Lari Dari Vila

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 29 August 2014

Liburan tengah semester telah dimulai. Sma Esok cerah mengadakan rekreasi bersama menginap di sebuah villa di luar kota. Namun dari siswa yang ada hanya 50 orang yang mendaftarkan diri. Mereka akan berangkat 3 hari lagi, dan menginap 3 hari 2 malam. Senin pagi mereka sudah dijadwalkan pulang. Mereka ditemani oleh dua orang guru study dan seorang guru olahraga. Diantara 50 siswa itu Andini yang paling mencolok, parasnya yang ayu dan keramahannya membuat setiap kakak atau adik kelas yang melihatnya selalu terpukau. Dan juga Rio, anak paling tajir di sekolah itu dia juga tergila-gila akan Andini. Mereka berdua teman satu kelas. Ada pula Yoga, dia adalah adik kelas yang paling berpotensi mendapatkan Andini. Dari kakak kelasnya juga ada, namanya Doni. Doni yang merupakan kakak kelas yang satu jurusan dengan Andini, jurusan IPA.

Hari yang ditunggu telah tiba dan mereka semua berkumpul di halaman sekolah untuk mendapat pengarahan, Mita anak kelas 10 itu terkihat menggandeng erat si Rio. Mereka tampak mesra sekali. Namun Rio tetap memperhatikan Andini dan sesekali mencari-cari perhatian padanya.

Andini yang hari itu memakai kaos berwarna biru itu hanya diam saja. Memang, telah berkali-kali Rio menyatakan cintanya kepada Andini, namun jawaban yang sama yang selalu keluar. Sebuah tolakan halus yang sedikit menyiksa.

Pengarahan pun selesai. Pak Joko yang selaku guru olahraga mempersilahkan anak-anak didiknya untuk naik ke bus. Saat Andini masuk sontak para jejaka itu berebut untuk bisa duduk di sebelah Andini. Dan pria yang beruntung itu adalah saya sendiri. Perkenalkan aku Ariel Kristant, bukan siapa-siapa di kelas, apa lagi di sekolah. Aku hanya siswa yang beruntung dapat masuk ke sekolah mewah itu, apalagi bisa sekelas dengan Andini.

Aku yang sudah duduk di baris ketiga di dekat pintu bus yang depan. Tiba-tiba saja, Andini menyuruh aku geser soalnya dia minta untuk duduk dekat cendela. “Ril, jangan pindah ya, gua mau duduk ama loe, ok” katanya sambil mengedipkan mata. Aku menangkap kedipannya dan mengartikannya.

Rio datang sambil menghujat-hujat. Aku tak mempedulikannya. Yang aku tahu hanyalah Andini telah ada di sampingku. Bus pun berjalan dan ku perhatikan Andini menikmati musik yang dialunkan melalui headsetnya. Aku perhatikan senyumnya, aku perhatikan suaranya yang samar-samar saat menyanyikan lagu yang didengarnya. Dan wow, indah banget, lebih indah dari pemandangan yang kini membentang di jendela bus.

Perjalannan yang diperkirakan membutuhkan waktu 10 jam ini sungguh membuaatku lelah, namun setidaknya sedikit terobati berkat adanya Andini. Dan kini sudah jam 7 malam, semua yang ada telah berada di mimpinya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan Andini, karena saat aku menoleh ke arahnya dia telah terlelap dan bersandar pada jendela. Aku lantas, mencopot jaketku dan menyelimutkannya padanya, karena kurasa suhu bus itu Dingin banget. Aku melihat Andini memakai pisau lipat sebagai kalungnya. Lalu tak sengaja saat aku melihat keadaan anak-anak yang lain, aku melihat ada seseorang yang tak terlelap dan kurasa mengawasiku. Hmm, aku tak seberapa mengenalnya.

Jam sudah menunjukan angka 8, kurang dua jam lagi untuk sampai ketujuan. Dan tak kusangka kini Andini merubah posisi sandaran kepalanya ke pundakku. Kini aroma harum rambutnya tercium jelas olehku. Keharuman yang khas, dan aku yakin dia memakai sampho PENTHINE. Dan aku biarkan rambut panjangnya terurai di wajahku. Tak pernah sedekat ini aku dengan Andini.

Bus pun berhenti, dan aku pun membangunkan Andini, dia terbangun dan tersenyum seraya berterima kasih padaku. Dia menggandengku, mengajak ku turun. Dan aku iyakan permintaannya.

Kini kita telah melihat villa yang begitu mewah sangat terawat namun terlihat sangat menyeramkan

Disaat malam seperti ini. Ku rasakan Andini kini lebih erat menggenggam tanganku. Walau banyak mata-mata yang iri padaku, aku tak mempedulikannya. Memang sekilas menyeramkan, tapi para guru-guru itu menyuruh kami masuk, karena sebentar lagi langsung acara bagi-bagi kamar. Untungnya aku tak sekamar dengan Rio, syukurlah.

Vila itu memilliki 6 kamar dengan kamar mandi berada di dalam. Malam itu sangat Dingin.

Dan tanpa aku sadari hape ku berdering tanda sms masuk. Rupanya Andini mengirimku sms.
“Ril, temein aku dong takut nih”
“Kan ada Rio ya tho” balasku melalui sms
“kok Rio terus sih”
“nah terus, kenapa harus aku?”
“nda mau, ya udah”
Aku mencoba untuk menyusul ke sembilan teman yang sekamar denganku, menyusul pergi ke pulau kapuk. Namun sia-sia karena tiba-tiba dari dalam kamar mandi terdengar suara shower air yang menyala. Gemericik suaranya membuat aku takut, apa lagi tak ada temanku yang pergi ke kamar mandi.

Aku bangunkan Anton yang kebetulan ada di sebelahku. Anton yang merupakan adik kelasku itu bangun dan turut mendengarkan hal yang sama. Dan sontak saja aku dan Anton membangunkan yang lain.

Semua terbangun dan mencoba menebak penyebabnya dan saling tunjuk untuk memeriksa keadaan dalam kamar mandi itu. Namun belum sempaat memeriksa suara air itu menjadi kencang diiringi suara ketukan-ketukan mengetuk pintu kamar mandi itu yang terbuat dari kayu. Begitu kencangnya.

Kami semua meloncat dari kasur dan berebut ke luar kamar. Kami kami memutuskan untuk berada di ruang tamu sementara hingga tertidur.
“Ril, bangun. Cepet…”
“ahh, lima menit lagi”
“lho, cepet bangun kok”
“haduh, diem deh”
“byuuurrr” kini satu gayung penuh air berpindah ke wajahku
“eh, Andini. Tega bener nyiram aku..”
“bukannya tega Ril, tapi lihat loe tidur dimana?”
“Astaga…”
“cepet gih turun”
“iiyyyaaa”

Aku segera turun dan terheran, karena semalam jelas aku tertidur di ruang tamu. Mengapa sekarang ada di meja makan di dapur. Lengkap dengan pisau dan garpu makan yang bersemayam di dekat kepalaku.

Aku berjalan ke ruang tamu dan melihat yang lain masih tertidur disana. Andini berjalan di sebelahku dan kini menggandengku.

“ngapain sih anak ini” batinku dalam hati
“Ril, loe kok diem aja sih?”
“abisnya dari kemaren sikapmu aneh banget sama aku.”
“aneh gimana? gua biasa aja tuh.”
“aneh banget, kenapa kamu maunya duduk sama aku? Dan sekarang nemenin aku dan bukan yang lain?”
“hmmm… Ril, mau tau alasannya?”
“ya mau, apa alasanmu”
“hmmmm, loe mandi dulu tapi” kata Andini dengan wajah mengejek.
Aku segera bergegas masuk ke kamar, namun saat mau membuka pintu aku menjadi gugup dan takut, karena kejadian semalam.

“he, cepet loe masuk” bentak Andini yang kebetulan masih di sampingku
“aku takut Ni, semalem ada kejadian aneh di dalam”
“hmm, Ril, aku juga ngalamin hal yang aneh juga semalam”
“lho iya tha?”
“iya, loe mau tau nda?”
“iya apa? Ceritain ke aku”
“hmmm… ini aneh banget Ril, gua kangen loe. Hahahaha”
“lhe, ini serius yoo. Aku nda jadi mandi deh.”
“berarti gua ga jadi ngasih tau alasanya dong.”
“ya jangan gitu lha..”
“eh, ngobrol di teras yuk, mumpung yang lain belum bangun”

Belum sempat menjawab Andini sudah menarik tanganku dan kini kami berdua menuju teras villa. Teras itu menghadap ke arah gunung. Jadi seolah-olah vlla berhadapan dengan gunung langsung. Udara Dingin sedikit demi sedikit menghipnotis. Kami berdua duduk di kursi teras. Lagi lagi Andini menggenggam tanganku. Kali ini aku balas genggamannya, Andini menatapku dan aku tangkap sesuatu. Sesuatu yang beda dari gadis ini.

“Din, kamu sudah sering gini ya sama cowok?”
“gini, maksud loe?”
“ya berduaan, terus pegangan tangan, terus…”
“ga pernah kok” sahutnya cepat
“nah terus kok sama aku kamu gini”
“hmm, gua suka loe Ril”
“hah?”
“iya, gua suka. Loe yang terlalu lama diem.”
“eh, lihat tuh, mataharinya indah banget ya” kataku sambil menunjuk matahari; mencoba mengalihkan perhatian.

Andini tak menghiraukannya dan kini dia bersandar di pundakku. Lagi-lagi harum aroma rambutnya membuktikan bahwa dia keramas lagi pake shampo PANTHINE. Aku belai rambutnya dan sesekali dia menatap mataku.
“woi, enak banget ya pacaran di sini” ledek Rio dengan wajah cemburunya
“akh diem loe.” jawab Andini dengan sewotnya
“Rio, kamu kok di sini cayang..” Mita datang dan memeluk Rio dari belakang
“Tuh ada Mita, sana pacaran sendiri, jangan ganggu gua.” celetuk Andini
Mita menarik tangan Rio sedangkan Rio tetap ingin bertahan di sana. Hahaha, mereka
berdua bagaikan ibu yang menyuruh pulang anaknya yang sudah lama main, tapi anaknya ga mau pulang. Tapi akhirnya, mereka berdua berlalu.

“Kris, satu hal lagi yang harus loe ngerti”
“Apa Din?”
“hmm, loe bau. belum mandi. Hehehe”
Aku secara refleks memeluknya dan mencari hidungnya, berusaha untuk memencetnya. Gila, dia cuman ketawa doang waktu aku pencet hidungnya.
“BBRRAAAKKK”
“eh, apa itu Ril?”
“Pintunya ketutup sendiri”
“eh, padahal nggak ada angin ya?”
“coba aku periksa.” kataku diiringi langkah mengecek pintu yang kini sudah terbuka
kembali.
“wah, kok aneh banget ya” Gumamku dalam hati
“Ril, ayo makan”
“ok Din, kamu masuk dulu deh, aku ntar nyusul”
“ga mau, maunya sama kamu”
“ih, manja bener”

Kami berdua masuk dan mendapati semua anak yang lain telah menikmati masakan yang telah dimasak Bu Nuri. Kami sudah mengambil piring dan hendak mengambil lauk.
“Ril, gua nda suka lauknya. Kita ngemie aja yuk” katanya sambil tersenyum
“ah, kamu ini ada-ada aja.”
“gak papalah, ya.. gua tiba-tiba ngidam mie”
“ihh, ngidam, mang hamil kamu? Haha”
“kan kamu bapaknya? Wwkwkwkwk”
“ya udah, masak mie yuk”

Aku tah lama berdiam dalam Dingin
aku menunggu waktu mempertemukan
biarkan kini waktu membalut rindu
biarkan aku terlarut denganmu
-Ariel Kristant-

Jam menunjukan pukul dua siang. Namun kali ini lebih aneh lagi, karena semua anak menjadi pendiam. Terutama si Rio yang biasanya merupakan trouble maker, kini menjadi anak yang diam dan hanya duduk menonton tivi di ruang tamu. Begitu juga dengan para guru, kini sikapnya aneh.

“Ril, kok semuanya nyeremin ya.”
“iya Din, takut aku jaDinya.”
“Ril, pulang yuk gua jadi takut banget.”
“iya, tapi yang lain gimana?”
“biarin aja deh”
“ya udah ambil tasmu, aku ambil tasku. Kita pergi” tegasku
“ok Ril”

Tapi saat aku dan Andini sudah bersiap membuka pintu dan hendak pergi, tiba-tiba semuanya berdiri dan pergi menuju kami berdua, aku melihat mata dari tiap-tiap orang itu menjadi putih dan diiringi dengan tawa mengerikan. Tawa yang khas bagiku.
“Kyyyaaaaa…. Ril… ayo pergi, gua takut bangat..”
“iya Din, tapi pintunya gak bisa di buka. Aduh”
“kalian tak bisa keluar dari sini. Kalian adalah Tumbalku.” teriak seorang wanita
“si.. si.. siapa itu?” tanyaku
Namun dia hanya tertawa. Dan aku mengenalinya. Itu adalah Bu Nuri, dan kini penampilannya acak-acakan hendak melempar pisau ke arahku. Begitu pula dengan siswa-siswa yang saat itu seperti zombie. Mereka semua semakin mendekat. Aku dan Andini semakin terpojok. Aku lihat pintu belakang terbuka. Aku ambil tasku dan menggenggam tangan Andini. Aku terobos barisan kawanan kawan yang kini menjadi makhluk aneh. Namun kali ini Bu Nuri yang mendekat dan membawa seperti dupa, lalu memnaburkannya ke depan muka Andini. Lalu Andini seketika itu tertidur. Aku memukul Bu Nuri dengan tasku. Namun hal itu tak membuatnya terluka. Malah Andini yang dibawanya pergi ke lantai dua.

Aku yang menyadari bahwa kini posisiku diambang maut mencoba melawan sekuat tenaga. Walau ada yang memegang kakiku, mencekikku. Aku tak peduli. Aku hanya melawan dan mencoba menerobos untuk menyelamatkan Andini.

Kini aku sudah berada di tangga hendak naik. Namun pada saat aku ada di anak tangga yang ke 5 dari bawah, salah satu dari mereka menyeretku hingga aku terjatuh. Aku rasakan punggung ini sangat sakit. Dan mereka mulai mencoba membunuhku dengan tangan kosong.

Aku mencoba bangun, namun tak bisa. Sejenak aku seperti membiarkan mereka membunuhku, namun aku mendengar Andini
berteriak lalu menjerit. Aku kali ini berusaha untuk bangkit dan kali ini aku bisa bangun. Aku naiki tangga itu dan aku menemukan bahwa Andini sedang disiksa oleh Bu Nuri yang kini terlihat lebih muda dan cantik sekali.

Entah mengapa guru yang sebenarya berumur 60 tahun dengan keriput di wajahnya kini menjadi seseorang yang sangat mempesona.

“Riiilll, tolong gua…” teriak Andini membuyarkan lamunanku
Segera aku menuju Andini yang terikat di kursi, aku mencoba melepas ikatannya namun Bu Nuri yang membawa benda seperti cambuk itu meradang dan mencambuk aku. Aku terjatuh saat aku berada di depan Andini. Tubuh ku terhempas layaknya memeluknya.
“Ril, tolong gua. Gua takut banget. Gua sakit” bisik Andini
“Din, aku akan membawamu keluar dari sini” jawabku dengan tertatih
“AAAKKHHH…” aku dicambuknya lagi
“Rill loe gak papa?”
Aku tak menjawab pertanyaan Andini. Karena mataku tertuju pada kalung pisau lipat pada leher Andini. Aku meraihnya dan seketika itu aku beralik dan menghujamkannya pada pangkal leher Bu nuri dan bu Nuri seketika itu reflek mencekikku. Kini aku cabut pisau lipat itu dan menusukkannya pada perutnya. Aku sayat perutnya lalu darah merah segar mengucur deras membasahi pisau dan tanganku. Namun bogem mentah mengarah pada pelipisku yang membuat aku terjatuh.

Perempuan yang semula terlihat cantik itu kini menjadi sangat menyeramkan dengan darah di sekujur tubuhnya. Bu Nuri segera mencabut pisau lipat dari perutnya dan berjalan ke arahku. Semakin dekat, dan kini tangannya telah bersiap untuk menghujamku. Aku bangkit dan menangkap tangannya dan berusaha untuk merebut pisau itu. Kita saling mendorong, sesekali aku melihat Andini menutup matanya, mungkin dia takut, atau juga tak tega melihatku. Aku mendorong Bu Nuri dan tak kusangka dia terpelanting ke jendela dan jatuh dari lantai dua. Aku menghapiri jendela itu dan melihat ke bawah. Aku melihat tubuhnya tertancap pada ujung pagar yang runcin. Ujung pagar itu bahkan menembus tubuhnya. Banyak darah yang tercecer di sana.

Segera aku membebaskan Andini dan mengajaknya untuk pulang. Dia menyuruhku untuk mengganti baju karena dia sangat takut terhadap darah. Setelah ganti baju, kami berjalan keluar dan tak sengaja melewati dapur yang dan dengan iseng melihat isinya. Ternyata isinya makanan bercampur dengan binatang-binatang yang menjijikan.

Kami melanjutkan perjalanan kami, namun saat melewati ruang tamu, semua peserta yang ada telah tewas. Dari mulutnya keluar busa seperti keracunan. Andini lantas menarikku keluar dari villa itu. Kami pun keluar dan segera mencari tumpangan untuk kembali ke kota asal kami.

“Ril, loe sayang gua ya?”
“kenapa kok kamu tanya gitu?”
“habisnya kamu tadi nyelamatin aku” ujar Andini dengan diiringi senyum
“hmm, mungkin aja” jawabku dengan nada mengejek
“Ril loe gak nembak gue?”
“halah, walaupun nda aku tembak, kamu kan tau kalo aku sayang kamu”
“ahh, loe ga romantis” jawabnya sambil memelukku

Kami pulang dengan menumpang mobil salah seorang penduduk di sana. Dan menceritakan apa yang terjadi. Dan dibenarkannya bahwa di dalam villa itu sering terjadi hal-hal yang menyeramkan. Dia juga berujar bahwa dia salah satu orang yang juga berhasil lari dari villa itu. Aku sangat bersyukur bisa keluar dan juga menemukan seseorang yang menyayangiku.

“kamu, kamu, kamu, kamu yang aku ingin hanya kamu, kamu, kamu, kamu yang ku sayang selalu”
-Ariel Kristant-

THE END

Cerpen Karangan: Ariel Kristant
Facebook: Ariel Kristant
nb: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat atau nama. Penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Hahahahaha.. 😀

saya Ariel Kristant berasal dari Sidoarjo, jawa timur. saya telah menulis banyak cerpen salah satunya adalah BILA KANCIL HIDUP DITAHUN 2011 bisa anda cari di google. untuk menghubungi saya anda bisa menghubungi 08813298828 / 323D2B47

Cerpen Lari Dari Vila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Tugas dan Cinta Polri

Oleh:
Inilah sebuah kisah cinta dari salah seorang anggota POLRI, sebuah kisah cinta dimana harus ia bagi dengan tugasnya dalam mengabdi dalam negeri. Sebut dia Gufron, Muhammad Gufron Firdaus yang

Gadis Berayun

Oleh:
Aku Rini. Aku masih duduk di bangku SMA. Aku adalah orang pemurung dan pendiam di kelasku tepatnya kelas XI-2. Mereka sering menjauh dariku.. mungkin karena aku memiliki kemampuan yang

The Book

Oleh:
“ohayou Hinako-chan!” sapa seorang anak. “oh.. Ohayou Nii-chan!” balas temannya Hinako-chan. “hei… Hei! Tadi aku menemukan buku ini di perpustakaan, karena penasaran dan emang lagi kepingin baca jadi kupinjam

Wanita Di Hari Jumat

Oleh:
Pohon itu akhirnya tumbang. Pagi ini hampir semua warga Kampung Sekar datang untuk melihat pohon besar itu, pohon yang menurut warga telah berusia lebih dari seratus tahun. Tumbangnya pohon

Butiran telur

Oleh:
Rara berjalan gontai menyusuri lantai atas gedung kantor. Rara berjalan dengan tatapan yang kosong, di tangannya memegang sebuah kotak berwarna hijau. Sembari ia berjalan lambat dan sesekali rambutnya berterbangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lari Dari Vila”

  1. novia sekar ayu andini says:

    serem dan menegangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *