Jendela Berhantu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Liburan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 August 2021

Liburan semester hari ini Aruna habiskan dengan mengunjungi rumah bibinya, di sebuah pedesaan yang terkenal masih sangat asri dengan banyaknya pepohonan disana.

Aruna menenteng satu koper hitam miliknya dari dalam mobil, bersama dengan ayahnya yang mengantar Aruna untuk tinggal bersama selama liburan, Sementara orangtua Aruna tetap bekerja dan akan menjemputnya kembali setelah liburan berakhir.

“Baik-baik ya sayang,” pesan sang mama pada Aruna mengecup kening Aruna singkat. Lalu kedua orangtua Aruna berpamitan untuk kembali pulang.

Udara dingin pedesaan menyambut Aruna, bahkan matahari yang masuk terhalang oleh pepohonan sekitar yang masih sangat kokoh. Aruna mengambil napas dalam-dalam senyumnya mengembang tak menyangka dapat kembali ke rumah bibi Elina setelah beberapa tahun lamanya. Bertepatan dengan itu Aruna melihat rumah besar usang berada di depan sebelah kiri dari rumah bibinya, tidak terlalu jauh.

“Aruna, ayo masuk kita makan!” Teriakan sang bibi membuyarkan lamunan Aruna akan rumah tua itu.
“Iya Bi,” sahut Aruna bergegas masuk.

Malam berganti, Aruna sangat senang karna masakan bibi Elina sangatlah enak ditambah rencana sang paman yang akan membawanya memancing ke danau besok, astaga Aruna tidak sabar menunggu hari esok tiba.

Dari jendela sinar bulan menyorot, Aruna yang merebahkan dirinya diatas ranjang teringat akan rumah tua tadi, ia masih bertanya-tanya kenapa rumah itu seperti ada penghuninya, dia beranjak dari tempat tidur menuju jendela besar dihadapannya, kamar ini memang bekas anak bibi Elina yang sudah lama merantau ke kota.

Rumah besar bergaya Eropa nampak begitu minimalis bukan dengan beton melainkan rumah itu memakai kayu tentu saja rumah itu terlihat sudah sangat rusak dan tidak terawat. Satu jendela atas terlihat menyala, semakin membuat Aruna mengerenyitkan dahi.
“Apa ada orang disana?” Pikir Aruna.

Jam dinding kecil tua itu berbunyi mengagetkan Aruna, jam menunjukkan pukul sembilan malam Aruna lupa dia harus bergegas tidur karna pagi harinya Aruna akan ikut pergi ke pasar bersama bibi Elina juga besok.

Aruna mengambil posisi tertidur di ranjang pandanganya sesekali melihat kearah jendela memang Aruna masih penasaran akan rumah itu pasalnya rumah itu terlihat tidak terawat dan, kenapa hanya ada satu lampu yang menyala?.

Bibi Elina dengan celemek sibuk memasak makanan sedangkan sang paman bersiap menuju sawah dengan sepatu bot asik duduk di meja makan kayu. Mereka disini hanya tinggal berdua sedangkan kedua anak mereka pergi merantau ke kota hanya akan pulang saat hari raya saja.

“Pasarnya jauh gak Bi?” Tanya Aruna saat berada dimeja makan.
“Itu di ujung jalan udah kelihatan pasarnya. Pake sepeda saja kesana,” kata sang paman menyahuti, dia lantas berdiri membawa barang lain yang terletak di meja lain.
“Jalan saja Aruna masih kuat ‘kan?” Kekeh bibi Elina. Aruna cemberut seraya menggeleng.

Kali ini Bibi Elina mengajak Aluna ke pasar untuk membeli bahan masakan disana, pasar yang terletak tidak terlalu jauh dari desa tempat tinggal Bibi. Bibi Elina membonceng Aluna dengan sepeda ontel jaman dahulu menambah rasa senang Aruna bisa menikmati jalan pedesaan yang masih sangat sepi, banyak juga orang-orang sekitar membawa pakan ternak mereka dan bibi juga memiliki seekor sapi yang setiap harinya mengganggu Aluna karna selalu bersuara, saat malam ataupun siang harinya.

“Aruna mau beli sesuatu?” Tawar Bibi Elina di sela-sela memilih bahan sayuran yang dijajakan oleh nenek-nenek itu.
Mata Aluna berbinar melihat makanan enak disana, tak lupa makanan seperti telur puyuh yang ditusuk. Tak terbayangkan hari biasa saja sudah seseru ini apalagi bila sudah ada festival mungkin akan sangat ramai. Tapi Aruna menyesalkan terkadang sinyal di rumah bibi Elina tidak ada, tentu saja ia kesulitan mencari internet.
“Wahh…” Senyum Elina mengembang melihat jajanan lain berjajar rapih, Aruna tak ingin melewatkan semua makan itu.

Setelah selesai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Aruna masih menikmati jajanannya diatas boncengan sepeda Bibi Elina, melihat pemandangan pesawahan terhampar luas serta kebun-kebun yang berjajar pula.

“Kapan-kapan kita naik mobil pikap, enak itu apalagi kalo bareng-bareng.” Ujar Bibi Elina.
“Hahaha … Iya nanti kita ke pantai ya bi,” jawab Aruna dengan kekehan sembari menikmati hembusan angin menerpa wajahnya.

Pandangan Elina terus berfokus pada rumah yang di kelilingi pohon dan juga tumbuhan liar hampir menutupi rumah itu.
“Bi Elin. Rumah itu ada penghuninya ya?” Bibi Elina menghentikan sepeda tepat di depan rumahnya. Aruna turun dari Sepeda, menunggu jawaban dari Bibi Elina.
“Udah lama kosong sekitar emm … Sepuluh tahun lalu katanya mau dibongkar tahun ini mungkin gak jadi lagi,” ucap Bibi Elina membawa tas berisi belanjaan tadi. Aruna masih mencerna tak percaya. Lalu kenapa satu lampu menyala bukan itu saja lampu itu menyala saat jam tertentu.

“Emang mereka kemana?”
“Rumahnya itu kebakaran semua orangnya tewas. Sama keluarganya dibangun lagi, tapi mereka pindah lagi ke kota,” jawab Bibi Elina memasuki dalam rumahnya.

Malam ini Aruna bertekat akan membenarkan apa yang dia lihatnya kemarin, dari jendela kamar anak Bibi Elina, tepat pukul sembilan malam Aruna memantau rumah itu namun, rumah nampak gelap tak ada satu lampu pun menyala membuat Aruna ikut merinding. Tidak mungkin dia melihat hantu?.

Lampu itu kembali menyala setelah lama menunggu sekitar tengah malam. Ada yang berbeda saat itu terlihat bayangan lelaki berdiri di jendela besar menyala. Keringat dingin mulai bercucuran bulu kuduknya mulai berdiri mengerikan tengah malam ada orang disana.
Aruna buru-buru menutup gorden jendelanya, sedangkan dirinya menuju ranjang dengan menutupi diri dengan selimut tebal. Ini kali pertama Aruna menemukan hal semengerikan ini.

Pagi tiba, dimana siangnya paman Aruna berjanji akan mengajak Aruna untuk memancing karna kemarin pamannya sibuk mengurus sesuatu di kebun. Danau terlihat berkilau dengan langit mulai merubah warnanya.
Begipun Aruna dan pamanya sedang menunggu ikan menghampiri umpan yang mereka buat. Aruna mendengus kesal tidak satu pun dia mendapat ikan sedangkan pamanya sudah mendapatkan banyak ikan di dalam ember.

“Paman? Apa rumah tua depan rumah paman itu lampunya suka nyala ya?” Tanya Aruna sembari menatap Air danau yang nampak jernih itu.
“Haha … Mana mungkin begitu rumah itu tidak ada penghuninya sudah lama tidak ada,” sang paman malah tertawa, dia menarik pancingan sampai terlihat ikan terkait disana.
“Emang gak ada orang mau uji nyali atau gimana gitu?” tanya Aruna lagi.
“Tidak ada yang berani, katanya rumahnya angker tapi tidak ada apa-apa. Hanya orang suka menceritakan katanya ada hantu, kuntilanak, pocong macem-macem saya gak percaya.” Jelas sang paman.

Arunan terdiam mengikuti sang paman setelah selesai acara memancing mereka, Aruna mendengus kala melihat hasil pancingannya hanya membawa satu ekor ikan. Lagi-lagi Aruna melewati rumah tua itu kali ini dengan berjalan kaki. Aruna masih menatap dalam diam dihadapan rumah besar itu jika saja masih terawat bisa dibilang rumah itu sangat mewah.
Dahi Aruna mengerenyit sesuatu melintas dari dalam sana, ia yakin ada seseorang disana, dia tidak percaya apa yang dia dengar dari pamannya.

“Aruna sedang apa disana?” Paman berbalik menatap Aruna yang terdiam di depan rumah besar itu. Aruna kembali melangkah pergi mungkin ia salah lihat tadi.
“Iya paman,” susul Aruna.

Tak lama lagi liburan sekolah menengah pertama Aruna akan berakhir, gadis itu kembali akan membereskan barangnya. Ia masih setia melihat rumah itu dari dalam jendela. Masih siang tentu saja rumah itu tidak ada apa-apa.
“Aku kesana aja?” gumam Aruna bertekat, malam ini setelah jendela itu menyala, Aruna akan membuktikan siapa pria yang ia lihat kemarin.

Malam hari tiba, dimana para manusia tertidur jam menunjukan pukul sembilan. Aruna sudah menyiapkan senter dan kater untuk berjaga jika itu penjahat. Tapi untuk apa penjahat ada disana?.

Jam dinding di kamarnya mulai berbunyi, lampu rumah kosong itu menyala. Jalanan juga terlihat sepi. Aruna bergegas berbekal peralatan yang dia siap tadi, mengendap-endap untuk keluar rumah untung tidak ada siapapun di ruang utama.

“Jangan takut Aruna.” Aruna membuang napas menutup pintu rumah Bibi Erina dan berjalan pelan menuju rumah itu, benar dari jalannya saja sudah mengerikan apalagi rumah itu sudah pas sebagai sarang para makhluk halus, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.

Bunyi langkah kaki bahkan terdengar saat pertama kali melangkahkan kaki Aruna pada rumah itu. Pintu usang hampir lepas dari tempatnya lalu terbuka memperlihatkan dalam rumah yang serba hitam dengan barang seperti hangus entah kenapa rumah ini masih terlihat berdiri kokoh padahal terbuat dari kayu.

“Hello?” Panggil Aruna memasuki rumah itu, ada tangga kayu usang disana. Cahaya bulan membantu menerangi tempat ini, Aruna mengarahkan senternya kesana-kemari.

Bunyi benda terjatuh terdengar dari lantai atas begitu juga satu ruangan di lantai dua terlihat terang, ya rumah ini hanya ada dua lantai. Jantung Aluna seperti akan loncat hanya karna sebuah benda terjatuh.

Aruna menaiki tangga usang itu dengan hati-hati terlihat sudah rapuh karena terbuat dari kayu. Udara dingin menyelimuti Aruna dia terus berwaspada pada apapun disekitarnya.

“Hello?” Gumaman Aruna mengema pada ruangan besar itu. Aruna tepat mendekat pada satu ruangan terang itu. Aruna yakin disini pasti ada orang entah untuk apa mereka disana.
Ketika dia membuka pintu dia melihat cahaya berasal dari meja belajar, seorang lelaki berdiri pada jendela. Dia berkulit putih tampan hanya saja wajahnya begitu pucat. Pipi Aruna memerah seketika.

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Rahimi
Blog / Facebook: @aisyahnurrahimi
kunjungi juga Wattpad: @Aisyahnrxxxx

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 18 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Jendela Berhantu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema Berakhir Indah

Oleh:
“Vo, tadi aku ketemu sama kak Al”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku. “Kamu mau nolongin aku nggak?”. “Emang mau nolongin apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari novel yang

Makan Malam

Oleh:
Getaran handphone berulang kali terdengar di telinga Lea. Ia hanya melirik, tanpa menyentuh. Lelaki itu terlanjur membuatnya muak. Sore tadi Lea menunggu di toko roti, berharap John segera datang

Jangan Ambil Sahabatku

Oleh:
Aku manusia biasa yang bersekolah di salah satu SMA Negeri Di Bandar Lampung. Aku tidaklah se*si tapi aku bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Aku juga tidaklah pintar tetapi aku

Berdua Akan Selalu Lebih Baik

Oleh:
Ini cerita tentang persahabatan dua perempuan yang tengah mencari kewarasannya, bertaruh dengan gejolak remaja yang akan segera berganti menjadi dewasa – katanya. Gantari Asmarani, wanita hebat yang bersinar. Betapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *