Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

Di hari terakhirnya dia liburan, sebelum esoknya pulang kembali ke Purwokerto, Dewi kunjungi Telaga Pucung. Sebuah telaga berair jernih tak jauh dari Curug Cipendok. Di telaga itu dia berniat hanya sekedar mencuci matanya yang kuyu karena beberapa malam dirinya hanya bisa tidur menjelang pagi.

Di pinggir telaga sebelah timur, terdapat tiga buah dangau berjajar menghadap telaga. Di situlah pengunjung bisa berleyeh-leyeh sembari menikmati suasana telaga yang hening dan asri. Namun seperti heningnya telaga, menjelang siang itu, di bawah dangau-dangau dan seputar telaga benar-benar hening hanya nampak satu dua orang. Sepertinya kematian Dirno tempo hari berimbas juga ke wisata ini.

Hari ini Dewi tampak lesu. Sejak dua hari lalu dia tak bisa menjumpai Diangga di curug, hari-hari berikutnya si gadis hanya menghabiskan waktu di penginapan. Setelah mengambil foto dengan kamera yang dia bawa, gadis ini akhirnya duduk di bawah dangau.
Dewi duduk menepekuri air telaga. Hatinya ikut terhanyut dalam keheningan telaga. Di saat Dewi termenung dan terhanyut dalam kesunyian tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara lelaki menegurnya. Suaranya halus dan dingin. Suara yang sangat ia kenali. Namun kali ini suaranya terdengar agak ceria.

“Lagi ngelamunin apa neng manis…”
Kontan Dewi menoleh.
“Diangga…!” pekik Dewi girang tak alang kepalang.
Seketika itu juga si gadis bangkit melonjak dan memeluk lelaki yang berdiri di belakangnya yang nampak tersenyum semringah padanya.
“Kau ke mana saja selama ini? Dua hari aku mencarimu…!” tanya Dewi terharu sekaligus bahagia.
“Ee..e.. apa-apaan ini? Malu kalau dilihat orang.” kata lelaki yang memang Diangga adanya.
Kali ini pemuda ini memang terlihat lebih segar dibanding sebelumnya.

Dewi lepaskan pelukannya. Sepasang matanya berkaca-kaca memandang wajah di depannya lalu kembali berkata. “Dua hari kau tak muncul, dua hari aku mencarimu, dua malam aku tak bisa tidur… Ketahuilah Diangga, aku itu…”
“Aku apa? Kangen?” goda Diangga.
Dewi menunduk. Wajahnya bersemu merah. Tangannya mencoba menghapus air mata bahagianya yang menggenang, namun kemudian mengangguk jengah.
Melihat itu Diangga tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat Dewi rindukan.

“Dewi..” katanya kemudian. “Kuakui, aku juga merindukanmu.”
Dewi balas senyum mendengar kata-kata itu.
Kedua insan yang tengah dimabuk rindu itu pun duduk di bawah dangau.
“Apa kau selama ini ada baik-baik saja? Kau menginap di mana?” bertanya Diangga.
“Alhamdulillah baik-baik, aku menginap di losmen tak jauh dari curug…”
Diangga mengangguk.
“Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Ke mana saja kau selama ini?”
“Emm..” si pemuda terlihat agak gugup, dia alihkan pembicaraan. “Kulihat kau tampak lesu Dewi…”
“Sudah kubilang tadi, dua malam aku tak bisa tidur…”
Diangga terkekeh-kekeh. “Ooo iya…”

Dua muda-mudi itu kemudian ngobrol cukup lama. Tak lupa juga Dewi menceritakan tragedi pembunuhan aneh di malam pertamanya menginap. Yakni tewasnya Dirno secara mengenaskan ketika dirinya tengah memantau proyek perbaikan jalan. Sekilas air muka Diangga berubah mendengar cerita itu. Namun hal itu tak terlihat oleh si gadis.
karena hari beranjak sore, keduanya kemudian berpisah. Namun sebelumnya Diangga menjanjikan akan datang ke penginapan Dewi malam nanti.

Di depan penginapan agak ke samping, di atas bangku panjang yang dikelilingi perkebunan tomat, Dewi duduk menunggu kedatangan Diangga. Dia mulai gelisah, sudah satu jam dia duduk di situ namun yang ditunggu tak kunjung datang. Hingga malam bertambah sunyi, karena proyek perbaikan jalan malam hari telah dihentikan sejak kematian Dirno, Dewi mencoba menghibur diri dengan mendekati sepohon tomat dan memegang-megang buahnya yang telah masak.
Dalam pada itu, sekonyong-konyong terdengar suara bertanya. “Sudah lama menunggu…?”
Seketika itu juga Dewi menoleh dan dapati orang yang tengah ditunggu-tunggu sedang duduk di bangku panjang tempatnya tadi duduk.
“Uh… Lagi-lagi kau datang tanpa suara dan bikin aku kaget…!” kata sang dara kesal.
Pemuda berjaket Hoodie yang tengah duduk bukan lain adalah Diangga. Sambil menyeringai dia segera minta maaf.
Diangga lalu menggeser duduknya dan mengisyaratkan Dewi duduk.

“Diangga,” Dewi buka suara. “Malam ini malam terakhir aku liburan di curug ini…”
Si pemuda tenang mendengarkan.
Dewi menarik nafas dan melanjutkan. “Sebenarnya jarang sekali seorang perempuan melakukan ini. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Aku tak bisa memendam rasa ini hingga kubawa pulang…” dia berhenti sejenak, sejurus kemudian baru melanjutkan. “Aku… Aku mencintaimu…”

Diangga raih jemari Dewi, menatap sepasang mata bersih gadis di depannya dan berkata. “Dewi… Aku paham perasaanmu. Seandainya Boleh jujur, aku juga mencintaimu.. Sejak pertama aku melihatmu, aku tahu kau seorang perempuan yang baik, cerdas dan juga cantik. Namun, semua perasaan bahagia ini, aku rasa, aku rasa mungkin tak bisa menyatukan kita Dewi…”
Diangga lepaskan genggaman tangannya dan nampak menyesali kata-kata terakhirnya tadi.
“Kenapa…? Kenapa kita tak bisa bersatu..?” tanya Dewi.
Karena Diangga diam saja akhirnya Dewi berkata. “Diangga, sebelum aku pulang, kenalkan aku dengan orangtuamu…”
Pemuda ini tundukkan kepala dan tampak sedih. “Kedua orangtuaku telah meninggal…”
“Oh, maafkan aku…”
Sesaat Dewi ikut merasakan kesedihan Diangga.

“Malam telah larut.” kata Diangga sejurus kemudian. “Besok kau datang saja ke rumah bibiku di desa Karangtengah, namanya Siti. Rumahnya tak jauh dari TPU Kalijati.”
Diangga lalu membimbing Dewi berdiri.
“Aku tahu kau lelah… Empat hari kau habiskan liburan di sini. Masuklah ke penginapan dan tidurlah…”
Entah kenapa, seperti tak akan pernah ketemu lagi Diangga memeluk tubuh Dewi kuat-kuat. Dewi tak bisa berkata apa-apa. Sepasang matanya melihat air mata mengalir tipis di pipi Diangga ketika si pemuda melepas pelukannya dan berkata. “Sampai jumpa di rumah Bibiku…”
Diangga mengambil secarik kertas putih yang dilipat dari saku jaketnya dan mengangsurkannya ke tangan si gadis.
“Baca sebelum kau tidur.”
Dewi lagi-lagi hanya bisa termangu menerima kertas itu.
“Sekali lagi sampai ketemu lagi Dewi…”
Lalu Diangga melangkah. Dewi hanya bisa mengiringi kepergian pemuda dengan pandangan mata.

Keesokan harinya, dengan menyandang tas ransel, Dewi keluar pintu penginapan berangkat ke alamat yang Diangga sebutkan tadi malam.
Tidak sulit mencari alamat rumah itu. Seperti yang dikatakan Diangga semalam, rumah Bibinya tak jauh dari sebuah pemakaman umum.
Sebelum memasuki pintu pagar rumah Bibi Siti, langkah Dewi terhenti. Pandangannya terarah ke rumah di sebelahnya. Dilihatnya sebuah rumah yang mungkin dulunya bagus namun sekarang seperti tak terurus. Ada entah suatu apa yang membuat Dewi memandanginya lama-lama.

Rumah itu seperti rumah mati. Catnya pudar. Beberapa kayu reng tempat genteng terpasang patah menjulai ke bawah, genteng itu pun jatuh pecah berserakan. Eternit yang menjadi langit-langit plafon, saling menguak menjadi sarang burung-burung gereja. Halaman rumah itu tak kalah memilukan, sampah dedaunan berserakan di mana-mana. Rumput-Rumput meranggas liar. Besi-besi tralis pagar rumah berkarat tak tersentuh cat. Sesaat Dewi merasa miris melihat kondisi rumah itu.

Kembali ke rumah yang ditujunya, Dewi berseru mengucapkan salam. Seorang pria tua berkulit legam dan agak bungkuk yang tengah menyiangi dahan-dahan pohon mangga yang menjulur ke wuwungan rumah menjawab Dewi. Dia menghentikan pekerjaannya memandangi Dewi sejurus, lalu menuruni pohon dan mendatangi si gadis.

“Nyari siapa neng?” tanya pria itu begitu di depan Dewi.
“Ini betul rumah Ibu Siti?” balik tanya Dewi.
“Betul, ada perlu apa ya?”
“Saya mau ketemu beliau dan keponakannya, Diangga…”
Pria itu kerutkan alis.
“Diangga? Apa tidak salah? Bibi Siti yang sampean cari memang ada di dalam…”
“Tidak bapak, tadi malam saya dan Diangga bertemu, dia katanya mau mengenalkan saya pada Bibinya.” jawab Dewi malu-malu.
“Memang neng sendiri siapa?”
“Saya memang baru beberapa kali bertemu Diangga di curug, namun dalam waktu singkat itu aku telah mengatakan keseriusanku padanya…”

Pria itu tambah tak mengerti dengan ucapan si gadis, tapi akhirnya membuka pintu pagar dan meminta Dewi menunggu sementara dia memberitahu Bibi Siti. Tak lama kemudian pria tua itu kembali dan berkata. “Bibi Siti sudah menunggu di ruang tamu. Silahkan masuk neng…”
Begitu memasuki pintu, seorang wanita berhijab menyambuti Dewi dengan mempersilahkannya duduk. Itulah Bibi Siti.

“Mang Saliman bilang sampean hendak menemui saya?” tanya wanita berwajah religius ini.
“Betul Ibu…” jawab Dewi.
“Lantas, maksud kedatangan sampean?”
“Begini ibu, nama saya Dewi. Tadi malam saya ngobrol dengan keponakan Ibu, kami memang baru beberapa kali bertemu, namun kami berdua sudah saling mencintai. Dia meminta saya datang ke sini untuk mengenalkan pada Ibu sebagai pengganti orangtuanya. Apakah dia tidak menceritakan pada Ibu?” tanya Dewi kemudian.
“Keponakan saya siapa maksudnya? Setahu saya, saya tidak mempunyai keponakan…?” menyahuti Bibi Siti sambil mengerutkan dahi.
“Diangga.”
Terkejutlah Bibi Siti. “Diangga..” desisnya. Dia pandangi gadis muda di depannya lekat-lekat dari atas sampai bawah.
“Kau tidak keliru nak…?” tanya wanita ini berfikir si gadis tengah bercanda.
“Maksud Ibu, Diangga bukan keponakan Ibu?” balik tanya Dewi yang tidak mengerti pertanyaan wanita itu.
“Tunggu dulu nak Dewi, coba kau katakan di mana kau bertemu Diangga…?”
“Di depan penginapan saya tak jauh dari curug malam tadi.” menerangkan sang dara.
“Tadi nak Dewi bilang baru beberapa kali bertemu, sebelumnya pernah bertemu di mana?” si Bibi kembali bertanya.
Dewi mengangguk lalu menjelaskan. “Pertama kali saya melihatnya di bawah Curug Cipendok. Wajahnya pucat. Dia berdiri memandangi air curug. Aku sempat berniat mengambil foto dia dan orang-orang di sekelilingnya, tapi mendadak kameraku buram, entah kenapa. Dan yang bikin aku kagum, pakaiannya tak sedikitpun terkena tempias air curug yang kuat!”
“Gusti Allah…” seru Bibi Siti tercengang mendengar penjelasan Dewi. Tubuhnya tersandar lemas ke punggung kursi. “Diangga… Kutukan apa yang menimpamu?! Dosa apa yang kau perbuat hingga tak tenang begitu rupa..?!”

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuts Tua

Oleh:
Alunan nada kembali terdengar dari piano tua itu, tidak, lebih tepatnya tuts tua itu. Ya, tidak salah lagi, Fur Elise. Jangan acuh jika kau tiba-tiba mendengarnya, itu pertanda bahwa

Emosi Hantu Misterius

Oleh:
“Ssttt,” ucap Meli menutup mulut Indah temannya. “Lepaskan tanganmu!” ucap Indah melepaskan tangan Meli. “Diamlah nanti dia dengar!” saran Meli. “Siapa yang dengar?” tanya Indah. “Dia hantu misterius itu,”

Misteri Gelang Kaki (Part 2)

Oleh:
Esok harinya kami melanjutkan pencarian kotak Ungu. Dan kali ini kami berhasil. Ternyata kotak itu tak jauh dari posisi kami berdiri kemaren. Dan sepertinya tempat ini adalah tempat dimana

Jodoh Yang Tak Diduga

Oleh:
Pagi itu aku Nayla dan keluargaku bersiap-siap menuju ke tempat hiburan keluarga. Kita ke sana untuk merayakan ulang tahun adik sepupuku namanya Zahra. Kita sekeluarga bersiap-siap menuju sebuah taman

Maaf Untuk Mama (Part 1)

Oleh:
“nggak aku nggak mau, aku nggak mau ikut sama kamu, aku nggak mauuuuuuu…! hosh hosh hosh” ternyata mimpi buruk itu lagi, aduh siapa sih sebenarnya perempuan itu, kenapa dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *