Kehidupan Baru (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 28 March 2017

“There are two tragedies in life. One is to lose your heart’s desire. The other is to gain it.” Sebuah kutipan kalimat dari George Bernard Shaw yang tak sengaja ku baca di halaman depan sebuah buku yang judulnya pun tak lagi kuingat. Kalimatnya menjadi pembuka rasa rinduku akan menulis pada kisah kali ini. Canggung dan kaku setelah sekian lama tidak menumpahkan imajinasi dan segala fiksi dari pikiran. But It’s okay, just check it out…

Aku terpaku pada gelapnya gulita malam, jangkrik menjerit menandakan hari ini sudah larut, angin malam seperti bisikan lembut yang menyarankanku beranjak dari teras dan berhenti memikirkan yang tidak tidak. Ia seperti napas menderu yang membuat bulu kuduk berdesir hebat. Ayah belum pulang, ibu telah tenggelam dalam mimpinya setelah sebelumnya kelelahan membereskan rumah baru kami. Ya, kami baru saja pindahan, Ayah yang dipindah tugaskan ke desa terpencil memaksa keluarga kecil kami pun pindah dan tinggal di rumah dinas. Berat memang harus meninggalkan tempat kelahiran, teman teman, juga kekasih, mmm.. mantan kekasih lebih tepatnya. Cairan hangat mengalir dan jatuh seketika teringat masa lalu yang indah, namun semua itu sudah berlalu, dan sepantasnya dikubur dalam dalam.

Sejenak aku dikagetkan dengan bau tajam yang menyengat, bau anyir dan amis menghajar indra penciumanku. Tak ada siapa siapa, dan tak ada lampu atau senter di sini sehingga tak dapat kulihat apa apa.. hanya ada bunyi jangkrik dan kodok yang bernyanyi dari kolam di depan rumah baru kami. Tiba tiba sebuah sinar mencolok mengalihkan mataku. Ya, ayah pulang bersama suara motornya yang tak lagi asing ku dengar. Wajahnya yang lelah tak menutupi senyum dari bibirnya, begitulah ayah, seorang pekerja keras yang mengabdikan dirinya pada Negara, meski lelah setelah mengurus banyak konflik daerah di negeri ini, ia tetap pulang dengan senyum dan wajah yang ramah. “Sudah larut, mengapa tak juga kau beranjak tidur?”. ucap ayah. “iya.. ini baru saja aku mau beranjak”. “lekaslah.. pasti melelahkan bukan seharian membereskan rumah?”. Aku mengangguk.. segera aku masuk ke kamar untuk tidur, bau anyir itu tiba tiba lenyap dengan kedatangan ayah.

Libur panjang semester membuatku menjadi anak rumahan, tak lagi ku berkutat dengan angka dan buku buku tebal yang menjemukan, dosen yang membosankan namun juga teman teman yang menyenangkan, alhasil yang kudapat hanya kesepian. Jika biasanya aku hang out dengan teman atau pun kekasih, liburan kali ini aku hanya bisa melamun dan melamun di kamar. Tak ada lagi canda tawa, keseruan atau makan bersama dia, apa lagi sejak kami terpaksa memutuskan untuk berpisah, pekerjaanku hanya mengurung diri di kamar. Berat dan menyesakkan hati.

Aku memang sulit bersosialisasi dengan lingkungan baru. Dan hari hari pertama di sini benar benar seperti neraka dunia. Melihatku terus begini, ibu mulai khawatir, berbagai cara beliau lakukan agar aku berhenti meratapi nasib. “Na, tolong kamu antar makanan ini untuk warga yang sedang kerja bakti ya.. sekalian kamu mencari udara segar, tak baik mengurung diri dirumah.” dengan wajah suntuk kuiyakan perintah ibu.

Waktu menunjukan pukul 8 pagi, udara di sini masih saja dingin menusuk tulang. Aku berjalan ditemani jacket coklat kesayanganku melalui jalan setapak desa. Sepi sekali, pohon pohon bambu menjulang tinggi dan begitu banyak tumbuh di sini. Warna bambu yang gelap membuat suasana semakin gelap layaknya petang. Rumah di sini masih begitu jarang. Hanya ada pohon bambu dan pohon besar yang tak pernah kukenal apa namanya. Aku terus tenggelam dalam lamunan, aku lebih setuju menyebut ini adalah perjalanan di dalam hutan, kicau burung asing mengiringi langkahku, seketika bau anyir semalam kembali hadir menyapaku, bau apa ini, apa di sini ada ikan? Atau darah? Bau yang lebih mirip bangkai berdarah ini semakin lama semakin kuat, kupercepat langkahku dengan tergesa gesa, akhirnya kulihat segerombolan orang sedang duduk berkumpul di tepi jalan. Beberapa bapak bapak menikmati kopi dan rok*k di tangannya, ibu ibu mulai berdatangan membawakan makanan seadanya, layaknya orang yang kelelahan, mereka beristirahat sambil melahap makanan seadanya, guyub dan rukun adalah kata yang tepat untuk warga desa ini, segera kusapa mereka dan menyampaikan makanan dari ibuku, setelah berbincang kecil, akhirnya kuputuskan kembali ke rumah melewati jalan setapak tadi.

Tak ada yang aneh di perjalanan pulangku, setelah sampai di rumah sama sekali tak kuceritakan hal aneh yang kutemui barusan. Seperti sebelumnya, kuhabiskan waktu di rumah tanpa tertarik untuk keluar, waktu terasa begitu lamban, sampai petang kembali datang, pukul 18.00 WIB dan aku baru ingat jika aku belum mandi. Kuambil handuk dengan malas malasan, aku pun bergegas menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah, memang kebanyakan rumah di sini belum memiliki kamar mandi di dalam rumah, walaupun hanya berjarak beberapa meter, tetap saja ada sensasi tersendiri mandi di luar rumah seperti ini.

Belum sempat masuk ke bak mandi. Entah karena hal apa mataku tertarik untuk melihat sebuah pohon besar di samping tempat ku mandi. Seketika bau anyir itu hadir kembali, aku terpaku melihat benda seperti asap menari nari di dahan pohon, jantungku berdegup kencang. Nafasku menderu tidak teratur, perlahan asap itu memudar dan menghilang.. hal aneh tersebut tak membatalkan niatku untuk mandi, baru selangkah kumasuki ruangan itu, aku dikejutkan dengan sesosok aneh yang membuat jantungku kembali berdegup hebat, wanita berambut panjang menghadangku, mulutnya menganga seolah memaerkan taring tajam yang dihiasi cairan merah seperti darah.. anyir seanyir anyirnya yang kurasakan di hidungku, mulutku terkunci, pikiranku kosong dan tak lagi kuingat apa yang terjadi.

Dan saat aku terbangun ternyata waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi. Ibu membawakanku semangkuk bubur untukku sarapan. Ibu mengatakan bahwa semalaman aku demam tinggi. aku juga mengerang dan mengigau tak karuan. Syukurlah, ternyata semua hanyalah mimpi. Ibu mengatakan bahwa pikiran juga bisa mempengaruhi kesehatanku, oleh karena itu aku dinasehatinya untuk tidak terlalu tenggelam dalam sedih dan mulai membuka hati kembali. Di luar sana banyak hal yang menarik untuk diketahui dan dipelajari dari pada terus murung dan tenggelam dalam kesedihan yang tidak ada ujungnya.

“Minggu besok kita berlibur ya, ingat tempat liburan yang menyenangkan dulu saat kamu kecil dulu?” ucap ibu sambil mengelus kepalaku.
“Desa kakek?”
“Iya.. bagaimana? Ibu dengar di sana ada penginapan baru juga, di dekat sana banyak tempat wisata salah satunya air terjun yang masih sangat alami dan indah, dan konon belum banyak dikunjungi.. bagaimana?”.
“baiklah”.
“baik kalau begitu lekaslah makan dan minumlah obatnya..”
Aku mengangguk, benar kata ibu, aku harus membuka mataku lagi, mengapa aku harus tenggelam dalam masa lalu? Sementara di depanku ada banyak hal menarik yang bisa kulakukan. Life must go on bukan…

Bersambung

Cerpen Karangan: Ulil Awaliyah
Facebook: Ulil Awaliyah

Cerpen Kehidupan Baru (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Ghaib Ku

Oleh:
Hari ini aku pulang dengan santai, karena hari ini di cafe sangat rame, akhirnya cafe tutup lebih cepat. Nama aku Lasno, tapi lebih sering dipanggil Hery. Aku kerja di

Lona Head

Oleh:
Liburan ini, aku dan teman-temanku akan menginap di Villa punya keluargaku. Namaku Delva. Setelah sampai, teman-temanku langsung mengambil baju mereka karena ingin mandi. Mereka ingin cepat mandi karena Villaku

Help Me

Oleh:
Pagi ini Andrea akan pindah ke rumah barunya. Gadis yang berdarah Inggris ini akan pindah ke sebuah rumah Belanda yang terletak di kawasan Jakarta Timur. Andrea sudah terbiasa pindah-pindah

Bangku Sudut Kelas

Oleh:
Pagi ini, Renita sengaja berangkat awal supaya tidak terlambat seperti hari-hari yang lalu. Dia berjalan menyusuri koridor kelas 9I sampai 9A. Dan langkahnya terhenti ketika di depan 9B, dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Kehidupan Baru (Part 1)”

  1. A.Naila Isna Maghfirah says:

    Lanjutan ceritanya pasti karakter utamanya mati lalu hidup lagi dan tamat di sertai kredit :v

  2. Mayla Salma says:

    Kok nggak ada lanjutannya sih..!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *