Ketukan di Dinding Kamar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Mulai hari ini, aku akan berada di luar kota selama tiga hari. Bukan untuk liburan, tetapi semata-mata karena tugas dari kantor. Akhirnya, setelah tiba di kota tujuan, yang langsung disibukkan dengan seminar dan meeting seharian, aku dan beberapa rekan kerja tiba di hotel. Dan beruntung sekali, aku mendapat kamar di lantai dasar, sehingga tidak perlu berurusan dengan tangga atau elevator. Kamarku bernomor 12.

Setiba di kamar, tanpa membereskan koper dan barang yang lain, aku segera membersihkan diri. Karena rasa lelah setelah aktivitas seharian tadi, aku memutuskan untuk langsung tidur. Sesaat aku melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 22.45, maka segera aku naik ke ranjang dan menarik selimut.

Namun sesaat sebelum mataku terpejam, aku mendengar suara ketukan di dinding, tepat di sebelah tempat tidur.
Tuk, tuk, tuk.
Suara ketukan itu terdengar seperti ketukan dengan satu jari yang berasal dari kamar sebelah. Tiga kali suara itu terdengar. Tetapi karena aku terlalu lelah, maka aku pun tidak mengindahkannya dan memilih untuk segera tidur.

Malam berikutnya, aku kembali ke kamar hotel setelah makan malam. Seusai seminar tadi, selagi ada waktu luang, aku dan beberapa rekan kerja memutuskan untuk berkeliling kota dan membeli beberapa barang untuk oleh-oleh, karena besok petang aku dan rekan-rekan sudah harus check out dan kembali ke kota asal. Karena tidak terlalu lelah, setelah mandi dan membereskan barang-barang, aku memutuskan untuk menonton tv.

Entah apa yang membuatku melirik ke jam dinding, yang saat mataku menatap, jarum jam tepat berada pada pukul 22.45, dan kejadian yang sama seperti malam sebelumnya kembali terjadi. Lagi-lagi ada yang mengetuk dinding dari kamar sebelah. Kali ini ketukan terdengar sebanyak enam kali.
Tuk, tuk, tuk. Tuk, tuk, tuk.
Karena penasaran, tanpa pikir panjang, akupun membalas ketukan itu. Namun karena lama tidak ada balasan, dan kantuk mulai menyerang, aku pun memilih untuk tidur.

Akhirnya, tibalah waktu di mana aku harus segera meninggalkan hotel. Sebelum pergi, sekali lagi aku mengecek barang-barangku kembali. Tidak ingin sampai ada yang tertinggal.
Waktu menunjukkan pukul 17.45, dan aku sudah siap mengangkat koper, ketika tiba-tiba aku mendengar suara tangisan perempuan, yang disertai suara garukan di dinding. Sesaat terkesima, namun kemudian aku segera meninggalkan kamar karena tiba-tiba merinding sendiri.
Namun karena rasa penasaran yang terus menggelayut di pikiranku, sesampainya di lobby hotel, aku langsung menghampiri meja resepsionis dan tanpa basa-basi bertanya kepada seorang resepsionis yang sedang bertugas.

“Maaf, Mbak, boleh saya menanyakkan sesuatu?”
“Boleh saja,” jawab si resepsionis ramah. “soal apa ya?”
“Apa ada yang menginap di kamar nomor 11?”
“Kamar nomor 11 ya, Mas?”
“Iya, Mbak.”

Si resepsionis lalu mulai memeriksa sesuatu di layar komputernya, lalu menjawab. “Kamar nomor 11 kosong, Mas, tidak ada yang menginap.”
“Yang benar, Mbak?”
“Benar, Mas, kamar nomor 11 memang kosong.”
“Tapi saya dengar suara ketukan di dinding sejak malam pertama menginap,” kataku, setelah sesaat tadi terkesima. “dan tadi saya juga mendengar ada suara perempuan menangis dan garukan di dinding.”
“Maaf, Mas, mungkin anda salah dengar.”
“Saya yakin nggak salah dengar, Mbak,” ujarku bersikukuh. “saya nggak bohong.”
“Tapi, Mas, di hotel kami, setiap kamar diberi peredam suara,” si resepsionis menjelaskan. “jadi tidak mungkin terdengar suara dari kamar yang satu dengan yang lainnya.”

Aku pun terdiam mendengar penjelasan si resepsionis. Otakku terasa kosong dalam sekejap. Satu pertanyaan yang lalu muncul: sesungguhnya siapa yang membuat suara-suara yang terdengar dari kamar nomor 12? Bulu kudukku pun meremang.

End

Cerpen Karangan: Dee Anne
Facebook: facebook.com/dee.anne.5

Cerpen Ketukan di Dinding Kamar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Sahabat

Oleh:
Hi, aku Uwi Pricilla. Aku lahir di wilayah bagian timur Indonesia. Yap! Jayapura, Papua. Suka duka ku selalu ku jalani bersama seorang sahabatku, ia adalah Kiki. Tapi, hari ini

Jalan Cengkeweng

Oleh:
Pada suatu malam di saat matahari belum terbenam, seorang pria paruh baya bertanya-tanya kepada tahi lembu yang bergoyang. Ia heran, kenapa lembu yang makannya rumput yang warnanya hijau, kotorannya

Time Ghost (Part 2)

Oleh:
Darahku terasa memanas. Bulu kudukku berdiri. Tengkukku merinding dingin. Dalam lembar buku itu tertulis bahwa sekolah ini dulunya bukanlah sekolah manusia, melainkan asrama para setan. Dan memang benar apa

Bloon (Rumah Tua)

Oleh:
Pip… suara handycam punya Obeh menyala. Geng BLOON berada di pelukanmu menyadarkanku apa artinya kenyamanan kesempurnaan cintaaa. Geng Bloon berada di depan rumah tua yang konon katanya di halamannya

Pocong Juga Punya Hati

Oleh:
Di sekolah kejuruan dalam salah satu pelajaran di bidang multimedia menugaskan 1 kelompok yang beranggotakan 3 orang yaitu koko, kaka dan kiki untuk membuat film pendek berdurasi 5 menit,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *