Karena Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 August 2015

Menyeramkan. Malam ini mimpiku menyeramkan. Memang sekarang aku sedang berada di rumah sakit, papaku opname. Papa, cepat sembuh Pa.
Aku bermimpi indah tapi setelahnya mengerikan. Aku takut. Karena terasa dingin hawa di malam ini. Malam buta. Berembun basah. Aku sendiri, sendiri tuk menyusuri lorong-lorong sepi yang berbisik gesekan dedaunan pohon. Dan yang kudengar sekarang hanya bunyi sandalku yang menapak di lantai bening ini.
Aku tak tau. Tiba-tiba aku telah di luar gedung Rumah Sakit. Aku menatap sekeliling sejenak, lalu melanjutkan jalan. Pelan. Aku takut. Banyak yang bilang jika rumah sakit yang aku tempati ini berhantu. Ya Tuhan.. Semoga ini bukan daerah yang mengagetkanku.

Tiba-tiba aku merinding. Sekali lagi ku menatap sekeliling. Tak ada siapa-siapa memang, tapi ada sebuah pohon beringin yang berdiri kokoh tak jauh dari langkah kakiku.
Aku penasaran. Aku merasa ada orang disana. Kudekati pohon itu.
Dan sesuai dugaanku, memang ada seseorang.
Anak kecil sebayaku duduk termenung disana.
Dengan gugup aku berjalan mendekatinya. Tapi meski ada rasa takut, ku yakin Allah ada bersamaku dan melindungiku jika dia roh jahat.
Tapi makin ku mendekat padanya rasanya tetap biasa saja. Tak ada yang mengganjal. Aku tak makin merinding juga.
Aku menatapnya iba. Lalu duduk di sampingnya. Rasanya seperti nyata. Namun ini hanya mimpi. Ku tahu itu.
Dia tetap termenung. Lalu ku tanya dia.
“Hei, kamu kenapa? Namamu siapa?” tanyaku sedikit terbata-bata. “Elina,” jawabnya dengan suara sedikit serak. “Kenapa kamu kok sedih?” tanyaku kembali. “2 hari yang lalu aku mati, orangtuaku keduanya meninggal. Ini semua gara pembantuku yang numpahin minyak di sebelah wajan. Ya udah deh, rumahku meledak gitu. Aku anak tunggal. Aku kesepian. Aku sekarang sendiri. Teman-teman tak ada yang mau berteman denganku, wajahku jelek. Sedari kecil aku memang jelek. Hantu memang aneh, kenapa lebih memilih mengubah parasnya menjadi cantik. Padahal yaa, enak alami.” jawabnya. Aku termenung. Ternyata tidak enak jika tidak punya saudara dan keluarga-.
Memoriku tiba-tiba memutar sesuatu. Mengingatkanku pada kakakku. Dulu, aku benci dengan kakakku. Tiap aku mengajaknya ngobrol atau curhat, sebenarnya dia baik dan suka banget dengerin aku curhat tapi semenjak dia punya kerjaan dan punya kekasih dia malah menolak keras dan lebih sibuk dengan teknologi kepunyaannya: HandPhone, iPad, dan laptop. Sedihnya. Lalu aku bersikeras pada Mama agar menjadwalkan kakak. Tapi Mama bilang, “Kakak udah gede dan kerja. Jadi terserah dia” kata Mama. Akhirnya aku diam-diam mengintip panti asuhan dari pagarnya. Aku ingin seperti mereka, punya teman ngobrol dan curhat. Apa gunanya sekarang aku punya keluarga, tapi sibuk dengan teknologi. Aku yang anak bungsu saja tidak diperbolehkan membeli alat elektronik yang bisa adil seperti kakak. Apa yang kakak minta akan dituruti. Tapi bagaimana dengan aku?

“Terimakasih, kau telah menyadarkan keegoisanku. Maaf aku mengganggumu. Aku duluan, ya,” pintaku. Elina mengangguk. “Terimakasih kembali, sudah mau ngobrol denganku. Padahal kamu manusia dan aku hantu. Kamu hebat, kenapa yaa kamu tidak takut sama aku. Aku ini udah jelek, muka gosong lagi. Huh..” tanyanya. “Tentu, karena ada Tuhan yang bersamaku. Aku tidak akan pernah sendiri. Dan kamu jangan gitu, syukuri pemberian Tuhan.” seruku memunculkan senyum tipisku. Lalu dia terbang menghilang ke alamnya dan aku kembali ke tubuhku yang terbaring lelap di kamar opname papa. Aku kembali bermimpi indah.

Mimpi itu terasa nyata. Aku jadi terinspirasi dari mimpiku tadi: sesama saudara harus saling menyayangi. Tak boleh punya benci.

Cerpen Karangan: Sabitha Ayu N P M
Facebook: Sabitha Thatha

Nama: Sabitha Ayu Nuriani Puteri Misbach
TTL: Gresik, 8 Agustus 2001
Asal sekolah: SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik
Alamat: Jln. Banjar Baru 3 no. 20 GKB Gresik

Cerpen Karena Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Sebuah Lukisan (Part 1)

Oleh:
Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas… “jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai

Rindu Kasih Sayang

Oleh:
Cinta dan kasih sayang dari seorang ibu yang sangat Kasih harapakan, kasih memang bukan anak tiri, tapi dia selalu di bedakan oleh ibunya karena saat kasih masih kecil kasih

Mantel Kesayanganku

Oleh:
Hari ini cuaca sangat buruk. Hujan lebat mengguyur bumi dan petir menyambar-nyambar. Aku duduk melamun di depan rumahku memikirkan suatu hal yang bisa kulakukan supaya kebutuhan anak dan istriku

Mentari Yang Belum Bisa Bersinar

Oleh:
Tuhan Maha Kuasa, sadarkah kita? semua yang diberikannya adalah benar yang terbaik untuk kita. Perlahan mulai ku sadari itu. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benakku belakangan ini. Tidak

Maafkan Aku, Ibu

Oleh:
Kehidupan ini memang tidak akan seutuhnya sempurna, begitu pula dengan sifat seseorang ada yang berhati malaikat dan berhati setan. Dan di sini aku adalah seseorang yang berhati setan. “Rik,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *