Manusia Manusia Gunung (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 13 September 2015

Dyllan benar-benar pahlawan penyelamat. Dia tiba di halamanku tepat ketika aku melangkah pergi.
“Ayo, jalan-jalan lagi.” Ajakku. Aku berjalan dengan langkah cepat mendahului Dyllan dan sepedanya. Aku yakin Dyllan masih kebingungan.

Saat tiba di gerbang, aku berpapasan dengan Pak Johan. Alangkah terkejutnya aku saat tatapan tajam mata Pak Johan itu mengarah padaku.
“Sss-saya pergi Pak” pamitku, gagap.
“Hati-hati.” Jawab Pak Johan dingin lalu meninggalkanku. Jangan sampai aku ditelannya hidup-hidup.
“Kita mau ke mana hari ini?” tanyaku pada Dyllan yang bersepeda di sampingku.
“Loh, kan kamu yang ngajak. Jadi ya terserah kamu mau ke mana” jawab Dyllan cuek.
“Dyllan! Kalau aku tahu jalan daerah sini, dari kemaren-kemaren aku udah muter-muter, nggak cape-cape ngejar kamu dan sepeda kamu itu.” responku kesal. Dyllan malah cengengesan.

“Jangan ngambek dong. Kan cuma becanda. Kita lihat sawah-sawahan aja yuk” Dyllan turun dari sepedanya. Kayanya giliran aku yang naik nih. “Eh, mau ngapain?”
“Naik dong, masa turun” Jawabku asal, lalu menaiki sepeda itu.
“Aku turun kok malah kamu naik?” Dyllan keheranan.
“Bukannya kamu pengen gantian naik sepedanya?” aku jadi bingung sendiri.
“Emang, tapi abis penurunan terjal ini. Nggak berani aku naikin sepeda kalau jalannya kayak gini.” Ternyata di hadapanku memang ada penurunan yang cukup terjal.
“tadi kok nggak kelihatan ya?”
“……”

Dyllan membawa aku ke sebuah bukit yang ditumbuhi rerumputan hijau. Dari sini aku bisa melihat dengan jelas aktivitas-aktivitas yang dilakukan para petani. Angin di sini sepoi-sepoi. Kami duduk-duduk di bawah sebuah pohon rindang. Sambil tertawa-tawa melihat anak-anak yang terjungkal-jungkal saat lomba lari di sawah yang sudah panen.

“Besok hari terahir kamu di sini ya?” tanya Dyllan ketika kami merebahkan tubuh di dinginnya hamparan rerumputan.
“iya.” Jawabku agak sedih.
“Besok kita jalan-jalan lagi yuk! Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Spesial.” Tutur Dyllan lembut.
“Whooaamm, hayuukk. Whooaamm.” Aku menguap berkali-kali. Udara di sini membuatku mengantuk.
“Rembulan juga punya sisi gelap. Mentari pun tak selalu menyinari. Banyak hal yang mengandung misteri. Pertemuan yang harus berujung perpisahan. Perasaan yang tak pantas diutarakan. Keinginan yang pasti akan terwujudkan. Bersama arungi dunia abadi. Selamanya” itu beberapa baris puisi entah apa namanya yang aku dengar dari mulut Dyllan. Setelah itu aku terlelap.

“Zizi! Zizi! Zizi! Fazila Mardani” seseorang menyerukan namaku lembut. Dan ada sentuhan tangan di pipiku.
“Dyllan?!!” aku kaget setengah mati dan segera bangun. Apa yang terjadi? Hari sudah mulai gelap tapi, aku masih di… “kenapa kita masih di sini Lan?”
“Tidur kamu nyenyak banget. Aku nggak tega ngebangunin kamu.” Dyllan menjawab dengan rasa bersalah. Aku jadi tidak enak. Ini bukan salah dia.
“Maaf, aku nggak marah. Cuma kenapa kamu nggak ngebangunin aku? Tragis banget ya, aku bisa tidur selama itu?”

Di perjalanan pulang berkali-kali Dyllan minta maaf padaku. Aku sama sekali tidak menyalahkannya. Dia juga memiliki niat baik untuk mengantarku sampai bertemu Mama. Tapi aku menolaknya. Takutnya Mama malah salah paham kalau tahu aku jalan sampe senja sama laki-laki. Aku sudah duga pasti Mama marah besar. Aku sudah menyiapkan mental untuk menerima omelan Mama. Bukan hanya mental, tapi juga berjuta alasan dan bantahan tentunya.

“Zizi!!! Berkali-kali Mama bilang, JANGAN PERNAH TINGGALKAN VILA! Sampai dikunci segala! Untung Mama juga megang kunci! Kamu udah keterlaluan. Sampai magrib lagi. Ke mana aja kamu sendirian? Nyasar ya? Jujur sama Mama! Kan udah Mama bilang resiko-resikonya. Kamu emang bandel. Ke mana aja kamu, ha?!”
“Aku nggak sendirian! Aku kan sama teman!”
“Teman? Pak Johan bilang kamu sendirian. Jangan bohong sama Mama! Gimana kalau ada hewan buas di luar sana? Sama siapa kamu minta tolong?!” Pak Johan?! Dasar manusia gunung! Bisa bohong juga ternyata. Sebel!
“Aku cuma muter-muter. Sama anak sini juga kok Ma, aku nggak bohong. Mana berani aku sendirian” Aku berusaha membela diri. Malu juga kalau jangkrik-jangkrik di luar pada heboh ketawain aku yang diomelin.

“Pokoknya besok kamu ikut Mama! Kerja Pak Johan udah kelar, jadi nggak ada yang lihatin kamu lagi. Jadi, harus IKUT MAMA!” paksa Mama.
“Mama kok tega gitu sih. Besok kan hari terakhir kita di sini. Aku cape-cape nih. Mau istirahat. Mau bangun siang. Please ma aku janji nggak bakalan ke mana-mana” bujukku.
“yang kemaren itu juga janji. Tapi?!”
“kali ini beneran Ma Suer!!” Akhirnya hati Mama tersentuh juga melihat tampang memelasku. Setelah mandi dan bersih-bersih, aku segera tidur. Tidur yang sangat nyenyak.

Sepertinya Mama sudah berangkat satu jam yang lalu. Buktinya, roti bakar yang Mama buat sudah dingin. Sehabis sarapan, aku menyibukkan diri dengan menulis, iseng-iseng dandan pakai makeup Mama. Terus nonton TV, dan sempat juga menyiram tanaman.

Tok! Tok! Tok!

Cepat banget Mama pulang. Baru juga jam 10. Biasanya sampai jam 1 atau 2. Dengan santai aku buka pintu. Ternyata bukan Mama.
“Dyllan??”
“Kok kaget gitu? Nggak seneng aku datang?” Dyllan tersenyum manis melihat aku yang melongo karena kehadirannya.
“Ayo, masuk” Ajakku ramah.
“Nggak usah. Katanya kita mau jalan-jalan. Aku kan janji kemarin.”
“Tapi aku juga udah janji nggak bakalan ke luar dari vila sama Mama.” Ucapku kecewa. Sebenarnya aku mau sekali pergi jalan-jalan dengan Dyllan.
“Tapi kamu kan buat janji duluan sama aku. Berarti janji kamu ke aku dulu dong, yang harus ditepati.” Dyllan langsung menarik tangan aku ke luar pintu.
“Dyllan. Pintunya”
“Nggak masalah. Desa ini aman kok.”

Hari ini Dyllan bergaya seperti biasa. Hanya jaketnya agak tebal. Dan dia juga membawa tas ransel. Aku ikuti saja ke mana dia melangkah. Aku harap tempat yang kami tuju benar-benar spesial.
“Perjalanan kita agak jauh kali ini. Juga nggak bisa ditempuh pakai sepeda. Makanya aku bawa ransel. Mencegah terjadi sesuatu. Kita bakal ke danau Talang.”
“Danau Talang?” perasaanku baru beberapa menit yang lalu kami memasuki hutan. Tapi kini aku telah berada di tengah-tengah pohon-pohon tinggi dan besar. Hutan ini lebih dingin di bandingkan udara di sekitar vila.

“Kamu tenang aja Zi. Ada aku” Ucap Dyllan tanpa menoleh. Aku terus mengikutinya.
“Jalan nggak ada tanda gini kok kamu hafal Lan? Udah sering ke sini ya?” Dyllan jalan dengan lancar tanpa keraguan melewati pohon-pohon yang hampir tidak ada perbedaan satu sama lain itu.
“Nggak sering, Cuma sekali setahun.”
“Sejak?”
“Kita hampir sampai… Samar-samar danaunya udah kelihatan, kan?” Dyllan kelihatan senang. Begitu juga denganku. Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Aku jadi teringat manusia gunung.

“Lan, kamu nggak takut ada manusia gunung? Kan kamu sendiri yang cerita kalau mereka ada.”
“Jadi kamu percaya?” tanya Dyllan, ketika kami tiba di sebuah danau yang luas. Di sekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon tempat berteduh. Kami duduk di bawah salah satu pohon di tepi danau.
“Mau nggak mau aku percaya.” Jawabku singkat. Sama sekali tidak berminat membicarakan topik itu.
“Baguslah” respon yang aneh.
“apa bagusnya, Lan?” tanyaku heran.

“Zizi” Dyllan memutar badannya ke arahku dan menggenggam tanganku erat sekali.
“Kenapa Lan?” aku agak risih dengan keadaan ini. Kaku. Dingin. Perasaanku aneh.
“Kamu mau jadi teman hidup aku?” aku tergelak sejenak. Namun kembali serius karena Dyllan sama sekali tidak tertawa.
“Dyllan, besok aku balik ke Riau.” Jawabku lembut.
“Kamu tinggal aja. Kamu harus tinggal!!” Dyllan malah mempererat pegangannya hingga tanganku kesakitan. Tapi aku tidak bisa melepaskan genggamannya.
“Dyllan! Apa-apaan sih?!”
“Aku butuh teman aku butuh kamu, Zizi!” Omongan Dyllan malah tambah ngawur.

Aku jadi takut dan segera berdiri. Dyllan berhasil menggapai tanganku kembali.
“Zizi, di sini kita bisa abadi. Selamanya kamu hanya perlu menahan rasa sakit selama beberapa menit, kemudian kamu hidup lagi. Abadi, seperti aku menjadi manusia gunung. Yang hidup layak manusia. Tapi tidak bernapas dan memiliki detak jantung.”

Penuturan Dyllan barusan membuat tubuhku mati rasa. Manusia gunung? Dyllan manusia gunung? Aku raba dadanya, mencari detak jantung, ingin melegakan diri bahwa dia sedang bercanda. Tapi, aku tidak merasakan apa-apa. Yang terasa hanya kehampaan, kekosongan, kesunyian. Barulah aku tersadar bahwa selama ini yang ku lihat hanya tawa duka. Yang ku pandang hanya senyum terpaksa. Tiba-tiba aku merasakan kekasaran Dyllan yang menarik tubuhku mendekati danau.

“di sini, perjalanan kami 15 tahun yang lalu berakhir. Karena kebodohan seorang teman, kami tenggelam.” Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun aku memberontak, dia tetap kuat. Aku menyesali segala perbuatanku. Menyesali kebodohanku.
“Terserah kamu. Boleh percaya atau tidak. Tapi aku sarankan hati-hati. Terkadang dia terlihat tidak mencurigakan. Tapi di balik itu, dia menyimpan sesuatu.” Terngiang kembali ucapan Dyllan waktu itu. Yang dimaksudnya adalah dirinya sendiri. Bukan Pak Johan.

Plangggg!! Sebuah benda tumpul menghantam kepala Dyllan. Membuat ia merintih kesakitan dan melepaskan genggamannya.
Pak Johan??? Pak Johan yang memukul Dyllan? Pak Johan mengikutiku?

“Lari! lari! Cepat!” pak Johan menyuruhku.

Dengan gesit kakiku melangkah. Berlari sejauh mungkin. Kemana aku bisa lari. “Tolong” aku mendengar teriakan. Dyllan melempar pak Johan ke danau. Beberapa menit saja, Pak Johan tidak kelihatan lagi di permukaan. Dyllan berlari ke arahku. Aku mempercepat lariku. Tapi kakiku terlalu letih untuk itu. Tuhan tunjukkan kuasa-Mu
“Zizi keabadian itu indah” Dyllan berteriak seraya mengejarku. Napasku berpacu. Aku sungguh tidak kuat lagi. Tapi, mana Dyllan? Apa aku sudah bebas?

“Kamu mencariku sayang?”
“Aaaaaa!!!” Dyllan tepat di hadapanku. Matanya yang ku kira indah itu, penuh kebencian. Ucapan-ucapannya yang ku kira ramah itu, penuh amarah.
Seketika, semua jadi gelap. “Aaakkhh!!” Sesuatu pecah, mengaliri semua cairan merah tubuhku.

Menghabiskan waktu bermain sepeda memang asyik. Tapi tidak jika sendirian. Dyllan sudah asyik dengan gadis anak Kades baru itu. Aku? Tunggu dulu. Sepertinya aku tidak akan kesepian lagi. Aku kayuh sepedaku mendekati seorang lelaki tampan yang duduk sendirian di bawah pohon. Ia melamun saja.

“Hai. Baru pindah ya?” tanyaku penuh keramahan.
“Nggak, lagi ada proyek buat sekolah.”
“Oh. Aku Zizi.”
“Aku Rafi. Kamu anak sini?” tanyanya ramah.
“Iya. Di sekitar sini.”

Sepertinya aku tidak akan kesepian lagi. Bukan hanya kamu yang akan punya teman baru, Dyllan. Aku juga. Aku juga punya teman baru untuk menjadi MANUSIA GUNUNG.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dhea CLP

Cerpen Manusia Manusia Gunung (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Albert

Oleh:
Mobil Jeep berhenti tepat didepan teras balkon lantai satu. Aku turun seraya menghirup udara segar. Rasa penat hilang seketika. Hawa di bukit ini sungguh menyegarkan. Mataku mengitari sekeliling Villa

Mata Abu-Abu

Oleh:
Nama anak laki-laki itu, Bianka. Setiap pagi ia selalu berdiri sejenak di depan pintu gerbang sekolah. Menatapi setiap anak dari kumpulan komunitas putih abu-abu. Setiap anak yang memiliki titik

Buku Misterius

Oleh:
Namaku Linda. Aku sekolah di Story Schools. Kami hanya membaca dan mengarang cerita. Kali ini aku dan sahabat sahabat ku berlibur di vila. Semoga tidak menyeramkan. “Berangkat sekarang yuk”

Potret Keluarga Bahagia

Oleh:
Lamia merapatkan jaket tebal di tubuh kurusnya karena angin yang berembus malam ini tidak main-main dinginnya. Ia mempercepat langkah kaki menuju rumah. Masuk ke rumah adalah satu-satunya hal yang

Beling

Oleh:
Jono masih setia berbasah-basah di sungai kecil itu. Sambil sesekali mengaduh karena anak duri di pinggir kali yang menusuk lengannya. Kedua lengannya yang kekar berisi nampak bergerak-gerak dalam air.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Manusia Manusia Gunung (Part 2)”

  1. Gusti Cahya says:

    ternyata bad ending

  2. Balkis says:

    keren. endingnya tak terduga.

  3. fandy says:

    oalah.. dari part 1 kubaca.. kukira crita roman.. ga tau nya horror.. huhuhu.. tapi seru juga.. pantas dinyatakan cerpen of the month.. l

  4. Estana says:

    Waaah, aku nggak tau kenapa bisa nyasar ke cerpen kakak. Kapan kakak kirim cerpen ke sini lagi? Cerpennya keren-keren. Ditunggu ya kak:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *