Missing (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 September 2017

Semua mulai duduk beristirahat sedangkan kami mulai mendirikan tenda. Dua buah tenda ukuran besar berhasil kami dirikan berhadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Dengan rencana akan ada api unggun di tengah-tengah.
Kuperiksa jam tanganku, waktu masih menunjukan pukul 4.30 oh itu masih sore pikirku walaupun suasananya agak gelap. Memang tidak mendung karena ini musim panas, tapi lebatnya dedaunan pohon pinus yang banyak menghalangi cahaya matahari untuk masuk.
Pak Ardi memerintahkan kami untuk mengumpulkan kayu bakar.
“jangan jalan terlalu jauh anak-anak” katanya.
Aku, Bayu, dan Davi berjanan bersama dan sepertinya perasaan Bayu sudah berbeda sejak kami sampai.

“aku sangat semangat, aku tidak tahu suasananya akan asik seperti ini deq” katanya penuh senyum.
Davi juga tersenyum, “kamu pasti menyesal jika tidak ikut Bay” sahut Davi sambil memeluk kayu bakar yang sudah cukup banyak ia kumpulkan.
Dan sepertinya, kayu bakar yang kami kumpulkan sudah cukup banyak. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke perkemahan.
Di perkemahan ternyata api sudah hampir menyala besar. Kayu yang dikumpulkan teman-teman yang lain ternyata sudah sampai duluan.
“kalian lama sekali” tegur pak Ardi sambil menunjukan tempat untuk menaruh kayu yang kami kumpulkan.

Saat teman-teman wanitaku mulai duduk melingkari tumpukan kayu yang hampir menyala apinya, dan Bayu lelah menahan batuknya karena asap selalu mengarah ke wajahnya, aku duduk berdua dengan Anty di depan tenda.
“bagaimana mencari kayunya?” sapanya ramah.
“bagaimana apanya?” sahutku agak bercanda.
“feelingku tidak enak” sambungnya.
Aku bangun dari dudukku lalu beranjak menuju tumpukan kayu yang tak kunjung menyala apinya itu sambil berkata “tidak ada yang salah sejauh ini, tapi …” kalimatku tertahan dan langkahku berhenti sejenak. “asal kamu tetap waspada saja” kataku dengan sedikit senyum sambil menoleh menghadap dia.
Baru sebentar saja aku duduk di dekat tumpukan kayu itu, Davi sudah berhasil menyalakan api unggunnya. Kobaran api yang cukup tinggi menghangatkan kami yang duduk melingkarinya.
Alunan musik klasik dari sebuah gitar yang di petik oleh lentiknya jemari Bayu berpadu dengan hentakan-hentakan meriah dari tepuk tangan kami serta suara merdu beberapa teman wanitaku membuat malam ini benar-benar menyenangkan.

Dicky, mataku fokus padanya untuk sesaat. Begitu aktifnya dia malam ini, dan teman-temanku juga berbeda, mereka yang dulunya tak pernah bercengkerama dengan Dicky bahkan menegur pun tidak, tapi malam ini malam yang berbeda. Mereka seperti orang-orang mabuk yang berbaur dengan Dicky seolah mereka berteman akrab. Tertawa bersama, membuat lelucon bergantian, bernyanyi bersama.
Aku perhatikan lagi di sudut yang berbeda, bagaimana terpancarnya cahaya dari mata Mia yang melihat Dicky sangat bahagia bisa bermain bersama dengan teman-teman yang ada. Aku rasa, ada cinta dalam tatapan tulus mata sayu milik Mia itu. Tidak ada sesal, aku tidak menyesal sama sekali bisa melewati malam ini bersama teman-temanku.

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 9 malam namun suasana kami yang begitu hingar dan riang gembira membuatnya jadi tak masalah. Pukul 11 malam itu dan terlihat teman-temanku mulai kelelahan. Bahkan pak Ardi sudah tidur sejak tadi dengan ‘sleeping bad’ di sampingku. Satu persatu mulai mengeluhkan kantuknya. Dan saat itu juga kami memutuskan untuk mengakhiri malam ini.

Berbaring aku sejenak tanpa menutup mataku. Memandangi langit-langit tenda dan mendengar decitan antar ranting-ranting pinus. Sebentar saja kupenjamkan mataku, ingatanku akan perkataan Anty membuyarkan angan tidurku.
“jangan tidur terlalu lelap ya” katanya tadi sebelum aku masuk ke tendaku.
Aku benar-benar heran dengan wanita itu, sekarang dia jadi begitu berbelit-belit, tidak seperti biasanya. Di waktu sekolah dulu, dia memang wanita yang banyak bicara tapi setiap yang dibicarakan selalu penting dan tidak berbelit. Entah apa yang dia sembunyikan.

Aku ambil handphone dari dalam tasku, sial tidak ada sinyal. Kedua sim ku sama saja, hanya untuk panggilan darurat. Cukup lama aku hanyut dalam lamunanku malam itu lalu tanpa sadar aku terlelap dalam tidur yang cukup nyaman.
Hanya satu jam aku bisa tidur dengan nyenyak setelah suara keributan di luar tenda membangunkanku. Aku segera keluar karena sudah tidak ada seorang pun yang tidur di sampingku. Di luar semuanya sedang panik dan kebingungan dalam suasana gelap. Hanya sisa api unggun kamilah yang menerangi sekitar.

“ada apa?” tanyaku.
“Anty, Dina dan Dicky…” kata seorang temanku bernama Ary.
Tak mampu dia selesaikan kalimatnya saking tegangnya. Dia adalah seorang bocah pramuka yang agak gesit, tapi gerak geriknya kali ini membuatku jadi semakin penasaran.
“ada apa sebenarnya?” tanyaku lagi dengan nada agak keras.
“mereka hilang Deq!” kata Davi.
Aku merasa berhenti bernafas sejenak.
Aku bicara dengan tegas “apa yang kamu maksud dengan hilang?”.
Semua diam. Teman-teman wanitaku yang lain menangis, pak Ardi kebingungan dan cemas.
“aku dan Mamiq akan mencari mereka” kata Ary sambil mengambil dua buah senter dari tas ranselnya.
“tidak, jangan ada yang pergi!” kataku.
Tapi Ary tidak menghiraukanku sedikitpun. Ia dan Haris langsung pergi ke arah terkahir kali Dina dan Anty pergi.
Aku tidak mengerti situasi ini. Kenapa Ary dan Haris mencari ke arah itu. Dan ternyata seperti ini kisahnya.

Semalam, sekitar pukul 12.30. Dina mengeluh ingin buang air kecil. Sehingga Anty dan Hulfah menemaninya keluar. Hulfah membangunkan Dicky yang tidur di luar dekat api unggun menggunakan ‘sleeping bad’ untuk menemani mereka. Namun Dicky menolak. Dia hanya menunjukan arah agar mereka bertiga sampai pada sebuah sungai kecil. “di sana aman” kata Dicky menenangkan lalu kembali tidur. Akhirnya mereka bertiga pergi ke arah yang ditunjukan oleh Dicky.

Sesampainya di sana, Dina turun sendiri ke sungai kecil itu karena menang tidak terlalu rendah dan cahaya bulan sedikit dapat menembus rimbunnya tempat itu. Selang beberapa menit Dina tak kunjung kembali. Anty dan Hulfah meneriaki namanya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Pada saat itulah Anty dan Hulfah turun ke sungai dan ternyata tidak ada seorangpun di sana. Dengan sangat panik mereka mencari Dina di sekitar sungai itu sembari meneriaki namanya. Karena merasa butuh bantuan mereka berdua meninggalkan sungai dan hendak kembali ke perkemahan. Dan sesuatu mengejar mereka, lebih tepatnya mereka berlari seolah sesuatu sedang mengejar mereka. Dan entah bagaimana hanya Hulfah yang kembali dan sampai di perkemahan sedangkan Anty tidak. Lalu Hulfah mencari Dicky. Saat itu Dicky baru keluar dari balik semak-semak di belakang tenda laki-laki yang katanya sudah buang air kecil. Hulfah membangunkan semua orang sedangkan Dicky pergi ke arah sungai untuk mencari Anty dan Dina. Tapi sampai saat ini mereka bertiga belum ada yang kembali.

Jadi begitulah kronologi yang dituturkan Hulfah pada kami semua. Ceritanya membuatku terdiam sesaat. Aku dikejutkan oleh tangan Bayu yang tiba-tiba menggenggam lenganku sangat erat.
“aku sudah bilang, kita tidak seharusnya kemari!” katanya agak menekan lenganku sambil berbisik.
“bukankah tadi kau sangat semangat?” kataku membalasnya.
Dia hanya diam dan menelan ludahnya.
“jadi sekarang bagaimana pak?” tanya Shiva mendesak Pak Ardi.
“ah” jawab Pak Ardi “begini saja, bapak akan keluar hutan dari jalan yang tadi dan menuju pemukiman terdekat untuk mencari bantuan”.
Ide pengecut macam apa itu, pikirku.
“apakah bijaksana jika bapak meninggalkan kami di sini?” kata Bayu pada Pak Ardi.
“lebih tidak bijaksana jika kita menghadapi ini sendiri tanpa bantuan orang banyak Bayu” kata Pak Ardi “dan terlalu beresiko jika bapak menyuruh salah satu dari kalian yang pergi” sambungnya agak gelisah.
“jadi bapak pergi dulu, tunggu saja di sini” kata Pak Ardi lalu segera pergi membawa senter dan jaketnya.

Sudah pukul satu lebih sepuluh menit Haris dan Ary juga tidak kembali. Semua jadi gelisah. Davi menyarankan kita semua mencari mereka. Tapi menurutku itu bukan tindakan yang benar. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan tetap mencari mereka.

Terdengar teriakan di dalam tenda wanita yang mengejutkanku dan teman-teman lainnya.
“itu Shaupa! Kenapa dia?” kata Bayu yang begitu terkejut hingga langsung lari menuju tenda.
“ada apa Shaupa? Kamu kenapa?” tanya Bayu dengan nada agak tinggi yang menunjukan begitu khawatirnya dia.
“patah” kata Shaupa “pensil alisku patah” sambungnya sambil menutup wajahnya lalu menundukan kepalanya dengan sangat kecewa.
“oh tuhan.. Shaupa, kamu membuatku benar-benar terkejut” kata Bayu dengan lembut.

Tiba-tiba Ika pingsan, salah satu teman wanitaku. Lina dan Fitri membawanya masuk ke dalam tenda. Mereka berdua ditemani oleh Shaupa, Mia dan Dian untuk menjaga Ika di dalam tenda. Sedangkan Shiva yang masih shock duduk melamun di depan sisa api unggun kami. Berlinang air mata di pipinya. Hulfah mendekat lalu memeluk Shiva di dekat sisa api unggun kami sambil mengelus kepalanya.
“tunggu di sini sebentar, aku ambilkan air minum” kata Hulfah lembut pada Shiva.
Aku, Bayu dan Davi keluar dari tenda dengan senter dan peralatan masing-masing. Begitu kami hendak pergi menuju arah sungai tempat terakhir kali Dina menghilang, Hulfah menghentikan langkah kami.
“apa kalian melihat Shiva?” tanyanya.
“tidak” jawab Bayu dengan datar.
Hulfah berlari sedikit mendekati sisa api unggun kami.
“tadi dia di sini!” katanya agak cemas.
Kami bertiga mendekat. Kuperhatikan sekitar tempat itu. Dan betapa terkejutnya aku melihat dua buah garis di tanah. Garis yang dihasilkan oleh kaki dalam posisi di seret.
“ini jejaknya” kataku.
Dan semua merespon sama, sangat terkejut.

Situasi sudah sangat berubah sekarang. Perkemahan kami pun sudah tidak aman lagi. Aku menyuruh Hulfah kembali ke tenda wanita dan membekalinya sebuah pisau.
“pegang ini, jangan pernah dilepas apapun yang terjadi” kataku sembari menyuruhnya masuk ke dalam tenda dan melindungi yang lain. Mia tiba-tiba keluar dari tenda menggunakan jaket dan memegang senter
“aku ikut kalian!” katanya “bagaimanapun! Aku akan tetap ikut!” katanya lagi menambahkan.
“baiklah, tidak ada pilihan lain” jawab Davi mengalah.

Kami berempat mulai bergerak. Kami mengikuti jejak yang ada sampai ke rerumputan yang agak gundul sehingga menyamarkan jejaknya. Mulai dari sana kami bertiga hanya menggunakan insting dan beberapa pertanda untuk mencari Shiva.
Sudah cukup jauh kami berjalan, bahkan jam tanganku sudah menunjukan pukul 2.20 dan hutan ini memang sangat gelap. Cahaya bulan yang sedang purnama kala itu tidak mampu menembusnya. Akhirnya kami menemukan sesuatu yang janggal di hutan ini. Beberapa utas tali tambang terikat dengan longgar menggunakan simpul khas anak pramuka di sebuah ranting pohon kecil. Itu bisa saja sebuah tanda jejak untuk kami dan Davi sangat yakin.

“kita ada di jalan yang benar” katanya penuh semangat.
“tunggu dulu Dav” kataku sambil memeriksa tali itu lebih dekat.
Aku menemukan sesuatu. Ada bekas gesekan pada tali itu, semacam bekas gesekan antar tali yang menyebabkan sedikit kusut pada bagian dalam tali tambang itu.
Aku segera mengambil tali yang di bawa oleh Bayu. Kumasukan ujung tali itu pada tali yang terikat di ranting pohon berukuran agak besar itu. Aku kemudian menggulung tali itu di tanganku beberapa kali hingga cukup kuat. Davi dan Bayu menahan ujung tali yang lain untuk menahan berat badanku.
Ada sebuah dataran yang lebih rendah dari tempat kami berdiri, dangkal tapi sangat curam. Itulah yang sedang coba aku turuni dengan tali itu. Ternyata di bawah sana ada sebuah lubang yang tidak terlalu besar.

Saat kuarahkan senterku pada lubang itu “ahhh” teriakku “tarik!” kataku dengan sangat gugup.
Davi dan Bayu segera menarikku kembali ke atas.
“ada apa Deq?” tanya Bayu mendesakku.
Terengah-engah aku mengendalikan nafasku yang tak kunjung bisa normal. Aku shock, tidak bisa aku mengendalikan diriku dengan cepat setelah apa yang aku lihat di dalam lubang itu.
“Deq, ayo katakan! Ada apa?” Davi semakin mendesakku.
“Dina” kalimatkku tertahan “ada Dina di bawah” sambungku.
Mereka berdua terkejut, “benarkah?” seru Bayu.
“mayat” kataku lagi lalu tertahan oleh nafasku.
“katakan dengan jelas Deq!” kata Davi dengan nada yang agak tinggi saat itu “kau melihat mayat atau Dina?” tanya Davi melanjutkan kalimatnya.

Seketika itu suasana jadi hening. Aku, Bayu, dan Davi terdiam, Mia mulai menangis. Sepertinya mereka sudah mulai mengerti apa yang aku lihat di bawah sana. Bayu terdiam, bahkan Davi menjatuhkan badannya dengan lemas lalu duduk di hadapanku dengan tatapan kosong. Mia menangis sejadi-jadinya.
“ini salahku! Ini salahku” katanya disela-sela tangisnya.

Aku bangkit, aku sudah kembali menguasai diriku. Terlintas di benakku wajah teman-temanku yang menghilang. Aku sudah mulai menebak bagaimana ini semua terjadi. Kami mulai bangkit dan kembali ke perkemahan.

Cerpen Karangan: Erdinsyah Mahendra
Facebook: facebook.com/erdinsyah.mahendra.3

Cerpen Missing (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Heartbeast School

Oleh:
Namaku Ariesta Blavenia. Kalian bisa memanggil aku Raista. Aku adalah salah satu siswi di Heartbeast School. Ada banyak hal aneh di sekolahku yang 1 ini. Seluruh siswa dan siswi

Wanita Misterius

Oleh:
Di suatu sore nan cerah terlihat seorang wanita duduk di teras rumahnya sambil membaca buku. Wanita tersebut membaca buku dengan menyamping sehingga ku hanya melihat sebagian dari wajah dan

Misteri Surat Ancaman

Oleh:
Namaku Andika Putra. Teman-temanku biasa memanggilku Dika. Aku bersekolah di salah satu Sekolah Dasar terfavorit di daerahku. Aku duduk di bangku kelas 6, dan beberapa bulan lagi aku akan

Benang Waktu

Oleh:
Hari itu masalah menerpaku layaknya hujan badai. Rasanya banyak sekali kesalahan yang kubuat di sekolah hari itu. Kepalaku pusing layaknya roller coaster dan hatiku serasa diremukkan pada hari itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *