Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

“Nggak jadi pergi?” Tanya Fani terkejut. Apa dia salah dengar? Tadi malam Aria dan kak Leon tidak jadi pergi berdua. Kemudian dilihatnya Aria mengangguk. Bahu Fani langsung melorot kecewa, “Sayang sekali. Ya sudah, Ri. Aku pulang dulu ya. Kamu sudah dijemput?”
“Sudah ada di depan, tapi aku masih ingin di sini sebentar lagi.” Jawab Aria.
“Oke kalau begitu, aku duluan.” Pamit Fani sambil lalu.
“Hati-hati.” Balas Aria. Kini di kelas hanya ada Aria dan Gabriel yang sedari tadi memerhatikan kedua gadis itu ngobrol dari kursi guru.

Aria kemudian menoleh dan menemukan Gabriel menatapnya dengan sorot mata sedih, bukan seperti biasanya yang selalu ceria. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan tanpa ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut mereka. Aria merasakan gejolak yang aneh dalam dirinya saat ini, sebentar lagi Ia akan berpisah dengan teman hantunya itu. Setelah ini, mereka berdua akan pergi ke suatu tempat yang belum diberitahu oleh Gabriel. Dan Aria harus menyampaikan pesan dari Gabriel untuk mamanya, itulah keinginan terakhir dari Gabriel sebelum benar-benar pergi dengan tenang.

“Apa kamu benar-benar sudah siap pergi dari dunia ini?” Tanya Aria hati-hati. Kemudian dilihatnya Gabriel mengangguk.
“Ini yang terbaik untukku, Aria. Aku sudah sangat siap.”
Dada Aria terasa begitu berat dan sesak mendengar ketegasan jawaban Gabriel, “Baiklah kalau begitu.. Kita pergi sekarang.”

Mobil putih itu akhirnya tiba di sebuah Rumah sakit. Sebenarnya Aria heran kenapa Gabriel mengajaknya ke sini, bukannya tadi Gabriel bilang ingin mengajaknya bertemu dengan mamanya? Atau jangan-jangan mamanya sedang sakit?
“Akan kujelaskan setelah kita masuk.” Kata Gabriel seperti bisa membaca pikiran Aria. Aria hanya mengangguk.

Setelah mobil diparkirkan. Aria berpesan pada pak Udin, “Pak, Aku akan menjenguk teman sebentar ya. Pak udin tungguin di sini saja.”
“Oke, Non.” Jawab laki-laki paruh baya berumur lima puluhan itu.
Aria keluar dan melangkah dengan ragu ke dalam rumah sakit. Kenapa perasaannya jadi tidak karuan begini?
Sementara Gabriel terus memberitahu jalan untuk sampai di tempat yang dituju. Mereka terus berjalan.

“Berhenti. Kita sudah sampai.” Kata Gabriel.
“Di mana mamamu sekarang?” Tanya Aria heran sambil mengamati sekitar. Ia hanya melihat koridor kosong di depan sana.
“Menolehlah ke kiri, perempuan yang ada di sana itu mamaku.”

Aria menoleh. Lewat kaca di pintu sebuah kamar VIP di depannya, Ia dapat melihat ke dalam dengan sangat jelas. Matanya menyipit. Ya, di dalam sana ada seorang perempuan paruh baya sedang duduk di dekat ranjang pasien, dan di ranjang itu sepertinya terbaring seseorang yang tidak terlihat bagaimana wajahnya.

“Siapa yang sakit di sana itu?” Tanya Aria setengah berbisik pada Gabriel.
“Kamu kenal orang itu.” Jawab Gabriel dengan senyum misterius.
“Siapa?” Aria bertambah bingung saja dengan jawaban Gabriel.
“Kita masuk dulu aja. Nanti akan kujelaskan di dalam.”

Aria mengetuk pintu, dan tak berapa lama mama Gabriel membuka pintu. Ia menatap Aria dengan bingung, lalu bertanya, “Siapa ya?” Tanya wanita paruh baya itu ramah.
“Saya temannya Gabriel, tante.” Jawab Aria. Wanita di depannya ini terlihat pucat dan lelah karena lingkaran hitam di kedua matanya.
“Oh, Silahkan masuk.” Mama Gabriel mempersilahkan Aria masuk.

Aria melangkah masuk sementara mama Gabriel segera mendekati ranjang dan mengusap tangan kanan orang yang terbaring itu, dari tadi Aria memang penasaran dengan seseorang yang terbaring di ranjang. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena kepala orang itu dibalut dengan perban dan di mulutnya terdapat selang oksigen. Aria menduga, pasien itu sedang sakit parah, karena banyaknya alat medis yang menempel di tubuhnya. Di dekat ranjang tepatnya di atas meja terdapat alat berbentuk persegi yang terus berbunyi, Aria tahu alat itu digunakan untuk mendeteksi denyut jantung. Sebenarnya Ia takut sekali dengan suasana seperti ini. Tetapi demi keinginan Gabriel, Ia harus melakukannya.

Begitu mendekat ke tepian ranjang, Aria mendengar mama Gabriel mengatakan sesuatu di dekat orang itu, “Gabriel, ada teman yang menjengukmu, dia cantik sekali. Apa kamu masih tidak mau bangun?”
Mata Aria terbelalak, Apa Ia baru saja salah dengar? Tidak Mungkin! Ia harus memastikannya, sebelum Ia sempat membuka mulut, Hantu Gabriel yang sekarang berdiri di sebrang ranjang segera menjelaskan dengan nada menyesal, “Aku tidak bermaksud berbohong. Tapi dia memang aku, Aria. Maaf selama ini aku tidak pernah bercerita tentang ini. Karena apapun yang akan terjadi, setelah keinginanku ini terkabul, aku akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Jadi tidak penting untuk mengatakan sebenarnya aku masih koma.”

Kaki Aria terasa lemas, sehingga Ia harus berpegangan pada pinggiran ranjang. Ia masih tidak percaya ini semua, yang ada di depannya ini adalah Gabriel. Setetes air mata turun ke pipinya, Kenapa dadanya terasa nyeri sekali? Buru-buru Ia menghapus air mata itu sebelum mama Gabriel melihatnya. Tiba-tiba muncul sebuah harapan agar Gabriel bisa tetap hidup. Dan jika Ia melakukan rencananya, Ia akan melihat Gabriel yang koma meninggal di hadapannya.

“Aria, sekaranglah waktunya.” Kata Gabriel.
Aria menatap Gabriel di ranjang nanar, kemudian menggeleng pelan.
“Kumohon Aria. Izinkan aku hidup tenang di duniaku yang baru.” Pintanya sungguh-sungguh.
Aria ada di dalam dilema besar, Kenapa Ia jadi bimbang seperti ini? Bukannya Ia sudah berjanji akan membantu Gabriel?
Ia mengepalkan tangannya erat, lalu memandang mama Gabriel yang sedang mencoba bicara pada Gabriel yang terbaring.

“Tante ada sesuatu yang harus saya katakan.”
Wanita itu menoleh sambil tersenyum, “Iya. Katakan saja.”
Aria mendekat, lalu menarik napas panjang, “Gabriel pernah bercerita pada saya sebelum kecelakaan itu.” Dilihatnya mama Gabriel menatap dirinya serius begitu mendengar nama anaknya disebut, “Sebenarnya Gabriel menyesal telah salah sangka pada anda, dia mengira anda telah menyembunyikan kenyataan tentang papanya dari dirinya, karena anda terlalu membenci papa Gabriel. Sebenarnya Gabriel ingin meminta maaf pada anda sejak lama, Tante.”
“Gabriel bicara seperti itu?” Sela mama Gabriel tidak percaya. Ia kemudian terduduk di kursi lalu memegang tangan anaknya lembut.
“Iya. Setelah tahu semua kebenaran itu, dia sangat menyesal. Mungkin Gabriel akan bahagia jika anda memaafkan kesalahannya itu.”

Sekarang Aria melihat mama Gabriel meneteskan air mata, “Anak itu selalu keras kepala.. Pasti dia mencari tahu sendiri tentang semua itu.” Lalu dia berbicara lembut pada Gabriel yang sama sekali tidak bergeming, “Maafkan mama telah menyembunyikan itu semua darimu. Karena mama tahu kamu akan membenci papamu jika tahu yang sebenarnya.” Setelah mengecup punggung tangan anaknya, Ia melanjutkan, “Kamu bangun ya Yel, Mama sudah memaafkanmu. Mama rindu kamu. Siapa yang akan menemani mama kalau kamu seperti ini?”

Bulir-bulir air mata Aria juga turun tanpa sanggup ditahan lagi. Ia memandang Ruh Gabriel yang menatap sedih mamanya, kemudian Ruh itu memandang Aria sambil tersenyum, dan berkata, “Terimakasih. Aku tidak akan melupakanmu Aria.”
“Mungkin ini bukan saat yang tepat, tapi ternyata aku punya sesuatu yang harus kuberitahu sebelum aku benar-benar pergi. Aku akan tenang jika mengatakan ini padamu. Aku rasa aku menyukaimu, Aria. Aku sayang sekali padamu.”
Aria terpana beberapa saat sebelum akhirnya terkejut dengan pekikan mama Gabriel, disusul suara dari alat pengukur denyut jantung yang melengking keras dan panjang. Aria lemas melihat grafik itu hanya menunjukkan garis lurus. Gabriel jangan pergi!
“Gabriel, kamu harus bertahan nak.” Kata mama Gabriel panik.

Aria langsung mencari tombol merah yang ternyata ada di dinding dekat meja. Ia memencetnya berulang kali, agar dokter cepat datang. Ia memencet tombol itu sambil memandang Ruh Gabriel yang lama-kelamaan semakin pudar, dan akhirnya lenyap. Aria menangis tanpa suara, baru kali ini Ia merasa kehilangan. Ia mendekat ke tubuh Gabriel di samping mamanya yang menangis tersedu-sedu.

“Gabriel, kamu pasti bisa bertahan. Kembalilah untuk kami.” Bisiknya serak.

Kemudian Dokter datang dengan dua perawat wanita. Semua mengerubungi tubuh Gabriel, sementara mamanya terus menangis sambil memegang tangan anaknya. Aria tidak bisa terus berada di situ, dadanya semakin terasa sesak. Air matanya juga tidak mau berhenti. Ia melangkah pergi ke luar kamar itu dengan langkah gontai. Masih belum percaya jika Gabriel sudah meninggalkannya dari dunia ini.

Semuanya terasa begitu berbeda. Sepi dan membosankan bagi Aria. Sekarang tidak ada yang muncul tiba-tiba di depannya dan membuatnya terkejut. Tidak ada teman ngobrol yang membuatnya disangka tidak waras jika orang melihat dirinya. Dan juga, tidak ada juga yang menemaninya melihat bintang-bintang di malam hari seperti kemarin-kemarin.

Aria menutup bukunya, ia duduk bersandar di bantal sambil menekuk lututnya dan melingkarkan lengannya di kakinya. Pandangannya menerawang, masih ada rasa kehilangan yang begitu dalam. Seharusnya tidak sesedih ini? Bukannya dulu Ia sudah terbiasa sendiri tanpa seorang teman pun? Malah sekarang di kelas barunya Ia mempunyai Fani dan lainnya. Seharusnya itu sudah cukup untuk mengatasi rasa kesepiannya.

Aku rasa aku menyukaimu.

Kalimatnya itu masih terngiang di telinga Aria. Gabriel telah mengungkapkan perasaan kepadanya. Laki-laki itu yang pertama kali melakukan hal seperti ini. Aria tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada perasaannya ini.

“Aria, kamu kenapa?” Tanya Fani begitu Aria datang dengan muka yang terlihat sedih.
Aria menoleh pada Fani yang sedang duduk di bangkunya sendiri lalu menjawab, “Tidak apa-apa. Sedikit tidak enak badan.”
“Kimia ada di jam pertama lagi. Kamu udah belajar buat ulangan, Ri?”
Aria menggeleng, “Aku lupa.” Jawabnya lalu segera menduduki kursinya. Ia mengambil buku kimia untuk sedikit mempelajari lagi rumus-rumus. Aria menarik napas panjang. Dirinya tidak bisa membayangkan akan ada sebuah berita yang datang dari sekolah untuk mengabarkan pada semuanya jika Gabriel telah tiada. Dada Aria semakin berat.
Fani heran “Masa? Tumben banget!”

Kemudian suara ramai kelas yang tadi terus bergema karena sang guru belum datang, kini tiba-tiba lenyap. Membuat Aria dan Fani heran.
“Astaga, Dia!” Pekik Fani sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Sebelah tangan lagi menunjuk ke sebuah arah.

Aria tertegun. Tak disadarinya Ia menahan napas selama beberapa detik sambil terbelalak heran. Dadanya berdegup amat keras. Matanya tidak berpaling dari sosok laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kelas. Ia melihatnya sedang tersenyum lebar dan beberapa anak laki-laki di kelas bahkan menghampirinya sambil memeluk bergantian dengan bahagia. Apa Dirinya sedang bermimpi sekarang? Ini sungguh nyata? Dan Sekarang laki-laki itu menatap dirinya. Setelah berbicara pada teman-temannya, laki-laki itu mulai bergerak. Aria masih terpana di tempat duduknya. Perlahan laki-laki itu mendekat ke arah dirinya sambil tersenyum, tentu saja dengan senyuman yang sangat akrab di mata Aria.

Kini, laki-laki itu berdiri di depan Aria. Sementara Aria masih masih belum menemukan suaranya.

“Apa kabar?” Sapa laki-laki itu.
“Kamu? Benar ini kamu, Gabriel?”
“Ya. Ini Aku temanmu.” Gabriel mengangguk dengan mata yang memerah. Bahagia. Ingin sekali Gabriel mengatakan betapa bahagianya dirinya sekarang karena Tuhan masih memberinya kesempatan seindah ini untuk bertemu lagi dengan Aria.

Aria bangkit seraya mendekat kepada Gabriel, “Apa aku bermimpi?”
Gabriel langsung menjawab, “Aku benar-benar di sini.”
“Astaga.” Kata Aria sambil menutup mulut dengan kedua tangan.
Gabriel tersenyum lebar, “Aku sangat senang. Dan aku ingin sekali mengatakan sesuatu padamu sekali lagi. Bahwa aku mencintaimu.” Aku Gabriel dengan nada suara sedkit rendah. Tapi anak-anak di sekitar mereka bisa mendengarnya. Mereka bersorak, tetapi heran karena tidak pernah mengetahui bila Aria dan Gabriel sebelumnya sudah saling kenal.

“So sweet. Kelihatannya kita ketinggalan cerita.” Sahut Fani.
“Aku juga menyayangimu, Gabriel.” Balas Aria. Kemudian dipeluknya Gabriel dengan erat. Biar saja semua melihat. Satu yang terpenting, Gabriel telah kembali padanya. Gabriel balas memeluk gadis itu lebih erat seakan-akan tidak ingin mereka berpisah lagi.

“Waktu itu aku merasa sudah melayang di antara awan. Tapi seorang malaikat datang dan mengatakan jika aku belum waktunya berada di sana. Aku harus segera kembali untuk menemani orang-orang yang menyayangiku. Ya, aku diberi kesempatan kedua. Setelah bangun dari koma, aku melihat wajah ibuku yang menangis haru sedang memandangiku. Saat itu juga aku mengerti alasan kenapa aku kembali ke dunia ini. Dan juga untuk Aria. Perempuan kedua yang ingin selalu kulindungi. Ajaibnya.. walaupun aku baru saja koma, tubuhku sangat segar seperti baru dari tidur. Aku langsung berpikir untuk tidak akan menyia-nyiakan waktuku untuk bertemu Aria. Karena aku sangat merindukan gadis itu. Keesokan harinya, Aku segera pergi menemui perempuan yang amat kucintai itu di sekolah. Kami merasa bahagia bisa bertemu lagi. Akan kugunakan bonus waktuku ini untuk hal yang berarti dan untuk orang-orang yang berarti untukku.” – Gabriel –

END

Cerpen Karangan: Yustin Andara
Blog: lawansepi.blogspot.com

Cerpen Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friend and Boyfriend (Part 2)

Oleh:
Di kelas Hani masih memikirkan kata-kata Levin tadi. Memang benar Hani sangat membenci ibunya karena ibunya setahun yang lalu telah memarahi kakaknya yang gagal diujiannya dan membuat kakaknya bunuh

Cinta Tak Semanis Lolipop

Oleh:
“Hei kenapa nangis?” Tanya seorang bocah laki-laki kelas 5 SD berkulit putih dan berparas ganteng. “Aku jatuh dari sepeda ini dan kayanya kaki aku terkilir, sakit banget. Hiks” Jawab

Boneka Misterius

Oleh:
Libur akhir semester pun tiba, aku dan ke empat temanku yaitu Dini, Aldi, Rifa, dan Semy pun berniat untuk berlibur bersama di bogor. Kami semua bersepakat untuk menginap di

400 Kaki (Part 2)

Oleh:
Si pelayan cilik menatap Lolita. “Naiklah,” “Apa heli ini khusus disediakan untukku?” Lolita menyingkirkan rambut yang sempat menutupi wajahnya. “Untukku,” koreksinya. “Pamanku ada di dalam. Dan berhubung saat ini

Emily dan 7 Berlian Ungu

Oleh:
Sudah 4 hari Holly dan kedua adiknya, Lizzie dan Bishop berlibur di rumah paman Aldwin di kota JuemprTown. Kota itu terletak di ujung Provinsi Houldshiz. Mereka berlibur disana karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Kembalilah Untuk Kami, Gabriel (Part 3)”

  1. dinbel says:

    Wooowwwwwww, godssss jobsssss bangets deh ceritanya, sungguh mengharukan, tapi penuh dengan kejutan.
    di tunggu ya cerpen selanjutnya yang lebih mengejutkan lagiii

  2. anon says:

    Mantep ceritanya….

  3. Nadia Adriani says:

    astagaaa, i love this story, sampe nangis aku bacanyaa , intinyaa 2 jempol deh

  4. Dyan Ayu Pertiwi says:

    Omg.. Ceritaanyaa bagus bangeett. .
    Serasaa beneran eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *