Missing (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 September 2017

Hari ini saat mentari bersinar sembunyi-sembunyi. Awan pekat kehitaman mendominasi langit pagi. Namun sepekat apapun langit, hari ini tetaplah hari ini. Hari dimana semua yang kami perjuangkan selama dua tahun mencapai puncaknya. Pengumuman kelulusan.

Kelulusan diumumkan secara online, namun seluruh siswa seangkatan datang ke sekolah melakukan upacara bendera terakhir dan juga upacara perpisahan. Kepala sekolah berpidato dengan gagah, lalu dilanjutkan oleh seorang siswi pilihan. Mata wanita itu sayu, kulitnya putih berseri, aku yang sudah sekolah selama dua tahun bahkan tidak mengenalnya. Entah dia yang tidak populer di sekolah atau aku yang tidak banyak bergaul.

Namaku Erdinsyah, dan iya, aku dan dua puluh satu temanku adalah anak yang beruntung. Kami terpilih untuk selesaikan study SMA kami dalam waktu dua tahun. Entah ini disebut beruntung atau tidak, karena bagi sebagian orang ini sama sekali tidak menyenangkan. Mereka bilang kami tidak bisa menikmati masa paling indah dalam kehidupan remaja, yaitu masa SMA. Mereka juga bilang kami dipaksakan untuk matang, mereka bilang kami para siswa karbitan. Tapi aku dan teman-teman lelakiku tidak peduli dengan celotehan-celotehan semacam itu. Mereka semua berhak berpendapat, tapi kami tidak akan pernah mau mendengar. Kecuali teman-teman wanitaku, mereka marah, mereka kesal, mereka melawan, tapi kami para lelaki hanya tertawa. Namun menurutku pribadi, bukan SMA atau tidak yang membedakan indahnya, tapi usia, masa muda yang penuh berkah ini tetap indah untukku. Dan masa sekolah yang singkat dan di akhir terasa cepat berlalu ini memang begitu indah, terlebih karena ada dia.

Selepas upacara yang begitu hikmat, kami bercengkerama bersama. Berkumpul dalam lingkarang masing-masing kelas. Kami tertawa mengingat masa yang telah lalu, masa yang begitu biasa saja namun pasti akan dirindukan. Air mata menetes di pipi temanku, Mia. Dia tertawa sambil menangis, lalu patahlah pertahanannya,
“kalian semua! Jangan pernah lupa dengan setiap hal yang kita lewati bersama!” suaranya lantang tersayup-sayup tangisnya, namun pipinya tetap mekar dengan senyumnya.

Kami semua terdiam memandangnya, jujur tak kusangka wanita lembut dan pendiam seperti dia akan berteriak histeris sambil menangis di hadapanku, di hadapan kami semua. Beberapa teman wanita yang lain tersentuh, mulai melinang butiran air bening dari mata mereka, berkaca-kaca mata mereka. Shiva, si wanita tameng besi yang tak kenal sedih, tahan banting, bahkan jika dia dilempari dengan batu, batu itu akan kesakitan. Dari matanya yang memang aku akui cukup bersinar, terlihat bening dan basah berkaca-kaca. Terpersit dalam benakku, bahkan wonder woman sekalipun bisa dilelehkan hatinya oleh waktu. Waktu-waktu yang berharga dalam hidupnya, yang sudah lampau dan tak terjangkau lagi, seperti itulah masa lalu. Masa lalu jauh lebih jauh dibanding masa depan. Hari kemarin begitu jauh, jauh lebih jauh dibanding hari esok. Tak terjangkau lagi sampai kenangannya mampu melelehkan hati.

Terhenti lamunanku saat mataku menatap sudut loby sekolah. Duduk seseorang bersama kacamatanya, matanya menatapku juga lalu sekejap di tundukan kepalanya. Dia Dicky, lelaki yang selalu menyendiri. Bahkan pada masa sekolah dia duduk sendirian di pojok belakang kelas. Tidak ada guru yang bertanya padanya, tidak ada teman yang menyapanya, tidak ada wanita yang tersenyum padanya. Aku teringat si Mia, wanita dengan paras lembut itu adalah satu-satunya pelajar di sekolahku yang pernah mengajak Diky berbicara. Dan saat itu, saat mataku memang kebetulan sedang menghadap mereka, untuk pertama kalinya aku melihat ada garis senyum di wajah Dicky. Aku menggambarkan Mia sebagai malaikat yang sengaja dikirim tuhan agar menjadi teman untuk Dicky, lebih tepatnya adalah teman satu-satunya. Karena temanku adalah mereka yang tertawa bersamaku, tapi dia tersenyumpun enggan.

Saat dia sedang sendiri dengan kepala tertunduk seperti itu, aku mengajak Davi dan Bayu menghampirinya. Davi enggan, jadi aku menghampirinya bersama Bayu. Saat kami ada di hadapannya, diangkat kepalanya lalu dia menoleh ke arah mereka teman-teman kami yang sedang bersenang-senang. Aku melihat matanya, entah apa yang dia fikirkan.
“kalian cukup bersenang-senang ya?” katanya.
Lalu aku mengajaknya bergabung bersama kami semua, dia menolak lalu berdiri di hadapan kami berdua.
“ada apa? Kalian tiba-tiba bersikap manis hari ini. Apa karena ini hari terakhir kita bertemu?” katanya dengan nada yang rendah dan dingin, lalu “yang aku tahu adalah kalian berdua merupakan lelucon kelas ini, kalian adalah sumber tawa mereka” sambungnya, “dan tanpa pernah kau pikir hati siapa yang kau lukai” bentaknya sambil menunjuk Bayu.
Aku dan Bayu hanya terdiam, dan Dicky berlalu. Dia melangkah menjauhi kami, meninggalkan loby menuju parkiran. Entah apa yang dia bicarakan pagi itu, aku sama sekali tidak mengerti. Dan tidak biasanya laki-laki yang satu ini bisa bicara banyak.
Bayu hanya tersenyum, “sudah kubilang, sia-sia berbicara dengan orang aneh itu”. Kami pun berlalu.

Dalam bisingnya percakapan para wanita, sedikit ada pelajaran yang mampu dipetik oleh temanku, Davi. Dia menjelaskan bahwa bising adalah bagian dari kehidupan, lebih lucu lagi karena dia bilang “mereka sedang mengajari kita bahwa bising adalah bagian dari hidup”.
Entah pendapat bodoh macam apa itu, pikirku, aku hanya tertawa bersama Bayu. Beberapa saat kemudian, tiga orang wanita dari kelas sebelah menghampiri kami. Ada garis-garis senyum licik di wajahnya. Mereka tepat berhenti di hadapan kami yang sedang duduk di atas rumput-rumput lembut di depan kelas.
“memalukan sekali, yang katanya terpilih untuk masuk kelas aksel tidak seorangpun dapat peringkat sepuluh besar” kata seseorang dari ketiga wanita itu.
Kami semua memandanginya, aku tersenyum dan Davi juga tersenyum.
lalu temanku Lina menyahut “kami hanya dua tahun sekolah, bisa lulus itu bagus kan? Wajar jika kami tidak bisa di peringkat tinggi”.
Ketiga wanita itu tersenyum bahkan tertawa. Belum sempat mereka kembali menyahut, Lina sudah berbicara lebih dulu “Bagaimana dengan kalian? Kalian sudah sekolah selama tiga tahun dan masih tidak dapat peringkat tinggi”
“Jadi siapa yang memalukan di sini?” sambung Lina.
Suaranya lantang, tanpa putus sedikit pun. Matanya tajam memandang wanita itu, dagunya dinaikan dan tangannya mengepal dengan erat. Aku sempat risau bahwa akan terjadi pertumpahan darah di sana, sedikit bercanda. Lalu tawa kami meledak. Dan ketiga wanita yang cukup populer itu meninggalkan kami dengan berlari. Entah semalu apa mereka.
Aku melihat Mia datang dari kejauhan, dengan langkah yang tenang dia mendekati kami.

“hai” katanya dengan senyum yang seperti biasanya.
Mia tiba-tiba mengajak kami berlibur, tidak seperti biasanya kali ini dia begitu antusias. Aku bertanya pada Mia, kenapa dia begitu ingin berlibur. Dan pilihan liburannya menurutku sangat bukan dirinya. Dia ingin mengajak kami berkemah di sebuah hutan. Oh tuhan, dari mana wanita seperti Mia mendapat ide gila semacam itu. Aku memalingkan wajahku dan hendak pergi dari lingkaran teman-temanku.
“hei deq, kamu tidak bisa kabur sekarang. Ini untuk yang terakhir kalinya. Ayolah ini yang terakhir” Mia memelas.

Melihat semua temanku memandangiku, aku kembali duduk. Mendengar ocehan Mia tentang tempat yang akan kami tuju. Aku tidak terlalu meperhatikan apa yang ia katakan. Namun terdengar sebuah nama hutan, Hutan Batok katanya. Ah hutan batok? Nama yang asing untukku. Tapi aku tidak peduli, aku bukan orang yang akan ikut dalam rencana gila semacam itu.
Akhirnya mereka semua memutuskan, mereka akan benar-benar berlibur dengan berkemah di hutan. Segalanya telah di rundingan, dan seperti biasanya si Anty selalu penuh perhitungan. Awalnya dia menolak, tapi karena yang meminta adalah sahabat karibnya, Mia. Dia pun tidak bisa menolaknya.

Setelah semua sudah disepakati dan perhitungan sudah tepat. Mereka membagi tugas masing-masing untuk menyiapkan segala yang diperlukan.
Seperti biasa, sejak dua tahun yang lalu. Mereka sama sekali tidak membebankan apapun padaku, karena menurut pengalaman mereka aku terlalu sering menggagalkannya. Mereka hanya memintaku berjanji untuk ikut bersama mereka. Jujur saja, aku tidak berani berjanji, setelah apa yang aku alami dulu. Saat aku benar-benar dikalahkan oleh waktu, waktu yang mampu memaksa seseorang untuk melanggar janjinya.
Saat itu seorang teman berkata “janji hanyalah sebuah janji”. Kalimat itu sering bergeming di telingaku, menahanku saat hendak akan berjanji. Saat engkau mempercayai seseorang, kau tidak perlu memintanya berjanji, cukup percayalah.

Sesaat aku menatap jam tanganku, sudah pukul sepuluh. Aku mengajak teman-temanku yang laki-laki untuk pulang. Dan kami semua pulang bersama. Beberapa orang ingin mempersiapkan barang bawaannya, karena seperti yang direncanakan bahwa mereka akan berkemah di hutan mulai besok sore selama dua malam.
Sesampaiku di rumah, aku memikirkan liburan itu berkali-kali. Aku sungguh enggan, tapi hatiku ingin habiskan waktu bersama teman-temanku untuk yang terakhir kalinya. Aku ingat sebuah kutipan dalam buku yang berkata “jika aku mampu mengubah masa laluku, akan kuikuti suara hatiku selamanya”. Aku pikir, aku akan menyesal jika tidak ikut. Jadi apa aku harus pergi atau tidak.

Dalam selingan pikiranku, terlintas nama hutan itu. Hutan batok, hutan batok, hutan batok. Namanya terus berputar dalam otakku, entah kenapa. Aku mulai mencari informasi dari internet ataupun teman-teman dunia maya ku yang memang mengenal hutan-hutan di Lombok. Namun tidak ada satu pun informasi yang aku dapat.
Kini seperti yang di katakan Mia tadi pagi, aku hanya tau lokasinya, dan aku tau itu adalah hutan yang dulunya merupakan taman pariwisata sehingga cukup layak untuk tempat berkemah.
Aku putuskan untuk datang ke hutan itu lebih dulu. Sebuah pesan teks aku kirim pada Bayu untuk mengajaknya.
“temani aku berkeliling sebentar” kataku.
Tidak lama kemudian Bayu mengiyakanku melalu pesan teks juga.

Di sore yang cukup cerah hari itu, aku mengajak Bayu ke hutan batok. Setelah perjalanan selama 2 jam dari rumahku, kami sampai.
“tempat apa ini?” tanyanya.
Lalu kujelaskan segalanya pada Bayu. Namun tak kusangka, sore itu dia malah bercerita sedikit banyak padaku. Tentang resahnya, tentang hatinya, tentang enggannya, dan akhirnya tentang bagaimana ia akan menyikapi liburan ini. Tersenyum aku karena ternyata kami memiliki keresahan yang sama.
Namun takan kutunjukan padanya. Aku malah memberinya saran, aku tekankan padanya bahwa liburan ini penting untuk semua, tapi liburan ini juga penting untuknya. Dan seperti tujuan awal sebuah liburan untuk menghilangkan penat, bukan malah menjadi tekanan. Sisanya ada padanya, dia akan pergi atau tidak.
Aku sangat lancar saat memberikan saran pada Bayu, padahal permasalahku sendiri yang hampir sama persis dengan Bayu belum mampu aku atasi. Aku akui, memberi saran jauh lebih mudah dibanding menjalankan saran itu, karena tidak ada seorangpun yang akan mampu memahami hati, bahkan pemiliknya sendiri.
Banyak sekali orang yang berkepribadian bijak di dunia ini. Dan menurutku, orang paling bijak adalah mereka yang pernah memiliki hidup yang paling berantakan dan mereka yang paling sering menghadapi kesulitan.

Disela obrolanku bersama Bayu, datang dua orang lelaki kurus dengan topi kerucut khas pak tani yang berpenampilan agak kotor. Di pundak mereka potongan-potongan kayu bakar terikat rapi. Tidak ada senyum di wajah mereka, tidak ada keramahan sedikitpun. Saat aku sapa, bahkan menoleh pun tidak. Bayu bertanya tentang kondisi hutan, namun mereka tetap tidak peduli.
Sejenak aku pikir mereka bisu dan tuli, namun seketika mereka menoleh ke arah kami berdua. Mata tajamnya mengejutkanku, sepertinya mereka terganggu saat Bayu menyebutkan rencana kami untuk berkemah di hutan.
“jangan! saat malam tidak boleh ada yang memasuki hutan” kata salah seorang pria itu dengan nada tinggi.
“kenapa?” batinku.
Dan bayu menanyakan alasan pria itu. Namun tak di jawab, pria itu memalingkan wajahnya dan kembali berjalan menjauhi kami.
“aku jadi ingat si anak aneh itu, dia juga tadi pergi begitu saja setelah memalingkan wajahnya” kata Bayu.
Tapi fikiranku tidak fokus sama sekali, kembali berputar-putar nama hutan ini di kepalaku. Hutan batok, hutan batok, hutan batok. Sungguh, itu sangat menggangguku. Lalu kami putuskan untuk pulang.

Di perjalanan Bayu menyapaku dengan perlahan, namun itu mengejutkanku. Tubuhku di dekatnya namun pikiranku entah pergi sejauh apa. Aku merasa tubuhku demam, hanya demam rendah.
Sampai di rumahku, Bayu hendak pulang.
Sebelum ia pergi, ia bertanya lagi “bagaimana ini? Apa yang orang itu katakan menggangguku”.
Entah seperti apa aku akan menjawabnya. Aku hanya menganjurkannya untuk tidak pergi. Dan aku bilang akan membujuk teman yang lain untuk merubah rencana atau membatalkanya. Bayu pergi, aku mengantarnya sampai ke jalan raya, sampai ia tak terlihat lagi setelah melewati jembatan yang agak menanjak.

Cerpen Karangan: Erdinsyah Mahendra
Facebook: facebook.com/erdinsyah.mahendra.3

Cerpen Missing (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Tanpa Sayap

Oleh:
Aku memandang muka bapak lekat lekat. Disana terlihat wajah kusam pertanda ia lelah. Seharian ini bapak sibuk mengguguri waktunya untuk mencari pekerjaan di ibu kota super kejam, aku menamainya

Lembayung Kota Juarez

Oleh:
Matahari saat itu mulai berayun ke arah barat. Nampak sinarnya yang terik mulai memudar berubah menjadi cahaya lembayung berwarna ungu yang indah terhampar di langit Kota Juarez di Meksiko

Mimpi Menjadi Nyata

Oleh:
Malam itu, terlihat seorang wanita sedang menonton televisi. Namanya Ryani. Setoples cemilan selalu setia menemaninya. Ia di rumah seorang diri, kedua orangtuanya telah pergi ke luar kota sejak tadi

Sekolahku Seram

Oleh:
Cewek bernama Vinny dan Fella bersekolah di SMP cahaya bangsa. Konon dahulu sekolah itu bekas rumah sakit. Banyak kejadian-kejadian aneh di atas jam 19.00. Semua siswa sudah diperingati berkali-kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *