Kutukan Sepatu Kaca

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Hana, merengkuh di kursi pojokan tempat duduknya. Teman-temannya yang lain terlihat asyik tertawa-tawa. Namun, ia malah berdiam diri di dalam kelas. Aku yang penasaran melihatnya dari jendela langsung memasuki kelas, walaupun aku tahu bahwa jam istirahat seperti sekarang seluruh murid dilarang untuk memasuki kelas. Hana, gadis berumur sebayaku, 13 tahun. Ia anak baru di sekolahku, Emerald Magic School. Tubuhnya tumbuh besar, pipinya mirip sekali dengan bakpao daging yang tersedia di kantin sekolah. Ia menyadari kehadiranku dengan menutup mukanya.

“Kenapa menangis Hana?” tanyaku prihatin sambil menggeser tempat duduk di sampingnya. Ia tidak bergeming, namun hanya mengelap air matanya dengan tisu.
“Hei gadis bodoh, jangan dekati dia. Dia anak yang over PD, hahaha! Mana mungkin ia mau memerankan tokoh Cinderella. Benar sih, dia cantik dan putih. Tapi lihat ukuran sepatunya, 30. Di pasar kaget mana ada sepatu berukuran segitu. Paling-paling sepatu boot. Hahaha, nanti jadinya malah Cinderella big size,” tiba-tiba Anne, gadis yang paling ku benci di kelas berteriak dengan egonya, lalu mengakhiri ejekannya dengan tertawa kejam.

Memang, di kotaku, Vive City, ukuran sepatu nomor 30 menjadi ukuran sepatu orang dewasa. Untuk seusiaku memakai sepatu bernomor 25. Dengan sangat kesal, aku melemparnya dengan buku milik.. Entah siapa. Aku beruntung karena buku yang ku lempar mengenai wajahnya. “Beraninya kau mengejek temanku. PERGI, PERGI! Awas kau. Jika tidak pergi, buku ini akan melayang untuk kedua kalinya, PERGI!” sepertinya ancamanku berhasil. Anna pergi sambil mengumpat tak karuan. Aku memutar badan, ke arah Hana yang sudah menghentikan tangisnya.

“Jadi itu alasan kau menangis? Tak apa. Kau bisa mengganti naskah dramamu dengan yang lain. Bukan Cinderella..”
“Tapi temanku sudah mengusulkan drama itu, aku tak mau membuatnya kecewa. Bahkan ia telah jauh-jauh hari menyiapkan teksnya. Nanti, aku akan mencari sepatu kaca berukuran besar di toko antik Ladiyo. Lihat saja, aku akan mendapatkannya!”
“Jangan keras kepala! Toko antik Ladiyo memang lengkap, tapi kamu tidak akan bisa membayar harganya, kecuali dengan nyawamu sendiri,”
“Terserah, yang penting aku bisa dapat sepatu kaca berukuran besar!”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa berdoa agar Hana membatalkan tekadnya. Lalu jika Hana celaka bagaimana? Oh, aku menggelengkan kepala. Benar saja, esoknya, Hana memasuki toko antik ladiyo dengan santainya. Aku mengikutinya dengan perlahan. Tidak.. Dia mulai memencet bel toko antik itu! Semoga saja bel itu bukan menjadi sirene kematian! Doaku dalam hati. Aku sengaja masuk lima menit kemudian. Jangan, jangan, please Hana aku mohon. Jangan sampai menemukan sepatunya! Bibiku pernah membeli sesuatu di sini, namun ia hampir saja menghilangkan nyawanya! Aku tidak ingin kau seperti bibiku!

“Hahaha, akhirnya aku menemukan sepatu kaca. Dan ukurannya pas sekali denganku, nomor 30!” tawa Hana dengan riangnya. Ia mencoba ukuran sepatu itu. Tiba-tiba tubuhnya berputar-putar dan matanya menjadi merah. Ketika ia melepasnya, wajahnya berubah menjadi sedia kala.
“Berapa yang harus ku bayar paman?” tanya Hana ke meja kasir yang dipenuhi sarang laba-laba. Paman yang memiliki luka di pipi itu menggelengkan kepalanya.
“Kau yakin akan beli sepatu ini?”
“Tentu saja paman. Aku akan membayarnya berapa pun harganya,”
“Berapa pun harganya?”
“Tentu saja!”
“Baiklah, kau tidak usah membayarnya sekarang. Dengan sepatu kaca ini, kau bisa membalas dendam akan semua temanmu yang pernah melukai perasaanmu!”
“Wah, terima kasih paman.. Aku bisa beruntung karena membeli sesuatu di sini!”

Setelah Hana meninggalkan toko ini, aku buru-buru ke luar juga. Mana mau aku terkurung di tempat sakral seperti itu. Kasirnya sudah dipenuhi sarang laba-laba, apalagi ada hiasan tengkorak di mana-mana. “Lihat, ini apa hah? Sepatu kaca berukuran besar. Kalian hanya bisa comel saja mengejekku ini itu. Bahkan aku mendapatkannya dengan cuma-cuma,” pamer Hana keesokan harinya di sekolah. Ia menunjukkan sepatu itu ke hadapan teman-temannya yang mengejeknya kemarin.

Setengah jam kemudian lonceng perak di sekolah ini dibunyikan. Aku berbaris dan segera masuk ke dalam kelas. Hari ini akan diajar oleh Miss Ira yang cantik dan menawan. Pelajaran kali ini adalah Bahasa Perancis. Satu jam pertama saat pelajaran berlangsung, Anne minta izin untuk ke toilet. Dua menit kemudian, Hana juga ingin ke toilet sambil membawa sepatu kacanya. Aku jadi curiga. Tanpa pikir panjang aku langsung ingin menyusul keduanya. Aku tak berharap ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Untung saja Miss Ira mengizinkanku. Aku berlari menuju toilet wanita yang berada di lantai tiga.

“OH TIDAK..” aku terbelalak tak percaya. Hana merubah sepatu yang dipakainya menjadi pisau. Ia mengarahkannya pada Anne yang berteriak ketakutan. Tepat yang ku duga, wajah Hana sepucat kapas dan matanya merah. “Siapa yang menyuruhmu mengejekku, pasti tak ada kan? Ayo mendekatlah. Kau akan mendapatkan ganjarannya kali ini”. Ia mengangkat pisau itu dan..

BRAKKK..

Aku menangis tersedu-sedu. Tanpa terduga, pisau itu bukannya mengarah pada Anne namun malah mengarah pada tubuh Hana sendiri. Aku memeluk Hana dengan perutnya yang bercucuran darah. “Anne.. Panggil Miss Ira sekarang!” Anne mengangguk pasti. Wajahnya bergetar hebat seperti mesin jet. Tak lama kemudian, semua mengerumuni jasad Hana.
“Ini kutukan toko Ladiyo. Siapa saja yang membeli barang-barang di sana maka ia akan membayarnya sekarang dengan nyawa, dengan sebuah nyawa yang amat berharga..” Aku mengusap mataku dan menenangkan Anne yang merasa bersalah hingga hampir pingsan. Hari itu, pembayaran sebuah benda oleh sebuah nyawa.

Dua bulan sepeninggal Hana, aku dan Anne mengubur sepatu kaca bernomor 41 itu sambil membawa lampion dan lilin. Itu memang tradisi di daerah kami untuk menghilangkan roh jahat yang terkandung dalam benda-benda tertentu. “Anak yang keras kepala. Kutukanku tidak akan bisa dihilangkan selamanya, kecuali jika ada anak berhati mulia yang mengubur sepatuku di makam korban dan mengucapkan mantera-mantera tertentu. Aku masih membutuhkan sembilan nyawa lagi. Kutukanku akan terus berlanjut, jadi, nyawa mana lagi yang akan ku tunggu?”

Cerpen Karangan: Farah Aulia Ghufran
Facebook: Farah Aulia G
Assalamualaikum. Hai, namaku Farah Aulia Ghufran. Ini hanya sekedar cerita fiksi ya! Hobiku membaca dan menulis. Add Facebokku atas nama Farah Aulia Ghufran. Wassalamualaikum.

Cerpen Kutukan Sepatu Kaca merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah KOPI dan Ucup

Oleh:
Apa yang akan kalian lakukan jika bumi diprediksi akan dijajah oleh alien atau sebangsa monster mengerikan? “Bang! Sini cepetan, kukasih permen kaki biru nih!” panggil seorang anak laki-laki yang

Peri Cinta Via

Oleh:
“Aku harus mengakhirinya.” Namaku Aldy. Aku memiliki seorang kekasih bernama Via. Dia adalah adik sahabatku, Ari. Karena kami sering bertemu, aku mulai menaruh rasa pada gadis itu. Dia gadis

Titisan Leluhur (Part 2)

Oleh:
Pada saat itu, keduanya begitu merasa bahagia dan keduanya saling mengungkapkan perasaan mereka untuk yang pertama sekali secara langsung berhadapan empat mata. Wahyu dan Laras berjanji akan saling setia.

Misteri Rumah Tua

Oleh:
“Sial, sudah semakin larut, di sini, di mana aku bisa menemukan tempat untuk beristirahat?” Gerutu Ami kesal. Aku melirik, tanpa berkomentar apa pun. Kembali ku perhatikan kegelapan-kegelapan malam yang

In The Illusion

Oleh:
Dunia begitu kejam. Tak peduli seberapa keras aku berusaha, dunia seakan-akan hanya menganggapnya sebagai angin yang berlalu. Aku menyerah. Aku sudah lelah. Aku sudah tidak kuat lagi. Buat apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Kutukan Sepatu Kaca”

  1. hana says:

    keren kak

  2. Rispani Elela de Shaner says:

    Aku keturunan Indo-Brazil. Cerpennya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *