Kalung Pembawa Petaka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 22 December 2016

Pagi itu seperti biasa aku lari keliling komplek untuk menghangatkan badan, tanpa disengaju aku menginjak sebuah benda yang ternyata itu adalah kalung, aku melihat sekeliling tetapi keadaan masih sepi karena baru pukul lima pagi. Aku mengambil kalung itu dan duduk di bawah pohon beringin besar yang ada di pinggir jalan menunggu jika ada orang yang mencari kalung itu. Dua jam menunggu tapi tidak ada satu orang pun yang lewat jalan itu, entah kenapa jalan yang biasanya dipadati kendaraan lalu lalang tiba tiba menjadi seperti jalan mati tanpa ada satu pun orang yang lewat.

Aku melihat kalung itu, aku baru sadar ternyata liontinnya berbentuk huruf f sama seperti namaku, mungkin liontin itu dibuang pemiliknya dan beruntung aku yang menemukannya pas dengan namaku. Aku lalu memasukkan kalung itu ke dalam saku.

Sampai rumah aku menuju kamar dan langsung mengambil kalung itu dari saku, aku mencoba memakainya tapi tiba tiba hawa dingin masuk dan entah kenapa bulu kudukku langsung berdiri setelah kalung itu terpasang di leherku. Kemudian aku melihat ke kaca kalung itu memang sangat indah aku tidak akan melepas kalung itu, saat aku melihat kaca lagi di belakangku ada seorang wanita dengan wajah pucat menatap ke arahku, aku terkejut dan melihat ke belakang, tapi tidak ada siapa siapa, aku mulai ketakutan dan berlari ke luar.

Malam gelap gulita, hujan turun menambah suasana semakin menyeramkan, aku duduk di teras rumah sambil membayangkan kejadian siang tadi, sebuah pertanyaan muncul dari pikiranku, “Siapa cewek tadi, kenapa dia muncul disaat aku memekai kalung itu, apa dia pemilik kalung sebelumnya, apa dia sudah meninggal, apa dia datang untuk mengambil kalungnya kembali?” semakin dipikir aku semakin takut, lalu tanpa sengaja aku melihat ke sebuah pohon besar di samping rumah, jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat di bawah pohon itu ada gadis yang muncul di kamarku waktu itu, dia melihat ke arahku dengan tatapan kosong, aku mencoba memberanikan diri menatap gadis itu dalam dalam, astaga gadis itu ternyata tidak menapak di tanah dia melayang jadi dia hantu, aku langsung terduduk lemas dan tidak sadarkan diri.

“Kembalikan kalungku” Kata gadis itu.
“Kamu siapa, kenapa kamu mau mengambil kalung ini?” Kataku sambil memegang kalung itu erat erat.
“Itu kalungku, kembalikan atau kau akan mati!” Kata gadis itu dengan tatapan tajam dan tiba-tiba wajahnya berubah mengerikan dan berlumuran darah kemudian semakin mendekat semakin dekat dan langsung mencekik.
“Tidak, Jangan!!!”

“Fi bangun, fifi!”
“Jangan!!!” Aku terbangun dengan keringat bercucuran.
“Kamu kenapa Fi?” Tanya mama cemas.
“Aku mimpi buruk ma,” Kataku langsung memeluk mama sambil menangis.
“Kamu tenang ya, itu cuma mimpi.” kata mama menenangkan.
“Tapi mimpi itu rasanya begitu nyata ma, aku takut!”
“Tenang ya, kamu kenapa sampai pingsan begitu, kamu sakit?”
“Tadi aku melihat hantu di pohon samping rumah kita ma.”
“Mungkin itu cuma halusinasi kamu aja.” kata mama.
“Enggak ma, tadi itu beneran.’
“Ya sudah, kamu tidur lagi ya?”
“Nggak, malam ini aku tidur di kamar mama ya, aku takut.”
“Ya sudah, kamu boleh tidur sama mama”.

Hari ini aku berniat ingin membuang kalung itu, semoga setelah kalung itu aku buang semuanya akan berakhir. Aku langsung melempar kalung itu ke tempat aku menemukannya sebelumnya. “Kalung kamu sudah aku kembalikan, jangan ganggu aku lagi” Kataku sambil pergi meninggalkan tempat itu.

Malam harinya
Kenapa aku nggak bisa tidur, kulihat sudah jam 1 malam kenapa susah sekali memejamkan mata, aku terus memandangi jam berharap bisa cepat tidur, namun tiba tiba aku mendengar suara merintih minta tolong, suaranya lirih namun sangat mengerikan, aku langsung berlari ke kamar mama, untungnya pintunya nggak dikunci, jadi aku langsung masuk dan tidur di sebelah mama.

“Tolong aku, tolong”
“Kamu siapa?” tanyaku
“Tolong bakar kalung itu agar aku bisa pergi dengan tenang.” Katanya memohon.
“Kenapa, kenapa aku harus membakar kalung itu?”
“Karena aku sangat tersiksa..” Kata gadis itu kemudian menghilang.
“Tunggu, jangan pergi!”

“Fi bangun, kamu mimpi lagi?” Suara Mama langsung membangunkanku.
“Iya ma, tapi ini lain sepertinya gadis itu meminta tolong supaya aku membakar kalungnya.”
“Kalung apa sih?” Tanya mama ingin tahu, aku langsung menjelaskan semuanya ke Mama, entah kenapa mama langsung menjadi pucat dan wajahnya berubah tegang seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Besoknya, aku kembali ke tempat aku membuang kalung itu, aku mencari kalung itu namun tidak menemukannya, aku terus mencari dan akhirnya aku menemukannya, saat aku ingin mengambil kalung itu tiba-tiba kalung itu melayang dan berpindah ke leherku, kalung itu tidak bisa aku lepas, semakin aku mencoba melepas semakin kalung itu mencekikku, aku menjeri jerit minta tolong, kemudian ada seseorang yang menghampiri aku dan ternyata itu adalah mama, entah kenapa mama bisa ada di sini lalu mama langsung membantuku melepas kalung itu tapi tetap saja kalung itu tidak bisa lepas, kemudian mama memohon dan minta tolong agar aku bisa terlepas dari jeratan kalung itu, mama juga sempat mengatakan bahwa aku ini adalah adikknya, mama meminta jangan membawa aku bersamanya karena mama nggak ingin kejadian yang sama terulang lagi, aku nggak tau maksud mama apa tapi setelah mengatakan itu kalung itu bisa terlepas, aku langsung membuang kalung itu ke tanah dan mama langsung menumpahkan bensin yang dibawanya ke kalung itu kemudian langsung membakarnya.

Aku bersyukur bisa terlepas dari kalung petaka itu, saat aku melihat kalung yang terbakar itu aku seperti melihat sosok perempuan waktu itu tersenyum padaku, aku lalu membalas senyumannya. Kemudian aku menanyakan ke mama kenapa mama bisa ada di sini dan kenapa kalung itu bisa terlepas setelah mama memohon untuk melepaskan jeratannya, aku terus membujuk mama untuk mengatakan yang sebenarnya sampai akhirnya mama mau menceritakan.

“15 tahun lalu sebelum kamu dilahirkan ada kejadian tragis yang menimpa kakak kamu, kakak kamu menderita sakit yang sangat parah dan tidak bisa disembuhkan, penyakit itu tergolong langka mama dan papa sudah membawa kakak kamu berobat kemana mana tapi tetap saja tidak ada hasilnya, kami hampir putus asa, lalu ada orang pintar yang mengatakan kalau penyakit yang diderita kakak kamu itu disebabkan oleh kalung yang ditemukan kakak kamu di jalan, kalung itu sudah terkena kutukan dan kakak kamu memakai kalung itu akibatnya dia jadi terkena penyakit yang mematikan itu, kami lalu membuang kalung itu, dan saat kami ingin membakarnya kalung itu tiba tiba menghilang, tidak lama kemudian kami mendengar jeritan kakak kamu dari rumah setelah kami lihat ternyata kakak kamu sudah meninggal dengan sangat mengenaskan, kata orang pintar kakak kamu menjadi tumbal dari kalung itu, rohnya masih terperangkap di kalung itu dan tidak bisa keluar, kalau ada orang yang menemukan kalung itu dan berhasil membakarnya maka roh roh yang terperangkap di kalung itu bisa terlepas dan pergi dengan tenang.”
“Jadi sebenarnya aku mempunyai kakak ma, kenapa mama baru cerita kejadian ini sekarang?”
“Mama sudah melupakan kejadian ini tapi saat kamu menceritakan tentang kalung itu mama teringat kembali kejadian masa lalu yang sudah menewaskan kakak kamu, jadi mama mengikuti kamu dari belakang dan ternyata dugaan mama benar, untungnya kamu tidak telat membuang kalung itu dan kamu tidak bernasib sama seperti kakak kamu, mama bersyukur kamu selamat sayang.” kata mama sambil memeluk aku.

Aku bahagia bisa terbebas dari kalung petaka itu, namun di sisi lain aku sedih kenapa aku baru tau kejadian ini sekarang, jadi sosok perempuan yang ada di mimpiku dan meminta tolong untuk membakar kalung itu mungkin adalah kakakku dan yang tersenyum tadi adalah kakakku yang ingin mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan.

Cerpen Karangan: Novita Layla
Facebook: Novitha Layla

Cerpen Kalung Pembawa Petaka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepi Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini seperti biasanya dira habis pulang dari kegiatan kerja kelompok di rumah temannya, dira adalah gadis sma yang manis, dan mempunyai keperibadian yang baik. Hari ini dira melewati

Rahasia Pulau Mati

Oleh:
“Wow! Ini pasti sangat mengasyikkan” sorak Finn kegirangan. “Ya, aku tau ini pasti mengasyikkan. Sangat-sangat mengasyikkan” tambahnya sambil berlari-lari kecil seperti anak berusia dibawah 5 tahun yang mendapatkan permen.

Rumah Kosong

Oleh:
Entah mengapa ibuku selalu melarangku untuk bermain di rumah kosong di seberang rumah kami. Ibuku bilang bahwa di dalam rumah itu, terdapat monster penculik anak kecil yang seumuran denganku.

Halusinasi

Oleh:
Hari ini pertama kalinya aku bekerja. Di sebuah pabrik kertas yang letaknya di perbatasan kota. Aku merasa sangat beruntung. Karena selang dua minggu sejak kelulusanku dari sebuah universitas, HRD

Aisha

Oleh:
“Operasi akan dimulai pukul 7 malam ini pak” ujar dokter Ikhlas pada Ayahku. Bunda yang mendengar hal itu tak kuasa menahan tangisnya. “Bun, Aisha gak siap, Bun. Aisha takut”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *