Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

Samkosim, Kepala Desa Karangtengah baru saja menyelesaikan kebutuhan biologisnya dengan istri mudanya pada penghujung malam itu ketika di halaman rumah besarnya terdengar suara mobil berhenti. Belum lagi sang Kepala Desa yang tubuhnya masih panas berkeringat itu merapikan dalaman bawahnya, tiba-tiba dibuat dongkol oleh gedoran pintu tak sabaran diselingi suara memanggil-manggil dirinya.
“Set*n betul! Orang gila dari mana tengah malam begini teriak-teriak di depan rumah orang, tak tahu adat!” maki Samkosim. Dikenakannya sarung dan kaus singlet yang tercampak di bawah ranjang lantas berkata pada sang istri yang masih terlentang lemas di atas ranjang dengan rambut acak-acakan. “Kau tenang-tenang saja di situ sayang. Ingat, seperti malam-malam sebelumnya, jangan engkau kenakan sendiri pakaianmu. Biar nanti aku yang memakaikan dengan perlahan dan lembut, selembut engkau membuka bajuku tadi he… he… he…!” Samkosim terkekeh-kekeh.
“Tentu sayangku… akan kubiarkan lancar dulu aliran darahku setelah berjam-jam dibuat kacau tak karuan… malam ini kau hebat!” menimpali wanita di atas ranjang. Suaranya lemah terengah-engah seperti habis menjerit-jerit.
Di rumah besar kediamannya itu, sang Kepala Desa memang mempunyai dua orang istri. Malam itu adalah giliran istri mudanya.

Setelah mengelus per*t istrinya yang putih, Kepala Desa yang kumis tebalnya menyatu dengan jenggot dan dari wajahnya mengabarkan tabiat licik ini lantas keluar kamar, menuruni tangga untuk kemudian menuju pintu depan.
Sebenarnya Kepala Desa ini mafhum siapa adanya orang di depan rumahnya dari suara yang ia kenali. Yakni pekerja proyek jalan curug wisata desanya, yang tengah lembur malam itu. Namun, kedatangan mereka tak diduga dini hari dan mengusik kesenangannya, membuat darahnya naik.
Di depan pintu bediri empat orang. Dua orang pekerja dan dua orang KPH. Kedatangan mereka bukan lain hendak melaporkan kematian Dirno, bawahan Samkosim dalam pemerintahan desa.

Seorang pekerja bernama Mugiono kembali mengetuk pintu berkali-kali setelah tuan rumah tak kunjung muncul. Tak lama kemudian terdengar langkah cepat mendatangi pintu.
Ketika pintu dibuka sebenarnya Samkosim ingin langsung menyembur Mugiono yang sedari tadi mengedor-gedor pintu bikin dia kesal, namun melihat orang KPH besertanya, dirinya sungkan dan hanya bisa menahan mangkel dalam dada.

“Mohon maaf sebelumnya Pak Kades, kedatangan kami malam buta begini mugkin mengganggu, tapi kami ke sini membawa berita buruk..” seorang dari KPH yang membaca air muka Samkosim cepat-cepat buka mulut. “Kabar buruk apa?? Perjelas maksud kalian!” tukas Samkosim.
Mugiono, yang sebenarnya tetangga Samkosim dan dari tadi terlihat tak sabar langsung menyelang. “Dirno Pak Kades, Dirno mati dibunuh orang…!”
Sontak Samkosim tersentak.
Empat orang itu kemudian memperlihatkan mayat Dirno di dalam mobil dan menuturkan semua kejadian, mulai dari pamitnya almarhum ketika hendak kencing, hinga didapatinya dia tanpa nyawa di pinggir jalan dalam kondisi mengenaskan.

Samkosim seperti tak mau tahu perihal penyebab kematian Dirno, dan sama sekali tidak berniat menyelidiki siapa pembunuh misterius itu. Adalah sampai hati mengingat riwayat Dirno seorang anggota tim pemenangannya dulu ketika Pemilihan Kepala Desa Karangtengah. Maka boleh dibilang Dirno adalah tangan kanannya.
Jika saja sebelum benar-benar mati Dirno memberi petunjuk siapa adanya pembunuh dirinya, mungkin Kepala Desa ini akan membentengi diri dengan beberapa orang pengawal ke mana pun ia pergi sebab dilanda cemas yang hanya dia dan Dirno yang tahu.

Hingga suatu malam, tiga hari setelah kematian Dirno, dia habis memenuhi undangan pernikahan koleganya di desa sebelah. Saat itu dia tengah dalam perjalanan pulang menaiki motornya seorang diri.
Memasuki sebuah jalan sunyi di depan sebuah pemakaman umum desanya bernama TPU Kalijati, motor maticnya dibuat mandek oleh seseorang yang berdiri di tengah jalan. Orang itu berdiri tiga depa di depannya dengan sikap membelakangi diri, dari sikapnya, sepertinya dia sengaja menghadang perjalanan Kepala Desa. Kedua tangannya sok keren dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya yang berwarna putih. Jaket Hoodie yang ia kenakan senada dengan warna celana, tudung Hoodie itu sendiri ia gunakan untuk menutup kepalanya.

Samkosim membunyikan klakson motornya memberi isyarat agar orang itu menepi, namun orang itu bergeming. Sang Kepala Desa mulai kesal, dia kembali bunyikan klakson panjang-panjang, orang yang beridiri tetap diam tak bergerak, malah dengan acuh tak acuh dari mulutnya terdengar melantunkan sebuah sajak aneh:

Dendam adalah larangan Tuhan
Siapa membangkang siksa imbalan
Namun perkara keadilan
Harus tegak terpancang
Sepercik darah, dibalas darah
Pembalasan akan lebih pilu
Dibanding sayatan sembilu
Kini waktu tlah tiba
Ganjaran akan segera diterima

Samkosim sama sekali tak hiraukan kata-kata dalam sajak itu, malah dengan suara lantang dia berkata: “Hai, orang sinting di tengah jalan, apa kupingmu budek?! Di suruh minggir malah baca puisi! Set*n betul! Beri aku jalan atau mau kulindas!!”
Orang di tengah jalan tertawa, sebuah tawa aneh beraroma maut!
“Lindas saja kalau kau bisa Lurah… tidakkah nampak di matamu, aku sudah pasang badan sedari tadi ha… ha… ha…!” si penghadang kembali bekakakan.
“Kepar*at!” Samkosim menggerendeng penasaran. “Orang sinting…! Kalau kau mau mampus, bersiaplah…!!”
Samkosim rengkuh gas kuat-kuat. Siap menggilas orang di tengah jalan. Namun, seketika itu juga sekonyong-konyong mesin motornya mati. Ia terperanjat. Diputar-putarkannya kunci motor ke posisi ON, tak ada indikasi nyala apapun di spidometer.

Sesaat dia mafhum, apa yang tengah dia hadapi. Dia memandang kanan kiri. “Pekuburan Kalijati…” desisnya. “Malam ini, malam jum’at kliwon.” katanya dalam hati.
Sementara Samkosim berfikir begitu, orang di tengah jalan balikkan badan, lalu melangkah perlahan ke arahnya. karena di tempat itu hanya ada satu lampu penerang, wajahnya masih gelap tertutup bayangan tudung Hoodienya.
Samkosim menatap langkah kaki orang itu. “Tak bisa jadi…” rasa kecut menggerayangi dadanya. “Kakinya menapak tanah, bukan… bukan setan.” katanya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Langkah kaki orang itu terhenti di jarak satu setengah depa di depan Samkosim. Penutup kepalanya dibuka. Nampaklah wajah pemuda tampan walaupun pucat dan dingin. “Ada dengan dirimu Kepala Desa? Kulihat wajahmu berubah. Mana mulut besarmu tadi?” ucapnya masih tenang, namun sorot matanya teguh memandangi Samkosim.
Sepasang mata Samkosim menatap lekat-lekat wajah pemuda di depannya. Seperti pernah lihat, entah kapan. Mungkinkah warga Karangtengah? Pikirnya saat itu. Satu ingatan muncul dalam benaknya. “Kau…” katanya dengan gemetar. “Tak mungkin…”
Sekarang dia tahu, peristiwa apa yang sebenarnya menimpa Dirno.
“Dirno…” sebutnya lirih. Dia turun dari motor dan berniat kabur. Namun, baru saja turun dari motor, mendadak kakinya berat untuk diangkat.
“Apa yang terjadi? Kakiku…?” tengkuknya dingin.

Pemuda di depannya kembali terdengar membuka mulut, kali ini suaranya tandas. “Dirno cecungukmu, sebelum minggat ke neraka masih sempat berkata, bahwa kaulah otak dari malapetaka pahit yang menimpa keluargaku dua tahun lalu…”
Tubuh sang pemuda kini bergetar, wajahnya berubah kelam membesi. Kilatan maut terbersit di matanya.
“Apa maumu?” suara Samkosim jeri.
“Sepercik darah dibalas darah… hari ini aku datang untuk membalaskan sakit hati ayah dan ibuku. Tak perlu berpanjang lebar dengan manusia macammu! Susullah cecungukmu ke neraka manusia tengik!!!”
Bersamaan dengan teriakan itu, tubuh si pemuda melesat ke depan. Tangan yang sudah sejak tadi membentuk tinju bergerak.
Bukk!!
Tubuh Samkosim terlempar ke belakang, jatuh terduduk. Songkoknya lepas. Enam giginya rontok. Darah memenuhi mulutnya. Pukulan pemuda tepat mengenai bibirnya sebelah kiri.

“Ampun… siapapun kau adanya, jangan bunuh aku… lupakan masa lalu itu… kau akan kuberi rumah dan sebidang sawah di timur desa, tapi mohon, ampuni aku… aku masih punya dua istri yang harus kuhidupi, aku juga masih mengemban amanah desa… jangan bunuh aku…”
Dengan kasar si pemuda renggut kerah kemeja batik Samkosim dan tenteng ke atas hingga dua kaki Samkosim terangkat.
“Lupakan masa lalu? Amanah desa katamu? Gampang nian mulutmu, belakangan kuketahui warga Karangtengah sudah muak denganmu! Jabatan Kepala Desa yang kau rebut dari ayahku, hanya kau gunakan sebagai alat memuluskan hasratmu. Bukankah pantas kukirim kau ke neraka huh…!!” Lalu pemuda ini ludahi muka di depannya dan tinjunya kembali bergerak.
Buukk!!
Kali ini sang Kepala Desa jatuh terlentang sambil pegangi mata kirinya. Mata itu amblas melesak ke dalam begitu mengerikan. Darah memenuhi mukanya. Jeritan Samkosim kalap tak karuan.

Entah dari mana di tangan pemuda kini tergenggam sebilah pisau belati yang berkilauan terkena sinar lampu jalan. Dari mata kanannya yang nanar, Samkosim masih bisa melihat pemuda mendekatinya perlahan dengan mata nyalang membara.
“Kini waktu tlah tiba… ganjaran akan segera diterima…”
“Demi Tuhan jangan…!” sang Kepala Desa tidak bisa apa-apa kecuali berteriak ketika pemuda itu menginjak perutnya sambil mengangkat belati tinggi-tinggi siap menikam dirinya.
“Dua tahun lalu Dirno menembakku secara biadab tepat mengenai jantungku, di situ pula nyawamu akan putus…! Bersiaplah…!!”
Tangan pemuda yang memegang pisau meluncur cepat.
“Jangan…!”
Crass!!!
Pisau runcing itu menghujam tepat di dada kiri Samkosim menembus jantung. Darah segar muncrat! Mata sang Kepala Desa mendelik. Jeritannya lenyap. Berganti dengan suara erangan, erangan itu makin lama makin lirih dan akhirnya hilang sama sekali…

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lusa

Oleh:
27 februari yang lalu adalah hari yang tepat menurut Dimas untuk menyudahi hubungannya dengan Sarah. Hubungan yang terjalin hampir 12 bulan itu adalah suatu prestasi bagi Dimas. Ia bisa

Lorong Thania

Oleh:
Rintik hujan menemaniku.. Ya, perlahan aku berjalan di lorong ini.. Lorong cintaku bersama Thania.. Lorong yang mempertemukan kami, merajut kisah kami menjadi hubungan cinta dua orang remaja.. Dulu kami

Kamar Misterius

Oleh:
“Huh, capek banget deh.” keluh Keyla Keyla dan keluarganya memang baru pindah rumah. Setelah satu jam merapikan isi rumah barunya, Keyla merebahkan diri di kamarnya. “Ah, akhirnya bisa istirahat.”

Setelah Lulus SMA (Part 1)

Oleh:
Seperti anak SMA yang baru lulus pada umumnya pasti rata-rata sudah mulai merencanakan tempat untuk melanjutkan sekolah misalnya dengan berbagai pilihan seperti ke perguruan tinggi atau langsung mencari pekerjaan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *