu, entah jika aku akan nyaman bila di dekatnya. Aku akan bersamanya.”

Hidupku serasa mulai berubah, saat setelah malam kemarin. Yaitu setelah aku mengucapkan semua ambisiku. Dan aku mulai menyadari bahwa akan adanya sebuah hal baru yang akan terjadi di dalam hidupku. Mimpiku adanya seorang lelaki tampan datang di duniaku ini, aku sangat menginginkannya. Aku pernah bermimpi kalau masa depanku tidak akan kujalani di bumi namun di dunia tak nyata. Aku berpikir mengapa hal itu ada pada mimpiku, apakah ada kaitannya dengan kehidupanku yang mendatang. Kalau itu pada kehidupan tak nyata, berarti aku hidup dikelilingi dengan manusia tanpa nyawa, atau biasa disebut dengan hantu. Kata “HANTU” pasti semua orang berpikir mereka makhluk yang menyeramkan dengan penampilan mereka yang berantakan tak karuan dengan ditambahi dengan darah yang bercucuran dibagian tangan, mata hilang satu, telinga mengeluarkan darah, mungkin salah satu dari kedua kaki mereka hilang. Yah… sangat mengerikan jika dibayangkan. Namun apakah ada seorang hantu yang baik dan berpenampilan yang bagus tak menyeramkan. Tapi yang kutau dalam suatu cerita hal tersebut memang ada. Untuk sebagian orang menganggap itu aneh. Jika hantu adalah suatu makhluk yang harus ditakuti karena wujudnya yang kasat mata dan berpenampilan menyeramkan. Zoy… apa yang ada di pikiranmu ini. Aneh mempekirakan hal yang tak patut untuk dipikirkan. Mereka kan mempunyai dunia sendiri tak perlu untuk dipikirkan. Apalagi jika aku harus membicarakan hal aneh ini dengan orang lain, pasti mereka menganggap diriku ini gila atau aneh. Dalam sebuah pemikiran hal yang perlu dipikir adalah hal nyata atau realistis dalam hidup ini, itulah pendapat dari beberapa orang yang mempunyai pemikiran tepat. Aku mulai merenungkan hal tersebut dari malam hingga pagi. Malam tadi aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu.

“Zoy… manis, sini nak ini sudah pagi, kamu tidak ke sekolah?” teriak ibuku tepat di depan pintu kamarku.
Hassttt berisik, kata-kata tak penting yang harus setiap hari aku dengar dari mulut ibuku itu. Aku sangat heran akan ayahku yang betah hidup beberapa tahun ini dengan ibuku yang cerewet. Aku hanya bisa diam, hal tersebut mempengaruhi psikisku dalam bergaul jadinya, menjadikan aku menjadi pribadi yang menghabiskan waktuku untuk diam dan tak mau tau akan urusan dunia yang tak penting ini. Ayahku selalu berpikir akan kerja keras untuk uang. Sedangkan ibuku yang hanya diam di rumah hanya untuk bermalas-malasan. Dan aku sebagai anak tunggal hanya untuk selalu dituntut sekolah. Lihat dunia ini penuh ego masing-masing. Tak ada toleran dalam hidup saling mengasihi untuk bersama.

Tepat di depan cermin aku bercermin nampaklah seorang lelaki pucat berpakaian putih bersih, bermata coklat bak sepotong coklat yang nikmat, rambutnya yang sedikit pajang di bagian belakang membuatnya tampak gagah.
“Teropongku… kau yang menemukannya, nona?” tanya lelaki misterius itu sambil medekat ke arahku.
Badanku bergetar angin berhembus kesana kemari membuat tirai kamarku tersibak kesana kemari. Membuat suasana tambah mencekam. Tanpa kusadari kepalaku langsung mengangguk dan badanku berbalik ke arah lelaki tersebut. Tanpa banyak bicara ia lansung mengambil teropongnya dan tersenyum indah kepadaku. Satu kata yang kuingat sebelum ia pergi.
“terimakasih nona yang manis, kau begitu menarik.” katanya sambil tersenyum

Baru pertama kali ini aku menerima ucapan semanis itu dari seseorang. Tanpa kusadari kalau lelaki itu nyata atau tidak. Ia tiba-tiba ada di dalam kamarku, aneh bukan. Aku berpikir terus mengenai dari mana ia datang dan asalnya lelaki itu. Ia datang hanya mengambil teropong yang aku temukan. Sampai aku lupa kalau hari ini aku harus sekolah.

Tik tok tik tok… suara detik jam yang lama kelamaan terdengar keras tepat di samping gendang telingaku. Mataku berkunang-kunang, tatapan remang, dan perut sakit. Tanpa ada selang waktu untuk kupijakan kakiku keluar kamar tiba-tiba aku terjatuh di lantai tepat didepan cermin aku berdiri.

Kubuka mataku perlahan-lahan, aku hanya berdoa saat aku membuka nanti aku akan kembali sadar. Namun ternyata tak sesuai dengan harapanku. kabut putih melayang–layang kesana kemari, angin yang dingin mulai menusuk tubuh ini. Di manakah aku berada, yang pasti ini bukan duniaku. Aku terus menerus melihat di sekelilingku, namun yang ada hanya kabut dan tanah yang putih langit yang putih juga. Apakah ini surga di mana semua orang yang baik akan ditempatkan di sini.

“nona, bukankah itu kamu? Yang menemukan teropongku, mengapa anda bisa sampai sejauh ini? Apakah anda mengikutiku?” beberapa untaian pertanyaan yang lelaki misterius itu lemparkan kepadaku.
Aku hanya bingung, mengapa aku bertemu ia lagi. Ini aneh apa ini mimpi.
“maaf, aku tidak tau apa-apa. dan iya ini aku yang menemukan teropongmu itu”
Beberapa pertanyaan yang urut dan runtut ia tanyakan kepadaku, membuat perasaan yang nyaman di dalam hatiku muncul. Akhirnya aku mengenal dan mengetahui namanya, dan namanya itu sama persis yang tertera di teropong yang aku temukan. ROPER DRAMISION, nama yang indah dan gagah. Aku mulai diajak berkeliling di dunia putih tepat ia tinggal. Aku diceritakan apa saja pengalaman yang pernah ia alami. Salah satu yang membuatku tercengang-cengang yaitu saat ia menceritakan tentang pengalamanya saat dimana ia bisa sampai di sini. Dan baru aku sadari ia adalah makhluk yang tak beraga. Entah mengapa perasaan takut tidak muncul dari benaku, rasa nyaman ini mengalahkan rasa takutku. Aku diajak menemui salah satu tetua di dunia putih ini. Rumahnya tepat di depan padanganku saat ini. Aku bingung mengapa Roper membaku menemuinya. Muncul perasaan was-was di otakku.

“permisi, maaf boleh minta waktunya sebentar tuan?” minta Roper sambil menggandengku yang mungkin dipikiran Roper aku bakalan lari dan kabur karena ketakutan.
“iya cu, boleh. Mari sini masuk dan duduklah”. Ajak tuan si pemilik rumah
“iya terimakasih tuan.” Ucapku dan Roper serentak.

Tanpa tunggu waktu yang lama kami lansung duduk bersebelahan sambil menunggu sang tuan keluar dari ruangan rahasianya. Beberapa menit kami menunggu akhirnya beliau keluar sambil membawa buku kuno miliknya. Hal tersebut membuatku sedikit heran. Sebenarnya tujuan Roper membawa ke sini adalah untuk bertanya bagaimana cara agar aku bisa kembali ke duniaku. Namun perasaan bimbang akhirnya muncul dikalbuku, aku bingung antara aku harus segera pergi atau aku harus tetap tinggal. Jika aku pergi ke duniaku, itu tidak akan membuat kenyamananku datang. Namun entah kenapa aku merasa nyaman di sini, aku merasa tenang dan tentram. Apalagi ditambah dengan adanya Roper di sampinku.

“Zoy louis dan Roper dramision, kalian dua pemuda yang berhati dan berperasaan yang sama.” Ungkapan yang tiba-tiba dilontarkan dari mulut tuan rumah ini.
Aku dan Roper langsung tersentak kaget, apa maksud dari ucapan beliau itu. Kemudian beliau memberikan saran dan pengertian kepadaku. Beliau langsung memberitahu bahwa portal dimana aku bisa kembali telah ditutup. Roper bingung namun mengapa aku tidak ya. Beliau juga terus bercerita tentang kisah cinta beda dunia yang akhirnya pasangan kekasih itu harus terjebak di dunia putih ini. Dan katanya aku dan Roper juga telah mengalaminya. Aku bingung, bukanya hanya aku saja yang menyimpan rasa cinta ini dan aku menyimpanya sudah sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Tanpa terus menunggu lama Roper mengajakku keluar dari tempat ini.

Tepat di depan rumah tetua itu Roper tiba-tiba menggandeng kedua tanganku dan menatap kedua mataku dengan penuh rasa.
“Nona Zoy, hati ini sudah mulai mati tak berdaya untuk terus membisu tanpa bicara, maukah kau tinggal di sini bersamaku, aku baru pertamakali ini merasakan kenyamanan ini. Dan inilah tujuan yang dari dulu aku cari.”
Tanpa banyak bicara aku langsung tersenyum dan mengangguk kepadanya, ia bukan memberiku pilihan namun ia memberiku sebuah ungkapan dan setiap orang akan mau jika ia telah nyaman dan menyimpan cinta. Inilah tujuan hidup Roper yang hampir sama juga dengan tujuan hidupku. Kini aku memilih untuk meniggalkan duniaku untuk kasih cintaku, aku akan meninggalkan duniaku dimana aku hanya seorang yang tak begitu dianggap penting. Di dunia putih tidak akan ada yang namanya benci dan amarah, di sini semua orang hidup rukun dan saling mengerti satu sama lain. Di sinilah semua orang akan bisa merasakan cinta yang sesungguhnya.

Portal dimana aku bisa kembali telah ditutup, tak ada yang bakal bisa menembusnya. Entah ia kuat, seorang penguasa, ataupun titisan dewa pun tak bisa. Di sinilah aku memulai hidup baru, bersama Roper.
Di dunia nyata tepatnya dimana ragaku tergeletak terbujur kaku, ibuku dan ayahku menangis histeris yang membuat suasana rumahku menjadi ramai dan digerumbuli orang-orang desa. Ibuku terus memanggil namaku seakan akan dengan cara itu dapat membuat jiwa dan ragaku menyatu.

“selamat tinggal ayah ibu, aku memilih tidak melanjutkan hidup dengan kalian bukan berarti aku tak sayang dengan kalian melainkan, aku harus mencari tujuan terbesarku di dalam hidupku”
Untaian kata yang terus aku ucap di benakku saat ini. Ini adalah takdir cinta. Kini sekarang aku dapat bersama dengan orang yang aku anggap bahwa ia ada.

3 bulan telah berlalu, aku sudah terbiasa dengan kehidupanku di sini. Sekarang kondisi di rumah dunia asliku sudah berbeda, entah kenapa dengan aku tak ada disana itu membuat ayah dan ibuku menjadi lebih dekat dan saling mengasihi. Mereka baru mengerti pentingnya cinta saat dimana salah satu orang yang ada di hidup mereka telah pergi. Perasaan cinta yang begitu besar akan muncul disaat seseorang merasakan kesedihan yang amat mendalam. Disitulah mereka akan tau pentingnya cinta. Cinta yang tak nyata itu akhirnya sekarang aku telah dapat mengubahnya menjadi nyata.

The end

Cerpen Karangan: Deanira Fatwa Alma
Blog: 234alma.blogspot.co.id

Cerpen Invisible merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 3)

Oleh:
Penampilan tak kalah mengesankan dari peserta lomba tari lain, namun penentuan kemenangan ada di tangan para juri yang duduk di urutan kursi paling depan. Semua rombongan menangis saat tidak

Cinta Si Kembar

Oleh:
Fitri dan Fitra merupakan saudara kembar, Fitri sangatlah menyayangi Fitra. Fitri sendiri cenderung lebih borfokus pada sekolahnya lain pada Fitra yang lebih sering menghabiskan waktu bersama sang kekasihnya -Fadli.

3600 detik

Oleh:
Aku melihat dia ke luar dari kelasnya. Hari ini masih sama, dia tetap cantik dengan kemeja merah, celana jeans yang dilipat, dan sneakers adidas model terbaru. Selalu tampil casual

Perbedaan

Oleh:
Aku sendiri di dunia ini, sendiri bukan berarti tidak ada orang di sekitarku, jiwakulah yang sendiri, sendiri dalam kerumunan banyak insan. Temanku hanyalah kesepian, dan hidupku adalah kehampaan. Semuanya

Email Misterius (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba aku menemukan sebuah buku kecil yang terjatuh namun dengan foto 2 anak yang bersebelahan sambil memegang tembakan air. Aku mengenali wajah keduanya, itu adalah Ray dan Dini ketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *