Jin Penghuni Sendang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 15 March 2017

Sinar rembulan yang anggun nan redup menghiasi langit Bantul yang pekat. Hanya suara hewan malam yang masih terdengar sumbang. Kesunyian sudah biasa dirasakan, tak ada seorang pun yang berani keluar di malam hari. Lampu-lampu masih jarang. Listrik belum merata. Saat itu, Aku, Deni, Maya, Dini dan Rudi sedang mendapat tugas akhir dari dosen. Kami memilih untuk memeratakan listrik di daerah pelosok yang belum mendapatkan bantuan listrik.

Saat itu, tahun 2002 tepatnya di daerah Bantul, Yogyakarta. Di sebuah pemukiman yang masih jarang penduduknya. Jarak antara rumah ke rumah lain yang terpaut cukup jauh, bisa mencapai 30-50 meter. Program kami untuk memeratakan listrik di kawasan ini sangat tepat bagi kami. Rumah-rumah warga masih sangat jarang yang menggunakan lampu sebagai penerangan. Kebanyakan masih menggunakan obor dan lilin sebagai penerang dalam gelap. Jalanan terasa sangat sepi kala malam menjelma. Tak ada yang berani keluar. Masih banyak pohon-pohon besar yang tumbuh dengan akar yang menjalar-jalar.

Kami tinggal sementara di rumah seorang warga. Lokasinya dekat mushola. Di mushola penerangan sudah menggunakan lampu bohlam kuning. Begitu pula di rumah yang kami tempati. Banyak cerita-cerita sekitar daerah itu yang kami dapatkan dari Pak Mardi, seorang yang rumahnya kami tempati. Cerita-cerita mistis, cerita penampakan dan sebagainya.

Sudah dua hari kami tinggal di situ. Warga menyambutnya dengan baik. Kami masih melakukan pendataan. Sorenya, sekitar jam 4, kami berjalan-jalan di sekitar daerah itu. Terdapat sebuah sendang, lubang besar yang terisi air. Menurut warga sekitar sendang itu angker. Tapi kami tidak percaya dengan mitos-mitos yang beredar. Kami bermain-main hingga larut sore di sekitar sendang. Sebelum mentari tenggelam, kami lebih dulu pulang.

Seperti biasa, kami sholat berjamaah di mushola. Hanya segelintir orang yang mau datang. Mungkin karena penduduknya juga sedikit, atau mereka takut di jalan karena gelap. Sesudah bakda sholat isya, kami meninggalkan mushola. Hanya Maya yang masih di dalam, kedengarannya dia sedang mengaji.

“Tumben-tumbenan si Maya ngaji,” ucap Deni sambil menutup pintu mushola.
“Ya, mungkin dia sedang bertobat kali,” sambung Dini sambil tersenyum sinis.

Kami masuk ke dalam rumah kecil yang berdindingkan bilik bambu itu. Semua berkumpul di ruang tengah membahas pendataan soal program yang kami rencanakan. Ternyata baru beberapa rumah yang sudah mendapatkan bantuan, sisanya belum. Sudah setengah jam kami berkumpul, Maya tak kunjung datang.

“Kok, si Maya gak dateng-dateng sih, lama amat ngajinya,” ucap Dini sambil membereskan kertas pendataan.
“Ah, mungkin dia sedang diketuk pintu hatinya,” sambungku sambil tertawa kecil.
“Rud, coba kamu lihat geh ke sana” ungkap Dini.
“Oke, siap Bos,” jawab Rudi sambil sok hormat.

Setelah beberapa saat Rudi datang kembali dengan wajah yang aneh. Ia mengernyitkan dahinya. Seperti wajah orang yang gelisah.
“Bray, emangnya Maya dulu pernah mondok? Kok, ngajinya lancar bener sih.” Ungkapnya keheranan.
“Setahu saya dia tidak pernah mondok deh,” sambung Dini.
Kami semua penasaran. Kami menuju ke mushola, benar kata Rudi, Maya lancar sekali dalam mengaji. Sebelumnya dia tidak mengaji selama itu, setiap bakda isya biasanya dia duluan meninggalkan mushola.

“Den, coba kamu lihat gih!” ujar Rudi. Deni pun mendekati Maya. Tapi ia langsung kembali lagi.
“Gila men, maya ngaji tanpa membaca Al-Qur’an,” ungkap Deni sambil terkaget-kaget.
“Lebih baik kita ke sono bareng-bareng,” ungkapku memberi saran.

Kami bersama-sama untuk menghampiri Maya, perlahan-lahan kami melangkah. Benar saja, dia mengaji tanpa membaca. Kami semua kaget, mana mungkin dia bisa menghafal sebanyak itu. Rasa penasaran kami menggelegak. Rudi menepuk-nepuk pundak Maya dari belakang. Maya menengok perlahan, menghentikan ngajinya. Namun ada yang berbeda, tatapannya tajam, setajam pedang, sangat mengerikan. Dini mundur-mundur ketakutan.

“Maya.. Maya” ucap Deni sambil menepuk pundak Maya.
“Saya bukan Maya, saya Mbah Suro!” Ucap Maya dengan suara besar dan berat. Sontak kami langsung terkejut.

Kami segera memanggil Pak Ustadz. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan tempat kami tinggal. Pak Ustadz datang, kami langsung menceritakan apa yang sedang terjadi. Pak Ustadz langsung menginterogasi Maya, melontarkan beberapa pertanyaan.

“Assalamu’alaikum,” ucap ustadz sambil memegang pundak Maya.
“Waa’alaikum salam,”
“Ini Maya bukan?”
“Bukan, saya Mbah Suro!” jawab Maya.
“Kenapa Mbah masuk ke dalam tubuh Maya?” tanya ustadz lagi.
“Saya senang dengan raga ini, saya suka”
“Mbah bisa menemukan Maya bagaimana?”
“Dia mengusik saya di sendang, mengganggu saya. Kebetulan saya senang dengan ini raga,” ungkapnya sambil tertawa lebar. Kami ketakutan, hanya Pak Ustadz yang berada paling dekat dengan Maya. Kami duduk di belakang Pak Ustadz.
”Ini raga sudah ada yang punya, silahkan Mbah pulang ke tempat asal,”
“Saya tidak mau! Saya senang dengan ini raga,” ungkapnya jengkel.
“Sekarang Maya butuh istirahat,”
“Ya sudah, besok saya kembali,” ungkap Mbah Suro yang merasuki Maya.
Pak Ustadz memegang tangan Maya. Lalu seketika Maya terkulai lemas. Kami menceritakan semuanya pada Maya. Namun, ia masih tak percaya. Kami hanya menunggu apa yang besok terjadi padanya.

Cerpen Karangan: Harry Handika
Facebook: Harry Handika
SEKILAS TENTANG PENULIS:
Nama: Harry Handika
TTL: Indramayu, 06 September 2000
Alamat: Desa Tunggulpayung Kec.Lelea Kab.Indramayu
NO HP: O89668149646
Email aktif: harryhandika8[-at-]gmail.com
No Rek: belum punya (jika cerpen dimuat honor dikirim lewat wesel saja)
Pengalaman menulis: – juara 1 fls2n smk cipta dan baca cerpen tingkat prov.jawa barat 2016, – juara 1 fls2n smk cipta dan baca cerpen tingkat kab.Indramayu 2016, -juara harapan 1 fls2n smp cipta cerpen berbahasa indonesia tingkat kab.Indramayu 2014.

Cerpen Jin Penghuni Sendang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cermin (Part 1)

Oleh:
Kasih, kau adalah pantulanku, yang kulihat hanyalah dirimu Pantulanku, dan segala yang kulakukan Seolah kau adalah cerminku Cermin yang membalas tatapanku Bisa kulihat kau membalas tatapanku Teruslah menatapku Kasih,

Pisau Saudari Tiri

Oleh:
Malam sudah semakin larut, meski begitu mata ku sama sekali tak mau terpejam. Bayang-bayang kejadian waktu itu selalu berputar di kepalaku. Seperti meminta agar aku segera menyelesaikannya. Ku matikan

Ketika Aku Hilang (Part 1)

Oleh:
Dulu… aku tak percaya akan adanya makhluk bernama hantu, bagiku makhluk horor itu hanya ada dalam dunia perfilman saja, dan tidak ada di kehidupan nyata. Menurut pendapatku, arwah orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *