Keji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 14 February 2018

“Ah sial, cerita ini sangat menyeramkan!”
Kulemparkan buku yang telah kubaca ke sisi kasur di kamarku ini, setiap kata yang dimuat pada buku cerita tersebut sukses membuat bulu kudukku meremang. Bagaimana tidak? Buku itu menceritakan tentang pembunuhan misterius yang dialami seorang anak seumuranku di rumahnya sendiri pada malam hari, pada saat ia sendiri di rumahnya tersebut. Pada saat ini pula aku sendiri di rumahku, kedua orangtuaku sedang bekerja, biasanya mereka akan tiba di rumah pukul sepuluh malam, ya paling lambat pukul sebelas. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul sembilan yang berarti satu jam lagi kedua orangtuaku akan tiba.

Handphoneku bergetar, pertanda ada sebuah panggilan masuk. Kulihat layar handphoneku di situ tertera ‘mamah’ ah, ternyata mama yang meneleponku.

“Halo mah, ada apa?”
“Halo Bian, mamah Cuma mau ngasih tau kamu satu jam lagi mamah akan sampai di rumah jadi kamu jangan tertidur ya sayang.”
“iya mah Bian tau kok.”

“Oh ya pastikan pintu rumah dan pagar jangan dikunci dahulu sebelum mamah dan papa sampai ya nak!”
“iya mah.”
“Dahhh Bian.”
“Dahh mamah.”

Klik telepon dimatikan, ah syukurlah dengan ini aku jadi merasa lebih tenang dari sebelumnya. Ya, aku sudah biasa ditinggal bekerja oleh kedua orangtuaku. Mereka berangkat selagi aku masih terlelap di pagi hari dan kembali saat mataku mulai mengantuk, bahkan pernah kedua orangtuaku tidak pulang jika tugas pekerjaan mereka sangat menumpuk. Terkadang aku merasa kesepian dan sangat membutuhkan mereka terlebih jika malam tiba, tapi aku lebih memilih diam ketimbang merengek seperti bayi.

Pada saat malam tiba suasana di dalam rumahku menjadi sangat sepi. Suara orang-orang yang selalu terdengar di luar rumah saat matahari masih tampak tiba-tiba saja menghilang ketika malam datang. Ingin rasanya kubuat agar pagi cepat menjelang, tapi rasanya tidak mungkin karena aku bukanlah pengatur waktu.

Krekkk pintu utama rumahku berbunyi pertanda ada seseorang yang masuk. Kulihat jam masih setengah sepuluh, tidak mungkin mama yang pulang pada jam segini. Situasi seperti ini membuatku ketakutan dan kenapa ini seperti di buku yang tadi kubaca? Kulemparkan buku tersebut lebih jauh, ku mengutuknya karena telah membawaku ke dalam ketakutan akan halusinasi yang sangat nyata. Ku turun dari kasur mengambil gunting di atas meja rias milik mama dan memantapkan langkahku untuk menuju pintu utama rumahku.

Tidak ada seorang pun di sini, aku yakin tadi itu hanya halusinasiku saja dan bahkan pintunya masih tertutup rapat tanpa ada tanda-tanda sebelumnya terbuka. Tapi… sreett oh tidak kenapa ini? Kenapa leherku sakit? Dan kenapa kepalaku terasa ringan, aku tidak dapat merasakan tubuhku. Dari sini aku dapat melihat tubuhku terjatuh, terlalu banyak darah dan benda apa ini yang berada di depanku? Ah, itu kakiku itu telapak kakiku. Aw kepalaku ditarik sebuah tangan, ah iya dia yang membunuhku.

“Halo nyonya, pekerjaan saya sudah beres.”
“Kerja bagus, uang bayaranmu juga telah saya transfer.”
“Terimakasih nyonya, senang bekerja sama dengan anda.”

Sedikit-sedikit ku masih mendengar itu, suara mama berbicara dengan pembunuh keji ini. Kenapa mah? Kenapa mamah tega kepadaku?.

“Anak itu telah di bereskan, sayangnya ia bukan anakku ia hanya anak suamiku dengan mantan istrinya.” Ucap seorang wanita.
“Selanjutnya adalah ayahnya, hahahaha.”

Cerpen Karangan: Muhammad Ilham
Blog: mydaily241.blogspot.com
Ini merupakan cerpen pertama saya yang bertemakan pembunuhan, kritik dan saran yang membangun sangat saya butuhkan. So, semoga kalian suka! dan selalu waspada jika di rumah sedang sendiri!!

Cerpen Keji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dendam

Oleh:
Aku tak sabar menunggu pukul 8 pagi. Aku terus memandangi jam tanganku. Pukul 8 nanti Valdi mau mengajakku pergi ke taman penangkaran kupu-kupu. Dia teman terbaikku. Aku menunggunya di

Missing (Part 3)

Oleh:
Semua mulai duduk beristirahat sedangkan kami mulai mendirikan tenda. Dua buah tenda ukuran besar berhasil kami dirikan berhadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Dengan rencana akan ada api unggun

Waktu Senja

Oleh:
Ku berjalan menuju dapur rumahku, mencari ibuku. Tapi dia tidak ada di sana, ke mana ibu, biasanya waktu senja seperti ini ibu memasak di dapur untuk makan malam nanti.

Grey In Bregagh Road

Oleh:
Grey terus berlari sekuat tenaga menyusuri deretan pohoh-pohon tua yang mengepung di sisi kiri dan kanan bagai hendak menerkam. Grey tak tahu tengah berada di mana, yang ia tahu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *