Mengapa? (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

Seperti biasa, awan putih mulai menyapa di pagi hari yang ditemani dengan mekarnya dedaunan. Aku merasa hariku yang sebenarnya akan dimulai. Rasa pegal yang aku rasakan kemarin mulai luntur.
Menyikat gigi, merapikan rambut, dan tentu saja sarapan. Itulah yang biasa kulakukan. Wow, Kakak sudah ada di dapur! Senyuman langsung kulukiskan di wajahku kepada Kakak. Apa lagi? Tentu saja ada lukisan senyum yang menjawabku.

“Sudah sarapan?” Tanyaku.
“Sudah!”
“Hah? Bangun jam berapa?” Aku benar-benar terkejut. Ini sulit dipercaya. Kakak, Kakakku bangun pagi?
“Memangnya kenapa?”
“Tidak!”
Aku langsung sarapan. Duduk di sebelah Kakak dan mulai berbincang dengannya. Namun tetap saja, semua topik yang aku bicarakan dengannya tampak kosong. Apa yang akan aku katakan lagi?

“Berangkat sekarang?” Tanyanya.
“Boleh saja”
“Ya sudah, ayo…”
“Naik apa?”
“Tentu saja mobil Papa.”

Akhirnya kami berdua berangkat bersama menuju rumah sakit. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuatku merasakan sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan. Namun, perasaanku terus saja merasa tidak enak. Entah apa yang akan terjadi nanti?

Tiba-tiba mobil yang kami kendarai berhenti. Aku langsung terbangun dari lamunanku yang sejak tadi kulakukan. Ternyata kami telah sampai di rumah sakit dan banyak sekali orang di sana. Maklum, aku belum pernah ke rumah sakit sebelumnya semenjak aku menginjak usia remaja.

Kakak langsung menuju Receptionis untuk menanyakan di mana Papa dirawat. Ternyata Papa ada di kamar Jatiutama nomor 3. Langsung saja kami berlari menuju kamar itu.
“Papa…” teriakku saat melihat Papa duduk di tempat tidur.
“Tissa? Kamu sama siapa di sini? Kamu baik-baik saja kan?”
“iya, Pa. aku di sini, sama Kakak”
“Kakakmu?”

“Papa…” kata kakak sambil membuka pintu kamar.
“mengapa kamu ke sini? Tidak seharusnya kamu ada di sini! Sudah puas kamu, ha? Puas? Apa kamu ingin menghancurkan kami semua? Pergi kamu dari sini, pergi! Jangan sampai menunjukkan wajah kamu di depan Papa! Pergi kamu, pergi!” tiba-tiba Papa langsung sulit bernapas dan akhirnya Papa kembali dalam kondisi kritis.

Mama langsung bingung dan sangat ketakutan. Keringat terus bercucuran di wajahnya. Papa langsung dipindahkan ke ruang operasi. Dan Kakak, dia merasa sangat bersalah. Dia terlihat lebih ketakutan dibandingkan Mama. Kakak begitu merasa bersalahnya sampai dia terlihat seperti orang yang depresi.

Kakak langsung pulang tanpa mengajakku. Aku tidak peduli, Papa sekarang sedang kritis. Apa aku harus meninggalkan Mama sendirian? Itu tidak mungkin. Mama terus saja menangis. Para perawat berlarian entah kemana saja. Yang pasti, mereka semua terlihat sangat gugup.

Dokter yang menangani Papa merasa kewalahan hingga mendatangkan seorang dokter lagi. Aku semakin takut akan terjadi sesuatu pada Papa. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menahan tangisku untuk bisa menenangkan Mama.

Tiba-tiba suara ponselku berdering. aku segera menerima telpon itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarku, karena aku khawatir semuanya tidak baik-baik saja.
“Halo, siapa ini?” Tanyaku.
“Kau ini bagaimana? Aku Anna, temanmu! Masa lupa?”
“Oh, Anna? Maaf ya, tadi tidak aku lihat.”
“Terserah kau saja. Hei, 20 menit lagi kelas dimulai! Kau ada di mana sekarang?”
“Astaga. Aku sedang ada di rumah sakit. Mungkin aku tidak bisa datang. Jadi, tolong beri tahu aku ya kalau ada pengumuman”
“Apa aku harus memberimu gelar Sarjana juga? Jika kau tidak datang dalam pertemuan kali ini, bisa-bisa kau akan kuliah selama 7 tahun! Kau masih ingat kan, sebentar lagi ada pembagian tugas skripsi? Jika kau tidak datang mungkin bukan hanya kuliahmu semakin panjang, tetapi kamu juga akan mendapat hukuman! Lalu bagaimana?”
“Oh, begitu ya? Jadi, akan aku usahakan datang. Tunggu aku ya!”
“Jangan lama ya, aku tunggu!”
“Iya, makasih sudah diingatkan. Dah…”
Saat aku menutup teleponku, aku melihat Mama berada tak lebih dari selangkah dariku. Mama mengangguk, menandakan bahwa ia mengijinkanku untuk mengikuti kelas. Lalu dia berkata,
“Nanti petang, Mama akan pulang ke rumah. Jadi kamu juga harus bisa pulang cepat!”
Jadi, aku langsung saja berpamitan padanya. Mencoba memberhentikan taksi dan menuju kampus yang untung saja berada tak jauh dari rumah sakit.

Pelajaran yang disampaikan di kampus sangat membosankan, yang membuatku terus mengingat Papa. Aku jadi tidak bisa konsentrasi. Pikiranku terus saja memikirkan keadaan Papa dan Mama yang mungkin tak kuat melihat Papa yang terbaring sakit.
“Mama?” Aku mengingat ucapan Mama sebelum aku berangkat ke kampus. Aku melihat jam tangan yang kupakai. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.
“Aku harus segera kembali ke rumah…”

Aku langsung saja berlari tanpa memperhatikan keadaan di sekitarku. Dengan cepat aku mencari taksi untuk segera mengantarku ke rumah. Dosen terus saja memanggilku. Namun, aku sama sekali tidak peduli dengannya. Kuliah tidak penting bagiku daripada keluargaku. Karena aku bisa seperti ini hanya karena mereka. Bukan karena para Dosen.

Saat aku sampai di rumah. Aku mendengar sesuatu yang terjatuh dengan keras. Kupikir, itu hanyalah vas bunga saja yang terjatuh. Tapi ternyata…
“Mama…” Teriakku saat melihat Mama berlumuran darah di dapur.
“jangan Panji! Jangan lakukan ini! Apa yang kau inginkan Panji? Apa? Apa kau tega? Apa kau tidak ingat masa-masamu bersama keluarga ini? Seharusnya aku membiarkan Papamu untuk menyerahkanmu kepada Polisi kalau akhirnya jadi seperti ini!” Teriak Mama kepada kak Panji yang terlihat seperti ingin membunuh Mama. Entah apa penyebabnya.
Dengan cepat, Kakak menyambar pisau yang ada di dekat kompor. Langsung saja ia angkat pisau itu dan mulai mengarahkannya ke arah Mama. Aku terkejut dengan apa yang kakakku itu lakukan. Aku langsung menyambar dengan cepat pisau itu dari genggaman Kakak.
“Kakak…” Panggilku untuk menyadarkan Kakak.
“Minggir kamu!” Kakak malah mendorongku hingga terjatuh dan terbentur kabinet. Tak kusangka, dahiku juga berdarah. Aku langsung menangis dengan sikap Kakak. Bagaimana bisa dia seperti ini?

Kakak langsung mengangkat Mama yang bertubuh agak kurus. Tanpa ada rasa ragu, kakak langsung membanting Mama ke tembok hingga tak kuat lagi berdiri. Tak ada yang bisa Mama lakukan kecuali dengan menangis. Kakak benar-benar telah hilang akal!

Tak lama kemudian, Kakak mencoba menyakiti Mama dengan memukulinya. Aku langsung meraih tangan Kakak dan memeluknya erat-erat. Kakak mencoba melepaskan diri dengan bergerak tak karuan dengan sangat keras. Tentu saja aku tidak kuat menahan tubuh kakak yang agak besar.
Aku dan Mama menangis histeris. Namun, tak ada satu pun tetangga yang datang. Apa mereka sudah tahu tentang hal ini? Atau mereka tidak mendengar jerit tangis kami? Mungkinkah mereka ingin membiarkan ini terjadi pada kami? Itu semua tidak mungkin!

“Kakak… Apa Kakak tidak ingat dengan keadaan Papa yang saat ini sedang sakit? Eling Kak, eling! Ada apa dengan Kakak? Mama seperti ini karena Kakak, kan? Memangnya apa salah Mama dan apa Kakak tidak peduli dengan kami?” Ucapku. Namun Kakak malah semakin membabi buta.

Gelas dan piring kaca yang ada di dapur pecah semua. Meja-meja tergeletak dimana saja. Satu per satu sendok dan garpu Kakak lempar ke arah Mama. Berarti, Mama berdarah itu karena Kakak menghantamkan piring kepada Mama.
Aku semakin tidak mengerti apa yang Kakak inginkan. Ini semua tidak seperti yang aku kira. Aku terus menghalangi Kakak untuk menyakiti Mama. Namun semuanya sia-sia. Tiba-tiba ada seorang lelaki tua yang saat itu ada bersama 2 orang tetangga, berdiri di belakangku.

“Panji!” Teriak lelaki tua itu.
Kakak tidak mempedulikannya. Tetapi ia malah menangis dan terus saja menyakiti Mama. Kini bola lampu telah meluncur mengenai kepala Mama. Dan sebuah pisau menyusul yang akhirnya mendarat tepat di jantung Mama.
“Mama…” Mama langsung tak sadarkan diri. Mama meninggal!

Aku langsung menjerit dan mencoba menggapai mama. Namun kakak mencoba menghalangiku dan melamparku sampai aku menabrak pintu. Kejadian tragis ini membuatku bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Saat melihatku tersungkur di dekat pintu, kakek itu langsung mendekati Panji dan menamparnya. Kakak langsung berhenti, diam tanpa melakukan sesuatu.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya kakek itu.
“Apa yang kulakukan? Sedangkan kau, apa yang kau lakukan di sini? Aku ingin makan, aku lapar!” jawab kakak.

Aku semakin dan semakin tidak mengerti apa yang mereka maksudkan. Kakak dan kakek tua itu terus berdebat yang menyebabkan suara benturan benda ada di mana-mana. Aku memanfaatkan waktu ini untuk mendekati mama dan mencoba memastikan keadaannya. Saat aku tepat berada di samping mama dan mencoba menyentuh tangannya, lagi-lagi kakak mendorongku.

“Ini makananku!” katanya dengan suara sangat berat.
Tentu saja aku terkejut. Apa maksud Kakak? Apa kakak seorang kanibal? Kanibal?
“Kak, apa maksudmu? Dia Mama, apa Kakak mau memakannya?” teriakku padanya.
“Lalu, masalah untukmu?”
“Kak, jauhi Mama! Jangan sampai kau menyentuhnya!”
“Ada apa, hah? Kenapa?”

Aku terus saja adu mulut dengan Kakak. Paling tidak, dia tidak akan menyentuh Mama untuk sementara waktu. Tapi, pertengkaran kami semakin menjadi-jadi. Sekarang, Kakak mencoba melukaiku. Pada saat itu juga Kakak mengamuk. Apapun yang ada di dekatnya, ia banting sekeras mungkin.

Langsung saja aku meraih ponselku yang ada di dekat pintu dan menelepon Polisi. Namun dengan sigapnya Kakak meraih ponselku dan membantingnya. Lalu aku mendorong Kakak sekuat yang aku bisa. Namun apa daya, aku tidak mampu melakukan itu. Tanganku terlalu kecil dan tubuh atletis Kakak yang terlalu besar.
Tapi Kakak tidak mempedulikan itu. Dia berlari menuju Mama dan mencabut pisau yang ada di jantungnya. Tanpa ada rasa takut maupun ragu, Kakak langsung ******** lengan mama. Dan, daging itu, daging Mama disantap Kakak?! Aku ngeri melihatnya. Bercampur aduk dengan rasa sedih dan takut.

Tiba-tiba saja Polisi datang. Entah siapa yang menelepon Polisi itu. Bahkan, mungkin ada puluhan Polisi yang datang. Sebagian mengawasi keadaan, dan sebagian mengamankan Kakak. Pada saat yang sama, pasukan medis yang membawa ambulan datang mencoba menyelamatkan Mama. Namun apa gunanya, Mama sudah meninggal! Ia tidak merespon apapun!

Aku berlari menyusul pasukan medis yang bergerak cepat ke luar rumah. Aku menatap dengan mata kepalaku sendiri, Mama dimasukkan ke dalam ambulan. Dan Kakak, dia dibawa Polisi ke kantor mereka dengan menaiki mobil polisi yang tertutup.
Mataku tajam menatap Kakak yang sama sekali tidak merasa bersalah, dengan tetesan air mata di seluruh wajahku. Ingin rasanya aku masuk ke dalam ambulan dan menemani Mama. Namun mereka tidak mengizinkanku. Jadi aku memilih untuk tetap tinggal di rumah dan menenangkan diriku.

Dengan hati yang hancur, tubuh yang lemah dan pikiran yang telah tidak bisa digunakan lagi, aku berlari menuju ruang tamu. Aku duduk di sofa dan menangis sesuka hatiku. Ada sebuah tangan mengelus punggungku. Aku menoleh, ternyata dia adalah kakek tua yang tadi.

“Kamu yang sabar ya!” Kata Kakek itu.
“Kakek yang menelepon mereka?”
“Benar. Aku telah memprediksi hal ini. Saat aku mendengar kau berteriak tadi, aku langsung menelepon Polisi dan ambulan. Namun tetap saja kehadiran mereka terlambat.”
“Kakek siapa? Apa kami mengenal Kakek?”
“Mungkin kau tidak, tapi Kakakmu dan kedua orangtuamu mengenal aku. Aku Adik dari Ayah Papamu. Dulu, Kakekmu itu meninggal karena sifat Panji. Iya, dia telah memakan tubuh Kakekmu saat dia masih berusia 7 tahun. Saat itu, kau masih bayi. Mungkin masih berusia 6 bulan. Itulah pertama kalinya dia menjadi kanibal.”
“Tapi, mengapa semua orang tidak ada yang memberitahukan semua ini padaku? Apa mereka tidak percaya kepadaku? Aku hanya tidak mengerti, mengapa semua ini terjadi tepat di hadapanku tapi aku tidak menyadarinya sama sekali.”
“Apa kau tahu, mengapa keadaan perumahan ini menjadi sepi seperti ini?”
“Apa Kakak penyebabnya?”
“Iya. Dulu, perumahan ini yang paling ramai. Awalnya semuanya tampak bahagia dan damai. Aku terus mengikuti kemana saja Kakakmu itu pergi. Jadi aku tahu semua yang dilakukannya. Biasanya, sebulan sekali dia menculik anak di perumahan ini dan memakannya. Hingga beberapa keluarga pergi meninggalkan perumahan ini. Lama kelamaan, setiap dua minggu sekali dia memakan anak-anak. Tapi sekarang dia semakin membabi buta. Aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi. Pada akhirnya, ia memakan anak setiap hari. Apa kau ingat, dia pernah tidak pulang beberapa hari yang lalu? Dia memakan Teddy dan Rio. Hal yang paling tidak manusiawi adalah, dia memakan Teddy di depan Rio, setelah itu memakan Rio! Aku ingin menghentikannya, namun aku tidak bisa!”
“Benarkah?”
“Dan kejadian saat konser itu, Kakakmulah yang bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada bocah itu!”
“Papa…? Apa kita harus memberitahu Papa soal sifat Kakak?”
“Dia sudah tahu sejak lama.”
“Apa? Mereka benar-benar tidak memberitahuku?”
Percakapan kami banyak mengungkapkan misteri yang benar-benar membuatku bingung.

Beberapa hari kemudian, Papa pulang ke rumah. Aku mengatakan padanya kalau Mama telah meninggal dan Kakak telah dipenjara. Sontak Papa terkejut dan dia terkena serangan jantung lagi. Mungkin, Papa lebih terkejut dan lebih sakit dari sebelumnya. Akhirnya Papa tidak tertolong. Kini, tinggal aku sendirian bahkan, aku tidak bisa menghabiskan hari-hariku.

Tiba-tiba pihak kampus meneleponku. Mereka mengatakan kalau aku tidak datang saat ini juga, maka mereka akan men-DOku. Namun aku langsung menutup teleponnya. Aku tidak peduli dengan semua yang akan terjadi padaku. Hidupku telah berakhir sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Kakek.

Dunia terasa suram bagiku. Semuanya tidak seperti yang aku lihat. Dunia menyimpan begitu banyak misteri dan begitu banyak jawaban yang tersembunyi. Aku hanya ingin tahu, mengapa Tuhan menciptakan kami dengan begitu banyak masalah dan misteri yang harus kami pecahkan? Semoga kejadian seperti Kakakku tidak terulang kepada orang lain.

Cerpen Karangan: Dikta Sumar Hidayah
SMPN 1 PURI

Cerpen Mengapa? (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Sebelah

Oleh:
Rossaly Channesta 17.15 “Jangan lupa, ya. Entar, jam 6, kita bertemu di depan rumahmu.” Aku membaca BBM dari Rossaly. “Dia pikir aku ini pelupa, ya?” kataku. Dengan cepat, aku

Rumah Tua Itu (Part 1)

Oleh:
“Jangan pernah masuk ke rumah itu,” seru seorang warga sambil menepuk pundakku. Aku kaget dan menoleh ke arahnya. “Eh bapak ngagetin saya aja.” “Habisnya kamu serius banget ngelihatin rumah

Rumah Baru Gua Berhantu

Oleh:
13 september 2013 Ini adalah hari pertama keluarga gue pindah ke rumah baru. Awalnya semua seneng banget, termasuk gue. Dalam fikiran gue, udah kebayang rumah baru yang bakal kami

Kematian Chily

Oleh:
Di luar rumah terdengar suara seorang wanita sedang menangis. Setelah ditengok ternyata tidak ada siapa-siapa. Angin malam berhembus semilir. Membuat bulu kuduk menjadi merinding. Kembali terdengar seorang wanita menangis.

Sepintas Yang Terlintas

Oleh:
Drrrttt… drrrttt… drrrttt… Handphoneku bergetar untuk yang kesekian kalinya. Tak seperti biasanya, kali ini aku begitu kesal karenanya. Kulirik layar handphone yang letaknya tak jauh dari jangkauan tanganku. ‘Duh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *