Marry Marie (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Tibalah hari yang dinanti, Dizza, Thierra dan Deffyra sudah memantapkan latihan mereka. Satu per satu kelompok telah maju. Kelompok Chatty menyanyikan lagu karya mereka dengan bahasa inggris, sangat keren. Akhirnya tiba giliran kelompok Deffraza. Dizza menyiapkan pianonya, sedangkan Thierra dan Deffy bersiap setelah nada terendah ditekan selama 5 detik. “Foto tua terperangkap di dalam bingkai. Bergerak ke kiri setiap jam 2 malam. Menatap siapapun yang berani bernyanyi tentangnya” 3 baris pertama dalam lagu sukses dinyanyikan Thierra.

“Mereka membuat lingkaran besar. Di tengahnya terdapat seorang gadis dengan menutup mata. Ia menebak siapa pun di belakangnya. Jika benar mereka selamat. Jika salah, keanehan akan terjadi” Mulai lirik lagu itu, beberapa keanehan terjadi, tuts piano yang tidak Dizza tekan berbunyi sendiri, itu menyebabkan permainan mereka sedikit kacau walau Miss Zevanny dan teman-temannya tak menyadari akan hal itu. Deffyra melanjutkan nyanyiannya.
“Lampu akan mati seketika Akan muncul aroma bunga pemakaman. Lampu mati seketika. Akan muncul aroma bunga pemakaman”

Tiba-tiba, tuts piano berbunyi dengan nada tertinggi. Dizza tidak memencet tuts lagi, namun tuts itu berbunyi dan tertekan dengan sendirinya. Thierra dan Deffyra menoleh sejenak ke arah Dizza yang menggeleng. Karena tak ingin mengacaukan persembahan mereka, Thierra melanjutkan lagu, namun suasana kian mencekam. “Kesalahan besar, mereka telah mengundang sosok yang ingin bebas. Mereka telah mengeluarkan gadis itu dari foto.. Kesalahan..”

Jendela dan pintu tertutup keras, hujan deras mengguyur. “Apa yang terjadi?” tanya Miss Zevanny bingung. Mulai dari awal lagu Deffraza, sudah ada keanehan yang terjadi di kelas. Aroma bunga pemakaman tercium jelas. Dizza merasa bahwa tangannya dipegang seseorang, dan dipaksa memencet tuts piano. Apa boleh buat, tangan Dizza memencet tuts piano tanpa dikomando, lagu itu terulang tanpa vokal selama 3 kali. Di tuts piano yang putih itu, terdapat tulisan dengan tinta merah darah.

“Ubah akhir lagu itu! Atau kalian akan diteror!”

Seketika tulisan itu menghilang. Tapi entah kenapa, seluruh siswa bertepuk tangan meriah setelah pertunjukan itu.
“Dizz! Hebat! Kamu masukin nada-nada tempo cepat!” puji Deffyra melahap sosisnya. “Iya, Dizz! Keren abis!”
“Se-sebenarnya…Tadi yang mainin tempo cepat bukan aku, terus yang ngulang lagu 3 kali juga bukan aku…” Dizza menerangkan sebelum sahabatnya salah paham. “Terus? Siapa?” tanya Deffy dan Thierra berbarengan
“Nggak tahu! Tiba-tiba tangan aku digerakin buat mencet tuts piano! Habis itu, ada tulisan kecil yang ngancam kita untuk segera ubah akhir lagu kita!” Dizza mulai ketakutan.
“Diteror?” tebak Thierra. Dizza mengagguk. Tapi, otak mereka buntu, mereka tidak bisa menyalurkan ide untuk mengubah lagu itu. Selama akhir lagu belum diubah, Marry mungkin terus meneror mereka.

Hari ini, ada piknik yang digelar sekolah dalam rangka HUT ke-12 SMA Nerd School. Dizza, Deffyra, dan Thierra serta anak lain menginap di salah satu apartemen tua di dekat pantai Victoria. “Apartemennya jelek, ya?” canda Deffyra memasuki kamar 13, kamar mereka bertiga. “Aduh, Deff, bersyukur kenapa, sih?” cibir Thierra memakan popcorn-nya.

Mereka terkejut karena kamar apartemen itu berantakan sekali. “Ya ampun? Apa nggak ada yang pernah bersihin kamar ini?” oceh Dizza membersihkan ranjang dari debu-debu. Thierra terkejut saat melihat sesuatu mirip bercak darah serta potongan jari di balik bantal. Potongan jari itu sudah membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Thierra dibuat mual olehnya. “Kenapa?” tanya Deffyra ikut melihat sesuatu dibalik bantal. “Iwwhh…” Sudah setengah jam mereka membersihkan kamar, akhirnya mereka bisa istirahat.

“Kata Kak Ranny, besok acara bebas, kita boleh ke mana-mana,” ucap Thierra membaca daftar kunjungan pariwisata sekolah mereka. “Wah, besok kita ke mana, nih? Uji Nyali?” saran Deffyra.
“Maksud kamu… Ghost Hause yang ada di tengah kota?” tanya Thierra sok tahu.
“Iya! Katanya minggu pertama bulan ini ada diskon buat masuk lorong hantu!” Deffyra bersemangat.
Ghost Hause menyediakan wahana-wahana menyeramkan, salah satunya lorong hantu yang tiket masuknya mencapai 50-an ribu, namun karena diskon besar-besaran, tiket masuknya seharga 20 ribu. “Yakin besok mau ke Ghost Hause?” tanya Thierra ragu. Deffyra dan Dizza mengangguk pasti. Mereka pun mengambil posisi tidur, lalu terlelap.

“Kring!!!!”

Alarm Dizza berbunyi keras hampir membuat gendang telinganya sendiri pecah. Dasar.. Dizza. “Hoooiii!! Bangun!! Udah jam 8 woii!” pekik Dizza. Mereka terkejut, terlambat 2 jam dari harapan. Padahal awalnya mereka ingin bangun jam 6 pagi. “Sebelum ke Ghost Hause, kita ke Toko Buku Cassamia dulu, ya?” Thierra menyisir rambut panjangnya. Deffyra dan Dizza mengiyakan.

“Emangnya mau beli apa, Thier?” tanya Dizza ingin tahu.
“Buku misteri bingkai foto.”
“Emangnya ada?” tanya Dizza.
“Nggak tahu, makanya aku pengen ke sana buat lihat-lihat,”

Akhirnya mereka bersiap turun ke lantai dasar. Sepi, sangat sepi, mungkin siswa lain sudah bepergian sejak pukul 07.00. Mereka memasuki lift, bau bunga pemakaman tercium lagi. Thierra merapat ke arah Deffy, berharap tak ada hal yang tidak diharapkan. Akhirnya mereka sampai di lantai dasar. “Hai, Deff, Dizz, Thier!” sapa Villa. “Hai, Vill!” Mereka masuk ke dalam mobil dengan label ‘SMA Nerd School-13’ yang artinya nomor urut kelompok piknik mereka 13. Mobil itu disiapkan untuk kelompok piknik. “Ke Cassamia,” ucap Dizza kepada sang sopir. 20 menit kemudian, mereka sampai di surganya para kutubuku. “Gede, ya?” kagum Deffy memasuki Cassamia.

Thierra menuju bagian buku horror, Deffy menuju bagian buku komik sedangkan Dizza mengikuti Deffyra. Toko buku itu ramai sekali, kecuali pada bagian buku horror. “Misteri…bingkai…foto…” Thierra mengeja judul buku yang dicarinya. Dia merasa melupakan sesuatu.
“Lagu! Lirik akhir lagu belum diubah!” ingatnya kemudian ketakutan, takut sosok menyeramkan menghantuinya dan teman-temannya lagi. “Ketemu!” ia mengambil buku bersampul plastik dengan tulisan ‘Misteri Bingkai Foto’. Thierra menuju kasir, dan di sana Deffy dan Dizza sudah ada. Ia mengeluarkan uang 50 ribuan.
“Akhirnya aku melengkapi 100 jilid komik ‘Dangerous’!” seru deffyra saat mereka berada di mobil.
“Terus ke mana lagi?” tanya Thierra.
“Kamu lupa? Kita akan ke Ghost House!”

Gerbang terbuka dengan sendirinya, labu halloween bergelantungan di mana-mana. Mereka telah memasuki wahana pertama di Ghost Hause, tempat pembelian tiket yang menyeramkan. Teriakan hantu dari speaker cukup menyeramkan. ‘Don’t Scream!’ Peringatan itu terpampang di sebuah kayu yang tidak jauh beda dengan batu nisan.
“Welcome to Ghost Hause…” sapa petugas dengan kostum perawat dengan bercak darah.
“3 tiket ke lorong hantu,” jawab Deffyra. Petugas itu memberikan tiket dan gerbang menuju lorong hantu dibuka.

Sepanjang jalan awal menuju lorong terasa sunyi, hanya ada pepohonan palsu berbaris rapi di sepinggir jalan. Tiba-tiba, sosok menyeramkan mengejutkan mereka dari belakang. Hantu semacam tuyul itu mengejar mereka. Deffy berlari kencang meninggalkan dua temannya. Naas, mereka terpisah di perempatan lorong. Thierra berjalan pelan melewati lorong dengan pencahayaan redup. Kelelawar mainan itu terasa seperti asli, beterbangan menabrak tubuh Thierra tanpa ampun. “Deffyra!! Dizza!!” pekik Thierra. Hantu muncul dari semua sisi, depan belakang, atas, bawah, samping kiri dan kanan. Thierra terkepung, ia berteriak sekencang mungkin. Kemudian berlari menabrak hantu-hantu walau sebenarnya para hantu itu hanyalah bohongan.

Thierra menabrak satu hantu dengan rupa gadis yang wajahnya menyeramkan. Transparan! Gadis itu transparan! Dia hantu buatan? “Hologram? Bagaimana bisa?” Thierra berlari lagi. Ia merasa tangannya memegang sesuatu.
“Kertas?” Thierra membaca tulisan di kertas. Entah bagaimana bisa kertas itu sampai di tangannya.
‘Jangan menunda! Ubah akhir lagumu! Sebelum aku merubah semuanya!’ Tulisan menyeramkan itu lagi… Thierra tak sadar bahwa dirinya sekarang sudah berada di titik aman. Lorong hantu sudah ia lewati, tinggal jalanan berhantu. Thierra tertidur di kursi goyang yang berada di pinggir wahana lorong hantu. Rasa letih mendominasi dirinya.

Ia terbangun di atas tanah. Disekelilingnya hutan belantara, suara aneh mengisi keheningan. “Di mana aku?” tanya Thierra pada dirinya sendiri. Dirinya penuh luka. Di antaranya banyak yang bernanah, rasa perih tak terhindarkan. Ia melihat arlojinya, tidak bergerak sedikit pun. “Dizza! Deffyra!” pekiknya dengan sisa tenaga yang ada. Ia hampir menangis. “Siapa pun! Tolong aku!” teriaknya sedemikian kerasnya. ‘Menunda bukan sesuatu yang harus dilakukan tetapi yang menunggu sangat melelahkan…’ luka di tangannya membentuk kalimat menyeramkan, tentu darahnya menjadi tinta tulisan itu. Rasa perih tak lagi dihiraukan. Ia bertemu seorang nenek tua berpakaian kumuh dengan tongkat membantunya berjalan. Thierra bangkit, dan menstabilkan posisinya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” tanya sang nenek dengan nada merendah.
“Saya juga nggak tahu, nek… tiba-tiba saya bangun dan sudah ada di sini,” jawab Thierra sekenanya.
“Ayo ikut Nenek,” ajak nenek tersebut ke rumah tua di dekat lokasi mereka berbicara tadi. Memangnya ada rumah? Kenapa aku tidak lihat? tanya Thierra dalam hati. Thierra memasuki rumah tua milik nenek tadi. Segala macam jenis bingkai foto terpajang sepanjang dinding rumah. Thierra berjalan pelan sambil menengok foto-foto yang ada di dalam bingkai. Ada satu foto yang menarik pandangan matanya.

Marry Marie-1313. Nama itu yang mampu menarik perhatiannya, Marry, sosok menyeramkan yang konon menjadi pelaku teror kehidupannya dan kedua sahabatnya. Tapi ada sesuatu yang aneh. Matanya! Mata Marry tampak berwarna biru dan tatapan yang tajam mengarah pada Thierra. “Jangan ke sana!” sergah sang nenek dengan amarah. “Ma-maaf…”

“Semua foto ini memiliki latar belakang berbeda, dan hampir semua orang yang ada di foto telah meninggal dengan sadis. Manusia yang berani bernyanyi tentang foto walau dengan lirik berbeda dengan yang asli, kemungkinan besar orang yang manusia nyanyikan itu, rohnya kembali ke dunia, sedangkan raga mereka terperangkap di dalam bingkai foto… roh tersebut akan mencari manusia yang berani menyanyikan dirinya, lalu ia akan mengambil nyawa orang tersebut, untuk menggantikannya berada di dalam foto, sehingga roh semula dapat berkeliaran bebas…” terang sang nenek.

“Barangsiapa yang sudah diperingati, dan tidak mau merubah kesalahan, maka dialah yang akan menjadi tumbalnya,” sambung sang nenek membuat Thierra takut. Pasalnya, ia sudah diteror dengan peringatan sekaligus mengancam beberapa kali, namun otaknya buntu dan tak dapat mengubah akhir lagu tentang foto itu.
“Jika seseorang bertemu dengan kematian, 13 detik sebelum itu, orang itu akan bertemu sosok Marry dan saat itu, Marry tersenyum mengucap terima kasih,” nenek mengakhiri ceritanya, kemudian memberikan bingkai foto Marry kepada Thierra. Thierra memandang setiap inchi foto berdebu itu, kemudian…

“Lalu apa yang harus…” Nenek itu tak ada dihadapan Thierra, menghilang tanpa sepengetahuan Thierra. “Nenek itu di mana?” Secepat kilat Thierra kabur dari rumah tua itu. Dan menghempaskan foto Marry hingga bingkainya pecah, namun darah keluar dari bingkai foto dan membanjiri sekitar pecahan kaca bingkai. Entah dari mana asalnya.

Thierra terbangun dari alam bawah sadarnya. Mimpi panjang itu membuatnya paham bagaimana bisa roh Marry berkeliaran. “Thierra!!” pekik Dizza dan Deffyra memeluk Thierra. Thierra baru sadar bahwa ia sekarang berada di klinik terdekat apartemen tua. “Aku? Kenapa?” tanya Thierra kebingungan.
“Ya ampun, Thierraaaaa! Kamu bikin kita kaget! Asma kamu kambuh waktu di Ghost Hause! Dan pak sopir ngantar kamu ke klinik!” jelas Deffyra. “Dan itu? Kamu bawa apa?” tanya Dizza melirik bingkai foto di tangan kiri Thierra.

Thierra melirik apa yang ia bawa, seketika ia terkejut dan menghempaskan bingkai foto Marry. Kepalanya terasa pusing, sosok Marry terlihat jelas di matanya. Ia susah bernapas, Marry seakan mencekik lehernya. Tapi aneh, Deffy dan Dizza tak melihat keberadaan Marry. “Aaakhh!!” teriak Thierra sekuat mungkin. Matanya menutup perlahan, sebelumnya, ia melihat Marry tampak tersenyum. Ia mengingat kata-kata nenek tadi, ia merasa bahwa nyawanya menjadi bayaran semua yang telah mereka lakukan. “Xie xie…” bisik Marry kemudian hilang terbawa angin.

Thierra dibawa ke Rumah Sakit Casslea di dekat apartemen. Ia menjalani perawatan panjang, hingga akhirnya…
“Deff, Thierra udah meninggal…” lirih Dizza memeluk sahabatnya. Tangis pilu mengiringi pemakaman Thierra. Hingga pada akhirnya, mereka mengira Marry telah tersenyum bahagia menyaksikan target pertamanya telah tewas.

13 hari setelah kematian Thierra, Deffyra meninggal karena bertabrakan dengan sebuah truk angkutan barang di dekat lokasi Ghost Hause, wajahnya hancur setelah dilindas truk tersebut. Sang sopir truk melihat seorang gadis berpakaian putih dengan bercak darah yang menyingkirkannya dan mengendarai truk tersebut hingga pada akhirnya merenggut nyawa Deffyra. Gadis yang diakui Dizza bernama Marry itu sudah menjadi trending topic di berbagai media semenjak tewasnya Thierra. Sosoknya bergentayangan di sekitar rumahnya, di sudut toilet, dan di bawah kolong ranjang. Dan jika malam tiba, ia akan datang tepat pukul 02.00 dini hari. Target pertamanya Thierra, target keduanya Deffyra dan target ketiganya adalah pembaca cerita ini.

The End

Cerpen Karangan: Ghina Syakila
Facebook: Ghina Syakila Pyromaniacs SonExo-l

Cerpen Marry Marie (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Roh Di Dalam Topeng

Oleh:
Hari ini teman Fifi yaitu Sisi ulang Tahun. Sisi mendapat kado sepesial dari saudaranya yaitu Alya. kado sepesialnya itu adalah topeng berbentuk orang mulutnya menutup dan sedikit mengeluarkan Lidahnya.

Balas Dendam

Oleh:
Namaku Silvi. Aku bersekolah di SMA unggulan Surabaya, sekarang aku sudah kelas XII. Aku mempunyai teman yang bernama Rey. Rey suka padaku. Dia pernah menebakku tapi aku menolaknya. Aku

Norma Comaccos

Oleh:
Aloha, bertemu lagi denganku, Comaccos. Memangnya, sebelumnya kita pernah bertemu? Hahaha tentu saja tidak! Maukah kalian membaca kisahku? Hmm.. jika tak mau pun, akan kupaksa kalian agar tetap membacanya.

Bloody Angel

Oleh:
Aku adalah sebuah pisau dapur. Aku dibuat untuk para ibu-ibu yang ku pastikan memakai jasaku melayani suami dan anak mereka. Sebesit pikiran melintas, terbayang seorang ibu-ibu bertubuh gempal bercelemek

Di Balik Keheningan (Part 1)

Oleh:
Detik jarum jam bagaikan alunan simponi bagiku. Sepi dan menyedihkan. Diam, aku hanya bisa diam ketika semua orang mencelaku. Dari sekian banyak orang di sekolah, mungkin tidak ada yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

15 responses to “Marry Marie (Part 2)”

  1. ulfa says:

    Aaa..!! Bener2 serem, sampe deg deg an bacanya

  2. Anonim says:

    Ehm.. Ceritanya betulan / nggak sih? Takut banget pas lihat target ketiga nih….

  3. Naia Fahira says:

    Hei hei hei… Jangan mendoakan begitu doong

  4. calystazkia says:

    Serem ih pas lihat target ketiga

  5. Indah says:

    Ini yang bikin iseng banget sih! Sukses deh bikin takut para pembaca

  6. Raihanur says:

    part 1 + part 2 keren…. bikin pada takut yg baca..
    sukses ya

  7. Salasiah Maya says:

    Seru ceritanya, tapi paling gak suka kalo dicerita pas endingnya kyk nyumpahin

  8. Putri says:

    greget banget endingnya, keren kak.

  9. Ahmus says:

    Serem pas baca critanya,, jempol dah buat penulis. .
    Tapi, sharusnya penulis tdk membuat kata2 di akhr seperti itu.. Khawatirnya orang2 yg bca gak bisa tidur smalaman…

  10. Ghina Syakila says:

    Enggak kok, ceritanya nggak beneran. Itu cuma bumbu supaya aroma horrornya terasa.

    Terima kasih atas komentarnya:)

  11. Aysira putri hassanah says:

    Wah keren bgt…terus berkarya ya kak….tp aku bingung kok dizza gak ikut mati?

    • Ghina Syakila says:

      Makasih. Dizza nya nggak ikutan mati karena dia nggak nyanyi, dia cuman main piano. Sedangkan kutukan itu untuk bagi siapa saja yang menyanyi tentang Marry.

    • Ghina Syakila says:

      Oh iya, Si Dizza memang disisakan/? Nyawanya*apa ini*-,- karena cerpen selanjutnya masih ada “Marry Marie 2” yg nanti akan segera di kirim ke cerpenmu.con

  12. Keren banget cerpennya ka, bikin merinding, terus berkarya ka

  13. Sherry says:

    Keren kak. Terus berkarya ya!
    kak aku mau nanya nih, aku kan pengen juga buat cerita tapi, aku tuh gak bisa fokus dan akhirnya jadi males.
    Aku mau nanya gimana biar bisa fokus?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *