KA-32 Gajayana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 23 December 2013

“Horee, anak saya sukses. Sekarang saya jadi orang kaya.” Begitulah suara teriakan laki-laki paruh baya yang melewati jalan gang di rumahku itu, tanpa sedikit pun menghiraukan sekeliling orang yang duduk di pos tersebut. Dengan berbekal sapu berwarna putih dan hanya menggunakan sehelai baju kemeja batik yang digunakan untuk menutupi daerah terlarang yang jika itu terlepas akan membuatnya tel*njang itu. Berjalan menuju rel kereta api yang sangat gelap, ia songsong seorang diri dengan muka tak terbebani. Semua orang yang melihatnya merasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan orang itu karena bagaimana pun juga dia orang yang kehilangan akal alias nggak waras.

“Kruk, gimana kalau ntar orang itu tidur di atas rel kereta.” Kata Boker selaku ketua RT di kampungku.
“Iya juga ya, Ker. Alah udah lah, gue mau pulang.” Kata Tikruk seraya mengambil sandal dan berjalan pulang meninggalkan Boker dan Tokit.
“Gue juga pulang dulu ya Ker? Nguantuk betul ini. Malem beb.” Kata Tokit.
“Bab, beb, bab, beb.. mangnya gue bebek apa?” ketus Boker.
“Bisa jadi, hahaha.”

Setelah mereka berdua pulang, Boker berencana untuk menyusul orang tadi. Dalam benak merasa cemas, tapi ia takut jika orang itu mengamuk padanya. Saat itu juga ia mencoba menyusul orang gila tersebut. Tiba-tiba ia berhenti.
“Ah udah lah dia juga bukan siapa-siapa gue. Buat apa bingung-bingung mikirin orang gak jelas gitu. Mending pulang aja, ngantuk.” Kata Boker berbalik arah pulang.

Keesokan harinya, terdengar berita mengejutkan di desaku. Seorang lelaki paruh baya tewas tertabrak kereta api 32 Gajayana, dengan tubuh berantakan tak karuan. Tiga sekawan (Boker, Tikruk dan Tokit) sangat terkejut ketika mendengar berita tersebut. Bergegas mereka menuju ke TKP untuk membantu mengevakuasi korban dan mencari tahu apakah benar yang tertabrak itu orang gila tadi malam yang sempat lewat gang ini.
“Pak Bor, apakah korban membawa sapu berwarna putih.” Tanya Boker.
“Ada Ker. Tuh ada di utara sana.” Jawab pak Kabor.
“Wah Kruk, Kit berarti bener, orang tadi malem ini.” Teriak Boker seraya mengambil pecahan-pecahan tubuh orang tersebut yang sudah tak berbentuk lagi. Yang ia rasa dapat diambil ia ambil dan yang tidak bisa diambil ia sertakan dengan batunya. Semua itu sama sekali tak membuatnya merasa takut, bahkan ia cuek terhadap hal-hal yang dianggap warga nggilani atau jijik itu.
Selain itu, Tokit yang berada di lokasi kejadian tanpa banyak bicara ia langsung memanggil pihak kepolisian dan petugas stasiun. Pagi itu Nampak ramai sekali, meskipun Orang di sekeliling hanya sekedar melihat saja. Setelah jenazah dievakuasi, para warga langsung bubar sambil bercerita tentang kronologi kejadian dari yang mengada-ada hingga ada (biasalah sok tau gitu gayanya).

Semenjak saat itu, warga desaku banyak yang merasakan kejadian-kejadian aneh. Ada yang mendengar suara tangisan dan juga melihat penampakan aneh. Bermula dari istri Boker –Suminah— sempat terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan orang laki-laki yang berasal dari luar rumah, bergegas ia membangunkan Boker untuk memeriksa keadaan di luar. Semula mereka menyangka suara itu berasal dari tetangga depan rumah, tetapi setelah diperiksa ternyata bukan. Suminah berinisiatif untuk meminta bantuan warga dalam hal ini, namun semua itu percuma saja karena yang bisa mendengar suara tangisan itu hanyalah Boker dan istrinya sendiri. Semua warga menjadi bingung oleh ulah Boker dan istrinya, mereka merasa ditipu bahwa sebenarnya tidak ada hal-hal aneh yang terjadi di desa mereka.
“Kami tidak mendengar apa-apa kecuali suara jangkrik dan kodok, Pak.” Kata Tikruk meyakinkan.
“Tapi ini suaranya jelas, berasal dari sana!” menunjuk rel kereta api yang sepi mencekam. Dan kebetulan rumah Boker dan istrinya tepat bersebelahan dengan rel kereta, dimana rel itu adalah lokasi kecelakaan kereta api waktu itu yang menewaskan satu orang tanpa identitas apapun.
“Iya, tapi kami benar-benar tidak mendengar apapun. Mungkin ini perasaan kalian saja.” Tubruk Tokit yang sedang emosi karena mengantuk.
“Ya sudah, mari semua bubar kembali ke rumah masing-masing, hari sudah larut.” Ajak Pak Bor –Kepala Desa-.

Namun, kejadian aneh kembali terjadi setelah mereka semua membalikkan badan untuk kembali pulang. Mereka mulai mendengar suara jeritan yang begitu nyaring, dan menyebabkan mereka penasaran untuk memeriksa keadaan di rel kereta api.
“Tunggu…! Apa kalian tetap tidak mendengar, suaranya semakin keras.” Teriak Suminah dengan gemetaran.
“Iya benar, aku mulai mendengar. Dari sana!” kata Tokit sambil menunjuk lokasi sumber suara.
“Mari kita periksa!” ajak Pak Bor.
Dengan berbekal senter, mereka berbondong-bondong menuju atas rel. Namun naas, mereka tidak menemukan apapun kecuali sisa kain dan pegangan sapu milik orang yang tertabrak kereta waktu itu.
“Aaaaaaa…!” teriakan Suminah mengejutkan semua warga. Seketika ia pingsan, dan warga segera membantu Boker membopong istrinya itu ke rumahnya. Setelah mulai sadar, Suminah segera menceritakan tentang apa yang ia lihat saat itu. Seorang lelaki paruh baya sedang menari-nari dengan memanggul sapu di pundaknya berkelebat di sekeliling mereka, tetapi hanya Suminah yang bisa melhat keadaan itu tidak untuk yang lain.

Keesokan harinya, warga mendengar suara bel kereta api yang sangat keras. Semua warga kembali berkumpul di rel kereta api untuk menyaksikan kejadian aneh untuk yang kesekian kalinya. Kereta api 32 Gajayana berhenti di tempat yang bukan untuk persinggahan kereta api pada umumnya, yaitu di tempat kejadian kecelakaan waktu itu.
“Kok bisa begitu, dibilang aneh memang aneh, dibilang lucu ya lumayan.” Kata Tokit ngelawak.
“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan semalam?” tubruk Tikruk mulai mengada-ada hingga membuat semua warga mulai panik.

Hari itu juga, pemberangkatan semua kereta api terhambat karena KA 32 Gajayana tidak bisa mendarat dengan pas –memangnya pesawat, pake mendarat segala-. Semua warga mulai mengambil sikap agar hal ini dapat terselesaikan tanpa ada satu pun korban yang tersangkut di dalamnya.

Di waktu yang sama, para ibu-ibu berlari ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan sesuatu yang mungkin dapat menuntaskan masalah ini. Tiga jam kemudian, mereka kembali menuju ke atas rel dengan membawa nasi lengkap dengan lauk –ayam, mie dan sambel goreng, serondeng, dan lain-lain—serta membawa bakul dan tikar untuk direbahkan di sebelah rel.
“Mungkin hanya dengan cara selamatan inilah, semuanya akan beres.” Kata Suminah dengan pedenya.
“Baiklah, jika bapak dan ibu sekalian menghendaki untuk mengadakan acara selamatan disini kami akan ijinkan. Selaku petugas stasiun kami hanya bisa ikut membantu dengan doa, supaya semuanya bisa berjalan dengan lancar. Amin.” Jelas salah satu petugas stasiun yang ikut hadir disitu.

“Mari kita mulai..!”
Dipimpin oleh Pak Bor, acara itu dimulai dengan melafalkan kalimat-kalimat doa. Setelah acara usai, dilanjutkan dengan makan bersama. Tidak lupa menyisihkan sajen untuk diletakkan di sebelah rel kereta. Sungguh aneh tetapi nyata, kereta yang tadinya berhenti tidak bisa dijalankan dengan cara apapun. Bergegas bergerak menuju stasiun dengan pelan.
“Alhamdulillah…!” kata semua warga sambil tersenyum lega.

Akhirnya, pemberangkatan semua kereta pun berjalan dengan lancar. Dan kini warga desa mereka setiap hari malam jumat kliwon dan legi mengadakan acara selamatan lingkungan. Semenjak diadakannya acara itu, kini tidak ada lagi kejadian aneh yang menghantui desa tersebut.

SELESAI..

Cerpen Karangan: Putri Kharisma
Blog: blog : http://putri-kharisma.blogspot.com
Putri Kharisma, Pelajar SMA Katolik Santo Augustinus Kediri
kelas XI IPA 2. Cerpen ketiga gue ini..!!!

Happy Reading 🙂

Cerpen KA-32 Gajayana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Dibalik Rumah Bawah Tanah

Oleh:
“Hai namaku Doni, salam kenal ya” Doni menjulurkan tangan pada Dedi. Dedi hanya diam mendengus sebal mana mau dia berteman sama anak kampung, gengsi Dedi sangat tinggi sekali, maklum

Sial yang Untung

Oleh:
“Mama! Buka pintunya!” teriak Afri sambil menggedor-gedor pintu bercat putih itu. Tapi tak ada sahutan sama sekali dari mama. Lampu di beranda dan di ruang depan terlihat telah padam.

Gangguan Si Makhluk Halus

Oleh:
Malam sebelum Acara Puncak HUT SMA Kami aku dan temanku mendapatkan pengalaman yang membuat jantung hampir copot. Karena kejadian itu adalah kejadian yang tidak pernah kami alami sebelumnya. Saat

Helikopter 04.30 PM

Oleh:
“Win win.” “Apaan sih!.” Jawab seseorang yang dipanggil dengan sebutan Win. “Lo denger nggak? Suara itu.” Tanya Dito yang tadi memanggil temannya, winto dengan panggilan win. “apa?! Jangan bilang

Akun Terlarang

Oleh:
Malam jum’at ini bagi gue seram tingkat langit ke tujuh. Mau tau apa yang horor? Mati lampu, Itu yang horor! Sial! Hanya kontrakan rumah gue yang mati lampu. Itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “KA-32 Gajayana”

  1. Arini says:

    apik!
    ditulis dengan tuturan kalimat yang rapi dan ringan.
    Deskripsi cukup, dialog cukup.
    Semua baik! 🙂

  2. Nama-nama tokohnya unik juga ya hehe..

    Tema ceritanya sih standar, tapi penyampaiannya bagus, dan memang sesuai dengan adat kebiasaan serta kepercayaan masyarakat setempat di daerah-daerah tertentu..

    Terus semangat berkarya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *