Missing (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 September 2017

Di sebuah cafe, aku mengajak beberapa teman bertemu. Bayu, Davi, Mia, Anty, dan Shiva datang bersamaku. Aku ingin mengajak mereka merundingkan kembali rencana gila yang Mia ajukan dan mereka setujui tadi pagi.
Tak kusangka Fitri juga datang, temanku yang satu ini tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya di luar sekolah. Sudah dua tahun aku berteman, dan malam inilah pertama kali kami bertemu di luar sekolah.
Aku agak canggung saat dia duduk di hadapanku, aku seperti melihat orang asing. Dia berpenampilan sedikit aneh menurutku dengan kepala tanpa ditutup jilbab seperti biasanya. Berbeda dengan Mia ataupun Anty. Beberapa kali aku sudah melihat mereka tanpa jilbab sehingga tidak aneh bagiku saat mereka tanpa jilbab malam ini. Berbeda dengan shiva, dia wanita tameng besi yang pernah kuceritakan. Baja keras dengan emisivitas beberapa tingkat di atas nol namun setahuku tidak pernah tanggalkan jilbab saat keluar dari rumahnya.

Malam yang agak dingin, 6 cangkir kopi hangat di bawakan seorang pelayan.
“satu cangkir kopi lagi” kata Mia lembut.
“eh, dan tanpa gula” sambung Fitri.
Pelayan itu pun berlalu.

“jadi apa yang akan kita bicarakan deq?” tanya Mia dengan wajah memelasnya.
Kuperhatikan senyumnya, sekilas ada rasa iba jika aku memaksakan untuk membatalkan semua.
“jadi begini…” lalu pelayan datang dan memotong pembicaraan kami.
“secangkir kopi tanpa gula, datang” kata pelayan itu dengan cukup ceria.
“jadi…” kataku sambil tersenyum dan menaikan alis kiriku, “kalian minum saja dulu” sambungku dengan tawa kecil.
“dedeq, jangan bertele-tele, katakan saja cepat” sahut Shiva dengan nada agak gelisah.
Dedeq adalah panggilan akrabku sehari-hari, bahkan jauh lebih banyak yang mengenal nama ini dibanding nama asliku, Erdinsyah.
“santai saja Shiva” kata Mia menenangkannya.
“sebaiknya kita percepat saja deq. Mia, kita tidak akan pergi berkemah besok. Jika pilihannya masih sama di hutan batok. Aku dan dedeq sudah mendatangi hutan itu. Hutannya rusak, berantakan, terlalu gelap bahkan untuk siang hari. Dan kami bertemu dua orang warga setempat. Mereka memang tidak banyak bicara, tapi mengisyaratkan dengan kuat bahwa kita tidak diizinkan berkemah di sana” tutur Bayu dengan sangat rinci.
“tapi bayu, itu hutan milik negara, mereka tidak berhak melarang kita” kata Mia dengan cukup tegas.
“lagi pula Pak Ardi akan ikut bersama kita, jadi pasti aman dan tidak masalah” sambungnya.
“iya benar juga” sambung Bayu dengan nada agak mengalah.
“sebenarnya… kenapa di sana Mia? Kenapa hutan?” tanya Davi.
“bukankah pantai adalah pilihan yang lebih masuk akal” sambung Davi agak menekan Mia.
“pengalaman baru Dav!” kata Mia menjawab.
“tidak mungkin kan liburan terkahir kita bersama harus garing dengan berkunjung ke pantai” kata Mia menjelaskan dengan tegas.
“bagaimana dengan alasannya? Alasannya melarang kita. Bisa saja ada binatang buas di sana ‘kan” kataku dengan tenang.
“jelas sekali ada alasan kuat mereka melarang kami” gumamku dalam hati.
Aku ingat betapa tajamnya mata mereka saat Bayu menyebutkan akan berkemah di sana.

Mereka terdiam sejenak. Bayu menghela nafas, tampak wajah penuh harap saat aku berbicara tadi. Kini, Bayu adalah orang nomor satu yang mendorong untuk mengurungkan rencana ini. Dari sudut pandang Bayu, dia lebih terlihat takut dibanding malas seperti yang dia katakan di awal.

Mia terlihat membisiki Anty, dan mereka saling berbisik. Bayu menatap mereka dengan tatapan selidik. Fokusku di kacaukan oleh Fitri yang duduk di depanku dan tiba-tiba saja tertawa.
“jadi peranku di sini hanya mendengar ocehan kalian ya” katanya dengan ringan.
Aku sejenak berhenti berfikir.
“Mia, sebenarnya bagaimana kamu tahu tentang hutan ini?” tanyaku.
“itu rahasia deq” katanya sambil tersenyum.
“kamu pasti punya teman dari sekitar sana karena tempat itu tidak begitu populer, walaupun dulunya merupakan taman wisata. Tidak ada teman kelas kita yang berasal dari sana, jadi dia pasti teman bermainmu” ujarku.
“Kamu mengutarakan ide itu setelah upacara perpisahan, itu artinya kamu baru saja mendapat ide itu. Berarti yang memberitahu tentang hutan itu adalah teman sekolah. Dan kamu Mia, tidak punya terlalu banyak teman selain yang di kelas” tambahku.
“wah Erdinsyah, sepertinya kamu terpengaruh novel yang kamu baca” kata Anty sambil tertawa kecil meledek ku.
“Sherlock Holmes, ya?” Fitri menyela.
Lalu aku hanya menganggukan kepala sambil memberi sedikit elakan. Tidak banyak pelajaran moral yang bisa diambil dari novel Sherlock Holmes yang aku baca. Namun itu mampu meningkatkan daya pikirku untuk menerka dan membuat hipotesis. Bagi sebagian remaja, novel itu membosankan, tentu saja tidak bagiku. Dijelaskan dan dibuktikan bahwa detail-detail kecil lah yang paling besar pengaruhnya. Dan ternyata, hal paling sepele bisa jadi bukti yang paling penting. Ah sudahlah, kita tidak perlu membahasnya lebih banyak.
Karena Mia bersikeras, Fitri mendukungnya dan tentu saja Anty juga. Maka malam itu diambil keputusan bahwa tidak akan ada yang berubah dari rencana semula. Bayu terlihat agak kecewa, dan dia juga terlihat agak khawatir. Aku mencoba menenangkannya saat kami berjalan menuju parkiran. Sesaat sebelum Bayu meninggalkan cafe, ia berjanji akan ikut besok. Mia terlihat senang.

Aku mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu. Aku menunjukannya pada Mia. Dia hanya mengangguk dan agak keheranan.
“bagaimana kamu tahu?” tanyanya.
“jangan tanya” kataku santai.
Aku sengaja tidak langsung saja menyebutkan apa yang aku tulis, agar Mia percaya aku bisa menjaga rahasia. Namun karena dia mengangguk, berarti yang aku tulis itu benar. Dan jujur saja, itu menjanggal di pikiranku.

Di rumahku, hampir pukul dua dan aku masih belum tidur. Handphoneku berdering,
“private number? Semalam ini?” gumamku.
Aku pikir itu hanya pekerjaan orang iseng, atau salah satu temanku yang tidak punya pekerjaan lain dan tidak bisa tidur malam ini. Aku tidak menghiraukannya, bahkan aku menolak panggilannya.
Lalu handphoneku berdering lagi, kali ini aku ingin menerima panggilan ini. Aku bermaksud untuk mempermainkan balik orang yang ingin mempermainkanku ini. Aku sudah tertawa lebih dulu membayangkannya.
Begitu aku menerima panggilan itu, suara agak serak berbicara dengan begitu cepat, “jangan ke hutan itu!” teeet… lalu terputus begitu saja.
Tanganku agak gemetar, handphoneku jatuh.

Beberapa saat kemudian aku kembali bisa menguasai diriku. Aku menarik nafas sangat dalam, dan mulai berfikir akan kemungkinan asal panggilan telepon tadi. Ada banyak kemungkinan, dan kemungkinan bahwa aku hanya dipermainkan oleh temanku juga besar. Tapi untuk apa menggunakan kalimat seperti itu? Kenapa harus membuatku takut datang ke hutan, itu semua kurang masuk akal bagiku. Tapi sepertinya apa yang terjadi barusan agak membantuku, aku jadi merasa lelah dan ingin sekali tidur.

Pukul delapan pagi aku baru bangun, sinar matahari yang menembus gorden kamarku menyilaukan sekali. Aku beranjak dari ranjangku, menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku. Sebelum mandi aku sempat lari pagi sampai beberapa ratus meter dari rumahku. Setelah sarapan, aku teringat kejadian semalam.
Sebenarnya aku tipe orang yang menghindari masalah, jadi aku pikir lebih baik aku tidak jadi ikut berkemah di hutan itu.

Rambutku belum kering saat handphoneku berdering. Panggilan masuk dari seorang temanku, Anty.
Dia wanita yang tidak suka basabasi, “Erdinsyah, kamu harus ikut. Aku mencemaskan sesuatu, aku pikir jika hanya aku tidak akan berarti apa-apa” katanya dengan nada yang mendesak.
“kamu memang wanita yang merepotkan” jawabku dengan tawa kecil di akhir kalimatku.
“bagus, jangan datang seperti biasanya” katanya ketus lalu menutup telepon.

Aku memang sering terlambat menghadiri sesuatu, kalaupun tidak terlambat aku biasanya jadi orang terakhir yang datang. Menurutku itu tidak masalah selama kehadiranku tidak mempengaruhi yang lain, atau jika kehadiranku memang sangat krusial.
Kalian tahu? saat kehadiranmu benar-benar dinantikan, maka akan tergambar senyum yang begitu mempesona di wajah orang-orang yang menunggumu saat kamu tiba. Seperti itulah wajah seorang wanita saat menantiku pulang, seorang wanita yang takan kusebut lagi dalam kisah ini. Karena ceritaku bersamanya tidak pantas ditulis dalam cerita pelik, berdarah, dan cukup gelap seperti cerita yang akan segera aku kisahkan ini.

Kamis sore, tiba juga sore ini. Aku masih duduk santai di berugak depan rumahku saat jam tanganku sudah menunjukan pukul lima belas. Semua sudah aku siapkan, mengingat apa yang Anty katakan semalam aku jadi benar-benar tertarik untuk ikut. Sudah ada dalam bayanganku betapa peranku akan krusial.

Sebuah pesan singkat aku terima dari Davi. “datang lebih cepat” katanya.
Aku mengambil perlengkapanku dan berangkat menuju tempat yang sudah disepakati.
Setibaku di depan halte sekolah, “belum datang semua?” tanyaku.
Karena di sana hanya ada tujuh orang. Anty, Mia, Fitri, Davi, Bayu, Shiva, dan Pak Ardi sang wali kelas. Mereka semua siap dengan bawaan mereka.

Tak lama kemudian, Ika datang bersama Shaupa, si wanita centil yang menurutku dandanannya selalu berlebih.
“jadi begini ya rasanya menunggu? Membosankan sekali” gumamku.
“biasanya selalu kamu yang terlambat deq, jadi nikmati saja” kata Davi dengan senyum gelinya.
Lalu datang Lina bersama Ary menggunakan sepeda motor yang katanya milik ayahnya.
Dari kejauhan tampak sebuah sepeda motor mendekat. Terlihat kepala Haris yang memboncengi Dina datang.
Haris adalah salah satu temanku, di kelasku dia satu-satunya anak yang bergelar ‘Lalu’. Gelar bagi lelaki bangsawan asli pulau Lombok. Dari darah bangsawannya, dia memiliki tutur kata yang begitu halus, namun punya watak keras sekeras batu.
Di kelas, dialah orang yang paling benci dengan lelaki aneh bernama Dicky. Aku pernah bertanya kenapa, Haris yang akrabnya di panggil Mamiq mengatakan bahwa ia pernah begitu dipermalukan oleh si Dicky di hadapan Mia. Wanita yang sejak lama ia dekati, namun karena perkara itu Mia mulai menjauhinya.
Memang benar, kami para lelaki mudah melupakan, namun perkara kecil yang mereka bertiga pernah ributkan sepertinya tidak bisa dilupakan Mia, Haris jadi ikut sulit melupakan.
Sedangkan Dina, dia adalah wanita kecil dengan paras lembut dan wajah yang cukup manis, tidak banyak yang bisa dijelaskan tentangnya. Tapi jelas sekali dia adalah wanita yang sangat periang.
Di belakang Haris, ada motor yang ditunggangi oleh Dian. Dia seorang wanita yang tinggi besar, kegemarannya membaca. Pernah sekali dia membaca cerita untuk kami semua di depan kelas selama dua jam pelajaran. Menurutnya, dia mampu selesai membaca sebuah novel dalam waktu satu malam.
Iya, teman-temanku memang unik, atau mungkin aneh.
Sebuah mobil angkutan umum berhenti di hadapan kami, saat pintunya terbuka dan Dicky keluar dari mobil itu, mataku menyempit sesaat. Matanya menatapku tajam, tersenyum ia padaku. Tapi bukan senyum yang biasa.

Sudah satu jam sejak aku sampai di halte sekolah. Yang ada hanya kami bertigabelas.
“kita tidak lengkap, batalkan saja Mia” kataku dengan halus.
“jangan sampai batal” kata Mia memelas.
“mereka yang tidak datang bukan orang penting, jadi tinggalkan saja” sahut Diky.
“diam, tidak ada yang bicara denganmu” bentak Haris, seketika Mia memandang Haris dengan sinis.
Bagi Haris, tidak ada satupun kalimat halus yang pantas diucapkan untuk Diky.
“di sini, kamu satu-satunya orang yang tidak penting” sambung Davi dengan ketus menghadap Dicky.
“sudah-sudah, kita berangkat saja. Aku yakin mereka yang lain tidak datang. Lagipula mustahil kelas kita bisa benar-benar kompak” kata Mia agak kesal.
Menurutku Mia benar-benar antusias, terlalu antusias, entah iming-iming apa yang telah membutakannya.

“heiii…” teriak seorang wanita dari kejauhan sambil berlari-lari kecil.
Tak jelas wajahnya karena ia datang dari arah barat, saat matahari terlihat tepat ada di belakang kepalanya.
“tunggu aku” teriaknya lagi.
Semakin dekat jaraknya maka semakin jelas wajahnya, suara cemprengnya yang bagaikan tiupan sangkakala membuat kami mengenalinya. Hulfah, wanita gila dengan dandanan yang tidak kalah gilanya. Pemilik IQ tertinggi di kelasku yang menembus angka 140, jenius. Sejak saat itulah aku berpendapat dan percaya pada pendapatku bahwa tingkat kejeniusan berbanding lurus dengan gangguan kejiwaan.

Kami berangkat, bertujuh belas.
Dua mobil Jeep kami gunakan, keduanya adalah milik Haris, si anak dengan darah bangsawan. Aku mengendarai salah satunya dan memimpin perjalanan. Di sebelahku duduk dengan manis seorang wanita bertubuh mungil dengan tatapan datar. Dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“bisa tolong ambilkan permen itu?” sapaku merusak kesunyian perjalanan kami.
Di belakang kami tujuh orang teman memilih tidur dibanding menikmati perjalanan yang dihiasi pohon-pohon hijau nan indah.
“ini permenmu” sembari Anty menyodorkannya untukku.
“oh ayolah, aku sedang mengemudi” sahutku.
“lalu?” katanya.
“tolong buka permen itu untukku” kataku sambil tersenyum.
Tanpa banyak bertanya dan bicara dia langsung melakukannya bahkan langsung menyuapiku “nih” katanya ketus.
“nah sekarang, jelaskan apa maksud pesanmu tadi pagi?” tanyaku lagi untuk membuka pembicaraan.
“jangan sekarang” katanya dingin. Lalu ia memalingkan wajah dan memejamkan matanya.

Dalam sunyinya perjalanan kami. Sebentar saja kupalingkan wajahku menghadap jejeran rapi pohon pinus di sebelah kanan jalan. Sekilas ingatanku kembali pada kejadian tadi malam. Lalu gelegar bunyi klakson mobil Haris yang menyalip kami sontak membuyarkan ingatanku.
Kami sampai.
Semuanya sudah bangun. Dan mulai keluar dari mobil satu persatu.
“jadi mobilnya di sini saja?” tanya Haris.
Mia mengiyakan lalu kami mulai menurunkan barang-barang kami. Kami semua siap dengan ransel masing-masing.

“kamu kenapa?” kataku menyapa Anty yang berlagak agak aneh.
“tidak ada, hanya…” kalimatnya tertahan.
“ada apa? Katakan saja” kataku menenagkannya.
“aku seperti mendengar suara, tapi mungkin perasaanku saja” katanya lalu berjalan meninggalkanku.

Aku melihat ke sekeliling tempat itu dan tidak ada siapapun selain kami. Mungkin dia benar, hanya perasaannya saja.
Dari tempat kami memarkir mobil, kami mulai berjalan kaki memasuki hutan. Agak jauh perjalanan kami dan sampailah di tengah hutan yang memang cocok untuk berkemah. Tanahnya agak lapang karena pohon pinus yang berdiri di sana agak jarang jaraknya. Lalu Dicky berhenti dan sontak semuanya berhenti karena dialah yang berjalan di posisi paling depan.
“di sinilah kita” kata Dicky penuh semangat.
Mataku agak menyempit memperhatikan Anty yang menggenggam tangan Mia agak terlalu erat menurutku.
“apa dia sedang takut?” gumamku dalam hati.

Cerpen Karangan: Erdinsyah Mahendra
Facebook: facebook.com/erdinsyah.mahendra.3

Cerpen Missing (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Reverange

Oleh:
Lima belas tahun yang lalu terjadilah peristiwa itu, peristiwa mengenaskan di sebuah desa terpecil yang bernama Dmeni. Desa ini terletak di pinggir hutan belantara. Ketika itu, seorang gadis yang

Ghost Cafe

Oleh:
Ini merupakan kisah nyata yang kualami sendiri bersama keluarga. Sekitar lebih kurang 2 tahun lalu, perekonomian keluarga kami mulai membaik sejak pasca masalah keuangan keluarga kami anjlok. Aku yang

Tersesat Di Hutan Gaib

Oleh:
Ketika hari mulai malam dan hujan badai begitu kuat. Aku mulai putus asa dengan penuh rasa ketakutan ketika ku sadar bahwa aku sedang tersesat sendirian dan tidak menemukan camp

Misteri Kost Nomor 13

Oleh:
Namaku adalah Dinda Syahputri dan satu lagi, aku mempunyai sahabat yang bernama Helena Jasmine. Kita berdua ini dulu memang satu sekolah apalagi kita juga sahabat dan sekarang kita berdua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *