Lavender Town (Song Fiction)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 17 December 2015

‘Selamat datang di dunia orang mati
Sekarang aku akan tidur selamanya
Jangan bangun, tolong!
Jangan tinggalkan aku di sini selamanya’

‘Kau meninggalkan aku
Selamanya..
Sekarang kau jauh dariku..
Bayanganku akan mengejarmu untuk selama-lamanya..’

Lagu itu terus mengalun, bersama, bersaing dengan suara gemerisik air hujan dan kilatan petir yang mengamuk. Lagu aneh dengan suara penyanyi yang membuat bulu kuduk berdiri. Lagu yang menurut masyarakat sekitar dapat menyebabkan mental seseorang terganggu ataupun menyebabkan bunuh diri. Lagu terkutuk, yang usut punya usut adalah lagu untuk memanggil ‘mereka’ dari alam sana, bermain bersama ‘mereka’, hingga ‘mereka’ menyeret orang itu untuk menjadi bagian dari ‘mereka’.

Seorang gadis, duduk termenung di ruang tengah yang terlihat sedang mendengarkan lagu. Ya, lagu itu. Ia mendapatkan lagu itu karena keisengannya, memang bodoh. Pandangan matanya kosong. Entah keberapa kalinya ia menjadi sasaran amarah sang Ibu akibat ketahuan mendengarkan lagu terkutuk itu.
“Dengarkan sekali lagi.. Lavender Town.. sekali lagi, lagi..” Entah sejak kapan lagu itu terus bertengger di playlist favoritnya, bahkan berada di urutan pertama. Lagu itu sering ia dengar, tak peduli dengan suara-suara aneh yang akan muncul setelah ia mendengar lagu itu. Halusinasi suara, itu hal yang biasa baginya.

“Lagi.. sekali lagi..”

Ia tahu, lagu itu membuat dirinya semakin ke sini semakin terganggu. Gadis itu menjadi sering melamun. Ia tak dapat lepas dari alunan creepy lagu itu. Lagu itu telah menyatu dengan dirinya.
“Rin! Hapus lagu itu sekarang juga!” Sang Ibu muncul tiba-tiba dari ambang pintu tengah dengan wajah garangnya. Matanya menatap putri semata wayangnya tajam. Ia lelah, mengingat sudah berapa kali ia melarangnya untuk mendownload ataupun memutar lagu aneh itu.

“Aku suka lagu ini!” Kata Rin dingin, wajahnya datar.
Sang Ibu dengan cepat menghampiri Rin lalu menampar pipinya. Earphone Rin copot dan terjatuh.
“Gila kamu ini!” Teriak sang Ibu, matanya berkaca-kaca.
Rin yang masih dengan wajah datarnya lagi-lagi berkata, “Aku suka lagu ini!” Ia beranjak dati posisi duduknya, manatap mata sang Ibu serius.
“Aku suka lagu ini, Bu!”

“Lavender Town.. dengarkan sekali lagi.. Lavender Town,”
Pada hari-hari berikutnya, Rin masih memutar lagu itu dengan volume full. Ia tak mempedulikan Ibunya yang terus-menerus menggedor pintu depan tak karuan. Rin mengusir Ibunya. Rasanya, gadis itu sudah terlalu muak dengan amarah yang terus-terus dan terus saja diluapkan sang Ibu.

‘Selamat datang di dunia orang mati
Sekarang aku akan tidur selamanya
Jangan bangun, tolong!
Jangan tinggalkan aku di sini selamanya..’

Rin adalah seorang gadis pemurung. Ia sangat tak suka dengan orang yang selalu mengatur-ngatur kehidupannya, termasuk Ibunya. Sosok Ayah di mata seorang Rin, hanyalah kepalsuan. Ia tak punya Ayah, atau lebih tepatnya, ia berpikiran, Ibunya selalu berbohong setiap ia menanyakan ‘Ayah di mana?’. Pendidikan Rin? Jangan tanya! Karena Rin tak suka diatur dan ingin hidup sendiri, ia berhenti sekolah. Berhenti melanjutkan pendidikannya yang sebentar lagi akan berlanjut ke jenjang SMA.

Kembali pada keadaan, hari demi hari, ketukan pintu yang disertai suara orang meminta tolong semakin terdengar lebih keras daripada tempo hari lalu. Apa mungkin itu sang Ibu yang ingin masuk? Sepertinya Rin ragu, mengingat sudah seminggu sejak ia mengusir Ibunya. Rin bukanlah gadis kasar yang tidak peduli pada orangtua. Ia hanya tak suka diatur, ia ingin mandiri. Itu saja!

‘Kau meninggalkan aku
Selamanya…
Sekarang kau jauh dariku..
Bayanganku akan mengejarmu untuk selama-lamanya..’

Rin tak ke luar rumah sejak ia mengusir Ibunya. Ia ada di dalam, sendirian, tak kesepian, dalam kegelapan. Baiklah, sekarang pikiran Rin sudah tak waras lagi. Ia seperti mengonsumsi barang yang membuatnya ketagihan. Tak henti ia memutar lagu itu terus-menerus. Ia akan sakit jika tak memutar lagu itu meski semenit saja.
“Lavender Town. dengarkan sekali lagi..” Katanya sayup.
Rin pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu, pandangannya masih kosong. Diambilnya tali dan pisau kecil di meja makan, lalu kembali ke ruang tengah.

Sret! Sret!

“Lavender Town.. sekali lagi.. dengarkan, sekali lagi!”

Gadis itu mengukir guratan melintang di tangan kanannya menggunakan pisau kecil. Ia mengikat lehernya dengan tali, masih longgar. Darah segar perlahan mengalir dari kulit pucat pasi itu. Dan selalu, pandangannya tetap kosong seperti biasa. Ia mengambil kursi kecil, lalu mengikat ujung tali yang satunya ke sebuah benda yang ada langit-langit. “Kau meninggalkan aku selamanya.. sekarang kau jauh dariku..” Senandungnya seraya mempersiapkan posisi.

Krek!

Sekarang Rin dapat menikmati ayunannya sendiri dengan leher yang diikat tali. Badannya berayun perlahan, tak ada rasa sakit sama sekali yang tersirat di wajahnya. Dirasa masih bisa bernapas, kegiatan terakhirnya, ia hanya perlu ********* kedua bola matanya dengan pisau kecil. Lalu ia akan bahagia, abadi bersama lagu kesayangannya. “Lavender Town, dengarkan sekali lagi.. Lavender Town, aku tak dapat mendengar lagi..” Gadis itu mati, di tangan lagu aneh tersebut. Membiarkan tubuhnya berayun anggun diiringi lagu Lavender Town yang masih mengalun, dan entah kapan lagu itu akan berhenti.

The End

Cianjur, 12 Des 2015

Cerpen Karangan: Gita Amelia
Blog: gitamonogatari.blogspot.com
Gita Amelia namanya. Hanya seorang gadis berumur 13 tahun yang berusaha menggapai cita-citanya. Menjadi penulis sejak tahun 2014. Mulai menulis di laptop untuk sekedar memenuhi folder. Masih amatir juga, jadi harap maklum. Dan bagi yang punya Wattpad, silahkan follow @GhitaAkachan untuk membaca ceritaku yang lainnya.

Cerpen Lavender Town (Song Fiction) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Riddle Mungkin

Oleh:
Tasya melirik jam di dinding. Sudah jam 12 malam lewat. Sudah terlalu malam juga. “Lebih baik, kusudahi dulu saja perkerjaanku.” Gumam Tasya. Tasya mematikan laptopnya. Mengemasi semua barang yang

Pembantaian 3

Oleh:
Aku merangkak dalam gelap! Ketakutan semakin mencekam di lantai 3 itu, Dimana ruang kosong penuh misteri terhampar disana. Tak ada yang tahu, Mengapa hanya lantai itu yang dikosongkan! “Serius

Misteri Rumah Angker

Oleh:
Namaku Anggi Alya Putri biasanya teman-temanku memanggilku Anggi. Aku mempunyai seorang tante yang sudah 13 tahun menikah, dan mempunyai 3 orang anak yang lumayan berbakat. Mereka begitu harmonis. Sampai

Serangan Lalat

Oleh:
Teriakan yang menggegerkan satu kampung. Pagi itu Lastri terbangun dan melihat suaminya telah tewas dengan kepala yang berlumuran darah. Mayat ditemukan di ruang tengah dengan kondisi mayat yang dikerumuni

Balas Dendam

Oleh:
Namaku Silvi. Aku bersekolah di SMA unggulan Surabaya, sekarang aku sudah kelas XII. Aku mempunyai teman yang bernama Rey. Rey suka padaku. Dia pernah menebakku tapi aku menolaknya. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Lavender Town (Song Fiction)”

  1. rizki says:

    keren juga 🙂

  2. ayu endahh y says:

    baguss;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *