Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

Saat itu, dasar curug begitu dipadati pengunjung. Beberapa anak kecil riang bermain air yang jernih, sedang para orangtua di belakang mengawasi. Sejumlah muda-mudi asyik mengabadikan foto, beberapa yang lain duduk merendam kaki. Meski tempias air curug yang begitu kuat bisa dengan sekejap membasahi pakaian mereka, tak ada yang peduli. Mereka begitu takjub menikmati suasana alam yang masih sangat asri. Suara kicau burung terdengar bersahut-sahutan, sementara di langit seekor elang Jawa terbang berputar-putar.

Dewi yang baru tiba, memandang air terjun terbaik di Kabupaten Banyumas itu dengan wajah sumringah. Nuansa alam yang masih sangat alami membuat sang dara cepat-cepat mengambil kamera yang sejak tadi hanya terkalung di lehernya.
Setelah memotret air terjun dari berbagai sudut, kini Dewi berniat mengambil gambar para pengunjung yang ada di sekitar curug. Suatu kali Dewi mengarahkan kamera ke arah di mana seorang pemuda berpakaian serba putih berdiri menatap curug. Kamera itu ditempelkannya ke mata kanannya guna membidik. Astaga, gambar yang akan dijepret tiba-tiba saja buram! Dewi kernyitkan kening memandangi kameranya. Dia coba arahkan lensa kamera lagi ke sudut yang sama, tangkapan lensa dalam kamera lagi-lagi buram. Kini Dewi arahkan ke sudut yang lain, kamera kembali normal. Sekali lagi Dewi arahkan kamera ke arah di mana pemuda itu berdiri. Aneh, tangkapan yang diterima lensa lagi-lagi buram. Sangat tidak jelas!

Dewi pandangi sosok pemuda yang berdiri diam memandang curug dengan hati bertanya-tanya: Siapa adanya pemuda berpakaian putih-putih ini? Wajahnya pucat.
Disaat Dewi terheran-heran begitu rupa tiba-tiba saja pemuda itu menengok dan menatap si gadis seolah tahu dirinya diperhatikan. Dua mata saling beradu. Ada kilatan aneh di mata sang pemuda, membuat dada Dewi berdebar.
Sekilas, pemuda itu memang terkesan dingin. Sorot matanya yang sejak tadi tertuju ke air curug seolah menyimpan luka terpendam. Raut mukanya mengabarkan sesuatu yang hebat telah menimpa hidupnya di masa lalu. Baju putih-putih yang dilihat Dewi berupa jaket Hoodie berwarna putih dan celana pendek berwarna putih.

Entah karena terganggu oleh Dewi atau apa pemuda itu melangkah ke atas menyusuri undakan. Dewi mengikuti. Pemuda itu berjalan menuju ke sebuah curug lain namun masih di area Lokawisata Curug Cipendok. Curug ini lebih kecil tak terlalu tinggi dan lebih sunyi tak satu pun pengunjung.
Pemuda berjaket putih duduk mencangkung di atas batu menghadap curug kecil. Dewi yang baru sampai memandang sejenak sambil terengah-engah, kemudian melangkah menyusuri jalan sempit menuju di mana pemuda itu duduk.

“Kau mengikutiku?” tanya pemuda muka pucat tanpa berpaling.
Dewi yang berdiri enam langkah di belakang si pemuda membuka mulut. “Em iya, maksudku…”
“Kenapa kau mengikutiku?” potong pemuda. Suaranya halus mendatar dan tetap terasa dingin.
“Begini, kameraku mendadak buram ketika tengah kubidik kau dan beberapa orang di sekelilingmu tadi.”
Pemuda itu berdiri perlahan, membalikkan badan ke arah Dewi. Berhadap-hadap begitu membuat Dewi bisa memandang keseluruhan wajah sang pemuda. Meskipun pucat, tidak menyembunyikan ketaampanan yang ia miliki. Kulitnya putih mulus, matanya tajam beralis tebal. Sesaat Dewi terpana melihat wajah si pemuda.
“Kau tahu, pertanyaamu seharusnya kau tujukan pada seorang pandai elektronik?”
Ternyata pemuda itu bisa juga bergurau, namun masih dengan mimik yang datar.
Dewi tertawa kecil. Candaan sang pemuda membuat persepsi pemuda dingin di mata Dewi perlahan luruh berganti dengan rasa suka. “Kau lucu juga…” ujar Dewi.

Si pemuda palingkan badan dan kembali menatap curug kecil. Astaga! Dewi baru tersdar, pakaian putih-putih yang dikenakan pemuda masih kering tak terkena tempias air waktu berada di Curug Cipendok tadi. Padahal pemuda itu lebih dulu berada di curug sebelum kehadirannya. Paling tidak di beberapa bagian jaketnya yang putih terdapat basahan. Sangat berbeda dengan kemeja yang dipakai Dewi, kedua pangkal lengannya basah terkena tempias air curug tadi. Di sini Dewi melihat keanehan ke dua.
“Laki-laki ini aneh.” Dewi berkata dalam hati.

Setelah mendehem, si gadis kembali buka suara. “Kulihat jaketmu kering, dan kau tahu pakaianku basah terkena percikkan air yang begitu kuat waktu di curug tadi… aku merasa aneh…”
Pemuda itu tak acuh dengan pertanyaan Dewi. Dia justru alihkan pembicaraan, masih dengan sikap membelakangi. “Dewi…”
Dewi terlonjak kaget. Bagaimana mungkin pemuda yang baru dijumpainya mengetahui namanya.
“…Mahasiswa semester empat Universitas ternama di kota Purwokerto… yang atas nasihat teman-temannya akhirnya terpesat liburan ke sebuah curug.” Pemuda itu berkata seolah membaca tulisan gaib di antara air curug yang berjatuhan deras. Kemudian dia lanjutkan kata-kata terakhir dengan suara bergetar. “Yakni curug saksi malapetaka…”
Dewi mengernyit mendengar kata-kata terakhir itu. Namun sesaat kemudian gadis ini memuji. “Kau hebat! Tahu semua riwayatku…”

Si pemuda balikkan badan dan tersenyum ke arah dewi. Sebuah senyuman tulus membuat wajahnya semakin tampan. Dewi kini diam-diam mengagumi ketampanannya.
Pemuda itu melangkah mendekati Dewi. Dia baru berhenti ketika jaraknya dengan Dewi tinggal dua jengkal. Kaki Dewi seolah terpaku tak bisa mundur melihat kedatangan pemuda. Gadis ini seperti kena teluh, dia hanya bisa diam menatap. Berhadap-hadapan begitu dekat membuat jantung Dewi berdegup lebih kencang.
Si pemuda ulurkan tangan menyibakkan butiran air di atas dada kemeja Dewi. “Kau bilang pakaianmu basah terciprat air, tapi tidak dengan wajahmu, kulihat wajahmu sebening air curug…” berkata pemuda dengan senyum memikat tersungging di mulutnya.
Perasaan Dewi campur aduk mendengar kata-kata sang pemuda yang seakan keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Si… Siapa kau sebenarnya?” tanya Dewi agak gugup.
“Maaf, sekarang aku harus pergi.” Pemuda itu kemudian melangkah.
“Tunggu…! Katakan dulu namamu!” sergah Dewi.
Si pemuda berpaling sambil berucap lirih. “Diangga..”
“Diangga..” mengulang Dewi. Gadis ini berlari ke arah kelokan yang tertutup semak belukar di mana pemuda bernama Diangga tadi berkelebat. Namun yang didapati adalah jalan buntu yang tertutup pohon-pohon perdu yang sangat rimbun.
“Dia menghilang begitu cepat.” Membatin Dewi.

Malam itu, di atas kasur sebuah penginapan yang tersedia di sekitar Lokawisata curug Dewi berbaring tak bisa tidur. Beberapa kali si gadis mengubah posisi tetap saja tak bisa memicingkan mata. Pikiran Dewi selalu tertuju pada Diangga, pemuda yang baru dikenalnya. Teringat kembali ketika dia dan Diangga berhadap-hadapan begitu dekat. Rasa deg-degan itu kembali muncul. Masih terngiang di telinga Dewi kata-kata Diangga yang membuat Dewi berjuta rasa. “Kau bilang pakaianmu terciprat air, tapi tidak dengan wajahmu. Kulihat wajahmu sebening air curug…” Dewi tersenyum. Terbayang raut wajah tulus Diangga ketika mengatakan itu.

Menuju tengah malam, Dewi yang baru bisa memejamkan mata tiba-tiba saja dibangunkan oleh suara gaduh di luar penginapan. Dewi yang mafhum jalan di depan penginapan sedang diperbaiki, kembali menarik selimut dan memicingkan matanya. Namun lapat-lapat telinganya mendengar pekikan dan histeris orang-orang menyebut nama Tuhan. Dewi tersentak, bangkit mengucek-ucek mata dan keluar menuju jalan depan penginapan.

Sekilas, sang dara melihat seseorang dengan kepala penuh darah digotong empat orang pekerja perbaikan jalan sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam mobil, mobil itu pun kemudian melaju. Sesaat Dewi mengira telah terjadi kecelakaan, namun setelah dia bertanya pada salah seorang kuli yang berubung, terbelalaklah mata si gadis. Kuli itu mengatakan bahwa Dirno, KAUR bidang pembangunan desa Karangtengah yang sedang memantau proyek perbaikan jalan, didapati terlentang dengan kepala rengkah di pinggir jalan tak jauh dari lokasi proyek. Santo, salah seorang dari KPH pengelola utama Objek Wisata curug yang terakhir ngobrol dengan Dirno menuturkan bahwa ketika ngobrol, tiba-tiba Dirno pamit hendak buang hajat kecil, lantas menghambur ke balik sebuah pohon pinus.
“Setelah itu aku tak lagi memperhatikan.” Ujar Santo pada semua orang.
Dewi kembali bertanya pada kuli tadi. “Apa yang terjadi setelah itu?”
“Kami tengah sibuk bekerja neng, tahu-tahu terdengar suara bergedebuk. Setelah kami dekati kami ketahui itu adalah Pak Dirno, kepalanya depan rengkah, belakang remuk. Nampaknya mayat Pak Dirno sengaja dilempar dari pohon pinus.” Menjelaskan si kuli.
Dewi merasa ngeri, baru kali ini dirinya menjumpi pembunuhan aneh sekaligus mengerikan begitu rupa.

Perbaikan jalan yang dikerjakan siang dan malam demi mempercepat waktu itu akhirnya dihentikan. Sebenarnya, perbaikan prasarana itu bertujuan untuk kenyamanan para pengunjung.
Semua orang syok berat. Siapa atau apa sebenarnya yang membuat Dirno mati mengenaskan? Sorang pekerja menduga Dirno tewas diterkam binatang buas atau sejenis macan, namun kawannya menyangkal, macan hanya sesekali terlihat di area curug tak mungkin malam hari berkeliaran sampai jauh. Kuli lain berasumsi bahwa Dirno mati dicekik hantu dedemit penghuni hutan pinus sepanjang pinggir jalan, karena dilihat dari air muka mayat yang nampak ketakutan serta mata yang melotot.
“Mungkin saja, kencing Dirno yang sembarangan membuat penguasa hutan sekitar sini murka.” Kata teman di sampingnya sependapat.
Hipotesis terakhir itu membuat bulu roma masing-masing orang berdiri. Tengkuk mereka sama dingin. Rasa kecut menggerayangi dada mereka. Dewi memutuskan kembali ke penginapan setelah para pekerja mufakat untuk pulang saat itu juga.

Akhirnya sang dara bisa memicingkan matanya di sisa-sisa akhir malam.
Keesokan harinya, matahari tengah beranjak naik. Pagi itu nampak sunyi, tak seperti biasanya kompleks Lokawisata curug riang riuh dihibur suara burung-burung langka berkicau. Mungkin karena tragedi pembunuhan misterus semalam. Sebagian pengunjung memilih pulang lebih awal dari jadwal liburan yang sebetulnya mereka rencanakan untuk beberapa hari.

Dewi berjalan menuju Curug Cipendok. Warung mendoan Mbok Sarni yang kemarin dia singgahi nampak lengang. Beberapa warung di samping warung Mbok Sarni yang Dewi lewati pun tak banyak orang. Seperti biasa Dewi menyusuri undakan bebatuan menurun hingga akhirnya terlihatlah dasar curug. Nampak hanya beberapa remaja berfoto-foto di bawah. Tak terlihat seseorang yang ia harapkan berdiri menatap curug seperti kemarin. Batu lantai undakan itu kosong. Dewi duduk melipat lutut di batu itu tempat dimana Diangga tempo hari berdiri menatap curug.

Dewi merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah perasaan rindu yang begitu mencucuk hatinya. Seorang pemuda yang baru kemarin dikenalnya membuatnya tak bisa tidur. Pagi ini rasa rindu itu membawanya kembali ke curug. Niat awalnya untuk sekedar berlibur menguap sudah. Di Wanawisata curug ini dia bertamu sesuatu yang tak pernah dia jumpai sebelumnya, sebuah cinta yang tumbuh dari tatapan mata pertama. Di kampus, banyak pria cakap dan pintar menaruh hati padanya, tapi tak satu pun Dewi acuhkan, tak satu pun menaruh kesan di hatinya. Lain dengan Diangga, seorang pemuda yang sangat ingin Dewi temui saat ini.

“Diangga…” bisik kalbu Dewi yang terdalam. “Di mana engkau saat ini? Di mana aku bisa menjumpaimu lagi? Ah..” Dewi mengusap mukanya. “Tak seharusnya seorang perempuan merindukan lelaki begini rupa.”
Setelah duduk termenung bebarapa lama dan tak mendapati pemuda yang dirindukannya, Dewi ingat sebuah curug kecil tak jauh dari curug ini. Dengan semangat rindu yang menggelora dia beranjak ke sana.
Sesampainya di curug kecil, Dewi kembali dapati segenap kehampaan, namun ingatannya pada jumpa pertama tempo hari sedikit menghibur Dewi. Langkah Dewi perlahan menyusuri jalan sempit hingga sampai tepat di tempat dirinya diteluh si pemuda. Di pelupuk matanya terputar kembali adegan di mana Diangga mendekatinya perlahan, menyibakkan air di kemejanya, mengucap sebuah syair indah yang melesat menusuk jantungnya, senyuman… senyuman itu… senyuman paling indah yang pernah ia lihat dari seorang lelaki, menyebar dalam tubuhnya, melonggarkan aliran-aliran darahnya, mengobati sebongkah rindu yang menggantung-gantung dalam dadanya. Dewi begitu terharu.
“Di mana aku harus mencarimu Diangga… tahukah kau di sana, aku di sini ingin bertemu… oh Tuhan, inikah yang dinamakan tertambat asmara…?” Kata Dewi melirih. Dewi mencium kemejanya bagian dada bekas sibakkan tangan sang pemuda. Tercium begitu harum di hidungnya yang kecil mancung.

Tak terasa matahari telah lingsir jauh dari titik tertingginya. Sebelum Dewi kembali ke penginapan, dia sempatkan mampir ke warung Mbok Sarni. Di warung yang begitu sepi itu Dewi duduk meneguk es teh manis. Tatapannya melamun keluar warung, wajahnya seperti orang tengah kasmaran tetapi diliputi kabut kekecewaan. Mbok Sarni, sang pemilik warung yang kini mulai mengemasi gelas-piring bekas pengunjung dan hendak menutup warung memandang Dewi sejenak.

“Lagi nungguin orang neng?” tanyanya.
Dewi tersentak dari lamunannya. “Tidak Mbok Sarni..” jawab Dewi singkat.
“Bukannya apa-apa neng, tapi lekas habiskan minumanmu dan bayar. Warung mau tutup awal, pengunjung sangat sepi. Tahukah sampean kejadian orang mati semalam? Aku tak mau terjadi apa-apa di warung sumber rezekiku ini…”
“Memangnya sudah diketahui pembunuhnya Mbok Sarni?” bertanya Dewi acuh tak acuh.
Mbok Sarni menggeleng tapi kemudian berkata: “Ah nasib… musim liburan begini seharusnya ramai pengunjung dan daganganku laris, tapi nyatanya ada-ada saja rintangannya… tahukah sampean neng, banyak wisatawan pulang lintang pukang tadi pagi, belum lagi matahari muncul, mereka sudah nyalakan motor dan mobil sembari mengemasi barang-barang dari penginapan…”
Dewi prihatin dengan Mbok Sarni. Gadis ini segera menghabiskan minumannya dan membayar namun sebelum pergi dia bertanya. “Mbok, apa ada Mbok Sarni melihat pengunjung berjaket putih mampir ke sini?”
Yang ditanya menjawab sembari mengambil uang pembayaran sang dara. “Emang namanya siapa neng?” “Diangga.” Jawab Dewi.
Mbok Sarni Nampak mengingat-ingat sesuatu, lantas berkata: “Seperti pernah dengar nama itu… ah aku tak tahu neng, tak ada orang berjaket putih ke sini!” “Ya sudah Mbok, terimakasih.” Dewi menarik nafas, lalu beranjak pergi kembali ke penginapan.

Ketika mengelap meja bekas Dewi, tubuh Mbok Sarni tiba-tiba seperti disentakkan sesuatu. “Diangga..” desisnya seolah teringat sesuatu. Dia berlari ke ambang pintu dan berteriak “Neng… orang yang sampean tanyakan…!!!” Dewi sudah tak kelihatan.
Dia kembali masuk dan berkata seorang diri. “Diangga, setahuku…” kata-katanya putus, air mukanya berubah, seperti dikejar setan pemilik warung itu bergegas menutup warung secepat kilat!

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akankah Menjadi Nyata?

Oleh:
Tak tahu apa yang akan ku lakukan lagi. Di sekolah aku hanya diam dan tersenyum saat temanku membuat adegan lucu. “kamu sakit, cit?” tanya sari kepadaku. Aku hanya memandangi

May

Oleh:
“Eh eh, Angga lagi di cafe nih!” Sila menunjukkan akun path di handphone-nya. “Ya terus? Bodo amat, aku sebel!” May berbicara dengan mulut manyun. “Gara-gara kemarin? Ya udah sih.

Lelaki Persimpangan Jalan

Oleh:
Aku berjalan menuju tempat favoritku, dengan membawa beberapa buku di tangan. Tiba-tiba saja ada lelaki yang menyapaku dan memberikan bantuan untuk membawakan bukuku. Aku langsung percaya kepadanya, karena sepertinya

The Based Story of Psychopath

Oleh:
Namaku Aino Nico. Aku baru saja pindah ke Osaka karena pekerjaan orangtuaku yang tidak menetap. Disini aku akan mulai beradaptasi dengan lingkunganku yang baru untuk yang keempat kalinya. “ma..

Tuyul dan Kunti

Oleh:
Tuyul, hidup itu memang seperti ini ya… kenapa mesti aku? Hiks! Aku udah rajin belajar, tapi tetep aja nilaiku pas-pasan kayak gitu! Sebel! Eky menatap diary kecil warna biru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *