Jangan Sendirian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 20 February 2018

Malam itu aku baru pulang dari tempat kerja, udaranya sangat dingin hingga menembus kulit, bajuku yang tipis membuatku menggigil dingin Aku lupa membawa jaket hangatku, aku melewati jalanan yang sepi yang agak remang-remang karena pencahayaan yang minim, maklum saja rumahku itu lumayan jauh dari ibu kota.

Aku memutuskan untuk pergi ke kota dan bekerja di sini demi menghidupi aku dan ibuku juga untuk hidup yang lebih baik lagi, aku tinggal berdua dengan ibuku dan sebenarnya aku punya seorang kakak perempuan ia sudah meninggal dua tahun lalu sedangkan ayahku meninggal saat aku sekolah menengah pertama, jadi kami harus tetap berjuang untuk keperluan hidup sehari-hari apalagi keluargaku saat ini hanya aku dan ibu.

Entah kenapa malam itu dingin sekali, tidak sama seperti malam biasanya aku berjalan seorang diri karena teman-temanku masih lembur. Seseorang dari kejauhan memanggil-manggil dan perlahan suara mereka mulai terdengar jelas. pikiranku cemas dan tidak karuan, karena memang daerah sini sering ada orang mabuk, aku percepat langkah kaki sambil berlari kecil. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Karena kurasa hari sudah larut, kuputuskan untuk menginap di rumah pamanku yang memang tak jauh dari daerah sini. Suara orang yang tadi pun sudah tidak terdengar lagi. Aku bernafas lega dan tetap melanjutkan langkahku.

Tiba-tiba suara yang tadi kudengar sudah ada di belakangku, benar saja mereka sedang mabuk dua orang pria mabuk itu mendekatiku dan berkata “kenapa kalian menghindari kami?”. Katanya sambil terus mendekat ke arahku, aku berusaha mundur pria yang satunya menatap ke arahku dengan tatapan aneh. Aku pun berbalik dan berlari, tapi tanganku berhasil ditangkap olehnya. Aku pun berteriak dengan kencang, tiba-tiba saja kedua pria yang mengancamku tadi berdiri melongo dan menatap ke arah belakangku, dan mereka lari dengan kencangnya. Nafasku masih terengah-engah oh tuhan rasanya aku ketakutan sekali.

Kupikir seseorang datang padaku, tetapi setelah kutengok tidak ada siapapun di sana. Aku pun berlari ketakutan dan masih bingung dengan kejadian barusan. Akhirnya aku mampir di kedai kopi yang saat itu masih buka, rumah pamanku pun tak jauh dari kedai ini. Bibi pemilik warung pun bertanya kepadaku kenapa wajahku pucat. Aku pun menggelengkan kepala, lalu aku disuguhi air minum dan ia pun dengan ramah menyuruhku untuk minum terlebih dahulu.

Anehnya bibi membawakanku dua gelas minuman. Aku pun keheranan, “maaf bi, aku Cuma sendiri”. Si bibi keheranan “tadi saya melihat neng berdua, jadi saya suguhi dua minuman” katanya sambil keheranan. Tanganku gemetaran, aku pun menelepon pamanku untuk menjemputku, beberapa saat kemudian paman datang. Aku pun berpamitan pada bibi pemilik warung dan mengucapkan terima kasih dan si bibi hanya tersenyum kecut.

Tibanya aku di rumah paman, paman menyuruhku untuk bersih-bersih dan pergi tidur. Aku pun menuruti perkataanya karena memang aku pun sudah lelah sekali.

Esoknya aku bercerita pada paman tentang apa yang terjadi semalam. Paman tersenyum ia pun melihat wanita itu, paman bilang dia kakakku yang sudah meninggal dua tahun lalu. Kakak berusaha melindungiku kata paman dari orang mabuk kemarin malam, pantas saja kemarin bibi pemilik warung membawakanku dua gelas air minum, sepertinya dia melihat kakaku. Dengan kejadian ini aku tidak berani berjalan sendirian lagi.

Cerpen Karangan: Najzua N Ramdhanni

Cerpen Jangan Sendirian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 4)

Oleh:
Di hari terakhirnya dia liburan, sebelum esoknya pulang kembali ke Purwokerto, Dewi kunjungi Telaga Pucung. Sebuah telaga berair jernih tak jauh dari Curug Cipendok. Di telaga itu dia berniat

Pamali Keramas Tengah Malam

Oleh:
Aku Cassandra atau akrab disapa Sandra. Liburan kali ini aku akan berlibur bersama teman-temanku yaitu Maura, Bintang, Doni, Benny, dan Gheda. Aku menyiapkan keperluan yang aku butuhkan ada senter,

Misteri Rumah Tua

Oleh:
Waktu aku masih 4 tahun (sekarang aku sudah 12 tahun) jadi waktu itu aku, ibuku, ayahku dan adikku yang berumur 1 tahun menempati rumah lama yang cukup sepi. Yang

Tulisan Rindu

Oleh:
Lama rasanya tak kutorehkan sebaris tulisan dalam handphoneku ini. Biasanya setiap berkutat dengannya kususun kata demi kata yang terngiang di kepalaku, kuketik perlahanan dengan keyboard virtualku, dan kusimpan dalam

Cermin Salsabila

Oleh:
Malam itu, aku benar-benar gelisah dan tidak bisa tidur. Aku memilih untuk keluar kamar dan berada di luar villa. Malam ini, angin terasa sangat dingin dan merasuk ke dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jangan Sendirian”

  1. Fathia Salsabila says:

    Bagus sekali cerpen2 ini. Sanggat menginsprirasi para pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *