Kuntilanak (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 22 December 2016

Hari ini sangat melelahkan, bagaimana tidak, seharian Gading harus mengerjakan semua tugas yang tertunda beberapa hari yang lalu di sekolah. Tidak biasanya Gading menunda tugasnya sebanyak itu, paling banyak cuma 2 atau 3 tugas. Mungkin karena kini Ia jauh dari rumah, jauh dari orangtuanya, namun lebih merasa aman karena menurut Gading orangtuanya itu telah salah arah dengan mempercayai akan adanya mitos dan paham yang menyimpang. Sekarang Gading ngekost di salah satu perumahan milik Mbak Anti, katanya sih Mbak Anti itu masih ada ikatan saudara dengan keluarganya. Setelah bebarapa menit berjalan dari sekolah, Ia sampai ke perumahan itu.

“Baru pulang?”. tanya Mbak Anti sembari menyiram pohon kantil.
“Iya Mbak”.
“Kok tumben pulang sore?”. tambah Mbak Anti.
“Tadi habis ngerjain tugas yang Gading tunda Mbak, jadinya sedikit terlambat. Gading masuk dulu ya Mbak “.
“Ya Silahkan”.

Ia masuk ke kamarnya yang berada di lantai 2, meletakan tas kemudian mengambil ponselnya di saku celana. Sepertinya Ia akan menelepon Emma, pacarnya sendiri. Yah, yang namanya pacaran itu dikit dikit nelepon dikit dikit ingin tahu keadaan pacarnya gimana.

Setelah lama Ia memuaskan rasa kangennya itu, kemudian Gading duduk di kasur dan melepas sepatunya, tapi di dekat bantal ada sebuah surat. Itu adalah surat dari orangtuanya, sebenarnya Gading males baca surat itu karena hampir setiap minggu orangtuanya mengirim surat, lebih enak nelepon kan dari pada harus menulis? tapi yah memang seperti itu orangtuanya, tidak mau memanfaatkan teknologi. dengan rasa berat Ia membaca surat itu yang intinya sama, meminta agar Gading harus pulang ke rumah. Tapi di akhir surat itu tertulis jika Ia tidak pulang ke rumah malam ini, maka Gading akan dijadikan sebagai tumbal. Di bagian bawah surat itu terdapat tiga tetesan darah, Gading mulai marah setelah mengetahui hal itu, Ia tidak menyangka orangtuanya bisa melakukan hal yang tidak bisa Ia jelaskan dengan kata kata, lalu diremasnya kertas itu dan dibuang ke luar jendela. Tak sengaja tapi kertas itu jatuh di samping Mbak Anti yang sedang menyiram pohon kantil, lantas Ia membukanya.

“Apa apaan ini, Aku mau dijadikan tumbal oleh orangtuaku sendiri. Mereka itu sudah gila ya?”. Gerutu Gading. Ia pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka, rasa lelah yang tadinya hinggap seketika berubah menjadi rasa emosi.

“Mereka itu kenapa? Anaknya sendiri tapi malahan akan mereka jadikan tumbal, sudah kubilang berkali kali Aku nggak akan pernah mau pulang dan nggak akan mengikuti kepercayaan mereka jika mereka sendiri masih saja mempercayai mitos bahwa dengan memelihara kuntilanak mereka akan jadi kaya dan abadi, mereka seperti tidak percaya tuhan!!!. Aku nggak percaya…!!!”. Ia berkali kali melempar air ke muka yang bermaksud untuk menjaga emosinya. Gading melihat dirinya di kaca lalu kembali menuju kamarnya.

Sementara di luar, Mbak Anti berhenti sejenak dari menyiram pohonya dan mulai membaca surat itu. Sekarang Ia tahu apa permasalahan yang sedang terjadi, Ia mulai takut masa lalu akan kembali dihidupkan. Ia berlari masuk ke rumah dan menuju kamar Gading.

“Aku harus gimana nih. Sebenarnya Aku juga sedikit takut jika mereka serius akan melakukan hal buruk itu, tapi gimana caranya!!”. Gading mondar mandir sambil menjambak kepalanya sendiri, pikirannya mulai terasa kacau, Ia benar benar tak tahu apa yang sekarang harus dilakukan. Sementara Mbak Anti sudah menaiki tangga dan sampai di depan kamar Gading lalu masuk ke ruanganya.

“Gading!!! … orangtuamu sungguh kejam”. katanya sambil menghampiri Gading.
“Mbak…!! kenapa nggak mengetuk pintu?”.
“Tadi mbak baca surat yang kamu buang”.
“Haahh.. jadi mbak baca surat itu?”.
“Iya, pasti kamu sangat tertekan, tapi sebelum kamu mengeluarkan…”
Mbak Anti belum sempat mengucapkan perkataannya bahwa sebelum Gading mimisan masih ada harapan untuk menyelamatkan nyawanya, tapi sudah terlambat, hidung Gading telah mengeluarkan darah, Gading pun tak menyadari bahwa hidungnya mulai mimisan.

Gading memegangi hidungnya yang mulai mengeluarkan darah, Ia tak tau apa yang sedang terjadi sekarang, saat ini Ia amat sangat ketakutan. Sementara Mbak Anti terlihat sedang mencoba membaca mantra untuk menangkalnya. Darah semakin mengalir dari hidung Gading, kemudian Mbak Anti mencoba untuk menerawangnya dan alangkah terkejutnya bahwa sebenarnya Gadding juga memiliki kuntilanak, Ia bisa menangkal bahkan bisa membalikan talak itu pada sang pengirim.

“Tenang Gading, berusahalah untuk tetap tenang!”. Perintahnya.

Gading tidak bisa tenang karena darah dari hidungnya mulai membasahi baju dan kasurnya. Mbak Anti masih berusaha untuk menenangkanya, tapi tiba tiba Gading pingsan.

“Ya gusti, tolonglah anak ini”.

Setelah lama Gading pingsan kira kira 2 menit dan darah yang keluar dari hidungnya pun itu berhenti. Mbak Anti mencoba menyadarkan Gading.

“Gading, ayo bangun..”.

Sesadarnya, Gading mulai membuka mata, wajah yang tadinya berwarna sawo matang kini langsung terlihat pucat, darah sudah membasahi bajunya.

“Kenapa Mbak? kenapa mereka melakukan semua ini padaku”. tanya Gading sambil mengusap hidungnya.
“Karena mereka ingin mengambil kuntilanak darimu, mereka akan melakukan apa saja demi mengambilnya, walau itu adalah anak sendiri mereka takkan tak peduli. Tapi tenang, kamu bisa menghalaunya ataupun menolaknya karena Ia telah lama bersemayam di dalam dirimu”. jelas Mbak Anti.
“Kenapa Ia bisa ada di dalam diriku?”.
“Itu terjadi saat kamu terlahir ke dunia ini, dulunya orangtuamu memang sudah menggunakan kuntilanak untuk sarana pesugihan. Tapi kegiatan mereka diketahui oleh para warga, orangtuamu menuduhku sebagai orang yang telah membocorkan kegiatan sesat mereka. Pada saat itu juga Ibumu tengah mengandungmu Gading”.
“Jadi, mbak juga ikut terlibat dalam hal itu. Tapi kenapa, kenapa mereka ingin sekali membunuhku?”. tanya Gading sambil melepas bajunya yang penuh darah.
“Ibumu menginginkan anak perempuan, itulah kenapa mereka tidak terlalu suka denganmu, tapi mau bagaimanapun juga kamu adalah anak dari mereka, Tri Kusumo dan Irawan Nitinegoro.

Gading bersandar di pagar, kenapa justru Ia yang akan mengalami semua ini. Gading mulai depresi, Ia tak habis pikir dan kini Ia pun tahu bahwa Ibunya menginginkan seorang perempuan, tapi apa salahnya.

“Kamu harus mencoba untuk mengeluarkan dan mengendalikanya Gading?”.
“Aku tidak bisa”.
“Bisa!! kamu tidak mau kan jika orangtuamu mengorbankan anak mereka hanya untuk pesugihan?”.
“Gimana caranya, Aku sendiri bahkan nggak percaya dengan hal hal seperti itu!”. Gading berdiri dan mengambil baju beserta celana lalu pergi ke kamar mandi.

Sungguh, Gading benar benar menjadi orang paling tidak beruntung. Orangtua yang seharusnya mendidik, menjadikan anaknya sebagai orang yang baik tapi justru sebaliknya, demi harta mereka akan melakukan apapun bahkan rela untuk melapas anaknya sendiri.

Cerpen Karangan: Krismunandar
Facebook: m.facebook.com/ndaer.krismunandar

Cerpen Kuntilanak (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bon Appetit (Part 2)

Oleh:
Namun, semuanya terlambat. Kini aku melihat para pengunjung restoran itu tiba-tiba berubah… wajah mereka pucat dan.. dan bola matanya berubah putih… mereka seperti mayat hidup! Persis seperti zombie di

Pertemuan

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Kriiinnnggg. Bunyi telepon terdengar berdering dari ruang tamu. Gita pun buru-buru lari dari kamarnya buat ngangkat telpon itu. Pembantunya lagi ke pasar juga. Maklumlah

MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat

Oleh:
Gak indah banget rasanya… Liburan selama dua bulan, tapi tak banyak berkesan selama minggu pertama ini. Walaupun kenyataannya belum ada kepastian Aku bakal Lulus atau tidak, tapi masa sih

Diary Terkutuk

Oleh:
Hai guys, perkenalkan namaku amalia fellicie camille. Aku berusia 10 tahun. Hari ini aku akan menceritakan kejadian saat ulang tahunku yang ke 9. Jadi seperti biasa aku bangun jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kuntilanak (Part 1)”

  1. Nurul Agustina says:

    yang part 2 mana????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *