Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

“Aku hanya mau memperingatkan padamu, Leon itu tidak seperti yang kamu dan orang lain lihat. Dia itu cowok yang tidak baik. Sering mempermainkan cewek begitulah intinya. Itu kalau kamu mau mendengarku, Aria cantik.” Gabriel duduk di bantalan bulat besar yang biasanya digunakan Aria bersantai di dekat ranjang.
Aria sibuk dengan laptopnya di atas kasur, tapi masih dapat mendengar celotehan si hantu cerewet itu, “Aku juga tahu kamu dulunya siswa pembuat onar, suka berkelahi dan pernah berurusan dengan guru-guru. Predikatmu di sekolah juga tidak bagus.”
Gabriel agak terkejut, tapi Ia tahu pasti seseorang telah memberi tahu pada Aria, Dan itu pasti Fani. “Tapi aku tidak pernah mempermainkan cewek seperti Leon, Asal kamu tahu saja.”
“Aku tidak tertarik padanya, Asal kamu tahu saja.” Balas Aria tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop.
“Bagus kalau begitu.” Sahut Gabriel.

Aria menutup laptopnya, kemudian memandang Gabriel yang sedang terlentang di atas bantalan besarnya dengan kedua lengan di belakang kepala, lalu Ia bertanya, “Kamu tidak akan semalaman berada di kamarku, kan?”
Gabriel menoleh dengan mata disipitkan, “Jahat banget si! Kamu ngusir aku begitu maksudnya?”
“Nggak. Hanya memastikan.”
“Setiap malam aku pulang ke rumah, jangan khawatir.” Jelas gabriel kesal.
“Kamu punya hubungan yang tidak baik pada ibumu ya Gabriel?”

Gabriel terdiam sejenak lalu mengangguk, “Begitulah..” Kemudian Ia mendesah.
“Kenapa?” Tanya Aria. Tiba-tiba ia merasa penasaran dengan kehidupan Gabriel sebelumnya.
“Ibuku selalu bilang semenjak kecil jika ayahku sudah meninggal. Tapi dia mungkin berpikir jika aku masih anak-anak yang bisa dibohongi.” Gabriel menarik napas panjang lalu setengah bangkit untuk duduk, “Kalaupun ayahku sudah meninggal, dia tidak pernah sekalipun mengajakku ke makam ayah. Tidak pernah sama sekali. Aku tahu ayahku masih hidup dan ibuku merahasiakan sesuatu. Ibuku benar-benar tidak mau aku mengetahui kebenaran tentang ayah walaupun aku memaksa. Dan dari situlah hubungan kami mulai memburuk. Semenjak itu aku hampir tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya, aku sangat membencinya saat itu. Belakangan ini aku akhirnya tahu alasan kenapa ibuku melakukan semua itu, ayahku menikah lagi setelah mencampakkan kami berdua.”

“Jadi itu alasannya.”
“Ya, dan aku sangat menyesal karena belum meminta maaf pada ibuku setelah apa yang aku lakukan padanya. Dan itu yang membuatku sampai sekarang belum bisa tenang.”
“Ibumu pasti sudah memaafkanmu.”
“Dia pasti kecewa padaku.” Kata Gabriel dengan tatapan penuh penyesalan.
Aria tersenyum, “Aku yakin ibumu pasti akan mengerti. Bagaimanapun kamu adalah anaknya. Jika nanti kesempatanku untuk bertemu ibumu sudah datang, aku akan menjelaskan semuanya.”
Mata Gabriel membulat penuh harapan, entah kenapa kata-kata Aria bisa membuatnya tenang “Thanks, Aria.”

“Syukurlah akhir-akhir ini kelas nggak se-seram dulu, Ri.” Kata Fani setengah berbisik. Lalu mencomot bulatan pentol bakso dengan garpu dan langsung melahapnya.
Aria mengangkat wajahnya dan hanya membalas ucapan Fani dengan senyuman. Kemudian Ia menyesap mi dari mangkuk baksonya.

Ketika tengah mengunyah makanannya, tanpa menoleh dan tetap menunduk ka arah mangkok, Fani yang tahu ada kotak tisu di atas kursi panjangnya, dengan tangan kiri ia bermaksud meraih tisu itu, tapi tangannya tidak menemukan sesuatu, Ia menoleh mencari kotak tisu tadi. Lalu matanya mengerjap bingung, sedikit takut juga karena itu, kemudian Ia menatap Aria, “Ri, kayaknya di sini tadi ada tisu deh?”
Aria mendengar suara tawa Gabriel di belakangnya, lalu berkata untuk menengkan Fani, “Mungkin kamu salah lihat, Fan.”
“Nggak tadi ada di sini kok.” Tunjuk Fani tempat tadi kotak tisu tadi berada. Kemudian Ia memandang kursi di sebelahnya lagi, Kotak tisu itu sudah kembali! Bukannya tadi di sana tidak ada apapun?, “Ri, gue takut.. Kenapa bisa ada di situ lagi sih?” Rengek Fani dengan raut muka ketakutan.
Tawa Gabriel makin keras, “Astaga. Gue nggak bisa berhenti ketawa.” Katanya setelah melihat ekspresi wajah Fani. Kemudian Ia menyeka air mata yang keluar karena terus-menerus tertawa.
Aria melirik Gabriel sekilas, lalu berbisik “Tolong.. Jangan berbuat hal aneh mulai sekarang.”
“Apa, Ri?” Tanya Fani karena tidak jelas mendengar perkataan Aria barusan. Sementara Gabriel mulai berhenti tertawa.
Aria menggeleng, “Nggak apa-apa. Mungkin kamu lupa kalau kotak tisunya memang di sana. Kita kembali ke kelas yuk.” Ajak Aria sambil bangkit.
“Ayo kalau begitu.” Fani yang masih panik, segera ikut bangkit, “Sepertinya gara-gara aku salah pilih topik pembicaraan deh, Ri.” Lalu keduanya keluar dari kantin dan pergi kembali ke kelas.

Baru tiba di ambang pintu, Fani dan Aria saling berpandangan, “Ada apa tuh?” Tanya Fani. Di pojokan kelas, anak-anak perempuan berkerumun di sana, entah apa yang terjadi.
Aria mengangkat bahu. Gabriel yang tiba-tiba muncul di kursi guru segera menyahut, “Siapa lagi kalau bukan Si buaya buntung.. Buntung.. Buntung!” Katanya sinis sambil mengiramakan ucapannya.

“Hai!” Sapa Leon yang muncul dari kerumunan, Ia berusaha keluar dari sana setelah mengetahui Aria datang. Ia segera berderap menghampiri gadis itu, “Beruntung kamu cepat datang.”
Aria tersenyum, “Ada perlu apa ya kak?”
“Mm.. Nanti malam ada acara? Aku ingin mengajakmu makan malam sambil jalan-jalan. Mau?” Tanya Leon dengan wajah penuh harap.
Suara anak-anak perempuan yang putus asa kemudian menggema di penjuru kelas. Fani memandang ke arah mereka terutama Alexa sambil memperlihatkan wajah mengejek dan kemenangan.

“Sebenarnya.. Nanti aku mau bela-”
Belum sempat meneruskan kata-katanya Fani menyela dengan penuh semangat, “Aria sangat senang kak, dia mau kok.” Ia lalu menoleh ke Aria di sampingnya, dilihatnya Aria menatapnya dengan tajam, Fani tersenyum dan berbisik, “Ini kesempatan yang bagus.”
“Begitu? Oke nanti malan jam tujuh aku akan ke rumahmu ya. Sekarang aku harus buru-buru ke kelas. Sampai bertemu nanti malam.”
“Tap-tapi..” Aria baru akan menjawab sejujurnya, ketika Leon tersenyum ke arahnya lalu melangkah pergi.

“Jangan khawatir, Ri. Kak Leon itu kelihatannya cowok yang baik kok.” Kata Fani menenangkan.
“Tapi besok kita ada ulangan Geografi, Fan.” Sahut Aria kesal.
“Kamu kan pintar, Ri. Jangan terlalu dipikirkan tentang ulangannya. Pokoknya kalian akan bersenang-senang. Kamu beruntung bisa kencan dengan kakak ganteng itu.”
Aria menggigit bibirnya sambil menghela napas, bagaimana nanti malam akan berjalan?

“Sungguh, aku tidak akan bisa berbohong, Aria. Kamu memang sangat cantik.” Puji Gabriel begitu muncul di hadapan Aria yang sedang berjalan ke luar balkon kamar.
“Terimakasih.” Balas Aria dengan senyuman.
“Kamu jadi pergi bersama cowok tengik itu? Aku harap tidak.” Kata Gabriel sambil menggeleng pelan.
“Semuanya terlanjur, Gabriel. Aku juga tidak bisa menolak sekarang. Sebentar lagi dia akan datang.”
Mata Gabriel melebar, “Bukannya aku sudah bilang, Leon itu bukan cowok baik. Kenapa kamu nggak percaya sama aku si?” Tandas Gabriel serius.
“Kata Fani dia baik kok. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa.”
“Terserah kalau begitu.” Ujar Gabriel jengkel sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Ia juga tidak mau merusak acara gadis itu. Apalagi Aria memang terlihat senang.

Gabriel memandangi Aria, gadis itu sedang berpegangan di pagar pembatas dan mendongakkan wajah ke atas. Seperti biasanya, gadis itu sedang melihat bintang-bintang langit, mungkin Aria teringat kakaknya lagi, pikir Gabriel.
Gabriel mengerutkan keningnya, menyadari Ia tengah tersenyum sendiri memandangi Aria. Saat itu juga Ia menyadari kalau ini terasa menyenangkan.

Setelah melihat Aria beberapa kali menghela napas panjang, Gabriel bertanya, “Ada apa? Kamu gugup?”
“Sedikit.” Aku Aria.
Gabriel tersenyum geli, “Seperti baru pertama kali saja kamu dinner sama cowok?” Godanya. Tapi Aria tidak menjawab, alis Gabriel terangkat sebelah melihat gadis itu salah tingkah, membuatnya menduga-duga, “Jangan-jangan ini memang baru pertama kalinya?” Tanya Gabriel sedikit ragu.
“Memang benar.” Jawab Aria tanpa menoleh sedikitpun pada Gabriel.
Sekarang Gabriel benar-benar terkejut, “Jangan bilang selama ini kamu juga belum pernah punya pacar?”
“Sayangnya.. jawabannya adalah yang seperti yang kamu pikirkan.”
Dan akhirnya Gabriel terdiam beberapa saat, bagaimana cewek cantik seperti Aria belum pernah pacaran? Mustahil! Tetapi kenyataan itu membuatnya lagi-lagi tersenyum senang.

“Dia sudah datang.” Kata Aria setelah melihat mobil putih berhenti di depan pagar rumah dari tampatnya. Aria mengenalinya, karena mobil itu yang biasanya digunakan Leon ke sekolah.

“Thanks.. Untuk semuanya, Aria. Aku sangat senang.” Kata Leon begitu mobilnya keluar dari parkiran Kafe dan melaju di jalan.
Aria yang duduk di kursi penumpang tepat di sebelahnya menoleh, “Aku juga senang.”
“Aku akan segera mengantarmu pulang. Sudah pukul sembilan.”
Aria mengangguk. Sebenarnya ada perasaan canggung dan grogi dalam kebersamaannya bersama Leon, tapi Aria berusaha menguasai diri dan mencoba tetap tenang. Ini pertama kalinya ia berdua bersama seorang laki-laki.

Mobil tiba-tiba berhenti di jalan sepi yang entah Aria tidak tahu di mana tepatnya. Karena penasaran Ia bertanya, “Kenapa kita berhenti di sini?”
Leon menoleh dan menatap Aria. Tapi Aria melihat sorot mata yang tampak berbeda dari laki-laki itu, asing dan menakutkan.
“Jangan jual mahal padaku, Aria. Sebenanarnya dari pertama kali aku melihatmu di sekolah, aku sudah merasa jatuh cinta padamu. Kamu sungguh cantik. Pasti kita cocok menjadi sepasang kekasih.” Kata Leon.
Mata Aria melebar, Leon benar-benar seperti orang asing dalam waktu yang singkat, “Apa maksudmu? Leon, ini tidak lucu.”
Tubuh Leon mendekat membuat Aria terdesak mundur dan terpojok di kursinya, Ia mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa, dikunci.
“Ya. Kau dan aku, berpacaran. Bagaimana? Itu tawaran yang bagus, kan?” Lanjut Leon sambil perlahan mendekatkan diri ke tubuh Aria.
“Jangan coba-coba berani berbuat macam-macam padaku!” Ancam Aria. Ia histeris. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Andai saja dirinya memercayai perkataan Gabriel.
“Kamu sungguh-sungguh cantik, Aria. Aku tidak bohong. Ijinkan aku mengecup bibirmu yang manis itu. Sekali saja sebelum kita pulang. Asal kamu tahu, tidak ada yang pernah menolak ini sebelumnya.”
Tubuh Leon semakin mendekat, dan sekarang wajah Leon hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aria. Aria menutup matanya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia ingin menangis.

“Dasar playboy sinting!” Desis Aria kemudian, sambil mengayunkan tinjunya ke rahang Leon. Laki-laki itu sekarang rubuh ke belakang dengan raut muka syok. Matanya terbelalak heran menatap gadis itu. Sesaat kemudian, Leon tertawa sinis. Ternyata Aria ingin sedikit bermain-main dengannya.
Baru akan bangkit dan tangan Aria mendorongnya dengan sangat kuat, hingga punggung Leon terhantam keras ke pintu.
“Kenapa kamu jadi seperti ini?” Pekik Leon. Ia merasa aneh, gadis itu berubah drastis!. Aria tampak seperti kerasukan.

Dan sekarang giliran Aria yang mendekat, ditariknya kerah baju Leon dengan kasar, sambil berkata, “Masih ingin hidup? Ini adalah balasan bagi orang yang tidak tahu malu sepertimu!” Kemudian beberapa tinjunya bersarang di wajah tampan Leon. Kini hidungnya berdarah, bibirnya juga sobek. Lalu Aria tertawa keras melihat leon yang kesakitan.
“Maafkan aku, Aria. Maafkan aku. Tolong berhentilah memukuliku.” Pinta Leon sambil mengangkat kedua tangannya di depan. Ia bahkan tidak bisa membalas, tenaga Aria cukup besar.
“Katanya kita mau bersenang-senang? Ha?” Aria tampak begitu puas sudah menghajar laki-laki itu.
“Maafkan aku.”
“Kalau begitu buka pintunya sekarang! Cepat!” Perintah Aria dengan nada tinggi. Membuat Leon tersentak dan buru-buru membuka pintu mobilnya. Sungguh, ini hari yang buruk baginya.
“Ingat satu hal lagi, jangan pernah kamu muncul di depan wajahku di sekolah. Atau kamu akan tahu akibatnya.” Ancam Aria dengan mengacungkan jari telunjuknya untuk menegaskan. Lalu Ia segera keluar dari mobil dan menutup pintu dengan hempasan yang keras.

Aria berjalan menjauh dan tak berapa lama mobil Leon juga segera pergi. Ia lalu duduk di bawah pohon, menyandarkan tubuhnya di sana. Kemudian sosok Gabriel keluar dari tubuh Aria.
“Maafkan aku sudah masuk ke tubuhmu tanpa ijin. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.” Pinta Gabriel dengan nada menyesal seraya duduk di sebelah Aria yang masih syok.

Setetes air mata mengalir di pipi gadis itu, dengan cepat Aria menyekanya dengan punggung tangan. Karena tidak ingin Gabriel melihatnya menangis, Ia segera menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana kemudian terisak. Ini adalah kejadian terburuk dialaminya. Sungguh tidak terbayangkan, bagaimana kalau Gabriel tidak datang pada saat itu? Apa yang akan terjadi padanya?

Gabriel mengangkat tangan kirinya dan berniat mengusap kepala gadis itu, tapi kemudian Ia mengurungkanya. Ia tersenyum sambil menarik tangannya kembali. Untuk sejenak Gabriel ingin berkhayal jika dirinya adalah seorang manusia sekarang, Ia ingin menemani Aria sebagai seorang manusia. “Aku yakin Leon sudah nggak berani muncul di depanmu lagi, semoga saja dia juga jera. Lagipula Leon tidak sempat berbuat buruk padamu. Jangan terlalu dipikirkan ya.”
Suara Gabriel terdengar di telinganya, tapi Aria masih malu untuk menunjukkan wajahnya saat ini. Selama ini, Ia tidak ingin ada seorangpun yang melihatnya menangis “Seharusnya aku mendengarkan perkataanmu.”
“Sudahlah.. Semuanya sudah terjadi. Bagaimana kalau kita sambil jalan? Cari taksi? Malam sudah mulai larut.” Ajak Gabriel, “Lagipula aku terbiasa nggak didengar oleh orang lain. Jadi biasa saja.”
Aria mengangkat wajahnya, Ia menatap mata Gabriel, “Terimakasih atas segalanya.” Ucapnya tulus.

Gabriel kembali ke rumah, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya, menatap langit-langit kamarnya sambil menerawang. Terlintas di kepalanya kejadian tadi malam, selama ini Ia bahkan tidak pernah sekalipun Ia menyesali keadaannya sebagai seorang hantu. Tapi, seumur hidupnya baru kali ini dia merasa ingin berarti. Seperti disadarkan, Ia merasakan bebannya kembali lagi, perasaan bersalahnya pada sang ibu. Gabriel tidak mau melupakan hal itu. Akan lebih baik lagi jika Ia tidak menjadi beban lagi untuk orang-orang yang disayanginya. Ia akan menemui Aria sekarang.

Aria keluar dari kamar mandi kamarnya sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk, kemudian Ia mundur selangkah karena terkejut di depannya Gabriel sedang duduk di atas kasur dan menatap ke arahnya, Aria tersenyum, “Selamat pagi.”
Gabriel balas tersenyum, “Hari Minggu begini, ada acara ke mana?” Ada kelegaan melihat gadis itu terlihat baik-baik saja setelah kejadian semalam. Ia sempat mengira kalau Aria akan tertekan dan murung sepanjang hari.

Aria berjalan ke bantalan kursi besar dan duduk di sana, sambil menyisir rambut panjangnya Ia menjawab pertanyaan Gabriel “Mungkin di rumah saja.”
“Begitu? Mmm.. Aria, bagaimana kalau kita menemui ibuku besok saja?.”
Aria menatap Gabriel heran, “Besok?”
“Ya. Kenapa? Kamu tidak mau?” Tanya Gabriel cepat.
Aria menggeleng, “Bukan begitu, aku mau.”
“Syukurlah.” Kata Gabriel sambil menghempaskan tubuhnya ke belakang di atas kasur Aria. Tatapannya menerawang.

Aria merasakan perasaan menganggu apa ini? Ada sesuatu yang terasa tidak benar. Kemudian Aria bertanya, “Setelah aku melakukan permintaanmu. Apa yang terjadi padamu, Gabriel?”
Gabriel menoleh sambil masih terlentang, Ia menarik napas, “Mungkin aku akan segera menyusul kakakmu. Rohku tidak akan penasaran lagi seperti ini.” Jawabnya. Kenapa Ia merasa tidak rela mengatakan ini semua? Sungguh, bukannya selama ini itu yang diinginkannya? Segera tenang dan tidak lagi menjadi hantu penasaran?

Sejenak hening, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, lalu Gabriel menambahkan, “Jaga dirimu.” Aria menatap Gabriel, “Apalagi dari cowok brengsek seperti Leon. Sebenarnya bukan salah kamu juga sih punya wajah cantik seperti itu, jadi semua cowok jadi punya pikiran begitu”
Aria merasakan pipinya memanas, tapi Ia segera menguasai diri, “Termasuk kamu? Katamu semua cowok?”
“Aku ini hantu, Aria. Hantu sudah tidak memikirkan hal semacam itu.” Sahut Gabriel cepat, membela diri. Di dengarnya kini gadis di sebelahnya itu sedang tertawa. Ia heran. ini pertama kalinya Ia melihat Aria tertawa selebar itu.

“Kamu pernah menyukai seseorang? Selama kamu hidup?” Tanya Aria kemudian.
Gabriel berpikir sejenak, lalu menjawab “Pernah.”
Mata Aria melebar, “Pernah? Dengan siapa?” Tanya Aria lagi, menyadari pertanyaan itu meluncur terlalu cepat, ia berharap Gabriel tidak mempedulikannya.
“Siswi di sekolah kita juga, dia kelas XI-Bahasa-2, namanya Angel.” Gabriel tersenyum sendiri mengingat perasaannya dulu. kemudian raut mukanya berubah sedih, “Tapi dia menolakku, dan lebih memilih Leon.” Gabriel tertawa masam, “Aku dulu memang bukan apa-apa dibandingkan si ketua osis itu. Baginya aku sekedar pembuat onar dan perusuh, maka dari itu Angel lebih memilih si Leon yang kelihatannya manusia baik-baik itu.”

Dada Aria terasa nyeri. Entah karena apa, mungkin dia juga merasakan apa yang dirasakan Gabriel atau ini perasaan lain, “Bagaimana kabar Angel sekarang?”
“Tiga bulan setelah dia menolakku dan berpacaran dengan Leon, Angel keluar dari sekolah dan menghilang begitu saja.” Kata Gabriel, sebenarnya Ia tahu apa yang terjadi pada Angel, gadis itu hamil dan Leon dengan kekuasaan papanya yang kaya raya itu segera bisa mengatasi Angel.
“Kamu masih menyukainya?”
“Ya, mana mungkin sih.” Jawab Gabriel cepat, “Buat apa? Dia sudah menolakku dan menjadi perempuan murahan untuk Leon. Jadi untuk alasan apa aku masih menyukainya.” Ia tersenyum, “Lebih baik menyukai kamu, Aria. Cewek baik-baik yang belum pernah menyukai orang lain, kalau aku masih punya kesempatan untuk merasakan kehidupan ini lagi, mungkin aku orang pertama yang ingin menjadi cinta pertamamu.”
Aria menatap Gabriel tanpa berkedip. Melihat kebingungan gadis itu karena ucapannya, Gabriel segera menambahkan, “Aku hanya bercanda. Bukankah itu impossible?” Kemudian Ia tertawa.
Gadis itu lalu tersenyum tipis, tapi sebenarnya ada perasaan kecewa yang tiba-tiba terbit mendengar kalimat terakhir si hantu.

Cerpen Karangan: Yustin Andara
Blog: lawansepi.blogspot.com

Cerpen Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pocong Juga Punya Hati

Oleh:
Di sekolah kejuruan dalam salah satu pelajaran di bidang multimedia menugaskan 1 kelompok yang beranggotakan 3 orang yaitu koko, kaka dan kiki untuk membuat film pendek berdurasi 5 menit,

My Beloved Hana (Part 1)

Oleh:
Dingin. Aku kedinginan, aku takut. Aku berada dimana? Aku bingung. Seseorang tolonglah aku! Malam yang dingin menghiasi sebuah kota yang berada di daratan Inggris. Seorang lelaki muda berjalan lesu

Tragedi Di Perkemahan

Oleh: ,
Pada suatu hari, Nico mengajak teman-temannya untuk pergi berjelajah ke hutan perkemahan untuk mengungkap misteri yang sering terjadi di sana. Ada banyak teman-temannya yang setuju dengan rencananya dan mau

Lighting and Darkness

Oleh:
Di suatu tempat di alam semesta yang bernama dunia fantasi, ada suatu kegelapan yang sangat kuat menyelimuti dunia fantasi yang berwujud seekor naga. Di dunia tersebut, makhluk hidup digolongkan

The Lord of Cincin Batu Akik

Oleh:
Suatu malam di dunia hitam, hiduplah seekor, sebutir, seorang, apapun kalian menyebutnya, makhluk dari ras tuyul bernama Ucrit. Dia mendapat tugas dari bangsa tuyul untuk menghancurkan Cincin Batu Akik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *