Ketakutan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 17 April 2017

“‘Ketika Di Hutan’, judul cerpen macam apa itu. Kukira tentang pertualangan tau-taunya horor”, keluh seorang gadis setelah membaca cerpen member grup Komunitas Bisa Menulis di facebook. Setelah meletakan ponsel di meja dia kemudian merebahkan dirinya di kasur untuk melepas lelah.
“Kok tidak seperti biasanya ya malam ini, sendiri di rumah membuatku ketakutan. Apa gara-gara baca cerpen tadi!”, pikir Anita siswi yang masih duduk di kelas 2 SMA itu.

Tiba-tiba suara tangisan seorang wanita terdengar jelas oleh Anita. Hingga benar-benar membuatnya ketakutan, “Suara apa itu?”. Dia kemudian melihat ponselnya bergetar di meja.
Anita melihat ponselnya, dia membaca tulisan di layar ponsel, “Malaikat maut sedang memanggil”. Dia gemetar tapi tetap memberanikan diri untuk mengangkat telepon.
Terdengar suara pemuda, “Haha, apa kamu ketakutan!”.
Anita mengenal suara dan gaya bicara yang menelponnya, dia kemudian bicara, “Radit, jadi kau pinjam ponselku di sekolah hanya buat ganti nama kontakmu di ponselku jadi malaikat maut?”.
Radit membalasnya, “Bukan itu saja, aku juga ganti nada deringmu dengan suara kuntilanak, keren kan?”.
Anita membentak Radit, “gak lucu tau!”. Lalu dia mematikan teleponnya.

Tiba-tiba suara berisik terdengar di ruang tamu, Anita kembali pasang muka ketakutan, “suara apa lagi itu?”. Dia penasaran dan mencoba melihat apa yang terjadi di ruang tamu. Tasnya bergerak sendiri. Keringat dingin bercucuran menghiasi wajah Anita yang cantik. Dia menendang sekencang-kencangnya tasnya hingga seluruh isi dalam tas keluar. Ada seekor ular bergerak yang ikut keluar dari tasnya.
Kaki Anita berdarah, dia kesakitan, “au, kok isi tasku kayak ada benda kerasnya gitu”. Terlihat ular yang keluar dari tasnya bergerak tidak beraturan.
Anita semakin kaget saat mencoba mendekatinya, “Pantesan yang kutendang tadi ternyata ular mainan!”.

“Hi hi hi”, suara kuntilanak terdengar di dalam kamar Anita. Karena terlalu takutnya dia mencoba memaksa membuka pintu keluar rumahnya yang terkunci.
Anita kemudian terdiam, “Sial, itu kan nada dering ponselku!”. Dia kemudian kembali ke kamar dengan membawa ular-ular mainan yang sudah konslet itu.

Sebuah telepon dari malaikat maut terlihat di layar ponsel Anita, dia kemudian mengangkatnya. Suara Radit terdengar, “Kalau tidak salah sekarang waktunya ular-ularanku bergerak di dalam tasmu?”.
Anita melihat ular-ularan di tangan kirinya dan kemudian bicara, “Iya sekarang mainanmu lagi di tanganku dan berhenti bergerak”.
Radit dengan nada bahagianya bicara, “Wah ternyata kamu tahu juga cara mematikan ular-ularan mainan itu. Itu sangat canggih loh, bisa diatur waktunya kapan harus bergerak”.
Anita sangat kesal, “Maaf sepertinya mainanmu rusak, aku tidak sengaja menendangnya”.
Radit kaget, “Apah?, bagaimana kakimu apa terluka?”. Anita langsung menutup teleponnya.

Suara musik terdengar di rumah tetangga Anita, “Apa-apaan sih, malam-malam gini masih berisik aja”.
Anita melihat rumah tetangganya di balik jendela, “mainkan musik kok seluruh lampu di rumahnya dimatiin. Dasar tetangga aneh”.

“Ah”, Anita ketakutan untuk kesekian kalinya mendengar suara nada dering ponselnya sendiri. Dia lalu mengangkat teleponnya, “Ada apa Ana, malam-malam telepon aku?”.
Ana bicara, “Aku ada info penting nih, mau tau gak?”.
Anita bersiap untuk mematikan teleponnya, “Bentar Ana, nanti telepon balik. Aku mau ganti nada dering ponselku dulu”. Dia kemudian mematikannya, mengganti nada dering ponselnya lalu ke luar rumah menuju rumah tetangganya untuk komplen karena berisik.

Sesampainya di muka rumah tetangga. Terdengar suara, “Di malam yang sesunyi ini… aku sendiri…”, nada dering ponsel Anita terbaru, kali ini tidak lagi suara kuntilanak melainkan suara Aril Noah idolanya dan bukan dari malaikat maut alias Radit teman yang suka usil tapi dari sahabatnya yang bernama Ana. Dengan senyum bahagianya dia mengangkat teleponnya, “Ada apa Ana, cie cie sahabatku yang udah kerja di rumah sakit?”.

Ana tertawa manis, “ah kamu bisa aja, aku mau kasih info penting nih, tetanggamu dia kecelakaan siang tadi dan tewas di rumah sakit, ini aku baru selesai mengotopsinya. dia kan tinggal sendiri sama sepertimu, pasti sekarang rumahnya sepi. Kalau kamu mau aku bisa ke rumahmu buat nginap menemanimu kebetulan waktu kerjaku sudah selesai”.

Tiba-tiba suara musik yang terdengar di dalam rumah tetangganya berhenti. Anita berdiri kaku tak bergerak dan melepaskan ponsel dari genggamannya.

Selesai

Cerpen Karangan: Jaya
Facebook: fb.com/tra99
Nama lengkapku Jaya Saputra hobi mengarang cerita semenjak diberi tugas mengarang saat SD.

Cerpen Ketakutan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Mengikutiku


Ruangan ini, mengapa harus ruangan ini lagi. ruangan yang membuat hidupku tiba-tiba berubah begini. Jika harus diasingkan mengapa harus di ruangan ini. Tepat seminggu lalu saat keluargaku sedang asik-asiknya

Dendam Siluman Tikus (Part 2)

Oleh:
Aku bersembunyi di bawah meja. Aku masih hidup. Aku menatap sebuah kaca, tergambar wajahku menyiratkan ketakutan. Aku tahu aku tidak bisa mengharapkan ampunan apa pun dari Malak. Dia sudah

Bus Desa Jungdul

Oleh:
Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku. Aku duduk di sebuah halte yang tampak

15:21

Oleh:
Hahhh… oke aku langsung saja. Perkenalkan namaku Rachelia. Panggil saja Rachel. Begitulah caraku memperkenalkan diri di depan kelas. Ya, aku murid baru di kelas XI ini. Aku pindahan dari

Kekasihku Is Dead

Oleh:
Hari ini di rumah Hasni sangat sepi, bokap dan nyokapnya lagi bisnis diluar kota. Sesekali ia menelpon hp nyokap dan bokapnya tapi nggak diangkat Hasni jadi kesal. Dengan kekesalannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *