Isabella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 26 December 2017

Apa yang kau lakukan sana? Apakah itu betul kau? Hey jawab, jangan diam saja! Ketika aku memeriksanya aku kaget. Wah! Bagaimana ini bisa terjadi! Saudaraku dengarkan aku! Siapa yang melakukan ini padamu?

Aku dan saudaraku tinggal dalam satu rumah. Saudaraku itu tepatnya adalah kakak sepupuku. Ibuku sudah meninggal empat tahun yang lalu, dan ayahku di rumah. Sehingga kakak sepupuku dipinta untuk menemani hari hariku di sini. Tetapi hari ini, ayahku sedang lembur dan menginap di kantornya, yaitu kantor Dinas Pariwisata. Katanya akan ada tamu besar dan terhormat dari luar. Jadi sekarang aku dan kakak sepupuku saja yang sedang di rumah.

Pagi hari tadi, ketika ayahku akan berangkat, ayahku berpesan agar selalu mengunci pintu dan kamar ketika akan bepergian ke manapun jika meninggalkan rumah. Kunci rumah, sejumlah uang untuk jajan, dan keperluan lainnya sudah disediakan oleh ayahku. Ayahku akan pulang empat hari lagi. Jadi karena hari ini hari Senin, berarti ayahku akan pulang hari Jumat.

Saudaraku berumur 20 tahun dan aku berumur 21 tahun. Namun aku memanggilnya kakak sepupu. Itu karena saudaraku adalah anak dari kakak ayahku. Ayahku adalah anak nomor terakhir, sehingga aku adalah yang paling dianggap sebagai adik di keluargaku. Tak apa ayahku meninggalkanku dan saudaraku selama empat hari, kami sudah dewasa. Kami bisa memanfaatkan apa yang ayah sudah sediakan untuk kami.

Sore ini, aku bercerita kepada saudaraku tentang kehidupan di sini. Karena saudaraku baru dua minggu di sini. Aku bercerita soal ibu ibu tetangga yang suka gosip ketika sedang membeli sayuran di warung Mbok Iyem, aku bercerita soal orang gila di sini yang menjual kayu bakar dengan harga sangat murah sehingga mudah sekali ditipu oleh pembelinya.

Di sekitar rumahku, terdapat lima rumah tetangga. Karena kebetulan rumahku adalah rumah yang paling pojok, sehingga tidak akan ada rumah lagi setelah rumahku. Salah satu dari kelima tetanggaku adalah saudaraku. Lebih tepatnya kakak dari ibuku. Namanya Ibu Lastri. Tadi siang, Ibu Lastri baru mengunjungi rumahku untuk melihat keadaan aku dan saudaraku yang baru dua minggu di sini. Apalagi dengan keadaan yang tidak diawasi oleh ayahku.

Ketika sore usai, angin malam bertebaran di udara, pukul 18.30 ketika selesai beribadah. Aku dan saudaraku di rumah tidak melakukan apa apa. Hanya menonton TV dan memakan cemilan seadanya di meja. Rasanya beda sekali ketika aku ditinggal oleh ayahku. Baru setengah hari rasanya sudah kesepian seperti ini, apalagi empat hari. Tapi tak apa, ada saudaraku yang senantiasa menemaniku di sini.

Dan beruntungnya aku ketika terdengar suara orang mengetuk pintu rumahku dari luar, ternyata itu adalah Ibu Lastri. Ibu Lastri datang ke rumahku untuk memberikan beberapa makanan dan minuman untukku dan saudaraku. Ketika suasana seperti ini, aku tak lagi kesepian dengan saudaraku. Ada Ibu Lastri yang menemani malamku saat ini. Tetapi Ibu Lastri tidak bisa menginap sekarang.

Kami menonton televisi bersama, memakan makanan dan minuman bersama. Itu semua pemberian dari Ibu Lastri. Terima kasih sekali Ibu Lastri, karena telah mengisi kekosongan pada malam kali ini. Besok aku harap Ibu Lastri bisa mengunjungiku lagi. Bukan karena aku mengharapkan buah tangannya, tetapi aku ingin dimalam hari ada yang menemaniku dan saudaraku dan menambah keakraban. Bukan hanya suara televisi dan suara jangkrik dari luar.

Ketika waktu menunjukkan pukul 21.00, Ibu Lastri pulang menuju rumahnya. Jaraknya hanya kira kira duapuluh langkah dari rumahku. Benar, sangat dekat. Seperti yang aku katakan, rumahku adalah rumah yang paling pojok sehingga deretan rumah rumah sebelumnya pun sangatlah dekat. Kemudian, karena hari telah malam, aku dan saudaraku pun tidur di kamar masing masing. Aku tidur di kamarku, dan saudaraku tidur di kamarnya.

Malam hari di sini adalah waktu dimana orang orang sudah tidak ada lagi yang berada di luar. Batas waktu keluar malam adalah pukul 22.00. Pak RT memang sudah menyusun jadwal ronda, tapi sayang sekali karena warga daerah sini yang kurang bertanggung jawab, sehingga ronda malam dari hari ke hari makin hangus. Sekarang tidak ada lagi yang mau melaksanakan ronda malam. Apalagi daerah rumahku adalah daerah terpencil, karena paling pojok dan hanya terdapat enam buah rumah di situ. Aku, dan kelima rumah tetanggaku tadi. Jika kita keluar dari jalan depan rumahku, kita akan menemui sebuah jembatan. Jembatan yang baru saja diaspal tiga hari yang lalu. Di situlah rumah rumah warga berjejeran.

Ketika malam hari ini, pukul 00.01, aku mendengar orang di luar mengetuk pintuku. Memangnya siapa yang mau bertamu di malam hari? Apakah ada kepentingan yang penting? Dengan berat hati, aku bangun dari tempat tidurku, dan kebetulan saudaraku juga terbangun dari tidurnya karena berisik. Ya, berisik. Ketukannya sangat keras dan menggebu gebu. Untung saja kelima tetanggaku tidak ikut terbangun. Kemudian aku menuju pintu depan rumah dan membukanya bersama saudaraku.
Aku melihatnya, seseorang gadis yang selisih tingginya kira kira 30 cm lebih pendek dariku, Wajahnya pucat, dan lusuh. Rambutnya panjang dan dia sedang menangis. Dia langsung memeluk aku ketika aku membukakakannya. Dia mengatakan bahwa dia beruntung ada orang yang mau melayani ketakutannya pada malam hari ini. Aku bertanya, memangnya sedang ada apa di luar sana malam malam seperti ini sehingga dia ketakutan?

Dia memintaku untuk mengikutinya sampai ke tujuannya. Aku bingung apa yang sedang terjadi sebenarnya. Baru kali ini aku menjumpai kejadian aneh seperti ini. Seorang gadis di waktu larut malam mengetuk pintu rumah hanya untuk curhat dan meminta perlindungan dari ketakutannya. Apa yang membuatnya takut? Aku mengikutinya dan ternyata.

Sampai di tempat aku mengikutinya, ternyata itu adalah rumah Ibu Lastri. Ya benar, Ibu Lastri yang tadi pulang pukul 21.00 dari rumahku. Ibu Lastri yang merupakan kakak dari ibuku. Aku bingung, aku tak pernah melihat gadis ini sebelumnya. Aku juga bingung, apa yang terjadi di sini. Kenapa gadis itu membawaku ke sini?
Ternyata, aku melihatnya. Rumah Ibu Lastri yang kosong dan tak berpenghuni kecuali Ibu Lastri. Aku baru ingat bahwa suami Ibu Lastri sedang ada tugas sama seperti ayahku, sehingga yang di rumah tinggallah bu Lastri. Ketika aku sampai di depan ruang tengah. Astaga! Ibu Lastri!

Aku yakin yang melakukan ini orang jahat! Ibu Lastri dibunuh oleh seseorang di malam hari seperti ini. Lumuran darah bercucuran di lantai ruang tengah. Lalat lalat pun sudah mulai beterbangan di atas mayat Ibu Lastri. Beruntung sekali si gadis itu membawaku kemari sehingga aku mengerti kasus ini. Saudaraku dan aku menangis tersedu sedu bersama si gadis. Baru tadi Ibu Lastri membawakanku cemilan dan makanan yang lezat. Namun sekarang, beliau telah pergi karena kasus pembunuhan. Tetapi siapa yang berani membunuh orang di tempat sepi seperti ini dan larut malam?

Aku sangat berterima kasih pada si gadis. Aku langsung menelepon polisi untuk menyelidiki kasus kematian Ibu Lastri. Dengan sigap, setengah jam kemudian polisi langsung datang ke tempat untuk mengurus mayatnya. Si gadis ketakutan, karena itulah dia ingin pergi dari tempat itu. Karena dia mengaku padaku melihat si pembunuh sedang masuk ke rumah Ibu Lastri. Jadi karena itulah dia langsung mengetuk pintu rumahku untuk memberi informasi. Anehnya, untuk apa seorang gadis keluar rumah malam malam? Sebelum gadis itu pergi, aku bercakap sejenak dengan gadis itu.

“Kakak, aku ketakutan. Aku mau pulang saja ya”, kata si gadis.
“Iya, kamu lebih baik pulang saja. Terima kasih atas informasinya. Tapi mengapa kau boleh keluat larut malam?”, tanyaku.
“Itu sudah biasa, kak. Ibuku memperbolehkanku pulang larut malam karena aku memang sibuk. Aku ada urusan dengan temanku. Aku sedang membuat acara besar di kampung sebelah. Ketika aku lewat depan gang ini, aku melihat si pembunuh sedang masuk ke rumah. Sehingga aku langsung memberi informasi pada rumah terdekat. Yaitu kebetulan adalah rumah kakak. Begitulah kak, aku pulang dulu ya kak. Aku takut”, kata gadis itu.
“Hey kemarilah sebentar. Ada yang kurang. Siapa namamu?”, tanyaku.
“Isabella,” jawab gadis itu.
“Baiklah. Lebih baik kau pulang, dan jangan pulang larut malam lagi”, kataku.

Isabella? Nama yang bagus. Aku sering mendengar nama itu di film. Mungkin ibunya terinspirasi dari film juga. Ah lupakan. Isabella, teman baruku di kampung ini yang memberitahuku akan adanya pembunuhan terhadap Ibu Lastri.

Setelah polisi mengambil tindakan terhadap mayat, sekarang tinggal polisi mencari jejak pembunuhnya. Tidak ada sidik jari sama sekali yang terambil di mayat Ibu Lastri. Ibu Lastri akan dimakamkan nanti pagi pukul delapan. Mengenai pembunuhnya, memang susah untuk ditemukan. Kata polisi, pembunuhnya pintar. Dia memakai alat khusus agar sidik jarinya tidak terekam. Tetapi polisi menemukan sebuah tulisan yang berbunyi, “Kalau kau melapor, kau akan celaka”. Tulisan tersebut diketik pada sebuah kertas dan diselipkan di bawah jasadnya. Misteri macam apa ini.

Suatu kejadian yang sangat mencengangkan. Aku sudah memberitahu ayahku dan suami Ibu Lastri. Suami Ibu Lastri akan pulang hari ini, sementara ayahku akan pulang selama beberapa jam kemudian nantinya berangkat ke kantor lagi. Karena ayahku sedang sibuk. Ibu Lastri sudah dimakamkan dan misteri pun belum terpecahkan. Aku juga bertemu dengan Isabella ketika pemakamannya. Isabella juga masih menangis ketakutan ketika pemakaman karena masih terbayang peristiwa tadi malam bersamaku.

Satu hal yang aneh. Mengapa si pembunuh meninggalkan catatan? Apa tujuan si pembunuh membunuh Ibu Lastri? Apa salah Ibu Lastri sebenarnya. Sekarang, catatan itu sudah dipegang erat erat oleh polisi untuk diselidiki.

Di rumah, aku sendirian bersama saudaraku. Karena ayah baru saja berangkat ke kantor. Ayah bilang bahwa aku akan baik baik saja. Percayalah. Tetapi aku masih takut dengan kata kata yang ada dalam catatan. Katanya jika aku melapor, aku akan celaka. Namun, aku yakin pada ayah. Catatan itu hanya untuk menakut nakuti saja. Karena toh aku sudah terlanjur melaporkannya pada polisi.

Malam ini, aku dan saudaraku agar tidak terbawa takut yang membara bara, aku sengaja membeli kaset VCD komedi lucu. Sehingga aku dapat bebas tertawa karena hal lucu dalam VCD. Itu membuatku lupa akan kejadian pembunuhan tadi malam. Aku tidak berfikir masalah hantu. Karena hantu itu tidak ada. Aku hanya menanggapi, bahwa si pembunuh pintar. Dia berhasil menghapus jejaknya.

Sehingga pada malam ini, aku sudah puas menonton komedi lucu dalam VCD bersama saudaraku. Dan aku segera beranjak untuk tidur. Aku tidur di kamarku, dan saudaraku tidur di kamar saudaraku. Aku sudah tidak takut akan bayangan pembunuhan kemarin malam. Saudaraku pun sama. Malam ini tidurku akan pulas.

Di luar sudah sepi, tidak ada orang satupun. Karena mereka semua ketakutan akan pembunuhan tadi malam. Tidak ada yang berani keluar malam ini, tetapi tidak tahu untuk malam besok. Aku yakin polisi masih mengidentifikasi dan mencari tahu siapa pembunuhnya. Melalui bukti bukti yang ada, aku percaya polisi bisa.

Pukul 00.01. Ketika aku sedang tidur, aku terbangun sejenak dan melihat jam. Di kamarku tidak ada jam dinding sehingga aku selalu memakai jam tangan ketika tidur agar aku tahu waktu dan tidak pernah terlambat bangun. Tetapi kali ini aku bangun sangat awal. Yaitu pukul 00.01. Aku pikir karena aku tidak memakai selimut dan kedinginan sehingga aku terbangun. Lantas aku langsung mengambil selimut dan memakainya.

Tetapi sebentar. Ada yang aneh. Aku mendengar suara pintu terbuka di kamar saudaraku. Entah di kamar saudaraku atau pintu lainnya. Yang jelas aku mendengar suara pintu terbuka di luar kamarku. Aku gelagap takut dan mengurung diriku di bawah selimut. Aku hanya bisa pasrah dan semoga itu hanya angin malam yang membuat pintu terbuka karena saudaraku lupa menutup jendelanya.

Aku penasaran dan bingung. Aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Aku hanya bisa menanyakan dari kamarku, berteriaklah aku
“Saudaraku, apa yang kau lakukan? Apa kau lapar? Di kulkas ada roti dan selai, kamu bisa ambil di sana”, kataku takut.

Namun hasilnya kosong. Tidak ada suara apa apa. Saudaraku tidak membalas suaraku. Perasaanku semakin tidak enak dan aku ingin segera memberanikan diri untuk keluar dari kamar dan memastikan apa yang terjadi. Pikiranku sudah tidak karuan. Aku harap itu bukan apa apa, hanyalah angin lewat yang membuat pintu kamar terbuka.

Ketika aku keluar dari kamar, memang benar. Ternyata pintu ruang tengah sudah terbuka. Tapi tidak ada satu pun lubang jendela di ruang tengah maupun ruang depan. Kamar saudaraku terletak di samping ruang tengah, dan kamarku di ruang depan. Sehingga aku harus melalui ruang tengah dulu. Tapi di ruang depan, tidak ada satu pun lubang jendela yang menyebabkan angin masuk. Berpikir positif! Itu adalah tikus yang ingin membuka pintu dengan tubuhnya, sehingga badan pintunya terbuka.

Aku memasuki ruang tengah dan melihat kamar saudaraku. Lebih aneh lagi. Kamar saudaraku juga terbuka. Pikiranku menjadi macam macam. Aku bingung harus berbuat apa. Aku hanya bisa pasrah dan berteriak dari luar kamar saudaraku.

Apa yang kau lakukan sana? Apakah itu betul kau? Hey jawab, jangan diam saja! Ketika aku memeriksanya aku kaget. Wah! Bagaimana ini bisa terjadi! Saudaraku dengarkan aku! Siapa yang melakukan ini padamu?

Pada malam ini, pukul 00.01. Saudaraku terkena nasib yang sama seperti Ibu Lastri. Saudaraku terbunuh oleh seseorang. Aku tidak menyangka. Aku hanya bisa memeluk saudaraku yang sudah tidak bernyawa dan berlumuran darah di kasurnya. Ketika aku memeluknya, aku merasakan ada rabaan yang berbeda. Aku meraba sebuah kertas dan bertuliskan “Kalau kau melapor, kau akan celaka”. Tepat sekali. Tulisan ini adalah tulisan yang sama persis ketika insiden pembunuhan Ibu Laras. Hanya berbeda warna kertasnya saja, namun tetap diketik rapi. Aku langsung menelepon polisi dengan ketakutan. Aku tidak menemukan jejak pembunuhnya. Aku pikir si pembunuh kabur lewat jendela, karena jendelanya terbuka.
Dengan sigap, 30 menit kemudian polisi datang untuk mengungkap semuanya. Ternyata pendapat polisi masih sama persis dengan insiden Ibu Lastri. Polisi mengatakan bahwa pembunuhnya adalah orang yang sama dengan pembunuh Ibu Lastri. Aku juga menyerahkan catatan kecil kepada polisi, siapa tahu itu bisa menjadi petunjuk.

Pagi harinya, aku langsung mengabari ayahku. Ayahku langsung pulang dan tidak akan berangkat kerja lagi. Dia tidak mempedulikan kesibukannya karena telah terjadi dua pembunuhan berantai pada dua malam. Misteri ini semakin aneh. Siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik semua ini?

Saudaraku dimakaman di kota yang agak jauh dari rumahku. Kira kira 40 km. Karena itu adalah kota asal saudaraku. Aku pun menceritakan semua yang terjadi pada saudara saudaraku yang lain di sana. Semua yang berlalu biarlah berlalu. Aku yakin polisi akan melakukan yang terbaik untuk kampung kita. Kemudian aku kembali pulang ke rumah.

Di rumah, polisi masih menyelidiki kasus ini. Aku harap polisi sudah menemukan data data yang otentik. Dan ternyata benar. Polisi mengemukakan semua yang telah beliau dapatkan. Kemudian, polisi menceritakan semua pada aku dan ayahku.
“Begini, tadi kami dari pukul 00.45 sampai pukul 16.00 telah melakukan penyelidikan. Hingga sekarang, pukul 17.00 ketika anda pulang dari rumah saudara anda. Kami menemukan beberapa data. Kami telah meneliti beberapa jejak kaki, sidik jari, dan lain sebagainya. Namun masih sama, si pembunuh sangatlah pintar. Sidik jarinya masih belum bisa terekam. Tetapi kami mendapatkan jejak kaki yang terlihat sangat jelas, dan pintu yang dicongkel. Tetapi tenang, pintunya sudah kami perbaiki. Kami melihat jejak kaki dari arah jembatan, menuju rumah ini, kemudian menuju ruang tengah, kemudian menuju kamar korban. Di situ kami juga menemukan sekotak tissue yang sudah berlumuran darah pula. Kemudian, karena jendela terbuka, kami melihat jejak kaki di bawah jendela, lalu jejak kaki tersebut menghilang. Hanya itu yang kami dapat. Bersabarlah, karena kami akan melakukan tindak lanjut pada malam hari ini. Kami akan melakukan pengawasan khusus pada rumah Anda malam ini. Agar semuanya terungkap. Kami juga tidak tahu alasan si pembunuh melakukan pembunuhan berantai dengan korban yang tidak diduga seperti ini. Tetapi sebentar, apakan anda memiliki hubungan khusus dengan korban?, tanya polisi.
Dengan sigap, aku menjawab.
“Korban pertama, yaitu Ibu Lastri, saya memiliki hubungan. Ibu Lastri adalah kakak dari ibu saya. Serta korban kedua adalah saudara saya”, jawabku.
“Jikalau kedua korban adalah saudara, tentunya si pembunuh telah mengerti dan merencanakan hal tersebut dari awal. Terima kasih. Ini bisa menjadi data bagi kami. Sudahlah. Sekarang anda tinggal di rumah, kamar korban sudah kami bersihkan. Rumah Anda sudah aman. Anda bisa memasuki rumah anda bersama ayah Anda sekarang. Tenanglah. Untuk malam ini kami akan melakukan pengawasan khusus pada rumah Anda. Kami akan mengerahkan sekelompok polisi dan kami taruh di setiap bagian untuk mengawasi setiap sudut rumah,” kata polisi.

Aku hanya menurut dan pasrah. Semoga polisi benar, dia akan mengungkap semua kasus ini malam ini. Kalau benar si pembunuh akan datang membunuhku malam ini, aku tenang karena ada polisi yang mengawasi. Sehingga aku malam ini bisa tidur nyenyak. Aku meminta tidur bersama ayahku bersama. Bagaimanapun, aku masih dihantui rasa takut.

Datanglah malam yang ditunggu tunggu. Pukul 21.00, polisi kulihat sudah memasang diri di tempatnya untuk mengawasi rumahku. Kemudian aku tidur bersama ayah di kamar ayah yang letaknya di samping ruang tengah. Awalnya aku tidur lebih dulu, baru ayahku tertidur. Semoga malam ini polisi bisa mengungkap semuanya.

Apa yang terjadi, malam pukul 00.01, ayahku sengaja terbangun dan membangunkanku untuk memastikan tidak terjadi apa apa malam ini. Namun ini semua diluar dugaan. Aku kembali mendengar suara pintu terbuka di ruang tengah! Aku tak menyangka si pembunuh akan datang lagi ke sini. Aku bersama ayahku terbangun dan ketakutan. Kemudian aku mendengar teriakan dari luar.
“Hai kamu yang berada di sini seorang! Tunjukkan dirimu! Bangun! Aku tahu kau berada di dalam kamar!”
Apa ini? Aku mendengar teriakan itu. Mengapa dia meneriakkan suaranya? Mungkin dia tahu hanya aku saja seorang yang berada di sini. Dia belum tahu bahwa ayahku sudah pulang dan menemaniku di sini. Tetapi ini diluar dugaanku! Aku mendengar, dan mengenali suara itu. Suara gadis yang sudah kudengar kemarin pagi.

“Isabella! Ternyata itu kau! Mengapa kau melakukan ini padaku? Mengapa kau membunuh kakak dari ibuku dan saudaraku? Dan mengapa sekarang kau akan membunuhku?”, tanyaku. Aku langsung mengunci pintu kamar dan menambahkan bantal, guling dan lemari sekaligus ke belakang pintu agar Isabella tidak dapat membukanya. Dan aku berharap semoga polisi mengetahui ini semua dari luar.
“Tunjukkan dirimu sekarang! Sekarang tinggal kita berdua di sini! Mari kita selesaikan masalah kita! Jangan menutup kamarmu dengan lemari!”, bentak Isabella.
“Memangnya apa masalahku denganmu sehingga kau merenggut bagian dari saudaraku? Aku tidak pernah memiliki masalah denganmu! Tolong Isabella, bersadarlah. Buka topengmu dari kejadian yang telah lalu. Sekarang semuanya terungkap. Aku tidak menyangka!”, kataku.
“Tidak usah basa basi. Sekarang keluar dan tunjukkan dirimu. Tak ingatkah kau pada kisah kita berdua yang telah lalu? Bukankah itu pahit sekali? Jadi tunjukkan dirimu sekarang! Kita selesaikan masalah ini, atau kudobrak pintu dan bunuh kau! Aku membawa segala yang aku bawa!”, jelas Isabella.
“Tunggu tunggu! Kita bisa menyelesaikan ini dengan cara dewasa! Bukan melalui pembunuhan! Isabella, aku akan keluar jikalau kau meletakkan semua senjatamu di lantai”, kataku.

“Kubilang tidak usah basa basi! Sekarang kau keluar, ini urusan penting! Kau tidak tahu bagaimana rasanya. Apa yang membuat kau tidak ingat? Coba ingat ingat kembali, peristiwa yang dulu, betapa sakit hatinya aku diperlakukan seperti itu oleh kau dan keluargamu”, katanya.

Aku menjadi ingat tentang masalah itu. Masalah yang tidak perlu diceritakan kembali, tapi yang jelas, memang benar, dulu keluarga kami memiliki tingkah yang kurang baik sehingga itu benar benar menyakiti hati Isabella. Dulu aku tidak tahu dia bernama Isabella.

“Jadi itu, gadis kecil nan mungil yang dulu bersamaku itu adalah kau? Isabella?”, tanyaku.
“Ya benar. Dan sekarang, kau harus membayar semua yang telah kau lakukan padaku! Jika kau tidak keluar dari kamar, aku akan mengambil tindak lanjut!”, ancamnya.
“Aku tidak takut. Di sini aku bersama ayahku. Aku tidak sendirian. Ingat, aku tidak sendirian. Cobalah, kita selesaikan masalah ini denganku dan ayahku, bertiga saja dan jangan melalui cara pembunuhan! Ini demi kebaikanmu juga, atau kau bisa dipidana”, jawabku santai.
“Tidak usah menakutiku! Apa yang keluar dari mulutmu adalah omong kosong! Kuperingatkan sekali lagi, tunjukkan dirimu sekarang! Jika tidak, aku akan melakukan tindak lanjut!”, jelas dia.
“Kubilang kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang bijak, bukan dengan cara tindak lanjut seperti yang kau bilang, aku paham! Ayolah! Letakkan semua senjatamu, dan aku akan keluar menyelesaikan masalah ini”, kataku.
“Oh tidak percaya, kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menanggung malu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya keterpurukan! Sudah cukup basa basinya!”, kata Isabella. Dan aku tak menyangka Isabella mulai menggergaji dan mencongkel pintu kamarku dan berniat akan membunuhku dan ayahku!

Tak disangka, bersamaan dengan itu aku mendengar suara lain dari luar. Suara orang dewasa dan langkah sepatu ramai ramai yang terkesan sangat gagah memasuki rumahku, dan mengatakan.
“Ternyata kau gadis yang ada di pemakaman Ibu Lastri. Kau sudah terkepung. Kemarilah nak, ikutlah bersama kami ke pengadilan”

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: Muhammad Hafidz Agraprana
Umur : 16 tahun

Cerpen Isabella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ghosts in The Sanatorium

Oleh:
Spittle, Jenny, dan Eliza adalah 3 sahabat yang suka menyelidiki hal-hal yang berbau mistis. Tiga sahabat ini dikenal sebagai IMMC yang artinya: Investigator Matters Mystical Club. Mereka sering masuk

Bloody Shawl

Oleh:
Di malam Minggu, seperti biasa, warga-warga di kampung sayat selalu mengadakan pesta rakyat kecil kecilan di balai desa. Pada pesta malam ini makin menambah kemilaunya dengan beberapa penari ronggeng

Misi dan Misteri

Oleh:
Aku adalah siswi sekolah menengah atas. Namaku Adellia Veronica Mozarella. Teman temanku biasa memanggilku Adel. Dua bulan lagi, aku sudah menginjak usia 17 tahun. Sekarang, usiaku 16 tahun lebih

Mimpi Atau Bukan?

Oleh:
Kamis, 27 Mei 2016 Di suatu pagi hari yang sunyi, handphoneku yang aku taruh di samping meja tempat tidurku bergetar, aku dengan serentak kaget atas geteran tersebut. Aku langsung

Cincin Giok Biru

Oleh:
Matahari terlihat malu-malu menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Menandakan hari masih pagi buta. Seorang dara belia nampak sedang melipat selimut dan membereskan tempat tidurnya. Namanya adalah Arni, gadis muda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Isabella”

  1. RedVelvet says:

    Coba perhatikan lagi ya, nama tokoh masih ada kekeliruan. Bu Lastri tp ada satu moment yang salah tulis menjadi Bu Laras. Tolong tokoh diberi nama agar kalimat menjadi efektif dan tidak terdengar kaku. Itu aja sih. Tapi udah bagus. Keren. Semangat terus yaa

  2. Fathia salsabila says:

    Emm… Menurutku sih cerita ini terlalu berlebihan.Tapi semoga penulisnya lebih sukses lagi dalam membuat cerita. Sukses terus ya mas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *