Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 15 December 2016

Hari sudah terlalu gelap dan kelam untuk dibilang cerah. Aku sudah kehilangan hidupku saat aku menceritakan ini. Aku harap kamu mau membacanya. Karena saat kamu membacanya, aku merasa nyaman berada di sampingmu. Tenang aku tidak akan membunuhmu. Aku memiliki kriteria korbanku sendiri. Aku tidak akan memberitahumu. Kamu harus membaca kisahku, maka kau pasti bisa menebaknya.

Semuanya bermula saat aku terbangun secara tiba-tiba. Aku melihat jam dinding, ternyata jarum jam masih menunjukkan angka 02:30 dini hari. Aku mendengar isak tangis lelaki yang terdengar pilu. Bagai tangis seorang ayah yang kehilangan anaknya yang tak berdosa. Ya, seharusnya kau bisa membayangkannya walaupun kau bukan seorang ayah. Aku mencoba membayangkan darimana suara tangisan itu berasal, tetapi tetap saja sulit. Seakan-akan suara mengerikan itu berasal dari dalam pikiranku dan akan terus menghantuiku sepanjang malam. Karena tidak tahan dan juga didorong oleh rasa penasaran. Aku bangkit dari kasurku dan membuka pintu kamar kostku. Rumah kost tempatku tinggal berada di sebuah rumah tua beradat Jawa yang tidak jauh letaknya dari kampusku. Aku tinggal di kost ini hanya berdua saja –teman satu kostku letaknya lumayan jauh dari kamarku. Saat aku membuka pintu kamarku, suara tangis itu semakin terdengar jelas, semakin keras terdengar, semakin memilukan, dan juga semakin membuatku penasaran darimana asalnya.

Aku mulai menyusuri lorong rumah kost yang cukup panjang karena di rumah ini ada 20 kamar berderet dari kamarku. Entah mengapa aku merasa aku mengutuki sendiri rasa penasaranku yang mendorongku untuk melakukan hal nekat macam ini. Aku terkejut saat kulihat di halaman depan ada seorang lelaki berbaju lusuh meraung-raung menatap tajam mataku dan mulai menikam jantungnya sendiri berkali-kali. Aku terdiam terpaku menatap matanya yang tajam diliputi kematian. Darah yang mengalir deras dari balik bajunya yang bersimbah darah membuatku mual. Tidak hanya itu, ia merobek perutnya dan terburailah segala isinya. Ia merogoh dadanya mengambil sesuatu dari baliknya. Ia mencabut nyawanya sendiri dengan cara yang mengenaskan, pikirku. Ia lalu menggigit gumpalan merah -Ya, itu jantungnya- dari tubuhnya sehingga bermuncratan darah. Ia melemparkan gumpalan itu tepat mengenai wajahku. Aku bersimbah darah. Tanpa kusadari lelaki itu tiba-tiba sudah berada di depan mataku dan ia menusuk kepalaku.

Aku terbangun dari mimpi yang amat sangat buruk itu. Aku pikir tidak seharusnya aku terlalu banyak menonton film horror belakangan ini. Sudah terhitung 10 film horror aku tonton selama beberapa hari terakhir. Betapa terkejutnya saat kusadari ternyata aku terbangun pada pukul 02:30 dini hari. Lebih terkejut lagi setelah beberapa saat aku mulai mendengar isak tangis itu lagi. Persis seperti apa yang aku alami di mimpi tadi. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Diam saja ternyata malah membuatku semakin gila dengan suara mengerikan itu. Aku putuskan untuk memeriksanya, tetapi aku terlalu paranoid sebab mimpiku tadi terlihat nyata, maka aku membawa cutter yang ada di meja belajarku.. Aku membuka pintu kamarku dan ternyata suara itu berasal dari kamar teman satu kostku, Andro. Ia memang terkadang begitu, menangis di malam hari karena rindu orangtuanya di Jakarta. Walaupun ia termasuk mahasiswa yang tergolong cerdas dalam hal akademik, tetapi ia tidak cerdas secara emosional dan spiritual. Seharusnya manusia memiliki keseimbangan diantaranya. Aku mengetuk pintu kamarnya

“Ndro, woy, kenapa nangis lagi, ndro? Kangen enyak babeh lagi, ndro? Udah napa tong, et dah ya, dikit lagi juga liburan kan. Nanti pulang ke Jakartanya bareng gua, ndroo. Tenang udah tenaang.” Teriakku dari depan kamarnya.

Lalu tiba-tiba Andro teriak dalam satu tarikan napasnya, sangat keras, bahkan mungkin tetangga lain bisa mendengarnya. Aku bahkan masih bisa mendengarnya sampai sekarang. Lalu ia terdiam dan sunyi senyap. Seakan-seakan kegelapan menelan suasana di rumah ini sehingga terasa kelam. Aku pun mencoba untuk bersikap biasa dan memaklumi sikap temanku itu. Aku kembali ke kamar dengan perasaan yang sulit untuk dijabarkan. Setibanya di kamar aku melihat Handphoneku mendapat satu pesan dari Andro, mungkin dia berniat meminta maaf karena berteriak seperti tadi atau mungkin ia mau menumpahkan segala kegundahannya kepadaku. Namun, tubuhku membeku seketika saat membaca pesan singkat itu.

Mar, sorry tadi ‘gak ngabarin, gua pergi dari tadi jam 9, mar. Nginep di kostan temen, ada deadline ini gua ehehe.

Suara lelaki itu terdengar lagi, namun kini bukanlah isak tangis yang terdengar. Ia tertawa sejadi-jadinya, bukan juga suara tawa bahagia, tetapi suara tertawa yang meneror jiwa. Suara itu terdengar semakin mendekat ke arah kamarku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Suara tawa itu berubah menjadi suara raungan kemarahan yang lebih membuatku tertekan dengan ketakutan ini. Aku berniat kabur melewati jendela kamar. Tiba-tiba pintu kamarku seperti ada yang memaksa masuk bahkan mendobrak-dobraknya. Aku semakin panik saat aku tersadar bahwa jendela kamarku menghilang, maka aku berpikir ini pasti mimpi lagi. Apabila tadi saatku bermimpi dibunuh lalu aku terbangun, maka mungkin dengan cara yang sama aku akan juga terbangun, tetapi kengerian ini terlalu nyata untuk dibilang mimpi. Aku mencoba untuk menyayat ujung jari telunjukku dengan cutter ternyata perih menjalari pergelangan tanganku. Ini bukan mimpi.
Seiring semakin mengganggunya suara tawa bengis itu, aku mencoba untuk mencari-cari rencana agar aku bisa keluar dari kengerian ini. Muncul ide yang cukup nekat. Membunuh siapapun itu yang ada di depan pintuku. Aku mengumpulkan segenap keberanian dan mulai membuka pintu, berteriak dan mulai menusuk-nusukannya kepada sang teror. Darahnya bercipratan mengenai wajahku. Aku menyayat-nyayat wajahnya hingga hancur.

Tidak dapat kusangka, ternyata Andro yang ada di depan mataku, seperti muncul begitu saja. Aku panik, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Wajahnya hancur tersayat-sayat oleh cutterku, oleh teman satu kostnya, oleh sahabatnya sendiri tanpa ada sebab apapun. Aku berlari ke luar kost menuju jalan raya, berusaha kabur karena aku takut dibilang pembunuh temannya sendiri –walaupun faktanya begitu– tetapi tidak seharusnya dia berada di situ. Seharusnya yang berada di situ bukanlah Andro, melainkan si lelaki yang berusaha membunuhku di mimpi.

Di tengah perjalananku yang entah kemana kakiku ini terus melangkah seperti tanpa aku perintah, aku melihat beberapa orang di pos keamanan –seperti sedang meronda, tetapi sepertinya mereka sedang kongkow saja. Aku melewati mereka dan berusaha bersikap biasa. Aku lupa bajuku penuh dengan darah dan di tanganku ada cutter yang entah bagaimana masih saja tergenggam kuat di tanganku.

“oi, abis ngapain lu? Abis begal lu ya?” salah satu dari mereka berteriak.

Namun dengan spontan aku berteriak seperti orang gila dan membabi buta menyerang mereka. Mereka semua tewas dalam sekejap di tanganku. Sikapku ini sungguh tidak dapat kumengerti, aku seperti kerasukan. Jam tanganku menunjukkan pukul 03.35 . Dalam beberapa jam ini aku sudah membunuh banyak nyawa yang kiranya tidak berdosa kepadaku.

Aku terdiam di pos itu, sambil menatap jasad mereka. Mata mereka yang membelalak mengerikan seakan-akan menatapku dan mengancam akan menuntut balas atas perbuatanku. Aku mulai berjalan lagi tak tentu arah. Di tengah-tengah perjalanan aku melihat perempuan cantik sedang berjalan sendirian. Ternyata dia kekasihku. Terjadi lagi, tubuhku seakan-akan diambil alih entah oleh apa. Aku berlari cepat sekali ke arahnya.

“Al awas, larii cepeet lariii!!!” teriakku memperingatkannya.

Sentak saja Alya terkejut dengan teriakkanku yang keras sekali. “Umar? Lagi ngapain kamu buru-buru banget?” .

Aku menikam perutnya berkali-kali, Alya hampir tidak bernafas mendapat serangan yang tiba-tiba itu. Aku berteriak sejadi-jadinya dengan tanganku terus menikamnya hingga ia tewas di pelukanku, kekasihnya. Aku amat tertekan melihat Alya terbujur kaku dan bersimbah darah.

Aku mengutuki diriku sendiri, aku lelah, aku murka, ini harus diakhiri. Sudah terlalu banyak jiwa tidak berdosa yang mati di tanganku dalam beberapa jam terakhir ini. Aku mengg*rok leherku, menusuknya hingga ke dalam kerongkonganku, perih menjalari kepala hingga badanku. Aku mulai lemas. Namun, tiba-tiba sakit itu hilang, walaupun luka itu masih terbuka lebar, tetapi entah bagaimana aku tidak sedikitpun merasa sakit ataupun perih. Aku bingung. Aku semakin tertekan. Akan kucoba hal lain, pikirku. Aku memotong nadiku, darah segar mengalir deras dari nadiku. Hasilnya sama, aku tetap tidak merasakan sakit. Aku terus memotong nadiku sampai tidak sadar aku sudah memotong pergelangan tanganku. Aku menikam jantungku bertubi-tubi, aku merobek perutku dan menarik semua organ dalamku, bahkan aku mencabut jantungku sendiri dan *********** menjadi kepingan-kepingan. Aku masih sadarkan diri dan masih bisa berdiri tegap. Cara terakhirku, aku menikam mataku.

Aku terbangun. Sekujur tubuhku dibasahi keringat. Aku masih ingat jelas setiap jengkal mimpiku tadi. Jam masih menunjukkan pukul 02:30 dini hari. Ada apa dengan dunia ini? Apakah ini masih bagian dari mimpiku lagi? Mengapa ini terjadi padaku? Aku membelalakkan mataku. Di lenganku entah bagaimana, menggenggam sebuah cutter dan aku melemparnya jauh-jauh. Tiba-tiba suara tangisan itu muncul lagi. Aku yakin ini pasti mimpi. Kutampar wajahku berkali-kali berusaha bangun dari mimpi mengerikan ini. Aku melihat pisau yang cukup besar untuk memotong sebuah semangka. Kuat-kuat aku menggenggam pisau itu dan meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi. Dan aku tancapkan dalam-dalam pisau itu di kepalaku.

Cerpen Karangan: Sahbani Zein
Facebook: Sahbani Zein Bani
Anak kost gabut yang sok menjadi mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang lahir pada tahun 1997 di tanah Tangerang, Banten.

Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zombie Metromini

Oleh:
Langit masih terlihat gelap, matahari belum memancarkan sinarnya di pagi ini. Sudah 2 bulan aku liburan semester dan sudah waktunya untuk kembali melanjutkan kuliah. Tepatnya pukul 5 pagi aku

Damned Song (Gloomy Sunday)

Oleh:
Namaku Alice Safitri, biasa dipanggil Alice. Alice berumur 13 tahun. Tepatnya kelas 1 SMP. Lagu Gloomy Sunday berkumandang. Menurut Alice, lagu itu sangat bagus. Setiap hari ia mendengarkan lagu

Misteri Kejadianku

Oleh:
Hai.. Namaku Tiara Sherlya Audin, panggilanku Audin. Aku mempunyai seorang kakak bernama Sherly Auditya, pangilannya kak Sherly dan seorang adik bernama Gerby Laura Sherly, biasanya kupanggil Dek Laura. Besok

Misteri Piano Temanku

Oleh:
Ting, ting, ting, terdengar suara temanku hingga ke rumahku. namaku Bella dan nama temanku Desi. Desi memiliki piano classic yang selalu ia mainkan disiang dan sore hari. Desi sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mimpi”

  1. Syifa says:

    Ini mimpi berantai gitu, ya, kak? Waaaah, seru. Tapi penasaran ama yang di sensor. Sadis amat, kah, kak? Wkwkk. Semangat terus ya kaaaak, aku juga harus semangat #semangatUN xD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *