Keluar Dari Tubuhku!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 10 January 2018

Perlahan-lahan, aku bisa merasakan di mana diriku. Bau obat-obatan, bunyi peralatan medis, dan percakapan beberapa orang di dekat tempatku terbaring. Tak ada lagi anesthetize, dan aku akan segera bangun sebentar lagi.

“Doc, dia sudah sadar!” seru seorang wanita, yang kemudian kusadari itu adalah mama. Mataku sudah terbuka, memandangi orang-orang di sekitarku dengan bingung.
Dokter itu mendekatiku dengan wajah ramahnya. Itu membuatku merasa lebih nyaman. mama dan papa berada di sampingnya, dengan wajah yang sumringah menyadari putri semata wayangnya sudah bangun.
Dokter lalu melepas alat bantu pernafasan di wajahku, sehingga aku bisa bicara.

“Sayang. Kamu sudah bangun! Kamu tahu mama dan papa begitu mencemaskanmu!” seru ibuku dengan perasaan senang. Papa, walau tak bicara, tapi ia juga mengangguk gembira.
Itu membuatku terharu, sekaligus membuatku lupa pada kenyataan pahit, bahwa mereka sudah bercerai. Pandanganku lalu beralih ke papa, yang malah menunjukkan raut tak enak hati padaku. Aku bisa memahaminya.

Kusadari, sikap papa mungkin disebabkan karena hubungan kami yang tak terlalu baik semenjak aku memergokinya berselingkuh dengan tante Jule. Yang akhirnya berujung pada perceraian dengan mama waktu itu. Itu adalah saat terburuk dalam kehidupanku, yang akhirnya mempercepat matinya jantung lamaku, yang sebenarnya sudah tak normal sejak aku lahir.

Oh, sial. Memikirkan si keparat Jule membuat jantung baruku berdetak-detak penuh kemarahan. Itu membuat layar mesin pemindai aktifitas jantung di sampingku bergerak lebih aktif. Dokter terkesiap dengan perubahan di layar.
“Kamu baik-baik saja, Vira?” tanya dokter. Kedua orangtuaku di sampingnya jadi khawatir.
“Ahhh… di mana aku?” Samar-samar, sebuah suara yang tak kuketahui asalnya tiba-tiba muncul. Itu membuatku tak langsung menjawab pertanyaan dari dokter.
“Vira?” ulang dokter.
“Oh. Ya, saya baik-baik aja, kok,” jawabku, sambil meringis malu.

“Aku masih hidup?” Suara itu muncul lagi. Kali ini aku jadi penasaran
“Kayak ada suara, deh. Kalian dengar?” tanyaku.
“Suara? Nggak ada apa-apa tuh, Sayang,” ujar mama.
“Kenapa aku nggak bisa bergerak? Kenapa ini?” ujar suara itu. Itu seperti suara seorang perempuan.
“Itu. Tadi barusan kayak ada yang ngomong, ‘kenapa aku nggak bisa bergerak,’” ujarku, setengah takut.

“Sayang.” Mama mendekatiku. Ia letakkan tanganya di pipiku, hingga aku bisa bersandar di sana. Raut wajahnya begitu khawatir padaku. “Itu mungkin karena kamu baru sadar, Sayang. Tak ada suara apapun di sini,” ujar mama menenangkanku. Mama lalu mendongak ke dokter dan ke papa, meminta persetujuan.
“Kamu perlu istirahat, Vira. Kondisi psikologis setelah baru sadar dari operasi memang sering kurang stabil,” ujar dokter, menyetujui mama.
Aku tertegun, dan mengangguk. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tak mungkin jadi gila gara-gara baru operasi transplantasi jantung.

“Transplantasi jantung? Jangan-jangan… kamu adalah penerima donorku? Aku seharusnya sudah mati. Tapi kenapa aku ada di sini?” ujar suara perempuan itu lagi. Kenapa dia bisa tahu isi pikiranku? Aku, satu-satunya orang yang bisa mendengar suara itu menggigil ketakutan.

Semua orang sudah pergi. Aku berusaha keras untuk tertidur kembali, agar tak lagi mendengar suara itu. Suara perempuan itu terus berbicara kepadaku, dan menambah berisik kepalaku. Kusadari suara itu memang berasal dari dalam kepalaku, tapi itu bukan pikiranku sendiri. Itu bukan diriku. Dan suara itu bisa mengetahui pikiran dan perasaanku.
Akhirnya, kuberanikan diri untuk berbicara dengan suara itu. “Jadi, kamu yang mendonorkan jantungmu padaku?” pikirku bertanya.
“Iya,” jawabnya.
“Kamu siapa?”
Tapi suara perempuan itu tak menjawab. Justru yang muncul adalah gambaran-gambaran baru dan pemahaman-pemahaman baru dalam kepalaku: wajah perempuan itu (atau gadis itu karena ia tampak masih sangat muda dalam pikiranku), nama gadis itu, hingga profil singkatnya. Itu ingatanya, dan aku bisa mengaksesnya, sebagaimana ia juga bisa mengakses ingatanku. Bisa dibilang kesadaran kami berdua telah menyatu.
Dan gadis dalam kepalaku ini bernama Dara

“Apa kamu hantu… Dara?” tanyaku setengah takut.
“Aku nggak tahu…” jawabnya mengejutkanku.
“Tapi kamu udah mati, dan merasukiku lewat transplantasi jantung itu,” bantahku.

“Mungkin aku emang hantu, dan terperangkap di tubuh ini. Tapi aku juga bingung, karena gak punya kendali tubuh ini.”
“Tubuh gue,” ujarku menegaskan. “Dan lo harus segera keluar!”
“Oke. Ini memang tubuh kamu. Tapi dengar. Aku juga gak nyangka kalau jadinya bakal kayak gini. Tadinya aku pikir aku akan mati gitu aja, atau mungkin bakal pergi ke alam baka. Tapi ternyata aku terbangun dan melihat semuanya lewat matamu, mendengar lewat telingaumu. Aku udah terperangkap di sini bareng jantung aku, ” ujarnya.
“Karena itu lo harus keluar!” teriakku kelepasan lewat mulut, bukan lewat pikiran. Sontak aku langsung menutup mulut dengan tanganku. Kejengkelan sekaligus rasa takutku pada hantu ini telah membuatku hilang kendali. Beberapa orang yang ada di ruangan ini melihatiku.

“Nona? Anda baik-baik saja?” tanya seorang suster, yang sedang menyuapi seorang lansia wanita penderita alzheimer.
“Oh. Ya, saya baik-baik saja, sus. Maaf, tadi saya kelepasan. Saya cuma jengkel sama… lalat. Saya pingin lalat itu pergi dari sini. Maaf,” ujarku sangat malu. Suster itu membalas dengan sebuah senyuman.

“Kamu nggak seharusnya kayak gitu,” ujar Dara dalam kepalaku.
“Itu gara-gara loe,” balasku.
“Oke, Vir. Begini. Tadi kan aku udah jelasin. Kalau kayaknya aku terperangkap di tubuh kamu bareng sama jantung aku. Dan kayaknya, aku gak akan bisa keluar kecuali kalau jantung aku juga keluar. Gimana?” jelasnya.
Deg. Aku menciut mendengarnya. Sontak, aku memegang dada kiriku tempat jantung Dara berada. Terasa agak sakit, karena belum lama dioperasi.

“Gimana? Kamu paham kan, Vir,” ujar Dara dengan nada putus asa.
“Ya, Tuhan!” bisikku seorang diri.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Facebook: Danang Sasmi (Facebook)

Cerpen Keluar Dari Tubuhku! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cake Land

Oleh:
Halo, namaku Reyka Himuro ya seperti yang kalian kira, kalau aku ini orang jepang ya memang benar aku orang jepang. Nah aku punya sahabat yang namanya Nina Aoyagi. Aku

Dongeng Kertas

Oleh:
Di atas meja itu, kamu bisa melihat buku-buku berjajar rapi… tempat pensil, lengkap dengan pulpen, penghapus, dan penggaris bergambar kartun kucing. Di dalam laci meja itu, ada sebuah kotak

Negeri Berlian

Oleh:
Ini hari ulang tahunku dan aku mengajak ketiga sahabatku Azza, Radita, dan Naila kita sudah berteman lama saat ulang tahunku sudah selesai kita buka kado bareng-bareng. Walaupun aku yang

My Age To Seventeen Years (Part 2)

Oleh:
Mereka berlari ke dalam pelukanku. Pikiranku semakin kacau membayangkan akan seperti apa nasib mereka nanti. Selama ini mereka tak pernah bisa jauh-jauh dariku, apa yang bisa mereka lakukan tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *