Kuil Tua Pembawa Jiwa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 7 July 2016

“Andai pada waktu itu, aku berhasil menghalang mereka… Aku tak akan dikejar rasa bersalah seperti ini”. Ucap seorang remaja wanita bernama alejandra. Yang termenung di bawah rembulan malam.

2 tahun yang lalu.
Semua murid berkumpul dalam kelas. Hari ini, masa pengakhiran ospek. Namaku alejandra natania. Aku berumur 15 tahun. Hari ini, hari terakhir aku diospek kakak-kakak osis di sma baruku. Aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi padaku nanti. Semoga, ini hanya firasat balaka.

“Hai, namamu siapa?” sapa seorang gadis remaja yg mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ale.
Ale seorang anak yang pendiam. Tak banyak bicara. Dan juga tak banyak teman.
“Namaku alejandra, panggil saja ale.Lalu, namamu?” ucap alejandra sambil menjabat tangan gadis itu
Mereka melepaskan jabat tangannya.
“Panggil saja aku aurora. Kau gadis yang misterius. Aku merasakan ada aura yang berbeda di dalammu” ucap aura
“Ohh ya tuhan, semoga ini bukan awal yang buruk” ucap ale dalam hatinya

5 bulan silam aku berada di sma ku. Kali ini aku merasakan punya teman begitu cukup banyak. Entah itu karena apa. Namun, yang paling dekat denganku. Ana, aurora, alice, dan astrid. Kami semua kumpulan anak, dengan alphabet nama berawalan a. Aku sudah mengenali sifat dan kelebihan mereka.

Bel istirahat berbunyi.
“Jandra, ayoo kita ke kantin” ucap alice sambil berlari ke arah meja ale yang terletak di pojok belakang kanan.
“Kalian semua duluan saja, nanti aku menyusul” ucap ale
“Yahh, ya sudah deh. Aku, astrid, ana, dan aurora duluan ya ke kantin. Kau jangan lama. Cepatlah menyusul.” ucap alice
Ale hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil. Alice dan teman-temannya pergi ke kantin dan meninggalkan kelas. Bagi ale, menyendiri adalah sebuah keseruan untuknya. Ale melanjutkan mewarnai gambar kuil tua yang ia buat. Ale sangat menyukai gambar-gambar rumah tua, atau banguan bangunan angker lainnya. Tiba tiba, sesuatu terlintas di kepala ale.
“Aku harus ke kantin sekarang” ucap ale dalam hatinya. Ale langsung bergegas pergi meninggalkan bangku kelasnya.
Brukkkkkkk!!!
“Awwwww” keluh ale yang tergeletak di lantai
“Hey, maaf. Aku tak sengaja.” ucap seorang laki laki yang menabrak ale hingga jatuh.
Laki-laki itu membantu ale bangun. Ale mensapu-sapu membersihkan tangan dan seragamnya.
“Tidak apa apa” ucap ale dengan wajah tertunduk.
“Alejandra?” tanya seorang laki laki itu
“Yaaa, aku” ucap ale
“Kau gadis kelas 10 mia 1. Yang duduk di pojok belakang kanan kan?”
“Yaa, dari mana kamu tau” balas ale
“Aku osis yang kemarin membina ospek di kelasmu, dan yang mengangkatmu sewaktu kamu pingsan di barisan regu”
“Kak addison?”
“Ya, kau mau kemana? Kantin?” tanya addison
“Iya ka, permisi” ucap ale yang langsung membalikan tubuhnya
“Tunggu, awassss”
Ale menginjak kulit pisang. Addison langsung menopang tubuh ale yang hampir jatuh. Dan sekarang, mereka bertatap tatapan. Astaga, ini membuat jantung ale berdebar debar. Dan begitupun juga addison.
“Maaf kak” ale langsung bangun dari topangan addison
“Astaga, aku harus ke kantin sekarang ana dalam bahaya” ucap ale

Ale lari meninggalkan addison. Sesampainya di kantin ale langsung mencari ana. Mata ale tertuju pada tempat roti bakar. Di sebelahnya terdapat seseorang sedang menge cat tembok atas kantin.
“Itu ana… Anaaaaaaa. Awasss”
Alejandra langsung memeluk ana, dan membanting tubuhnya ke arah lantai.
Brukkkkk!!!! Tangga itu terjatuh. Seseorang yang di atas tangga itu pun pingsan tergeletak di lantai. Kaki kanan ale tertiban tangga itu.
“Awwwwww” keluh alejandra
Suasana di kantin langsung ramai. Addison tiba tiba datang, dan langsung membantu alejandra bangun. Ale tak dapat berdiri. Addison langsung menggendongnya dan membawanya ke uks. Ale ditidurkan di atas matras uks.
“Bagaimana dengan temanku ana kak?”
“Dia baik baik saja, teman temannya yang menolong” ucap addison
“Kau tak apa?” tanya addison . Addison langsung mengambil minyak urut, dan mengurut kaki ale yang tertimpa tangga.
“Aku rasa kau adalah orang yang selama ini aku rasakan” lanjut addison
“Maksud kakak?” tanya ale
“Aku merasakan ada seseorang yang sama sepertiku. Aku tak tau dia siapa. Aku dapat merasakannya. Dan aku sangat merasakan itu saat ospek di kelasmu. Dan aku rasa orang yang aku rasa, adalah… Kau”
“Ha?…”
“Kau dan aku sama sama tercipta untuk membaca masa depan” ucap addison
“Kak..”
“Sudah, kita rahasiakan ini… Kau sudah mendingan? Bel sudah berbunyi, mari aku bantu ke kelas” ucap addison
Adisson pun mengantar ale ke kelasnya. Kebesokan harinya.
“Aku kepo dengan satu tempat kutukan itu… Yang pernah digambarkan ale” ucap aurora
“Maksudmu kuil pancawarna yang ada di dalam hutan? Aku penasaran” ucap ana
“Ihh gue ga mau tau kita harus kesana, lo tau kan gue anaknya gimana” balas aurora
“Gue stuju. Gimana kalau minggu kita berangkat? Udah bete nih” astrid
“Lagian, kita udah selesai ulangan.Dan remedial pun juga udah selesaikan aku juga mau berdoa di kuil itu. Aku mau minta romeo yang tampan” ucap alice
“Aku gak mau kesana.” ucap ale
“Le, semuanya setuju!Aku ga mau tau minggu pagi jam 7 kamu harus ke rumah! Yang tau tempat itu kamu le! Harus ikut!” bentak aurora
“Tauu, lo jadi orang gak asik banget sih!” ucap astrid
“Bilang aja lo takut” sahut lanjut ana
Ale langsung membereskan bukunya dan pergi meninggalkan teman temannya. Bayang bayang kuil pancawarna terlintas di kepala ale. Kuil yang terkenal memakan jiwa. Tak ada yang bisa kembali dari sana. Mereka menganggap ketika berdoa di kuil tua itu, semua harapan doa yang di panjatkan akan terkabul begitu saja. Bagi ale itu adalah mitos balaka.
Ngenggggg!!! Kebutan gas motor terdengar di belakang ale.
“Hai le. Kamu pulang sendirian?.”
Yaaa, laki laki itu lagi. Addison. Laki laki yang sama sama mempunyai kekuatan terpendam seperti ale. “Hai kak, iah aku lagi pengen sendiri” ucap ale sambil tersenyum
“Sekarang naik ke motorku ya. Aku mau ngomong serius ke kamu” ucap addison
“Tapi ka… Aku harus..”
Addison langsung menarik tangan ale. “Ayoo naikk”
Mau tidak mau ale menaiki motor addison. Addison pun membawa ale ke suatu tempat. Taman. Di belakang taman itu ada gedung tua yang terkenal angker. Mereka duduk di bangku taman. Ale selalu memperhatikan setiap sekelilingnya. Ia tak takut, justru ia merasa aman karena berada di dekat addison.
“Ale, apa benar? Pada hari minggu kamu mau pergi ke kuil pancawarna?” tanya addison
“Dari mana kaka tau? Aku masih bingung. Sebenernya aku gak mau kesana, tapi aku takut teman temanku celaka disana. Mereka sudah kuhalangi kak. Aku yakin aurora bersih keras kesana karena pasti dia mau minta kecantikan abadi. Aku gak percaya, itu tuh cuman mitos balaka” ucap ale. Wajahnya langsung terlihat murung.
“Entahlah aku sudah membaca untuk kedepannya. Aku ingin kau tak ikut pergi kesana. Ternyata gadis misterius yang sering disebut di kelas 10 mia 1. Adalah kau. Hmm, gadis lugu, yang ternyaa punya kekuatan terpendam.. 1 minggu kita libur yaaa…” ucap addison
“Emmm, memangnya kenapa kak?” tanya ale.
“Aku tak dapat melihat kekuatanmu, kekuatanmu, yang menarik hatiku”
Ale tersenyum lebar. Hari sudah mulai gelap. Addison pun mengantar ale pulang sampai rumahnya. Malam tiba. Ale membanting tubuhnya ke kasur. Memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menahan teman-temannya. Tak bisa diam saja. Namun tak dapat berbicara juga. Ale menarik selimutnya, menutupi wajahnya.

Minggu tiba. Semua teman-teman ale sudah berkumpul di rumah aurora. Hanya saja ale masih berat, langkah kakinya menuju kesana. Karena mengingat pesan dari addison. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
“Ayo kita berangkat” ucap aurora. 6 jam perjalanan menuju ke kuil pembawa jiwa itu. Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Untuk menemukan kuil itu mereka harus melewati hutan dan tebing-tebing berbahaya. Entah, senyum bahagia di wajah aurora masih saja terpancar. Ia benar-benar terobsesi kepada kecantikan abadi. Mereka pun memulai perjalanannya dengan memasuki hutan.

Sudah 5 jam mereka berjalan menyusuri hutan itu. Namun, belum juga mereka menemukan kuil incaran mereka. Langkah ale terhenti. Kejadian di masa depan terputar di kepalanya. Teman temannya langsung menghampiri ale yang terlihat kesakitan sambil memegang kepalanya. Arghhhhhhh! Teriak ale. “Aku ga mau kita kesana! ” bentak ale. Semua temannya langsung memasang wajah sinis.
“Kalau ini cuman akal-akalan kamu buat kita mundur dari kuil itu. Kamu salah le.Cara kamu kampungan” ucap astrid
“Udah deh ayo kita kesana, sih ale kita tinggal disini aja” ucap ana
Mereka semua meninggalkan ale. Entahlah ale harus apa sekarang. Ale senderan di sebuah pohon besar, untuk menghilangkan lelahnya. Hanya bisa menangis, karena tak bisa menghalangi teman-temannya. Ia beristirahat sejenak. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di sekitar ale. “Suara apa itu” tanya tanya dalam hati ale. Sebuah petir dasyat menyambar ke dasar lantai tebing yang tak jauh dari tempat ale. Perasaan ale semakin tidak karuan. Ia langsung bergegas menjemput teman-temannya.
“Tebing.. Ya, petir tadi menyambar tebing ini. Ini ga jauh dari tempatku tadi” ucap ale dalam hatinya
Ia terus berjalan menyusuri tebing itu. Betapa kagetnya ale, ketika melihat seorang gadis tergeletak di lantai tebing. Ia langsung menghampiri gadis itu.
“A…Na….Anaa! Anaaaa anaa bangun naaa anaa bangunnn” teriaknya. Ale langsung menangis histeris menemukan ana yang sudah tak bernyawa. Petir dasyat yang menyambar ke lantai tebing, ternyata dia juga menyambar ana. Ale tak tau harus berbuat apa lagi. Ia tak mungkin membiarkan teman teman yang lain melanjutkan perjalanan ke kuil itu. Cukuplah ana yang menjadi korban.
“Ana, maafkan aku. Yang tak bisa menghalangimu, aku janji akan membawamu pulang sesudah aku berhasil menyelamatkan yang lain. Aku harus pergi sekarang” ucapnya. Ale langsung bergegas mengejar teman-temannya yang lain.
Zzrrtttt!! Arghhhhh!!! Ale tejatuh di tebing. Memegang seutas tali, sebagai harapan bertahan. Apa kali ini, justru ale yang menjadi korbannya?.
“Raihlah tanganku aleee” ucap seorang laki laki yang tiba-tiba datang mengulurkan tangannya. Ya. Dia addison. Ale berusaha meraih tangan addison. Hffttttttt. “Kau masih saja bersih keras mau kesini. Sudah kubilang kau tak usah ikut” ucap addison
Ale menangis histeris. Ale teriak sekencang kencangnya. Ale mengusap air matanya. Ia di bantu berdiri oleh addison. Ia meletak kan kedua tangannya di atas bahu ale.
“Aku datang kesini utuk menjemputmu. Dan melindungimu. Kemanapun kamu pergi, aku ikuti. Mari kita sama sama menyusul mereka” ucap addison sambil menatap mata ale. Ale membalasnya dengan senyuman lebar. Mereka pun langsung pergi dari tempat itu, dan segera menyusul teman-teman ale. Arrghhh!!!. Teriak kesakitan ale. Addison langsung menopang tubuh ale.
“Kamu kenapa le?” tanya khawatir addison
“Kaa, kaa… Kita harus segera menemukan mereka. Aku gak mau temenku yang lain jadi korban selanjutnya” ucap ale sambil menangis
“Apa yang kamu lihat di masa depanmu” tanya addison
“Entahlah kak. Aku melihat salah satu dari temanku akan bunuh membunuh. Alice. Kita harus cepat, sebelum itu terjadi kak. Sudah kuduga. Bahwa kuil ini memang memakan jiwa.” ucap ale. Ale dan addison pun langsung berlari kencang untuk mencari alice. “Tolongg tolonggg tolonggggg” dari jauh terdengar suara jeritan seperti meminta bantuan. Ale dan addison mencari asal suara itu. Mereka berhenti sejenak.
“Suaranya kak, suaranya menghilang.” ucap ale.
Terlihat seorang gadis tergelatak di bawah pohon besar. Addison melihatnya.
“Ituu.. Itu diaaa” ucap addison sambil menunjuk ke arah pohon besar. Addison dan ale langsung berlari ke pohon besar itu.
“Arhhhhhhhhh” teriak histeris ale. Ale menangis histeris melihat alice sudah tak bernyawa, dengan luka tusuk di perutnya. Addison menepuk nepuk bahu ale, mencoba untuk menenangkan ale.
“Lebih baik, kita selamatkan temanmu yang tersisa. Dan keluar dari sini secepatnya. Lalu meminta bantuan, untuk membawa temen teman mu.. Mari le, kita harus cepat” ucap addison
Addison menggenggam tangan ale dengan erat erat. Dan bergegas lari mencari teman temannya. Kuil tua.

“Wahai dewa penunggu kuil tua, aku ingin kecantikan abadi. Semua temanku sudah kubunuh. Berikan aku kecantikan itu.” ucap seorang gadis yang sedang memuja di depan sebuah patung dengan sesembahan di sekitarnya. Dia adalah aurora.
“Belum, kau harus membunuh temanmu, satu lagi. Bernama alejandra. Laksanakan sekarang” suara ghaib yang berasal dari patung di hadapan aurora
“Hentikan aurora! Kau di bodohi patung itu. Kau hanya di perdayakan olehnya. Sesudah itu kau lah jiwa sesembahan terakhir untuknya.” ucap alejandra yang tiba tiba datang bersama addison. Alejandra melangkah mendekati aurora.
“Ale, jangan mendekat” ucap addison
“Kau tetap disana ka, kau tak usah khawatir” ucap ale
Ale tepat berada di hadapan aurora. Aurora langsung menangis.
“Ale, aku takut” ucap aurora
“Kembalilah bersamaku aurora, kau tak usah takut ada aku disini” ucap ale
Aurora langsung memeluk ale. Ale merasa lega dan tenang, akhirnya aurora sadar. Tiba tiba.
Brukkkkkk!!!
Addison memisahkan ale dan aurora. Ale terbanting di tanah.
“Aku sudah duga. Kau hanya pura pura. Kau berani beraninya ingin membunuh ale dengan pisaumu!” ucap addison. Muka addison memerah. Tangannya mengeras. Aurora berlari ke arah addison dan ingin menusuknya dengan pisau yang dibawanya. Ale hanya bisa melihati mereka yang saling menghalau pisau. Ale tak tau harus berbuat apa. Semua tubuhnya terasa lemas.
“Awwwww” keluh kesah aurora. Pisau yang ia gunakan untuk membunuh ale, tertusuk tepat di tengah perutnya. “Kau… Kau berani-beraninya menghancurkan kecantikan keabadian ku. Ucap aurora. Aurora terjatuh ke tanah. Ale tak bisa menahan jeritan dan tangisan histerisnya. Ale langsung menghampiri aurora. Meletakkan kepalanya di atas paha ale. Ale hanya bisa menangis histeris. “Mengapa.. Mengapa ra” . Terlihat addison menggendong seorang gadis perempuan dan diletakkan di samping ale.
“Aliceee”
“Aku menemukannya sudah tak bernyawa di belakang patung laknat itu le, aku rasa kita harus segera pergi dari kuil ini.” ucap addison
Addison menarik tangan ale. Dan mengajaknya lari sekencang mungkin untuk meninggalkan kuil itu. Mereka berhenti di pertengahan hutan di sebuah pohon besar
“2 jam lagi menunjukan pukul 5. Baru kita jalan, ketika langit sudah mulai cerah le. Istirahatlah kamu. Aku yakin kau sangat cape” ucap addison.
Ale bersender di batang pohon besar itu. Sedangkan addison berdiri membelakangi ale. Ia terus menangis menjerit menyesali semua yang terjadi. Hanya dalam 1 hari ia kehilangan semua teman-temannya.
“Rasanya aku ingin mati kak, aku ingin mati!” ucap ale. Sambil menggebuk gebuk kepalanya
“Aku membenci ini semua. Aku benci. Aku benci. Aku gak bisa memaafkan diriku sendiri” lanjut ucapnya.
Addison menatap langit. Dan menghirup nafas, lalu melepaskannya perlahan lahan.
“Kau tak perlu merasa ingin mati. Kau tak berusaha untuk keluar dari sana saja, kau sudah mati… Kau tau apa yang mati? Bukan ragamu… Namun jiwamu yang mati.” ucap addison. Isak tangis ale mulai berhenti. Addison membalikan tubuhnya. Ia mebangunkan ale. Addison meletakan kedua tangannya di atas pundak ale.
“Percayalah, semuanya ini bukan salahmu. Dan bukan karenamu. Maafkan dirimu ale” ucap addison. Ale langsung menangis di pelukan addison. Addison berusaha menenangkannya.
“Terimakasih ka untuk semuanya.” ucap ale.
Ale melepaskan pelukannya. Ia terdiam sejenak. “Kamu kenapa le?” tanya addison. Suara gemuruh mulai terdengar di langit langit gelap itu. Terdengar pula suara desis ular. Ale langsung mengambil tasnya. “Kita harus pergi dari sini” ucap addison. Mereka berdua meninggalkan tempat itu. Sekelebat angin seperti menghampiri addison. Dan membawa addison perlahan menjauhi ale.
“Kaaaaak” teriak ale
“Ale, pergi dari sini, cepatlah, keluar!” ucap addison. “Tapi kak” . “Lari. Selamatkan dirimu!” teriak addison. Seekor ular kecil tiba tiba membesar. Dan melilit addison. “Cepatlahh lariiii. Atau aku membencimu selamanya!” teriak addison. Ale langsung berlari meninggalkan addison sambil menangis. Ular besar itu mengejar ale. Ale terus berlari kencang. “Mengapa, mengapa, mengapa semuanya meninggalkanku, apa masih ingin kau sebut ini bukan salahku?” ucap ale dalam hatinya. Ale keluar dari perbatasan hutan itu dan membanting tubuhnya. Ular itu menghilang. Ale menghela nafas lega. Matahari sudah mulai naik ke arah timur. Ale terbaring sambil menatap kilauan matahari itu. Ia memejamkan matanya. “Adalah satu hal yang tak dapat kuungkapkan. Aku pertama kalinya, jatuh cinta. Ya, itu sepertinya cinta. Namun, kenapa pula. Aku merasakan kehilangannya”. Ia membalikan badannya dan menghadap tanah. Ia menangis dan menjerit sekencang mungkin, mengeluarkan seluruh isi hatinya melalui air mata dan teriakan kencang. Menyatu dengan alam.

2 tahun silam. Terlihat seorang gadis cantik duduk termenung di bangku taman pada malam hari. Ia mengambil nafasnya dalam dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan lahan. Memejamkan matanya. Meneteskan air mata.
“Hanya waktu yang bisa membuktikan, dan membenarkan. Apakah aku salah” ucap ale dalam hatinya. Tiba tiba seorang laki laki datang dan duduk di samping ale.
“Kau boleh saja merasa sedih karena kehilangan mereka, namun. Bukan berarti kau tak memaafkan dirimu sendiri ale” ucap laki laki itu
“Bukan salahmu sayang. Namun, merekalah yang nekat melakukan itu. Segala sesuatu yang diawali dengan nafsu, tak akan berujung indah. Mereka seperti tak mempercayai tuhannya yang maha esa” lanjut laki laki itu
Ale tersenyum. Wajahnya berbinar bahagia. Ia bersender di bahu laki laki itu. Addison. Ya itu adalah addison. Laki laki yang berhasil membuat seorang ale yang terpendam bisa merasakan jatuh cinta. 2 tahun yang lalu, sesampainya ale di rumahnya dia langsung menghubungi polisi untuk pergi kesana membawa jenazah teman-temannya. Beruntunglah, addison masih bisa diselamatkan. Ale merasa ini semua cukup menjadi pengalamannya yang buruk.
“Setiap insan manusia memiliki masa lalu yang buruk. Namun, bukan berarti ia harus terjebak di dalam sana. Semakin kau tak mau bangkit, semakin hancurlah engkau. Secara pelahan-lahan oleh waktu yang menyiksa batinmu” -lisahnestr

Cerpen Karangan: Lisahnes Suntari
Facebook: Lisahnes Suntari
My name is Lisahnes Suntari. Grade 10. 15 years old. I am ketos in my school. ini adalah cerpen kedua saya setelah ‘dalam pinta harap,kau nyata’ di genre cinta islami. terimakasih utnuk para pembaca cerpen. dnt forget to follow my Ig/id line:@lisahnestr Thank you, guys. ^_^

Cerpen Kuil Tua Pembawa Jiwa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Musuh Dalam Selimut

Oleh:
Namaku rista. Aku punya sahabat bernama rtia (baca: retia). Kami satu les, sekolah dan kelas. Kami juga sebangku. Pagi itu, gheni sedang gosipin rtia. Biasa… Gheni tu emang si

Bela

Oleh:
“Aku tak tau kejadian aneh apa yang kulihat… Aku melihat dia berkata “bela!! aku mau masuk islam…” sekilas aku tertawa ia sedang kesurupan atau apa? 17 oktober 2015 Saat

Persahabatan Di Dunia Fantasi

Oleh:
Ebby adalah salah satu anak yang pintar di kelasnya. Ia memiliki sahabat sejati, yang bernama ishaq, nanda dan ismi. Sahabat sahabatnya memiliki keahlian masing masing. Ishaq adalah orang yang

Kisahku

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama ku di sekolah baruku, aku pindah karena aku mengikuti kedua orangtua ku. oya, nama ku ROSA APRILA PRATAMA, biasa di panggil Chacha, aku anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Kuil Tua Pembawa Jiwa”

  1. pandu satria says:

    kerenn abissss yg kedua. yg kesatu juga. di tunggu cerpen ketiganya!!

  2. jeni anggraini says:

    kata katanya sangat tepat dan keren. lanjutkan. di tunggu yang ketiga^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *