Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

“Namaku Aria Alexandra. Biasa dipanggil Aria.” Gadis itu mengenalkan diri di depan teman-teman barunya. Hari ini adalah hari pertama dirinya masuk, tetapi Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa antusias.
“Aria ini pindahan dari sekolah di Sydney. Karena pekerjaan, ayahnya harus kembali ke Jakarta. Makanya Aria kembali ke Indonesia.” Jelas Pak Joko, tampak murid-muridnya di depan sana tercengang heran. Di pikiran mereka, walaupun sekolahan ini cukup bagus di Jakarta tapi baru kali ini ada anak pindahan dari luar negeri.

Pak Joko menoleh ke arah Aria yang ada di sebelahnya, lalu mengatakan, “Sekarang kamu boleh duduk Aria. Ada bangku kosong di pojok belakang dekat jendela. Kamu bisa duduk di sana.” Telunjuk laki-laki paruh baya itu menunjukkan arah yang Ia maksud.
“Iya, Pak. Terimakasih.” Jawab Aria. Kemudian Ia segera menuju ke bangku kosong itu. Saat Ia berjalan melewati bangku teman-temannya, Ia mendengar mereka berbisik.

“Haduh.. Dia belum tahu tuh.. Kasian.”
“Cuma itu satu-satunya bangku kosong di sini!”
“Kalau jadi dia aku bener-bener nggak mau duduk di sana.”

Aria berusaha tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu. Entah apa maksud perkataan mereka, Ia tidak terlalu mempedulikannya. Aria tiba dibangkunya lalu segera duduk sambil menaruh tasnya di pinggiran kursi. Kemudian Ia juga baru menyadari jika semua pandangan tertuju padanya, termasuk guru berkepala botak di depan sana. Dan Pak Joko terlihat salah tingkah begitu bertatapan dengan dirinya, pria tua itu langsung berdeham, sehingga semua murid kembali teralihkan padanya.

“Sekarang keluarkan buku tulis kalian, kita akan mulai mencatat!” Kata Pak Joko semangat, disusul suara protes anak-anak.

Aria mengeluarkan buku tulisnya, dan menaruhnya di atas meja. Sedetik kemudian Aria terpana, Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri meja di depannya bergoyang-goyang ringan, seperti sedang terjadi gempa bumi. Kalaupun benar terjadi gempa bumi, kenapa teman-temannya yang lain tidak bereaksi apa-apa, mereka biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu. Sesaat berlalu dan meja itu diam kembali. Apakah hanya dirinya yang merasakan kejadian ini? Dan Ia baru menyadari bahwa tubuhnya merasakan aura berbeda ada di dekatnya, ada sesuatu. Insting indigonya berkata demikian.

Aria meneguk segelas air putih dan setelah habis ditaruhnya gelas itu di tempat piring-piring kotor di dapur. Ia sedang berjalan menuju tangga ke kamarnya ketika mendengar dentingan benda logam yang sepertinya berasal dari dapur. Keningnya mengernyit. Bukannya hanya dirinya yang baru saja dari tempat itu. Pasti bukan Mama ataupun Mbok Ginem karena saat ini tengah malam dan hanya Ia yang masih yang terbangun.

“Ma?” Tanya Aria memastikan. Tapi tidak ada jawaban. Ia kembali berderap menaiki tangga dengan perasaan heran.

Begitu membuka pintu kamar, di dalam kamarnya yang remang, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok yang berdiri di dekat jendela kamar dengan posisi membelakangi dirinya. Sekujur tubuhnya merasakan hal aneh dan berbeda pada makhluk itu. Ia tidak takut tapi memang sosok itu asing di rumah ini. Ia sudah melihat beberapa sosok yang tinggal di rumah ini tetapi tidak dengan yang satu ini. Mata Aria menyipit, memandangi makhluk itu sambil melangkah perlahan ke tombol lampu di dinding berada untuk menyalakan lampu kamar. Sosok itu terlihat seperti laki-laki, dan.. Bahkan dia ternyata memakai seragam SMA abu-abu putih. Ia akhirnya menemukan tombol itu, tetapi Ia mengurungkan niat untuk segera menyalakan lampu. Ia merasa penasaran. Karena sosok itu sedikit berbeda dengan yang pernah ditemuinya, aura yang dimiliki sosok itu bukan seperti hantu-hantu lain. Benar-benar aneh. Makhluk apakah dia? Tanya Aria dalam hati.

Aria sedikit ragu, kemudian bertanya, “Siapa kamu? Kenapa ada di sini?.”

Sosok jangkung itu bergeming dan menoleh ke arahnya. Menatap dirinya dengan mata hitam yang menakutkan! Astaga.. Tangan Aria dengan sangat cepat menekan tombol lampu. Seketika kamarnya jadi terang benderang. Dan beruntung.. Sosok itu akhirnya menghilang.

“Kapan-kapan aku main ke rumahmu ya, Ri?” Tanya Fani. Teman baru Aria yang bangkunya tepat di sebelah kanannya. Mereka berdua baru saja makan siang di kantin dan sedang berjalan ke kelas.
Keduanya baru akan berbelok masuk ketika Alexa keluar dari kelas dengan tiba-tiba sambil memekik keras, di belakangnya menyusul Rere dan Jessy yang tampak ketakutan. Aria dan Fani spontan terlonjak mundur karena terkejut.
“Kursinya! Kursinya bergerak sendiri! Gue nggak bohong!” Jerit Rere sambil menunjuk ke dalam kelas.
Aria memandang sekilas ke dalam kelas lewat jendela kaca. Tampak anak-anak lainnya juga ketakutan. Ada yang sengaja bergerombol saking takutnya.

“Ada apa?” Tanya Fani penasaran.
“Bangkunya Gabriel tuh tadi gerak sendiri.” Jelas Rere dengan raut muka pucat.
“Hah? Lagi? Makin serem aja!” Timpal Fani histeris ikut ketakutan sambil menutupi mulut dengan sebelah tangan.
“Bangku.. Gabriel?” Gumam Aria tidak paham.
Mata Fani, Rere, Alexa, dan Jessica langsung tertuju pada Aria sejenak, lalu Alexa angkat bicara, “Iya.. Bangkunya Gabriel itu ya bangku yang kamu tempatin sekarang.” Ia sedikit ragu dan akhirnya melanjutkan, “Dia teman sekelas kami yang seminggu lalu kecelakaan.” Lanjutnya dengan nada suara yang lebih rendah.
“Jadi kalian mengira kalau itu ulah dia, begitu?” Tanya Aria.
“Jelas lah, Ri!” Sahut Jessy.
“Hati-hati ya, sepertinya kamu kurang beruntung karena dapat bangkunya Gabriel.” Tambah Rere.
Aria menoleh ke arah Fani dengan alis terangkat. Fani meneguk ludahnya kemudian berkata dengan wajah serius, “Beberapa hari ini kelas ini memang agak aneh, Ri. Kadang-kadang benda-benda jatuh sendiri. Malah ada yang lihat juga kalau bangku itu bergerak-gerak tanpa sebab.”
Aria mengerti sekarang.. Kenapa kemarin bangku itu bergerak dengan sendirinya.

“Kalian kenapa ada di luar?” Tanya suara di belakang mereka, membuat semuanya tersentak kaget. Fani yang sebenarnya penakut, tekejut sampai memekik keras. Dilihatnya ternyata Pak Joko ada tepat di sebelah mereka. Karena terlalu serius membicarakan tentang Gabriel mereka jadi tidak mendengar suara langkah kaki guru berkepala botak itu.
“Ayo semuanya masuk! Waktu istirahat sudah habis, Masuk!” Ujar Pak Joko dengan nada tinggi.

Satu persatu semua masuk, Rere menggumam tak jelas. Sedang Fani masih ketakutan dan hampir menangis karena bangku Gabriel ada di sampingnya.

Aria menarik kursi Gabriel yang ternyata ada satu meter jauhnya dari bangku. Ia duduk sambil mengambil buku dari tas dan berpikir. Sebelumnya yang seperti ini belum pernah merasakan yang seperti ini. Kalaupun ada hantu di sekitarnya, Ia sudah pasti bisa merasakan kehadiran mereka karena semua hantu yang pernah ditemuinya mempunyai aura yang sama. Dan Ia sudah pasti bisa melihat hantu penasaran di kelas ini. Tapi sampai sekarang Ia bahkan tidak melihat hantu yang mencurigakan, hanya hantu-hantu penunggu yang seperti biasa Ia lihat di tempat lain. Malah sekarang teman-temannya mengaitkan semua ini dengan seseorang bernama Gabriel. Oh.. Tunggu dulu… Ia teringat dengan penampakan yang kemarin terlihat di kamarnya. Hantu asing berseragam abu-abu putih, Mungkinkah? Kenapa bisa sampai ada di rumahnya?

“Nunggu siapa, Ri?” Tanya Fani setelah bangkit dari bangkunya.
Aria mendongak sambil tersenyum “Masih menunggu jemputanku datang. Katanya setengah jam lagi.”
“Baru kali ini kamu senyum, Ri. Cantik juga lo.” Puji Fani. “Ya sudah aku pulang dulu ya.”
Aria mengangguk. Fani tersenyum dan melangkah pergi. Baru dua langkah berjalan, Fani membalikkan badan, “Nggak sebaiknya kamu nunggu di depan aja, Ri? Kelas hampir kosong, mungkin sebentar lagi sepi.” Wajah Fani tampak memperingatkan.
“Sebentar lagi aku keluar kok.”
“Oh.. Oke. Dahh!!” Fani melambaikan tangan dan bergegas.

Sekarang kelas benar-benar kosong. Hanya ada dirinya. Ia sebenarnya berbohong pada Fani, jemputannya sudah ada di depan sekolah tapi Ia belum ingin pulang. Ada yang harus Ia pastikan dulu. Sekaligus untuk memuaskan rasa penasarannya tentang hantu yang disebut-sebut bernama Gabriel itu, Apakah benar itu adalah hantu yang sama dengan yang muncul di kamarnya waktu itu?

Hampir satu jam berlalu.. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sebenarnya Ia masih ingin menunggu, tetapi sama sekali tidak ada tanda jika hantu itu akan menampakkan diri. Lagi pula kasihan pak Udin sudah menunggu dirinya terlalu lama di luar sana. Akhirnya Aria mulai mencangklong tas dan bangkit dari kursinya. Ia baru sampai di ambang pintu pintu ketika terdengar suara benda terbanting dengan amat keras membuat kepalanya berputar cepat ke arah asal suara.

Karet penghapus papan tulis mengelinding setelah terlempar mengenai papan tulis. Tatapannya masih terpusat pada penghapus itu ketika suara berat terdengar tepat di telinganya. Memanggil namanya. Aria terlonjak mundur dan terpojok di pintu.

“Hai, Aria!”
Mata Aria melebar melihat sosok menjulang di depannya, hantu itu tampak seperti manusia seutuhnya dengan berseragam abu-abu putih. Kemudian mata gadis itu terfokus pada badge yang ada di dada kanan si hantu, tertulis nama ‘Gabriel’.
“Kamu.. Hantu itu?” Tanya Aria terbata.
Mata Gabriel menyipit, “Kamu takut?” Tanya Gabriel sambil mengangkat sebelah alisnya.

Aria menatap Gabriel dengan heran, diamatinya hantu itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, belum ada hantu yang tampak begitu sama dengan manusia seperti ini dan mempunyai aura yang berbeda. Setelah bisa mengatur nafasnya kembali karena kedatangan Gabriel yang mengejutkan, Aria segera bertanya, “Aku tahu kamu mengikutiku sampai ke rumah, kamu yang ada di kamarku waktu itu, kan? Jadi jelaskan sebenarnya apa maumu?”

Gabriel menatap kedua mata bulat hitam di hadapannya serius, “Kamu punya aura yang berbeda dengan manusia lainnya. Auramu kuat, aku merasakan sesuatu dari dirimu. Dan kamulah satu-satunya orang yang bisa melihatku sampai saat ini. Bahkan kamu sama sekali tidak takut padaku.” Ia terdiam sejenak dengan wajah muram.

“Lalu?” Sahut Aria.
“Jadi bantu aku. Kumohon.”
“Membantu? Untuk apa?” Tanya Aria heran.
“Sebenarnya.. aku nggak akan pergi dengan tenang jika aku masih mempunyai sebuah keinginan yang belum terpenuh di dunia ini.”
“Jadi.. untuk ini, kamu meminta bantuan padaku?”
“Ya. Karena sejauh ini hanya kamu yang bisa melihat keberadaanku, Aria. Aku mohon.. aku mohon padamu dengan setulus hatiku Bantulah aku.”
“Bagaimana caranya? Aku juga tidak yakin bisa membantumu.”
“Buat yakin ibuku kalau aku benar-benar sayang padanya. Aku belum sempat meminta maaf karena kesalahan yang pernah kubuat padanya. Mungkin dia mengira apa yang terjadi padaku sekarang ini adalah karena dirinya. Aku tidak mau ibuku menyalahkan dirinya sendiri.”
“Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mengusahakannya.”

Aria menutup novel di tangannya dengan gelisah. Bagaimana dia akan melakukan ini semua? Dia sudah mengatakan akan membantu hantu bernama Gabriel itu tadi! Ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan melangkah ke pintu balkon. Dibukanya pintu itu, angin yang dingin segera menerpa wajahnya. Ia melangkah keluar, lalu melihat bintang-bintang di atas langit yang tampak begitu jelasnya karena langit malam ini begitu cerah. Aria melangkah lebih jauh sampai ke pagar pembatas balkon, tangannya memegangi pagar sementara matanya menatap langit, sinar bulan purnama di atas sana sangat terang. Lengkungan tipis terbentuk di bibirnya, semua begitu indah, dan tiba-tiba Ia teringat kata-kata kakaknya jika semua orang yang meninggal akan naik ke atas langit. Ya, kakak laki-lakinya yang dua tahun lalu meninggal karena penyakit leukimia. Mungkin kakaknya juga ada di sana, sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Aria menarik napas panjang, Ia sungguh rindu dengan kakaknya itu. Setelah Ariel meninggal, Hari-hari Aria terasa begitu sepi. Bahkan Ia rindu bertengkar dengan Ariel sepanjang hari.

“Kenapa sedih?”
Aria tersentak, lagi-lagi karena suara itu tiba-tiba muncul. Dilihatnya Gabriel sudah berdiri memunggungi pagar pembatas di samping kanannya. Dengan kedua lengannya terlipat di depan dada.
“Teringat Kakakku.”
Mata Gabriel menyipit, “Memang di mana Kakakmu itu?”
Aria terdiam sejenak, “Di Surga. Di atas sana.” Jawabnya sambil mendongak menatap langit.
“Apakah kamu pernah bertemu dengannya setelah dia meninggal? Maksudku melihatnya sebagai ruh?” Tanya Gabriel.
Aria menggeleng.
“Beruntung ya kakakmu itu, pasti urusannya di dunia sudah terselesaikan, tidak ada beban lagi.” Kata Gabriel “Semoga aku juga akan cepat menyusul kakakmu di surga.”
“Soal permintaanmu.. Sudah ada rencana?”
“Aku ingin kamu menemui mamaku nanti. Tapi tidak dalam waktu dekat. Saat ini dia masih terlihat kacau dan sedih. Nanti saja saat dia sudah lebih baikan, Aku akan mengajakmu menemuinya. Oke?”
Aria mengangguk, “Oke.”

“Ngomong-ngomong, kamu cuek banget tahu, Aria. Di kelas juga pendiem. Di kelasku itu anak-anaknya sableng semua, nggak ada yang beres. Jadi kamu jangan terlalu pendiam, nanti tidak ada mau berteman sama kamu, gimana? Paling juga cuma Fani. Cewek lemot itu.”
“Ada masalah?” Tanya Aria dengan alis terangkat sebelah.
“Enggak kok. Aku cuma mau ngasih tahu aja.” Gabriel mengibaskan tangan di depan dada, “Sebenarnya kalau kamu senyum.. Cantiknya bisa lebih kelihatan.” Ia mengangguk-anggukan kepala.

“Aku juga mau bilang sesuatu sama kamu.”
Gabriel tersenyum dengan percaya diri, “Kalau aku hantu paling tampan yang pernah ada?”
“Kamu adalah hantu tercerewet yang pernah aku temui.” Timpal Aria sambil menatap Gabriel, dengan senyum tipis, kemudian segera masuk kembali ke kamar meninggalkan si hantu karena sudah larut malam dan anginnya bertambah dingin.
Gabriel tertawa pelan sambil menatap pintu kamar yang kemudian ditutup. Baru kali ini Ia merasa tidak sendiri sejauh menjadi seorang.. hantu.

“Astaga.. Biasanya kalau jam kosong seperti ini, aku lebih baik tiduran atau ke kantin nongkrong dengan anak-anak. Tidak duduk di perpustakaan sepertimu begini. Tidak merasa bosan?” Gumam Gabriel. Ia menduduki tepi meja tempat Aria membaca buku sekarang.

Aria mendongak lalu mendesah. Ia lebih dulu mengamati sekitar kalau-kalau nanti ada yang mendengar Ia berbicara pada Gabriel, hantu yang tidak mereka lihat. Bisa-bisa Ia disangka kurang waras karena berbicara sendiri, “Aku tidak terlalu menyukai keramaian.” Jawabnya singkat kemudian beralih lagi pada buku yang dipegangnya. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari pandangan, di deretan meja bagian barat yang sepi, sekaligus dekat jendela yang langsung bisa melihat lapangan basket.
Mulut Gabriel membentuk huruf o sambil mengangguk-angguk.

“Kenapa kamu selalu mengikutiku? Bisa-bisa kalau ada orang yang melihatku berbicara padamu, pasti mereka akan mengira aku ini gila.” Kata Aria tanpa mengalihkan matanya dari buku yang dibacanya.
“Kamu risih? Oke aku akan pergi. Kamu hanya tidak tahu betapa kesepiannya menjadi seorang hantu, Aria.” Ujar Gabriel lalu menghilang entah kemana.
Menyadari Gabriel sudah pergi, Aria menggeleng, “Ternyata ada juga tipe hantu pemarah.”

Satu jam berlalu, bel pergantian jam berbunyi dan ini waktunya kembali ke kelas. Aria mengembalikan buku dan keluar dari perpustakaan.
Begitu sampai di kelas, Fani menghampirinya dengan wajah berseri-seri “Dari mana saja, Ar? Aku kira ke toilet, tapi kok nggak balik-balik.”
Aria tersenyum, “Dari perpustakaan.” Jawabnya sambil berjalan kemudian duduk di bangkunya.
“Aduh, rajin banget!” Fani juga duduk dibangkunya sendiri, “Ada kabar bagus loh, Ri! Heboh! Aku kasih tahu sekarang ya?”
Alis Aria tertaut, “Ada apa?”
“Tadi kak Leon baru aja dari kelas kita. Dan kamu tahu dia nyari siapa? Kamu, Ri!” Sambar Fani histeris.
“Leon? Siapa?” Tanya Aria belum paham.
Fani mengetuk dahinya dengan tangan, “Aduh, Aria. Dia itu cowok ganteng sekaligus ketua Osis di sekolah kita!”
“Oh. Tapi sejujurnya, aku memang aku belum tahu tentang dia.” Jawab Aria sambil mengeluarkan buku-buku dari tas.
Fani ternganga melihat reaksi temannya itu. Ia mengira Aria akan sangat senang. Karena siapa yang tidak akan menyukai Leon? Kakak kelas paling diidam-idamkan!
“Ya ampun, Aria.. Kamu itu cantik loh. Nggak heran kak Leon tertarik sama kamu. Sebenarnya kamu harus merubah sikap cuekmu, itu aja. Lagipula kalau dilihat kalian cocok kok.” Komentar Fani panjang lebar seperti biasanya. Tapi langsung terhenti ketika Miss Clara, guru bahasa inggris masuk ke dalam kelas.

Gabriel berdeham, “Sepertinya ada yang mendapat penggemar baru nih.” Katanya sambil mensejajari langkah Aria. Tapi Aria tidak berniat menjawab lelucon Gabriel dan Ia tetap diam saja..
Aria mengambil ponsel di saku dan baru akan mengetik sebuah pesan ketika seseorang berhenti tepat di depannya, membuatnya mendongak dan menatap wajah yang belum pernah Ia kenal, laki-laki itu terlihat tersenyum pada dirinya.

“Hai, Aria. Kenalkan namaku Leon dari kelas XII-IPA-E.” Sapa Leon mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.
“Aria.” Jawabnya. Setelah beberapa saat Ia menyambut tangan Leon.

Beberapa siswi yang sedang berada di sekitar mereka saling berkasak-kusuk, berbisik, dan juga ada yang terkejut. Belum pernah ada ceritanya Leon yang menghampiri seorang gadis lebih dulu seperti ini.

Kemudian Aria segera menarik tangannya kembali dan membuat Leon sedikit terkejut.

“Oh.. Ya, Aria. Kamu mau pulang, kan? Mau aku antar?” Tawar Leon.
“Belum-belum sudah menawarkan diri buat jadi ojek.” Gumam Gabriel di sebelah.
Aria tersenyum tipis, “Maaf, tapi aku sudah ditunggu di depan.”

Aduh, bodoh Aria! Batin murid lainnya. Ini kesempatan bagus, jarang sekali terjadi dan Aria menolaknya.

“Oh, Begitu.. Nggak apa-apa. Lain kali kalau kamu butuh bantuan, aku siap kok buat bantu.”
“Terima kasih kak. Tapi sekarang aku harus pergi, jemputanku sudah menunggu.”
Leon mengangguk, “Oke. Hati-hati, Aria.”

Gadis itu telah berlalu, Leon tersenyum sambil berkata dalam hati, “Sebentar lagi kamu akan jadi milikku, Aria.”

Cerpen Karangan: Yustin Andara
Blog: lawansepi.blogspot.com

Cerpen Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Biarkan Aku Membalas Kebaikanmu

Oleh:
Pria itu berjalan perlahan dengan tumpukan kayu bakar di punggungnya. Berat memang, tetapi ia tidak boleh kedinginan malam ini. Ia terus melanjutkan langkahnya, walau mulai tampak kepayahan. Menapaki jalan

Rain and Rainbow

Oleh:
“Pelangi butuh hujan untuk menjamah indahnya dunia. Begitu juga hujan, ia butuh pelangi untuk menyicip manisnya dunia dengan warna indah yang mampu menutup semua tangisnya … ” ‘TAP TAP

Wadix The Prince of Darkness

Oleh:
Dahulu kala ada sebuah legenda tentang sebuah tempat yang sangat misterius, diceritakan bahwa ditempat itu ada alat yang berbentuk seperti sebuah jam tangan, namun jam tangan ini memiliki kekuatan

Kisahku di Jembatan Gondolayu

Oleh:
Jembatan Gondolayu. Salah satu jembatan di kota Jogja yang membentang di atas kali code ini memiliki kisah tersendiri. Menurut cerita nenekku dulu berasal dari kata nggondhol ‘melarikan, membawa’ dan

Rumah Tua Itu

Oleh:
Waktu itu aku sedang berlibur di sebuah desa kecil. Desa itu sangat menarik karena sepi dan jauh dari kota. Ketika aku sedang berjalan-jalan dengan adikku, aku melihat sebuah rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *