Marry Marie (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

“3..2..1!!” teriak Deffy girang setelah hitungan mundurnya berhasil.
“Apa yang kamu lakukan, Deffyra?” tanya Miss Chrysella heran. Deffy lupa bahwa Ms. Chrysella belum keluar kelas.
“Nggak, miss, cuma ngitung jumlah buku,” jawab Deffy sekenanya. Ms. Chrysella tak menghiraukan jawaban konyol dari Deffy.

Miss Chrysella mengemaskan buku-bukunya dan membawa tasnya keluar kelas. “Yeaaaah!” koor satu kelas, riwayat mereka terselamatkan kala Miss Chrysella tak mencetuskan soal-soal membingungkan saat tanya jawab. “Deffy ada-ada aja alasannya,” cibir Thierra memasukkan buku Bahasa Indonesia nya kedalam tas.
“Ya, mau gimana lagi? Cara paling ampuh menyelamatkan diri adalah berbohong untuk kebaikan,” jawab Deffy kembali berbangga.

Tiba-tiba, Miss Chrysella kembali ke kelas 11-2. Semua murid terdiam. “Sehubungan hari ini Miss Zevanny berhalangan hadir, beliau meminta saya menyuruh kalian mengerjakan tugas. Tugasnya adalah menulis sebuah lagu dengan alat musik bebas. Satu kelompok paling banyak 3 orang. Minggu depan, setiap kelompok menampilkan hasil karyanya di depan kelas. Permisi, saya harus ke ruang kepala sekolah. Jangan ribut!” terang Miss Chrysella. Seluruh anak sujud syukur atas ketidakjadian Ms.Chrysella menggantikan Miss Zevanny.

Tentu saja, Deffy sekelompok dengan Thierra dan Dizza. “Kira-kira kita mau bikin lagu tentang apa, nih?” tanya Dizza mengeluarkan selembar kertas tempat menulis lagu.
“Kalau tiga orang, cocoknya instrumen apa yang bagus, ya?” tanya Thierra lagi.
“Lagunya ada nuansa sedih gitu, jadi kalau lagunya lembut dan sedih cocoknya itu pake piano, gitar sama drum,” saran Deffy dicatat Dizza.
Dizza tampak mengetukkan jari telunjuknya ke dahi, ia bingung, lagu apa yang akan mereka tampilkan nanti?

“Gimana kalau lagu tema horror? Instrumennya pake piano!” sahut Deffyra memberi usul.
“Horror? Piano? Ah, nggak cocok, Fy!” tolak Thierra kembali memikirkan tema lagu mereka.
“Tapi karena ketidakcocokan itulah kita bisa beda dari yang lain! Jadi, kita harus mengubah suasana kelas menjadi mencekam!” Dizza menyetujui usulan Deffy.
“Tapi.. kan…seram.”

Akhirnya mereka sepakat akan membawakan lagu horror minggu depan, memang konyol, tetapi setidaknya mereka punya perbedaan dengan kelompok lain. Setelah 3 hari kerja kelompok, mereka merasa puas atas hasilnya. Memang tidak panjang, tetapi nuansa horror benar-benar terasa.

“Foto Berdarah”

“Foto tua terperangkap di dalam bingkai
Bergerak ke kiri setiap jam 2 malam
Menatap siapa pun yang berani bernyanyi tentangnya
Mereka membuat lingkaran besar
Di tengahnya terdapat seorang gadis dengan menutup mata
Ia menebak siapa pun di belakangnya
Jika benar mereka selamat
Jika salah, keanehan akan terjadi
Lampu akan mati seketika
Akan muncul aroma bunga pemakaman

Lampu mati seketika
Akan muncul aroma bunga pemakaman

Kesalahan besar, mereka telah mengundang sosok yang ingin bebas
Mereka telah mengeluarkan gadis itu dari foto.. Kesalahan..”

“Bagus! Aroma horrornya terasa banget!” sahut Dizza. Nanti, yang akan menyanyikan lagu itu adalah Deffyra dan Thierra, Dizza akan memainkan instrumen piano. Pada permulaan, Dizza akan menekan tuts piano dengan nada terendah selama 5 detik. Kemudian, melanjutkan nada berikutnya selama 3 detik. Kemudian semua sunyi sesaat. Thierra akan memulai lagunya dengan nada seriosa. Dilanjutkan Deffyra menyambung lagu berikutnya dengan nada rendah. Lagu bertemu pada puncaknya saat lirik ‘Lampu akan mati seketika, akan muncul aroma bunga pemakaman….Kesalahan besar, mereka telah mengundang sosok yang ingin bebas…’ Lagu diakhiri tanpa nada, hanya nyanyian dengan nada rendah.

Sudah larut malam, dan mereka sudah selesai latihan. “Deff, konsep lagunya bagus,” puji Thierra. Ini kali pertama mereka melakukan latihan dengan lagu horror ini. Tiba-tiba lampu mati. “Aaa!” spontan ketiga gadis itu berpelukan ketakutan. Deffyra selaku gadis paling pemberani, berjalan pelan ke arah sakelar. “Mati lampu!” serunya.
“Hah? Aduh, Mama sama Papa akan pulang besok, masa aku tidur sendirian…Aaa…” Dizza merengek. Seketika, sekelebat bayangan hitam melintas. Bayangan itu seakan bercampur dengan kegelapan. Thierra yang merasakan kehadiran sosok lain selain mereka bertiga memilih untuk diam, mungkin hanya halusinasi, pikirnya. Akhirnya lampu pun hidup kembali.

“Syukurlah…” mereka menarik napas lega.
“Dizz, Deff, aku izin ke toilet dulu, ya?”

Thierra berjalan ke arah toilet yang jaraknya 7 meter dari tempat Dizza dan Deffy berdiri. Dizza dan Deffy duduk di depan televisi sambil menonton film horror. “Eh, Thier? Cepet banget,” Dizza terkejut kala melihat Thierra sudah berada di sampingnya. Thierra diam, matanya terfokus pada bingkai foto di sebelah televisi. “Ada apa, Thier?” tanya Deffyra ingin tahu. “Aku keluar dulu, ya? Mau cari udara segar,” Thierra beranjak ke pintu depan. “Nyari udara segar? Emangnya Thierra gila? Malam malam nyari udara segar?” cibir Dizza. Tak lama kemudian, Thierra keluar dari toilet dengan keadaan basah kuyup.

“Loh? Thier? Tadi katanya keluar? Sejak kapan masuk? Kok aku nggak lihat?” Deffy memandang ke arah Thierra.
“Iya, kamu habis disiram tetangga, apa?” lanjut Dizza.
“Keluar? Loh, bukannya tadi aku bilangnya ke toilet? Lagian aku bersihin baju habis dijatuhin kotoran cicak! Eh, tahunya shower malah nyipratin air ke aku,” jawab Thierra memandangi dirinya sendiri. “Lalu…tadi siapa, Deff?” tanya Dizza, mereka saling berpandangan.

“Memangnya tadi kalian lihat apa?” tanya Thierra bergabung.
“Tadi, aku lihat kamu duduk di sini, terus kamu bilang mau keluar buat nyari udara segar,” jawab Deffyra sambil menyeruput teh hangat. “Aneh…”
“Udah ah, ganti dulu baju kamu. Ambil aja baju aku di atas, di dalam lemari, pakai aja,” sungut Dizza menawarkan.
“Ya udah, aku ke kamar kamu ya, Dizz,” Thierra segera naik ke atas. Ia menuju kamar Dizza.

Thierra menekan sakelar, tunggu… dia baru saja melihat seseorang! Thierra kembali mematikan lampu kamar, kemudian menghidupkannya lagi, orang itu sudah tidak ada. Ia mengambil baju Dizza dengan lengan panjang dan celana kain panjang lalu memakainya. Ia ke luar kamar, namun tiba-tiba…. Wajah menyeramkan tepat berada di depannya. Thierra berteriak tak karuan, ia ingin berlari, namun kakinya terasa kaku.

“Thier? Kenapa?” pekik Deffyra berlari ke arah Thierra yang berteriak kencang. Saat Deffyra datang, wajah itu menghilang. Thierra bernapas tersengal-sengal, “Ada wajah menyeramkan!” Deffyra dan Dizza menenangkan Thierra, sekarang sudah sangat malam, dan mereka memang sudah izin untuk tidur di rumah Dizza.

Tok…Tok…Tok…

Pintu depan diketuk seseorang. “Kok, client Papa datangnya jam dua malam?” tanya Dizza berlari membukakan pintu. Thierra dan Deffyra menyusul. Saat mereka bertiga menengok ke arah luar, bingkai foto itu bergerak ke sisi kiri sebanyak 3 cm. Marry Marie, nama seseorang yang berada di dalam foto itu. Kemudian foto itu berhenti bergerak saat jam menunjukkan pukul 02.00.01. Hanya sedetik gerakan itu terjadi.

“Kok nggak ada orang?” tanya Dizza memandangi sekitar halaman rumahnya, tak ada tanda tanda kedatangan client papa, teman mamanya, ataupun tetangganya. Ia menoleh ke kiri, “Aaaa!!!” Rileks, Dizza langsung berteriak kencang. “Apa, Dizz? Kenapa?” tanya Deffyra.
“Ada seorang gadis menatapku dengan tajam!” jawab Dizza meneguk air putih.
“Nggak ada apa-apa, kok. Ah, Dizza ngelantur,” Deffy mengajak mereka masuk ke rumah.
“Kok kayaknya ada yang aneh semenjak kita latihan,” Thierra menyimpulkan.
“Apa yang aneh? Nggak ada kok,” ucap Deffy menimpali.
“Tidur, yuk! Udah jam 2 lewat! Kalau kita bangun kesiangan, bisa gawat!” Deffyra mengajak dua sahabatnya tidur.

Suasana rumah kian menyepi sejak mereka bertiga tidur. Thierra tak bisa tidur dengan nyenyak, ia memimpikan hal-hal seram. Di dapur, seperti ada seseorang yang sedang memasak. “Kok, Mama pulangnya subuh-subuh? Tumben udah masak,” ucap Dizza di bawah alam sadarnya. Tapi yang mereka cium bukanlah aroma masakan, melainkan aroma bunga pemakaman. Wajarlah, rumah Dizza terletak di dekat kuburan ilegal tanpa nama, jarang sekali ada yang menangisi, manabur bunga, apalagi berziarah.

“Deff, temenin aku ke toilet, yuk!” Dizza mengguncang tubuh Deffyra yang sedang baring kelelahan.
“Kau mengganggu tidurku, Dizz…” Deffyra bangun dengan malas.
“Eh, jangan tinggalin aku dong…” Thierra ikutan bangun dan ngotot mau ikut.
“Kayak anak kecil aja, udah ah, kamu lanjut tidur aja,” Deffyra meninggalkan Thierra sendirian di kamar Dizza.
“Cepetan, Deff! Kebelet!!” Dizza menarik tangan Deffyra untuk segera ke toilet.

Tinggallah Thierra sendirian. “Foto tua terperangkap di dalam bingkai Bergerak ke kiri setiap jam 2 malam…” suara serak-serak basah itu menyanyikan lagu ciptaan Deffraza (Deffyra, Thierra, Dizza). “Deff? Jangan nyanyiin lagu itu dong…” Thierra memeluk bantal. Ia mengira bahwa yang menyanyikan lagu itu adalah Deffyra. Thierra melihat sesosok gadis di ambang pintu, menggunakan busana serba putih, ia terbang sehingga kakinya tidak dapat menyentuh lantai. Theirra menelungkupkan wajahnya ke dalam bantal, berusaha tidur.

“Thierra udah tidur tuh!” Deffyra menunjuk Thierra yang sudah terlelap dengan posisi telungkup.

Pagi tiba, Thierra, Deffy dan Dizza terbangun pukul 6. Mata mereka bengkak karena tidak nyenyak saat tidur. “Jam pertama adalah jam Miss Chrysella…” Dizza memperingatkan. Secepat kilat, Thierra dan Deffy berebut masuk kamar mandi. Thierra mengalah. Mereka tiba di sekolah pukul 06.45. “Untunglah…” Deffyra meletakkan tasnya di kursi. “Kalau saja terlambat, mungkin sekarang aku sudah ada di depan tiang bendera!” Dizza merasa lega karena Ms.Chrysella belum masuk kelas.

Tiba-tiba, Bu Hanny, guru Bahasa Indonesia memasuki kelas.
“Eh? Emangnya ada pelajaran Bahasa Indonesia hari ini?” tanya Thierra takut salah bawa buku.
“Selamat pagi, anak-anak…” sapa Bu Hanny lemah. “Pagi, bu!” koor satu kelas.
“Ibu ingin menyampaikan berita duka kepada kalian. Miss Chrysella terkena serangan jantung malam tadi, dan tadi subuh beliau menghembuskan napas terakhirnya. Ibu diminta menyuruh kalian mengerjakan tugas halaman 67,” jawaban Bu Hanny membuat siswa kelas 11-2 kaget. Walaupun Miss Chrysella galak, tetapi mereka turut bersedih atas meninggalnya guru killer ini, tak ada lagi ocehan dari Miss Chrysella.

“Kira-kira… pengganti guru Bahasa Inggris kita siapa?” tanya Dizza lemah.
“Kita nggak perlu mikirin itu, aku lapar, dan aku harus makan!” Deffyra menyantap sepiring pempek.
Tiba-tiba, Thierra menceritakan sesuatu. “Eum… Deff, Dizz, kalian tahu, nggak, sama perempuan yang namanya Marry Marie?” tanya Thierra. “Aku tahu! Dia adalah pengarang novel tahun 60-an, dan sekarang dia sudah meninggal, aku ngefans sama Marry!” Dizza menjawab.

“Dia ada di dalam mimpiku. Dia berkata bahwa dia berterima kasih bahwa kita telah mengundangnya, dia rohnya terbebas dari bingkai foto dan pada akhirnya ia berkeliaran di sekitar kita,” Thierra ketakutan. “Tapi… Marry meninggal karena dilindas truk! Wajahnya hancur dan menyeramkan!” Dizza sok tahu.
“Wajah seram yang kau lihat saat malam tadi, kira-kira mirip siapa?” tanya Thierra.
“E….Hah?? Marry! Wajah itu mirip Marry!”

Siang itu, Thierra dan Deffyra sudah pulang ke rumah masing-masing. Thierra masih berpikir keras, kenapa Marry berkeliaran? Dan bagaimana bisa mereka mengundang Marry?
“Kak? Siapa di belakang Kakak?” tanya adik Thierra, Tarry.
“Mana? Nggak ada?” Thierra menoleh ke belakang, lalu kembali memandang adiknya yang seketika berubah menjadi Marry. Thierra berlari ketakutan, ia segera masuk rumah.
“Kakak? Masuk masuk aja, nggak pake salam lagi!” ketus Tarry yang tahu-tahu berada di dekat meja makan.

3 hari lagi, Thierra dan dua sahabatnya akan menampilkan persembahan mereka dengan membawakan lagu ‘Bloody Photo’ yang dinyanyikan seiringan dengan instrumen piano. Thierra berusaha keras menghafal lagu itu. Entah kenapa, lampu tiba-tiba mati kala ia menyanyikan lirik lagu ‘Kesalahan besar, mereka telah mengundang sosok yang ingin bebas’ Jendela tiba-tiba tertutup. Gadis dengan busana penuh noda dengan rambut panjang terurai. Gadis itu menatap mata Thierra, Thierra tak berkedip sekali pun. ‘Ubah akhir lagu itu, atau kau akan terus diteror!’ tiba-tiba angin membisikkannya. Gadis itu menghilang, jendela kembali terbuka. Apa maksudnya? Ubah akhir lagu? Atau terus diteror?

Drrtt drrtt (getaran ponsel)
“Halo? Dizz?” ucap Thierra mengangkat teleponnya.
“Thier! Aku baru saja bertemu dengan sosok gadis menyeramkan!” ucap Dizza di penghujung telepon. Sama denganku, batin Thierra. “Hmm?”
“Dia mengatakan bahwa ‘ubah akhir lagu itu, atau kau akan terus diteror!’, aku tidak mengerti, makanya aku meneleponmu!” Tiba-tiba sambungan telepon itu terputus, menyisakan teriakan perempuan yang begitu menyeramkan. Thierra segera melontar telepon yang membuat suara yang cukup mengganggu telinganya. “Siapa dia..”

Bersambung

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila Pyromaniacs SonExo-l

Cerpen Marry Marie (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Psychotime

Oleh:
Masih gelap. Sunyi dan dingin seakan menjerat kulitku. Tak ada suara kecuali suara jam dinding bergambar Naruto yang tak pernah berhenti melantunkan nada langkah sang detik. Pukul empat tiga

Sekarat

Oleh:
“Mimpi itu lagi,” gerutuku. Baru saja bangun tidur sudah disuguhi mimpi seram. Ah, tidak boleh terlalu dipikirkan. Lagi pula, banyak kerjaan kantor dan mengajar di kelas yang mesti ku

Aroma Pembantaian Alam Barzah (Part 1)

Oleh:
Samantha killery, sepertinya kau akan menuliskan kembali kisah itu. Seperti hal nya aroma malam malam penuh kebencian yang sempat kau torehkan dalam tetesan darah. Episode demi episode akan terulang,

Helena

Oleh:
Pada malam jumat aku pulang malam dari rumah temanku, sekitar jam sebelas malam aku baru sampai gerbang komplek dan dari gerbang komplek ke rumahku butuh waktu kurang lebih sepuluh

Asrama Lily 3

Oleh:
Namaku Veila Laisha. Saat ini, aku tengah menjalankan pendidikanku ke tingkat perguruan tinggi. Aku bersyukur dengan apa yang telah ku capai hingga aku dapat masuk ke perguruan tinggi favoritku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *