Manusia Boneka

Judul Cerpen Manusia Boneka
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 29 September 2016

Tony bukanlah seorang pecandu, Usianya sangat muda, sejak kecil Tony tidak terlalu banyak bicara, dia lebih suka bemain bersama boneka-boneka koleksinya. Dia orang yang mandiri selalu tinggal sendirian dan hidupnya jauh dari keluarga dan teman-temannya.

Suatu hari Tony pulang kerja dari kantornya, dia memutuskan berjalan kaki ke rumahnya dari pada menggunakan kendaraan. Baru beberapa meter berjalan, pandangannya teralihkan pada sebuah toko boneka Dollest yang baru buka. Tempat itu sangat dekat dengan tempat kerjanya. Tony lalu mampir ke toko itu. Dilihat dari luar, Bangunan toko itu tidak tampak besar, sisa-sisa zaman belanda masih dapat dilihat dari ornamen-ornamen khas eropa di bagian depan gedung. Dinding-dindingnya dicat putih seperti aslinya. Tony masuk ke dalam toko itu. Begitu di dalam, Tony terpukau melihat bagian dalam toko. Permukaan dindingnya didominasi menggunakan wallpaper desain vintage, ada juga barang seperti ban mobil dan tong sampah dibalut kreativitas menjadi meja dan kursi untuk para pengunjung. Namun yang lebih menarik perhatian Tony adalah macam-macam boneka yang disusun rapi pada lemari kayu. Ada boneka ningyo dan daruma dari jepang, dan matrashka dari rusia.

Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya. “Ada yang bisa kubantu?” Tony terkejut, lalu melihat pria tua itu.
“Oh!” Seru Tony. Pria tua itu memandang Tony sejenak lalu tersenyum.
“Kulihat anda begitu suka boneka. Kenalkan, saya Antonio pemilik toko ini”
“Tony pak, bonekanya bagus-bagus” kata Tony yang terus saja memandangi boneka-boneka sekelilingnya.
“Semuanya didatangkan dari seluruh dunia. Tiap negara memiliki budayanya masing-masing termasuk boneka juga… Anda mau saya bantu mencarikan boneka yang anda suka?”
“Boleh, saya mau lihat-lihat dulu” kata Tony.

Antonio lalu mengajak Tony berkeliling toko. Tony sempat bingung dalam memilih jenis boneka yang ingin dibelinya. Setelah memilah-milah Tony akhirnya membeli boneka kayu. “Itu pilihan yang bagus” kata Antonio. Tony pun lalu mengambilnya dan memesan tiga boneka terbaru.

Selama beberapa minggu, Tony selalu saja berkunjung ke Dolest. Dia semakin sering bertemu Antonio ketika membeli boneka. Pada hari libur, Tony berkunjung ke Dollest, seperti biasa Antonio menyambutnya dengan ramah. “Nah! Apa yang pak Tony butuhkan sekarang?” Kata Antonio.
“Aku mau Kokhosi, tidak! Yang baru masih ada?” Antonio berpikir sejenak lalu menggeleng perlahan. “Wah sayang, belum ada kiriman barang sejak kemarin” Tony begitu kecewa lalu memutuskan melihat boneka lain. Namun tiba-tiba Antonio memanggilnya.
“Tunggu dulu pak Tony!” Kata Antonio.
“Ada apa?” Tanya Tony.
“Sebenarnya, saya masih punya simpanan boneka yang benar-benar unik. Tapi bukan untuk dijual”
“Kenapa?” Tanya Tony penasaran. “boneka ini masih ada kekurangannya, jadi ada bagian yang masih belum sempurna..”
“Apa yang kurang? Boleh saya melihatnya? Antonio mengeleng.
“Maaf, boneka unik ini bukan untuk diperlihatkan, mungkin ada pengecualian untuk pak Tony karena sudah menjadi pelanggan toko saya”
“Benarkah? Jadi saya boleh melihatnya”
“Saya jelaskan semuannya nanti malam, sekarang saya sedang bekerja, kalau Pak Tony berminat, kembali saja nanti malam jam tujuh”
“Saya sudah pasti kembali pak Antony” kata Tony.

Setelah pulang dari Dollest, Tony lebih banyak menghabiskan waktunya seharian dengan tidur, makan dan menonton tv. Setelah memasuki jam delapan malam, Tony sudah siap berangkat menuju Dollest dengan kendaraan umum. Begitu tiba, Tony melihat lampu-lampu di dalam toko sudah padam namun pintunya tetap terbuka. Tony mulai memasuki toko, begitu di dalam Tony tidak dapat melihat apapun akibat gelap gulita. Tiba-tiba seseorang mencekram pundaknya dari belakang. ketika Tony menengoknya, ternyata Antonio yang berdiri di belakangnya. “Aduh pak! Jangan bikin kaget begitu”
“Maaf! Saya tidak bermaksud mengagetkan, toko mau saya tutup sekarang” kemudian mereka ke luar dari dalam toko. Antonio menutup pintunya dan mengeluarkan sebuah kunci berlambang tengkorak dari saku jaketnya. Kemudian pintu dikunci dan tangannya menarik-narik ganggang pintunya memastikan sudah terkunci. Antonio kembali mengantongi kuncinya.
“Tunggu sebentar” kata Antonio sambil berjalan ke tepi jalan menengok kanan kiri. Kemudian melambaikan tangan ketika mobil taksi lewat. Saat itu taksi mulai berhenti ke tepi jalan. Antionio berjalan mendekat dan bicara dengan suara berbisik pada supir taxi, Antonio lalu memanggil Tony yang masih berdiri di depan tokonya.
“Ayo pak Tony!” Kata Antonio.
Setelah masuk ke dalam mobil, Tony duduk di kursi belakang sementara Antonio duduk di samping supir. “Kita mau kemana pak Antony?” Tanya Tony. “Rumah saya pak Tony” jawab Antony singkat.

Setelah beberapa menit perjalanan, taksi yang mereka tumpangi berhenti. Antonio melihat angka argo taxi dan mengeluarkan sejumah uang untuk membayar. Mereka kemudian keluar dari dalam mobil. Antonio berjalan memasuki sebuah gang dan Tony mengikuti pula kemana Antonio pergi. Setelah melewati jalan menurun, Tony tiba di depan rumah dengan pintu berkepala naga. Antonio membuka pintunya. “Ayo masuk!” Kata Antonio. Tony mulai melangkah memasuki rumah itu. Begitu di dalam, Tony melihat banyak pahatan kayu yang tergeletak dimana-mana. “Maaf ya pak Tony, rumah saya seperti kapal pecah” kata Antony. Tony melihat seorang kakek yang baru ke luar dari dapur. Kakek itu berjalan memakai tongkat bantu. Ia tersenyum ketika melihat Tony.
“Pak Tony, kenalkan dia Lin pembuat boneka di toko saya, dulunya Lin seniman pemahat es terkenal”
“Saya Tony” kata Tony memperkenalkan diri. Lin menatap Tony dengan tajam, sesekali ia memandangi Tony dari kaki hingga ujung rambut. Ia mengerutkan dagu sambil menganggukan kepalanya.
“Kamu tamu yang datang kemari sejak 15 tahun terakhir, mau minuman gingseng? Saya baru buat barusan”
“Iya. Terimakasih” kata Tony.
“Ayo pak Tony” kata Antonio yang duduk di kursi kayu dengan meja persegi. Antonio mengambil sebatang rok*k dari saku celananya. Lin berbalik pergi ke dapur.
“Ayo duduk pak Tony!” Kata Antonio lagi mempersilahkan duduk. Tony pun duduk bersebelahan dengan Antonio. Tidak lama kemudian Lin kembali membawa segelas minuman gingseng, ia meletakannya di atas meja tempat Tony duduk. “Ayo dicicipi ini buatanku sendiri”
“Terimakasih! Maaf sudah merepotkan” Lin langsung saja pergi ke kamarnya. Antonio menyalakan pemantik apinya, membakar sedikit demi sedikit ujung rok*knya. “Pak Antonio, tidak minum juga?”
“Saya nanti saja, ayo pak diminum!” Tony baru pertama mencicipi minuman dari gingseng. Begitu diminum, terdapat macam-macam rasa di lidahnya, ada manis, asem, pahit dan tetap terasa segar. Tony sangat haus dan meneguk habis minumannya. Setelah menghabiskan minumannya, Antonio kini mulai bicara.
“Pak Tony, sudah pernah dengar manusia boneka?” Tony menggeleng karena tidak tahu. “Saya baru tahu tuh!” Jawab Tony. Antonio menghela nafas sejenak lalu tersenyum. “Manusia boneka semacam proses mengubah jasad menjadi boneka. Jika semua prosesnya saya jelaskan pasti terdengar keji bagi pak Tony. Sudah lama saya mencoba membuatnya ketika teman saya meninggal akibat kecelakaan, saya kehilangan satu-satunya teman baik saya. Saya mulai berpikir waktu itu untuk mengawetkan jasadnya, tiba-tiba muncul ide brilian! saya ingin membuat manusia boneka pertama. Teman saya itu tidak memiliki keluarga atau kerabat, jadi saya sendiri yang mengurus jenazahnya. Pertama saya awetkan tubunya, Tapi sayang, setelah diawetkan terjadi masalah. Masih ada yang kurang sehingga belum sempurna” Antonio lalu memandangi Tony. Tony mulai merasakan suasana tidak enak. “Pak Antonio bercanda?”
“Tidak, saya tidak bercanda, sudah hampir 20 tahun. Walau belum sempurna, manusia boneka buatanku masih tetap bertahan sampai sekarang. Nah! Saya mau kasih anda kesempatan, bagaimana? Saya baru membuatnya satu boneka manusia saja. Saya yakin anda tidak akan mendapatkannya dimanapun” Tony hanya tersenyum.
“Pak Antonio bilang memakai jasad manusia, apa itu tidak keterlaluan?”
Antonio tidak mengindahkan pertanyaan Tony.
“Saya hanya ingin memberikan yang terbaik buat penggemar boneka seperti anda” saat itu Tony mulai melihat jam di lengan kirinya dan melihat pintu ke luar. Tony berdiri lalu memandangi Antonio yang sedang duduk santai sambil merok*k. “Ini sudah larut, saya harus segera cepat pulang, karena besok saya bekerja” Antonio tersenyum.
“Terimakasih kunjungannya pak Tony, saya yakin anda pasti kembali!” Tony berjalan dengan cepat menuju pintu ke luar. Sementara Antonio tetap tidak bergeming di tempatnya.

Saat pagi hari, Tony mulai bangun dan memandangi jam dinding telah masuk pukul sepuluh pagi. Sejak semalam, Tony tidak dapat tidur dengan nyenyak akibat halusinasi yang tidak pernah dialaminya. Tony segera meninggalkan tempat tidurnya. Ketika bercermin, Tony terkejut melihat wajahnya penuh dengan bintik-bintik merah. Saat disentuh terasa sangat sakit, Tony terpaksa tidak bekerja akibat terlambat dan luka bintik di wajahnya. Saat melangkah menuju kamar mandi, Tony merasakan pusing di kepalanya. Tony pun duduk kembali di kasurnya dan mengingat-ngingat kembali kejadian kemarin malam sebelum kondisi sekarang. Tony mengingat pernah meminum minuman buatan Lin. Setelah pulang dari rumah Antonio, Tony sudah tidak makan apa-apa lagi. Selama ini Tony tidak pernah sakit apalagi mempunyai riwayat sakit berat. Tony memutuskan pergi ke Dollest mempertanyakan minuman Lin. Tony pergi menggunakan mobilnya. Saat tiba, Tony ke luar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam Dollest. “Selamat datang… Pak Tony, kenapa?” Kata Antonio ketika melihat Tony yang datang dengan wajah penuh bintik merah. “Apa yang pak Lin masukan pada minuman saya!” Tony begitu kesal dan suaranya mengguntur di dalam toko. “Tenang dulu pak Tony, memang ada apa?” Antonio menatap wajah Tony yang penuh bintik-bintik dari dekat. “Lihat saja nih! Wajah saya jadi begini!”
“Oh Maaf pak Tony! Saya tidak tahu, saya akan berusaha membantu, tapi anda harus tenang dulu” Tony menghela nafas sejenak. “Ok! Saya minta pertanggung jawabannya atas yang menimpa saya!”
“Iya, saya mengerti, tapi ada persyaratannya..”
“Syarat apa lagi! Lihat muka saya..”
“Dengarkan dulu, saya tidak minta apapun Pak Tony, saya hanya minta sampel darah anda” potong Antonio. Tony berpikir sejenak mempertimbangkan permintaan Antonio. “Ok.. terserah saja!” Kini Tony sudah tidak terlihat marah. “Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu jarum suntik dan obat-obatan” Antonio segera pergi mengambil sebuah kotak obat. Setelah kembali, Antonio lalu mulai mengambil sedikit darah Tony, lalu ketika selesai, Antonio memasukan darah yang diambilnya menggunakan suntikan ke dalam botol kecil, lalu Antonio memasukannya ke dalam saku celana.
“Sudah selesai pak Tony, tolong saya minta tanda tangan anda di kertas kosong ini”
“Untuk apa?” Tanya Tony yang memegangi pundaknya akibat pegal, setelah darahnya diambil menggunakan jarum suntik.
“Saya akan memerlukannya nanti jika terjadi sesuatu, saya khawatir di sampel darah anda terdapat zat kimia beracun, maka saya perlu mengeceknya dulu di laboraturium, saya butuh tanda tangan anda untuk izin ke dalam lab, bukti saya sudah mendapat persetujuan dari pemilik sampel. Besok saya jamin semuanya beres, andai benar pak Tony seperti ini akibat minuman dari Pak Lin, itu bisa jadi kesalahan saya. Saya akan bertanggung jawab dan mencarikan anda obat, untuk sekarang lebih baik Pak Tony pulang dulu dan segera istirahat, hari ini toko saya tutup lebih cepat, untuk memeriksa ini” Antonio menunjukan botol kecil yang terdapat darah Tony.
“Besok secepatnya pak Antonio, aku tidak mau terus begini”
“Pasti” jawab Tony.

Pada pagi hari Tony bangun lebih awal. Kali ini sekujur tubuhnya terasa begitu sakit. Ketika berkaca, Tony sangat terkejut melihat bintik-bintik di wajahnya semakin bertambah. Ketika membuka baju, bintik di wajahnya semakin bertambah ke seluruh badannya, matanya kini mulai memerah. Tony mersakan semakin parah dengan kesehatannya. Ia pun segera menuju Dollest mengendarai Mobilnya. Ketika tiba, Tony memakirkan kendarannya dan menuju Dollest. Namun saat itu pintunya terkunci, Tony mengetuk pintu dengan keras. “Antonio! buka pintunya!” Teriak Tony. Kini nafas Tony mulai tersengal-tersengal. tidak lama kemudian Antonio membukakan pintu. “Wah pak Tony anda datang pagi sekali” sapa Antonio dengan tersenyum. “Antonio! mana obatnya!” Tony mulai terkulai lemas, matanya kini mulai berkunang-kunang. “Maaf pak Tony, Mari ikut saya” Mereka lalu memasuki gudang boneka. Ketika di dalam begitu gelap, Antonio mulai menyalakan lampunya saat itu terlihat ada sebuah pintu di dalam gudang. Antonio kemudian membuka pintunya, Tony melihat lorong panjang yang dipenuhi lemari-lemari kayu berderet rapih. mereka mulai berjalan di lorong, saat itu Antonio berhenti di depan sebuah pintu bertanda silang. Antonio mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya lalu membukakan pintu. Ketika Tony melihat ke dalam hanya ada sebuah peti kayu hitam. Antonio melangkah mendekati peti itu. “Ayo Silahkan!” Tony merasa aneh melihat ruangan yang luas hanya menempatkan sebuah peti. “Apa maksudnya ini? Mana obat yang pak Antonio janjikan?” Antonio membukakan pintu petinya. Tony melihat tubuh manusia sedang terbaring, namun yang lebih mengejutkan, wajahnya mirip sekali dengan Tony. Tubuh itu berkepala pelontos hanya menggunakan celana pendek saja, sementara warna kulitnya sudah mulai membiru, terlihat jelas bekas luka jahitan dan beberapa tonjolan pada bagian perut hingga leher. Kedua mata tubuh itu terus terbuka seakan-seakan bisa melihat dan bangun kapan saja. Tony menyentuh bagian kulit tubuh itu yang ada di peti. Terasa dingin di jemarinya, ketika jari telunjuk Tony menekan-nekan bagian perut tubuh peti itu. Tony merasakan empuk, seperti ada kapas di dalamnya. Tony terus saja meraba-rabanya hingga mencapai kepala, Tony tidak merasakan ada tulang dan daging pada tubuh di peti itu. Tubuh itu di dalamnya sudah seperti diisi banyak kapas dan berubah seperti boneka kain. “Antonio, apa dia temanmu?” Sebelum Antonio menjawab, Tiba-tiba Tony merasakan sakit di punggungnya, saat melangkahkan kaki kirinya begitu berat, kedua tangannya tidak bisa bergerak akibat rasa sakit. Semua saraf-saraf tubuhnya mulai menimbulkan sakit. Tony terjatuh dan hidungnya kini mengeluarkan darah. denyut jantungnya melambat, pandangannya semakin kabur dan organ-organ tubuhnya mulai menimbulkan nyeri. “Bukan, dulu orang ini namanya Royi. Dia penggemar boneka, sering sekali belanja boneka di tokoku. Dia termasuk orang yang sangat royal, menghabiskan uangnya hanya untuk mendapatkan benda mati, usianya hampir sama seperti anda” jawab Antonio. Tony memandang Antonio sambil menahan sakit. “Dia meninggal karena apa?”
Antonio terdiam tanpa bergeming, lalu mengeluarkan sebatang rok*k dari saku celananya, dia kemudian tersenyum. “Dia tewas akibat meminum sesuatu di rumahku pak Tony” Tiba-tiba Lin muncul di depan pintu, Tony melihat Lin berjalan dengan normal tanpa menggunakan tongkat bantu. “Kerjamu bagus Jerkin! Darahnya itu bisa digunakan Untuk melanjutkan percobaanku. Tubuh itu kamu atur supaya dibuat kecelakaan, keluarganya mengira pasti dia sudah meninggal, mereka tidak akan pernah tahu identitas tubuh yang telah hancur” Ujar Lin.
“Dia tidak punya keluarga atau teman” kata Antonio.
“Bagus! Semakin sempurna”
“Apa maksudnya ini?… Antonio!.. cepat tolong aku” Tony melihat Lin sudah berubah, dia tidak terlihat tua jika dibandingkan ketika di rumah Antonio. “Maaf Pak Tony, anda sudah sangat lama ditunggu-tunggu untuk menjadi manusia boneka selanjutnya, anda tidak mungkin tertolong lagi. Dalam hitungan hari anda pasti akan mati” Tony berusaha memaksakan badannya untuk bergerak. Namun menimbulkan sakit di badannya, hingga Tony tidak mampu bergerak kembali. “Padahal, saya sangat mempercayai Pak Antonio” Tony memandang Antonio dengan penuh amarah. “Masukan dia ke dalam peti!” Perintah Lin.

Antonio mengeluarkan tubuh itu dari petinya lalu menggotong Tony untuk masuk dalam peti. Tony berusaha melawan namun tidak mampu bergerak, Tony mulai menangis untuk dikasihani namun Antonio tidak bergeming. “Pak Antonio tolonglah.. bukankah saya pelanggan setia dari tokomu” Antonio berhenti, berfikir sejenak. “Anda benar pak Tony…”
“Ada apa Jerkin? Cepat masukan dia kedalam peti” Tony merasa masih punya harapan, terlihat Antonio mulai berubah pikiran. “Ada apa? Kenapa diam saja Jerkin!” Lin mulai terlihat marah dan mulai mengacungkan pisaunya. “tapi… sepertinya… orang yang tepat hanya Pak Tony saja yang dapat menjadi manusia boneka sempurna” Lin mulai bernafas lega, lalu menurunkan kembali pisau miliknya. “Bagus Jerkin!”
“Dasar gila!” Teriak Tony dengan kesal. Antonio memasukan Tony ke dalam peti lalu ditutup dan dikuncinya dengan gembok. Tony terus saja berteriak meminta tolong. Namun tidak ada siapapun yang datang menolongnya. Kali ini, Tony ada di tempat yang gelap dan sunyi bersama sisa-sisa penyesalan.

Cerpen Karangan: Irfansyah

Cerita Manusia Boneka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telefon Misterius

Oleh:
Aku berjalan menapaki lorong gang yang gelap tanpa cahaya. Rintik hujan masih berjatuhan menemani langkahku yang semakin melemah. Dingin. Sepi. Dan pengap. Sampah menggunung di kanan dan kiri jalan

Pertemuan

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Kriiinnnggg. Bunyi telepon terdengar berdering dari ruang tamu. Gita pun buru-buru lari dari kamarnya buat ngangkat telpon itu. Pembantunya lagi ke pasar juga. Maklumlah

Who Is Deathya

Oleh:
Namanya Deathya Girla. Orang-orang biasa memanggilnya Deathya. Gadis pendiam yang menurutku selalu sedih. Setiap jam istirahat Deathya menangis di bangkunya, tidak ada yang tahu akan hal itu. Aku tahu

Friend

Oleh:
Sudah kesekian kalinya kami harus pindah rumah. Ini karena ibu harus bekerja ke luar kota. Kadang, aku bosan hidup nomaden begini. Maksudku, itu berarti kau harus beradaptasi dengan segala

Sekarat

Oleh:
“Mimpi itu lagi,” gerutuku. Baru saja bangun tidur sudah disuguhi mimpi seram. Ah, tidak boleh terlalu dipikirkan. Lagi pula, banyak kerjaan kantor dan mengajar di kelas yang mesti ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Manusia Boneka”

  1. Setelah masuk ke dalam mobil, Tony duduk di kursi belakang sementara Antonio duduk di samping supir. “Kita mau kemana pak Antony?” Tanya Tony. “Rumah saya pak Tony” jawab Antony singkat.

    Ada ketidakkonsistenan dalam tokoh. “Antonio dan Antony. Sepertinya ada yang salah dengan kutipan di atas….;-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *