Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 5)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

“Ibu.. Ibu kenapa?! Apa yang tidak tenang…?!” Dewi garuk-garuk kepala semakin tidak mengerti dengan sikap Bibi Siti.
“Gadis muda…” ucap Bibi Siti. “Tentu, tentu kau tidak mengerti. Diangga.. Diangga keponakanku, orang yang kau sebut tadi, dia sudah meninggal dua tahun lalu…”
“Apa…?!” kini Dewi yang terlonjak dari tempat duduknya. “Ibu.. Ibu jangan bercanda…!” suara si gadis bergetar.
“Mana saya berani nak, mana saya berani bercanda…” ujar Bibi Siti. Suaranya terdengar rawan.
Nafas Dewi sesak. Hati kecilnya tak percaya dengan apa yang dia dengar. “Lantas… Lantas siapa yang aku temui selama ini…?”
Sang Bibi menggeleng. “Aku juga tahu nak, ini semua kuasa Tuhan… Tak perlu disesali.”
Dewi menunduk. Benamkan wajah di kedua telapak tangannya. “Diangga.” lirih gadis ini dalam hati. “Kejutan aneh apa yang kau berikan padaku…?”

Dewi terenyuh, tersendu pilu. Kini dia teringat dan menyadari betul segala keanehan-keanehan yang dia lihat dari pemuda itu. Mulai dari kameranya yang buram ketika membidiknya, Hoodie yang Diangga kenakan tak setitik pun basah saat berdiri dekat curug hingga dua kali kedatangan Diangga yang tanpa suara dan mengagetkannya.

Dewi tersedan. Air mata mulai mengalir dari dua matanya. Dengan suara rawan dia berucap. “Diangga, waktu kutemui selalu memakai jaket putih ibu..”
Bibi Siti menyeka air matanya yang menggenang dan mengusap hidungnya dengan selampai baru menjawab. “Itulah pakaian terakhir yang ia kenakan. Ia suka mengenakan jaket saat bepergian…”
“Jika kau ingin tahu rumahnya,” katanya kemudian. “Di samping rumah inilah rumahnya…”
Si gadis kembali tertunduk lesu. betapa memilukannya rumah tak berpenghuni itu. Kayu yang patah menjulai, genteng yang pecah berserakan hingga rumput-rumput yang meranggas liar, berubah menjadi benda runcing yang menohok ulu hatinya.

Dewi tidak menyangka semua akan berakhir begini. Dia baru tahu apa makna pelukan Diangga tadi malam. Pelukan yang begitu kuat seolah tak akan bertemu lagi.
“Kalau memang Diangga sudah meninggal Ibu, di mana letak kuburnya…? Biar aku melihat sebelum pulang, walaupun hanya makamnya…”
“Kalau maumu begitu, mari kutunjukan…” ujar Bibi Siti.
Di depan rumah, bapak tua yang disebut Bibi Siti bernama Saliman diam-diam mendengarkan pembicaraan dua orang di dalam. Dia ikut prihatin dengan peristiwa yang menimpa Dewi.

Pemakaman yang dituju Bibi Siti adalah pemakaman yang dilewati Dewi tadi, yakni TPU Kalijati. Dewi berjalan mengikuti Bibi Siti hingga sampailah ke lokasi. Bibi Siti menunjuk tiga buah makam yang berjajar. Tiga nisan tertancap dengan nama masing-masing penghuni. Walaupun kayu nisannya sudah lapuk dan tulisan yang tertera sudah tak jelas tetapi masih terbaca oleh Dewi. Dari sebelah kiri: Djarot Pangestu, Rumdina dan yang terakhir Diangga.
Dewi tahu dua makam di samping makam Diangga adalah makam orangtuanya. Di depan pusara Diangga kaki Dewi bergetar, goyah dan akhirnya jatuh berlutut. Tangannya mengelus-elus kayu nisan.

Si gadis terbisu cukup lama memandangi kuburan di depannya. Rumput-rumput liar memenuhi tanah kuburan.
“Kau sekarang bisa lihat sendiri nak…” Bibi Siti membuka suara.
Dewi tetap membisu.
Sayup-Sayup terdengar kumandang azan dzuhur dari kejauhan. Bibi Siti mengatakan ingin kembali ke rumah. “Kau mau tetap di sini atau kembali nak Dewi…” tanya wanita ini.
“Aku akan tetap di sini dulu Bu…” menjawab Dewi.

Bibi Siti lalu tinggalkan tempat itu. Kini tinggal Dewi termangu sendirian. Si gadis baru ingat surat yang diberikan Diangga semalam. Gadis ini segera mengambilnya dari dalam tas. Dibukanya kertas putih itu yang terlipat dan membacanya.

Dewi…
Maafkan aku, aku telah membuatmu menangis. Kini kau telah tahu kenapa tadi malam kukatakan bahwa kita tak mungkin bersatu.. Kini semua tlah terang di matamu. Aku harus kembali karena aku tlah menyelesaikan tugasku. Di sini aku tlah tenang. Namun cintaku padamu masih ada tak akan pernah pudar walaupun dimensi kita berbeda.
Dewi, jaga dirimu baik-baik.
Ku tunggu kau di sini… Di pintu syurga…
Ttd, Diangga

Dewi dekap surat itu di dadanya. Sepasang matanya yang sembap terpejam, lalu perlahan terurai air mata. Hatinya kembali terenyuh. “Diangga..” bisik kalbunya. “Tenanglah kau di sana. Salam damai untukmu. Meski ragamu tak terlihat lagi, cintamu tetap abadi di hatiku.. Biar kusimpan cinta ini, sampai kelak aku akan ada di sana…”

Dewi turunkan kertas itu, matanya terbuka. Meski dia begitu pilu membaca surat itu, namun dia tak paham dengan kata-kata “karena aku tlah menyelesaikan tugasku.” Selagi dia termenung dengan itu tiba-tiba sepasang telinganya mendengar suara langkah mendatanginya. Dewi menoleh ke kanan dan terkejut.

“Eh, Mang Saliman? Betul?” berkata Dewi ketika orang itu telah berdiri di dekatnya. Gadis ini pun lalu berdiri.
Pria ini hanya tersenyum tawar menjawab sapa sang dara. Raut wajahnya mengabarkan sebuah keprihatinan yang mendalam pada situasi yang dialami gadis di depannya.
“Aku turut sedih dengan peristiwa yang sampean alami neng.” berkata Saliman. Setelah membuang nafas dia kembali membuka mulut. “Maafkan saya diam-diam mendengarkan cerita sampean tadi di rumah. Saya ingin menceritakan riwayat almarhum kalau neng berkenan…”

“Terimakasih atas perhatiannya Mang, silahkan.. Siapa tahu cerita Mang Saliman ada gunanya…” menyahuti Dewi.
Saliman mengangguk dan mulai bercerita. “Sebelum saya bekerja dengan Bibi Siti, saya bekerja pada keluarga Djarot kakaknya sebagai pesuruh untuk pekerjaan-pekerjaan apa saja di rumah. Sudah sejak Diangga bayi saya menjadi kuli keluarga Djarot, sampai saya dianggap keluarga mereka sendiri. Hingga dua tahun lalu, malapetaka menimpa keluarga beliau. Waktu itu desa ini sedang mengadakan Pemilihan Kepala Desa. Djarot Pangestu mencalonkan diri. Saingannya cuma satu, yakni Samkosim. Saya ketahui Samkosim berlaku licik. Dia membagikan amplop berisi uang kepada warga agar memilihnya. Namun tidak dinyana Djarotlah yang menang. Suara yang dia dapatkan jauh mengungguli lawannya. Entah kenapa, mungkin karena warga percaya, Djarot adalah orang yang jujur.”

“Dua hari setelah beliau menang, beliau mengajak Istri serta Diangga anak semata wayangnya untuk merayakannya dengan liburan ke curug. Disamping masih di desa Karangtengah, juga tak butuh banyak biaya.
Saat itu mereka hendak mengambil foto dengan meminta bantuan seorang pengunjung. Entah siapa dan dari mana tiba-tiba seseorang menembak mereka secara biadab. Mereka mati tergeletak di undakan curug dengan jantung bocor…”
Sampai di sini Dewi tercekat. “Jadi mereka meninggal secara bersamaan…?” tanya gadis ini dengan mata nyalang.
Saliman membenarkan. “Lihat saja tanggal kematian mereka neng…”
Sang dara pandangi tanggal yang tertera di tiga nisan tersebut. Dia terkesiap, dia baru menyadari, tanggal kelahiran mereka berbeda namun tanggal kematiannya sama satu sama lain. Di sisi lain Dewi juga baru tahu penyebab kematian Diangga yang tak pernah dia tanyakan pada Bibi Siti sama sekali.
“Seorang pengunjung yang dimintai tolong Djarotlah yang menceritakan kronologi itu neng… Dia datang saat pemakaman sekaligus mengembalikan kamera yang sempat dipegangnya…” ujar Saliman pula.
Dewi mengangguk tanda mengerti. Namun kata-kata Diangga dalam surat masih mengganjal di hatinya.

Saliman kembali melanjutkan ceritanya. “Setelah kematian satu keluarga itu saya bekerja di rumah Bibi Siti. Selama dengan Bibi Siti, Diangga sering menemui saya tengah malam. Awalnya saya merasa takut dan kaget. Namun karena saya begitu dekat dengannya sejak kecil, rasa rindu mengalahkan rasa takut saya. Saya senang bisa melihatnya lagi. Namun kedatangan Diangga membuat saya bertanya-tanya, apa maksud dia muncul dari alamnya?. Dia menerangkan bahwa dia muncul untuk mencari siapa pembununya dan akan membalaskan sakit hatinya. Saya terkejut memdengarnya dan sempat melarangnya melakukan hal itu. Namun dia bersikeras. Suatu malam dia menemui saya dan mengatakan telah menghabisi nyawa pelaku itu…”

“Siapa orang itu Mang Saliman?” menyelang Dewi.
“Dirno.”
Dewi menjerit. Dia ingat peristiwa di depan penginapan malam itu.

“Namun Dirno hanya orang suruhan neng…” kata Saliman pula, dia menyambung lagi. “Dua malam lalu Diangga kembali datang. Dia bilang telah membunuh orang yang menyuruh Dirno. Dia telah membalaskan sakit hatinya kepada sumber malapetaka otak pembunuhan biadab itu sendiri. Saya terbelalak ketika dia bilang orangnya adalah Samkosim, Kepala Desa Karangtengah… Lihatlah ke sana neng, Samkosim dikuburkan kemarin…”

Dewi terperangah mendengar nama orang terakhir itu. Pandangannya diarahkan ke kuburan yang ditunjuk Saliman. Kuburan itu terletak lima puluh meter sebelah kiri dari tempatnya. Nampak beberapa orang tengah berziarah mengelilinginya.
“Nah itulah yang dapat kuceritakan padamu neng. Di luar itu sampean sudah tahu dan mengalaminya sendiri. Sekarang saya mohon pamit hendak melanjutkan pekerjaan saya…”
“Terimakasih banyak Mang Saliman. Penjelasanmu sangat berharga untuk saya…”
Saliman lalu melangkah pergi.

Semua terasa terang sekarang. Dewi melipat surat Diangga lalu menyimpannya kembali. Sebelum pulang, dia pegang nisan Diangga dan berucap pelan. “Selamat tinggal Diangga…”

Cerpen Karangan: Ari Irawan
Facebook: facebook.com/arie.cminor

Cerpen Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 5) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Perpustakaan

Oleh:
Sudah dua minggu lebih Adit menjadi siswa baru di SMKN 1 BLORA, dan hari ini hari selasa, hari yang sulit untuknya, karena hari ini ada pelajaran matematika dan ditambah

5 meter

Oleh:
Sak.. kau mulai lagi menatapku, masih menatap dengan tatapan yang sama. Tatapan yang terus menyakitiku. Sekian lama aku mencoba melupakan tatapan itu, kini kau hadir kembali masih dengan tatapan

Catatan Untuk Dia

Oleh:
Minggu,9 Oktober 2011, 04:47 siang Baru saja aku terbangun dari tidur nyenyakku, lalu aku melihat jam dinding telah menunjukan pukul 04:38 siang, seketika aku langsung teringat kalau hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *