Knock Knock

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 23 August 2018

Ini merupakan malam yang amat mengerikan bagi Michael dan yang lain. Mereka terpaksa terkurung di rumah dengan Edward, psikopat yang mengincar nyawa mereka.
Derap langkah kaki terdengar. Rinto membungkam mulut Lucy agar mau diam. Michael dan Azazel bersembunyi di ruangan yang berbeda.

Edward memainkan pisaunya. Mulutnya mulai menyanyikan sebuah lagu.

Just wait
You can’t hide from me
I’m coming

Sesaat dia terdiam. Berdiri di depan pintu. Di dalamnya ada Rinto dan Lucy.

Knock knock
I’m at you’re door now
I’m coming
No need for me to ask permission

Langkahnya terseret. Tangan Edward terulur ke arah pintu lemari.
“Dan aku menemukanmu!” BRAK! Keduanya tak ada di sana. Rinto menendangnya keras hingga Edward tersungkur dan menguncinya di dalam sana.
“Azazel! Michael! Kalian di mana?! Cepatlah keluar!” Rinto berteriak mencari mereka. Ruangan demi ruangan dia masuki. Namun, tak menemukan Azazel dan Michael.

“Hahaha! Berusaha mengunciku? Dasar sampah! Kemarilah kau, keparat!” Edward mengejar Rinto dan Lucy dengan pisau yang dia pegang sejak awal. Pintu keluar ada di ujung sana.
“Cepat, Lucy! Kita akan keluar, adikku!” Rinto menggendongnya. Mendobrak pintu dan segera lari ke luar.
Keadaan menjadi semakin buruk. Banyak badan yang terpotong. Darah berceceran. Bau anyir menyeruak dan menguasai hidung Rinto.

“Kakak, aku takut,” Lucy menangis dalam gendongan Rinto.
“Tenanglah! Akan kubawa kau ke tempat yang aman!” Rinto terus saja berlari. Sesekali menoleh ke belakang. Edward tak mengejarnya.
“Aakk..” entah dari mana asalnya pisau itu. Namun, sudah menancap di leher belakang Lucy.
“Lu-lucy!”
Tawa Edward meledak. Menatap Rinto sembari menyeringai aneh.
“Hmph. Dia sudah mati, bodoh. Kini tinggal Azazel dan Michael. Setelah itu, giliranmu. Bye.”
Rinto benar benar terpaku di tempatnya. Melihat Lucy yang sudah tewas. Darah menggenangi kakinya.

“Aku harus menolong mereka. Jika tidak, mereka akan mengalami hal yang serupa dengan Lucy.” Rinto menarik pisau yang menancap di leher Lucy. Menjilat darahnya. Seketika dia berubah.
“Akan kubalaskan dendammu padanya, adikku Lucy,”

Edward memasuki kamar mandi. Tak ada siapapun di sana. Ia mulai bernyanyi lagi. Kakinya melangkah keluar. Memasuki ruang sebelah.

Knock knock
I’m inside your room now
Where is it you’ve hide?
Out game of Hide And Seek’s about to end!

“Jangan bersuara, Azazel,” Keduanya saling membungkam mulut. Berusaha tak menciptakan suara yang akan mengundang kedatangan Edward. Keduanya bersembunyi di lemari pakaian. Badan mereka sangat pendek. Lumayan tertutupi dengan baju baju yang ada di dalamnya.

I’m coming closer
Looking undermeath your bed, but
You’re bot here, I wonder
Could you be inside the closet?

Tatapan Edward terarah ke lemari pakaian yang ada di pojok ruangan. Dia berjalan ke sana.
“Kumohon jangan dibuka..” hati kecil Azazel terus berdoa. Memohon Tuhan menolongnya.
“Diam di sini, Azazel. Akan kuselesaikan semuanya.” Entah apa yang diambil Michael.
“Mau ke mana kau? Jangan meninggalkanku sendiri di sini.” Michael tak menjawab rengekan kecil Azazel.
BRAK! BRUAK!
“Aakk..!” Teriakan itu seolah tertelan begitu saja. Azazel tak tau siapa yang mati. Tubuhnya gemetar.
“Azazel?”
Tangisnya mulai pecah. Ternyata itu Michael. Bajunya penuh dengan darah.
“Kau apakan dia?”
“Sudah, diamlah. Dia sudah mati. Aku membunuhnya.” Azazel buru buru melepaskan pegangannya. Berjalan mundur.
“Jangan.. pergilah! Jangan mendekatiku! Aku tak mau mati!”
“Tenanglah, Azazel. Aku tak akan membunuhmu. Aku akan membawamu pulang ke kota. Dan kau akan bertemu kedua orangtuamu. Kemarilah,”
Azazel menggeleng keras.
“Baiklah. Tapi jangan jauh dariku ok? Aku akan melindungimu. Aku janji.” Azazel mulai berani mendekatinya.

Michael berjalan ke luar. Dan dia berpapasan dengan Rinto
“Mana psikopat itu?” Tanyanya.
“Dia sudah mati, Rin. Aku membunuhnya. Mana Lucy?”
“Bajingan itu membunuhnya! Aku kehilangan adikku!” Rinto terduduk. Menangis. Merasa benar benar kehilangan Lucy.
“Sudahlah. Ayo, kita akan segera keluar dari kota ini,” Michael membantunya berdiri.

Kota ini benar benar sepi. Mana mungkin, hanya Edward yang menghabisi penduduk kota di sini?
Michael melihat mobil terparkir di sana. Dan pemiliknya mati terlindas mobilnya sendiri. Tentu saja, Edward pelakunya. Orang itu benar benar sudah gila.

“Percepat langkahmu, Rinto. Kuharap, bensin mobil itu masih ada.”
Michael menyalakan mesinnya. Syukurlah, bensinnya masih penuh. Tanpa babibu, Michael langsung saja tancap gas.
“Hei, apa kau membawa pistol dari polisi mati tadi?” Tanya Michael.
“Ini. Aku membawa semua yang perlu dibawa,” jawab Rinto.
Ketiganya membisu.

Ledakan besar tiba tiba saja terjadi. Kobaran api melalap mobil yang mereka naiki. Ketiganya mati dalam insiden tersebut.
Samar samar, Michael melihat bayangan seseorang. Dia tertawa dengan begitu puasnya.
Edward?! Bukannya dia sudah mati?!
Padahal, sudah sangat jelas. Michael menusuk jantung Edward bertubi tubi.

Entahlah. Mungkin, ini hari terakhir mereka. Semoga saja ini juga hari terakhir manusia tanpa akal sehat itu.

Edward terduduk di sudut ruangan putih. Badannya diikat sedemikian rupa. Ia tak mengerti kenapa harus ada di sini, di rumah sakit jiwa.
“Kenapa aku bisa ada di sini?” Tanya Edward pada salah seorang perawat yang mengantarinya makan.
“Diamlah kau, psikopat gila.”
Psikopat? Kata itu selalu memghantui pikirannya. Apa itu yang membuat dirinya menjadi disekap di ruangan putih ini?

END

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Blog / Facebook: Qoylila Azzahra Fitri

Cerpen Knock Knock merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Mengikutiku


Ruangan ini, mengapa harus ruangan ini lagi. ruangan yang membuat hidupku tiba-tiba berubah begini. Jika harus diasingkan mengapa harus di ruangan ini. Tepat seminggu lalu saat keluargaku sedang asik-asiknya

Gelang Pengikat Nyawa

Oleh:
Awan hitam menghiasi langit pagi ini pertanda akan turun hujan, aku bergegas mengambil tas dan kunci motorku berharap hujan tidak turun saat ini juga namun hanya dalam hitungan menit

Annabelle

Oleh:
Yap! baru baru ini aku mendapatkan hadiah spesial dari bunda ketika ulang tahunku kemarin. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan yaitu sebuah boneka. Namun ku merasa ada kejanggalan dalam boneka

Biola Kematian

Oleh:
Slrepp… angin berdesir kencang menerbangkan dedaunan kering. Hawa yang mulai terasa berdebu, mendung nan menggelarkan aura gelapnya, kian menambah aura kosong. Sepasang kekasih yang sedang menjalin cinta dengan sandaran

LARI!

Oleh:
Lari! Lari! Lari! Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini, ketakutanku ini semakin menjadi-jadi…. — Pagi itu adalah pagi yang cerah. Di tengah libur panjang ini, pada hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Knock Knock”

  1. Khezia Ayu Lestari says:

    Keren!!!!
    Sampai jantung aku Deg Degan!!
    Semangat Terus ya buat cerpen nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *