Jangan Dibuka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 July 2017

Tio memekik kencang sekali, pasalnya dia baru saja menangkan duel poker bersama Anto. Double kartu As mampu menyelematkannya dari ToD yang udah dijanjikan dari awal. Sedangkan Mayer dan Sintong ketawa cekikikan melihat raut wajah Anto yang sudah putih memucat.

“Mampus kena lo!” Ucap syukur Tio pertama kali ketika Anto kalah dari dia.
Anto diam, meratapi nasibnya yang sebentar lagi bakalan apes. Mayer dan Sintong itu rajanya jahil, otaknya kreatif bukan untuk menciptakan peluang tapi untuk menciptakan jebakan. Ditambah juga Tio, dia selalu saja bikin kerjaan yang super rusuh.
“Lo gak boleh ngelak, To!” Ancam Mayer yang menyeringai rayakan kemenangannya. Kilat matanya membuat Anto meneguk saliva, sinyal bahaya di otaknya langsung menyala.
“Jangan macem-macem ToD-nya. Inget, gue temen lo semua.”
Sintong berdecak melawan kata yang keluar dari Anto tadi. Kalau gini, tandanya Anto bakalan habis.

Mereka bertiga menjauh dari Anto, saling berbisik untuk menentukan hukuman yang pantas buatnya. Kadang Mayer tidak setuju, lalu Tio menggeleng keras. Anto hanya berharap, semoga mereka masih punya hati nurani untuk meringankan hukuman.
“Oke, kita udah sepakat nentuin hukumannya buat lo.” Mayer berdehem sebentar melegakan tenggorokannya. “Lo harus ke gudang sekolah dan diam di sana selama sisa pelajaran hari ini.”
Gila! Anto langsung merinding ngebayanginnya, gudang sekolah tempat yang konon katanya tempat tinggal hantu paling menakutkan di sekolah. Pak Jajang -penjaga sekolah- pernah melihat sosok itu sedang berjalan pelan di lapangan saat malam.
“Jangan main-main sama sosok itu, dia tempramental.” Begitulah kata pak Jajang yang paling diingat oleh Anto dan sekarang dia harus berdiam diri di sana yang sama saja bunuh diri. Anto tidak pernah mau melakukan hal sekonyol itu.

“Enggak, gue gak bakalan mau. Lo tahu sendiri kalau tempat itu angker banget.” Anto memelas berharap ketiga temannya mengganti hukuman tersebut.
“Kalau begitu Lo harus cium Siti, anak kelas XII MIPA 3.” Anto berdecak malas, Siti yang biasa dipanggil baboon merupakan primadona di sekolahnya. Banyak yang deketin dia cuma mau ngatain aja. Bisa dibayangin kan betapa cantiknya?
“Enggak deh. Oke, gue pilih yang pertama.” Anto lemas, sendi-sendinya terasa copot. Sebentar lagi dia bakalan merasakan angkernya gudang sekolah. Dalam hati dia berharap, semoga hantunya sedang tidur.

Tio, Meyer, dan Sintong mengawasi dengan serius ketika Anto masuk perlahan ke gudang sekolah. Tempat itu memang tidak pernah dikunci, kata Pak Jajang percuma. Pernah suatu ketika karena ada barang berharga gudang dikunci pakai gembok, keesokan harinya gembok itu rusak. Parahnya gembok itu seperti meleleh dibakar suhu yang tinggi.

“Lama cepetan lo masuk.” Anto menatap ke dalam nyalang lalu perlahan tubuhnya hilang masuk ke dalam gudang. Meyer menampilkan wajah garangnya menutup pintu gudang, sedangkan Tio dan Sintong mengulum tawanya yang kemudian meledak.

“Kita gak keterlaluan apa?” Tanya Tio setelah dia puas tertawa.
“Biarin aja, biar tuh anak emang perlu dikerjain.” Jawab Meyer yang duduk pada bangku dekat gudang. Tentu saja mereka bertiga juga berjaga, katanya kalau Anto berteriak maka mereka bakalan langsung jemput ke dalam gudang. Jadilah mereka di sini, bolos sekolah cuma untuk main ToD.

Sudah hampir pulang sekolah, Anto tidak berteriak juga. Mereka bertiga hampir bosan menunggu. Meyer berdiri kemudian menghampiri pintu gudang.
“Lo mau ngapain?” Tanya Sintong yang juga ikutan berdiri, Tio juga sama.
“Mau lihat tuh bocah, kayaknya berani amat sampai sekarang gak teriak.” Meyer mengintip lewat lubang kunci, aura dingin langsung meniup matanya. Sintong dan Tio yang berdiri di belakang penasaran.
“Gimana?” Tanya Sintong menepuk bahu Meyer.
“Aneh banget, gak kelihatan sama sekali cuma warna merah kekuningan aja yang gue lihat. Kayaknya ada sesuatu deh yang ngalangin.” Meyer menjauh tiba-tiba dari lubang pintu, dia menggerakkan tubuhnya abstrak karena bulu kuduknya merinding semua. “Anjir, bulu kuduk gue naik semua.”
Sintong dan Tio saling bertatapan bingung, kemudian Sintong menarik bahu Meyer ke belakang. “Coba sini gue lihat.”
Sintong juga melihat hal yang sama, semuanya berwarna merah kekuningan. Setelah itu dia juga merinding, bahkan sampai mengusap kulit tangannya untuk menurunkan bulu yang sedang berdiri. “Di dalem ada apaan sih? Kok bisa merinding banget gue?”

Tio kemudian membuka pintu perlahan, angin kencang datang tiba-tiba menyapu tubuh mereka bertiga. Saat Tio melangkahkan kaki kanannya ke dalam gudang, kaki itu dingin. Berbeda dengan kaki kiri yang ada di luar terasa hangat.
Meyer dan Sintong melirik ke dalam melihat Anto yang sedang duduk bersila membelakangi mereka bertiga. Di depannya meja rusak yang sudah berdebu dan kursi yang kakinya patah, samping kanan ada pintu yang rusak dimakan rayap dan samping kiri ada alat-alat yang sudah tidak digunakan lagi.

“To, lo menang ayo keluar!” Kata Meyer yang menutup hidungnya karena udara gudang yang sungguh pengap dan berdebu.
Anto tidak menjawab, badannya menggigil hebat. “To, lo jangan main-main dong. Ayo keluar!” Sintong melihat Anto yang begitu jadi takut.

Tio kemudian mendekat perlahan ke Anto. “Yo, lo mau ngapain?” Tanya Sintong mencicit yang sekarang meringkuk di belakang tubuh Meyer.
“Gue mau deketin Anto, udah lo diem aja.” Sintong mengangguk, Meyer cuma diam melihat Tio yang semakin dekat dengan Anto.
Kemudian Anto meringis ketika jaraknya dengan Tio hanya sejengkal. Sintong yang udah benar-benar takut meloncat kaget.
Tio menahan napas ketika tangannya ingin menyentuh bahu Anto yang masih mengigil hebat. Jemarinya nyaris sampai, tapi entah kenapa rasanya sangat berat. Tangannya juga bergetar, apalagi saat pintu yang tiba-tiba saja terbanting keras.
“Anjrit!!” Sahut Sintong dan Meyer kaget dengan bunyi keras yang ditimbulkan dari pintu. Jantung mereka berdetak keras seperti genderang yang mau perang.

“To udahan, lo berhasil ngejalanin hukumannya.” Kata Tio pelan sembari menggapai bahu Anto. Saat tangannya menyentuh, Anto menolehkan kepalanya perlahan ke belakang.
Deg
Deg
Deg
“Ayo keluar, gue mau kencing. Anterin gue ke toilet.”

Meyer, dan Tio tertawa terbahak-bahak ketika mengingat Sintong yang begitu ketakutan di gudang. “Tong, coba lo yang kena hukuman. Pasti udah mati berdiri gak kuat nahan takut.” Ejek Meyer yang membuat Sintong geram.
“Gue gak takut, cuma tadi kedinginan aja.” Kilah Sintong yang membuat mereka berdua makin tergelak.
“Terserah lo deh, yang penting buktinya kuat. Saksi mata juga ada kok.” Kata Tio yang membuat Sintong bungkam, bagaimanapun juga mereka benar dan Sintong tidak bisa melawan lagi.

Meyer melihat jam tangan, jarum pendek telah menunjukkan pukul lima sore. Dia ingin pulang tapi sekarang ketahan karena nunggu Anto yang sedang di toilet. Sudah hampir lima belas menit berlalu, tapi dia tidak keluar juga.
“Lama banget dah tuh anak.” Meyer melangkah menuju pintu toilet yang tertutup. Tio dan Sintong memperhatikan dari jarak lima langkah ke belakang. “To gue mau pulang, cepetan kencingnya jangan lama-lama.”
Anto menggeram seakan menjawab Meyer, kemudian Meyer kembali lagi bergabung dengan Tio dan Sintong. “Heran sama Anto, dari tadi lemot banget ngapa-ngapain.”
“Masih netralin shock-nya kali, bisa aja kan jiwanya terguncang gara-gara diam di gudang beberapa jam.” Kata Sintong yang dijawab anggukan kepala dari temannya. Mereka menunggu Anto keluar dari toilet.

Sekelebat ide tiba-tiba datang di kepala Meyer, “jahilin tuh anak yok, biar dia cepet keluar.”
Sintong setuju saja bahkan sekarang dia telah maju mendekati pintu toilet yang dimasuki Anto. Tio masih ragu, dia tetap berdiri di tempatnya.
Meyer dan Sintong berbisik sebentar lalu sama-sama tertawa kecil. Tangan mereka berdua naik ke atas dan siap memukul pintu toilet keras-keras. “Anto, lo kel-”
Meyer tidak sempat melanjutkan katanya tadi karena sesuatu yang memanggil di belakang membuat batinnya terguncang. Sintong juga sama bahkan tidak berkedip sama sekali. Sedangkan Tio yang lebih dekat dengan objek yang kini sedang tersengal-sengal menganga lebar.
“Woy!! Lo bertiga ke mana aja? Gue udah cariin ke seluruh sekolah tapi gak ketemu juga. Ternyata malah diam di toilet.” Anto menarik napasnya cepat kemudian mengeluarkannya kasar. Sejenak dia menatap ketiga temannya yang memasang tampang bego, “kaget ya ngelihat gue di sini?” Anto menatap jahil dan tertawa kencang.
“Lo kok bi-bisa di-di sini?” Tanya Tio bergetar, keringat dingin telah menjajah seluruh tubuhnya.
“Jadi gini, gue bener-bener ketakutan waktu masuk ke gudang. Gak kebayang harus diam di sana sampai pulang sekolah. Gue terus mikir gimana caranya keluar dari sana. Tapi otak gue beku karena suasana yang benar-benar mencekam dan juga dingin. Mata gue gak sengaja ngelihat pintu yang udah dimakan rayap di pojok kanan gudang. Gue mencoba buka pintu dan gotcha! Pintu kebuka. Gue akhirnya lewat lorong yang ada di belakang gedung ternyata jalan itu nembus ke lab kimia.” Anto mendesah seakan beban berat sudah keluar dari tubuhnya, sedangkan ketiga temannya itu malah semakin tegang.
“Di sana gue ketemu sama pak Jajang. Dia bingung ngelihat gue yang ngos-ngosan, mengalirlah semua kejadian yang barusan gua alami. Pak Jajang terus menepuk bahu gue dan dia bilang kalau gue termasuk orang yang beruntung. Katanya hantu itu benar-benar gelap dalam artian jahat. Dia juga serem banget kata pak Jajang soalnya matanya merah pekat karena pembuluh darah di matanya pecah waktu dia sekarat. Ditambah dengan nanah berwarna kuning di sela-sela matanya karena waktu mayatnya ditemuin, dia udah masuk proses pembusukan. Bisa lo bayangin kalau hantu bermata merah dan juga bernanah itu ketemu sama gue? Ngeri, amit-amit dah.”

Sintong dan Meyer saling berpandangan, kilat mata mereka memancarkan sinyal ketakutan. Perlahan-lahan dia mundur ke belakang dan bergabung dengan Tio dan Anto.

“Katanya dia juga jahil dan sering bawa orang yang dia kerjain ke suatu tempat di sekolah. Bahkan kasus dua tahun yang lalu, kakak kelas nunggu di ruang BK karena katanya disuruh guru BK. Padahal jam itu, guru BK udah pulang semua. Dia diam di sana sampai magrib, untung pak Jajang meriksa satu-satu ruangan makanya bisa ketemu. Waktu pertama kali dilihat, katanya kakak kelas itu kayak orang gila.”
Anto terus bercerita apa yang dikatakan oleh pak Jajang tadi, tapi dia juga heran dengan kelakuan teman-temannya. “Lo semua kenapa sih? Kok kayak ketakutan gitu.”

Tio menggeleng pelan, wajahnya udah memucat. Mereka bertiga saling berpandangan untuk berbagi rasa ketakutan yang mereka miliki. “Lo kenapa sih?” Tanya Anto lagi penasaran.
Baru saja Sintong mau jawab, tapi terdengar suara dari toilet yang tadi mereka kira Anto masuki geraman suara orang marah yang sangat kencang.
“Arrrrrrrrrrrgggghhhhhhhhhh.” Suara itu menjerit seakan mengikis keberanian Tio, Sintong, dan Meyer. Mata mereka membelalak dan badan bergetar ketakutan.
“Itu suara hantu gudang sekolah!” Kata Sintong mencicit yang membuat Anto diam tidak bergerak.

“Mau tahu apa yang pak Jajang katakan lagi saat gue ketemu sama dia?” Kata Anto berbisik dan mereka bertiga mengangguk sambil coba menenangkan diri masing-masing.
“Jangan bermain dan membuka apalagi masuk ke dalam gudang sekolah sembarangan atau kalian akan menanggung sendiri akibatnya.” Kata Anto menyeringai yang membuat bulu kuduk mereka bertiga berdiri, perlahan mata Anto berubah menjadi merah pekat.

Cerpen Karangan: Aldi Murti Firdaus
Blog: aldimurtifirdaus.blogspot.com
Saya juga menulis di wattpad, bisa kalian baca salah satu karya saya http://my.w.tt/UiNb/hZMz7eyFDz
Makasih ^_^

Cerpen Jangan Dibuka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pulang Sekolah

Oleh:
“Pulang sekolah” adalah sebuah kata yang menyenang untuk didengar, diucapkan, bahkan untuk dilakukan. Selama masih berstatus pelajar “pulang sekolah” merupakan tujuan akhir bagi semua pelajar saat masuk sekolah, bagiku

Tak Seperti Dulu

Oleh:
Namaku Erik. Dulu waktu masih kecil aku dan teman-temanku selalu bermain bersama. Kami bermain dengan alam tak sama dengan anak-anak sekarang yang sibuk dengan ‘gadget’ dan mudah terjerumus ke

I Said Seriously

Oleh:
“Sepi amat sekolahmu.” Kata Kak Reno. “Yaiyalah, Kak. Orang sekarang baru jam 6 kurang 15! Kakak, sih, kepagian nganterinnya.” Jawabku. Bersalaman dengan Kak Reno. Kemudian masuk. “Pagi, Pak. Sendirian

Kebodohan Ku

Oleh:
“kau masih menyukainya, benar kan?” Suara itu membuyarkan lamunanku. “mungkin. Tapi rasa kecewa ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan rasa suka itu.” jawabku dengan wajah datar. Gadis berambut

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
“Tunggu Yu…” Tian memanggilku dari kejauhan. “Ayo cepet, nanti telat” jawabku sambil nafas terengah engah Karena berlarian. “untung aja kurang 2 menit kita udah ada di sekolahan.” Kata Tian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *