Missing (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 15 September 2017

Pukul 3 tepat saat kami sampai di perkemahan dan suasana di sana sangat hening.
“hulfah..” teriak Davi memanggilnya tapi suara Fitri yang terdengar menyahut dari dalam tenda perempuan.
“di mana Hulfah?” tanya Davi.
“baru saja dia pergi dengan Dicky, katanya dia menemukan Dina dan butuh bantuan untuk menyelamatkannya” jawab Fitri agak khawatir.
“Dina? Deq! Dina selamat!” teriak Mia penuh harap.
“tapi… tapi aku melihatnya …” tertahan suaraku saat Mia kembali memotong perkataanku “tidak! Kamu pasti salah lihat, pasti!”
“jadi ke mana mereka?” tanya Mia penuh antusias.
“Aku tidak tahu, aku hanya melihat mereka keluar tenda” sahut Fitri.
Ika masih belum sadar saat itu, Lina dan Dian sepertinya terlalu letih hingga tertidur.

Selang beberapa menit, Dicky datang dengan sedikit luka tusuk dangkal di perut kirinya.
“tolong…” katanya dengan lemah lalu jatuh di samping sisa api unggun kami.
Mia langsung menghampirinya dengan sangat panik.
“apa yang terjadi? Di mana Hulfah? Dina di mana?” tanya Mia dengan sangat panik sambil memeriksa luka Dicky.
“Deq, dia terluka cukup parah” kata Mia memanggilku.
Aku mulai maju mendekatinya. Aku memeriksa luka di perutnya,
“apa yang terjadi dengan perutmu?” tanyaku dengan tenang.
“seseorang, seseorang menyandera mereka semua” kata Dicky merintih menahan sakitnya.
“aku berhasil lolos dan dapat luka tusukan ini” katanya lagi menjelaskan.
Dicky mengangkat badannya, dia berdiri.
“ayo kita selamatkan yang lain!” katanya sambil menarik kerah bajuku.
“tidak Dicky, kamu harus istirahat dulu” kata Mia agak menahan pundaknya.
Aku sudah memegang kata kunci dari semua masalah ini. Dan kata kunci itu adalah ‘Dicky’.

“Davi, ikut aku!” kataku sambil menarik lengan kanannya.
“ada apa Deq?” tanyanya agak serius.
“dengar!” kataku dengan tegas “aku tidak salah lihat, aku benar-benar melihat mayat Dina di dalam lubang saat aku turun tadi” sambungku.
Davi agak menahan nafas dan menatapku dengan serius.
“Dada kirinya Dav!” kataku agak menekan Davi “ada lubang besar di dada kirinya… seperti… seperti jantungnya telah hilang” sambungku lagi agak berbisik.
Davi mulai melotot mendengar perkataanku tadi. Dia antara percaya dan tidak percaya dengan kalimatku tadi.

“hei Deq! Ayo!” teriak Dicky yang berada di samping Mia.
“baik, tunggu aku” sahutku.
“Davi, ingat baik-baik pesanku barusan” kataku sambil meninggalkan Davi.

Dicky mengajak Bayu bersama kami sedangkan Davi ditugaskan untuk menjaga para wanita di perkemahan.
Aku mulai menelusuri hutan bersama Bayu dan Dicky. Setengah jam kami berjalan lalu Dicky berhenti.

“di sini?” tanyaku pada Dicky.
“tidak” jawabnya “sebentar lagi, apa kau lelah?” katanya lagi.
“kenapa Bayu ikut?” tanyaku.
“apa maksudmu?” tanya Dicky. “tentu saja kita membutuhkan bantuan Bayu” sambungnya sambil tersenyum.
“sudah cukup!” kataku membentaknya. “kau terlalu percaya diri Dicky! sangat jelas kau kalah jumlah di sini” sambungku.
Lalu Dicky membalikan badannya menghadap aku. Dia menatapku dengan tajam, lalu tersenyum.
“jadi kamu sudah tahu ya?” dia tersenyum “itu sebabnya seharusnya kamu tidak ikut kemari, tapi entah bagaimana setelah aku takut-takuti melalui telepon misterius di tengah malam kamu tetap saja datang” sambung Dicky penuh percaya diri dengan senyum tipisnya yang sangat menyeramkan.

Aku mengambil sebuah pisau yang terselip di celanaku lalu melukai lengan kiri Dicky. Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya dan membuat dia rubuh bahkan hampir pingsan. Bayu memukul wajahku dengan sangat keras, serangan yang tidak aku sangka sama sekali.
“Bayu! Apa yang kamu lakukan?” teriakku membentak Bayu.
“maafkan aku Deq” kata Bayu sambil membantu Dicky berdiri.
“aku juga termasuk orang yang ada di balik semua ini” sambungnya.
Aku tersentak dengan pernyataan Bayu.
“apa?” kataku, “Bayu?… Kamu?… tidak mungkin” tubuhku kaku tak percaya dengan kenyataan yang Bayu katakan. “tapi, kamu…” tertahan kalimatku.
“iya, semuanya adalah sandiwara Deq. Aku sebenarnya berteman akrab dengan Dicky. Tapi selama ini kami merahasiakannya” Bayu sedikit bercerita.
“tapi, kenapa?” tanyaku dengan lemah.
“karena aku tidak mau kalian memperlakukanku sama seperti dia. Kalian keterlaluan terhadap Dicky. Tidak seorangpun yang mau bicara padanya, tidak ada yang mau bermain bersamanya. Saat Dicky memberitahuku tentang rencana itu, aku langsung bersedia membantunya” Bayu terdiam sejenak.
Ia seolah menahan gejolak emosinya.
“tapi” sambungnya “tapi tak kusangka akan jadi separah ini. Tak kusangka Dina benar-benar tewas. Dan Dicky yang membunuhnya”
“lihat, sekarang siapa yang kalah jumlah?” kata Dicky sambil menahan skaitnya.

Tiba-tiba Mia dan Davi keluar dari semak-semak dan Mia berteriak “apa yang kamu lakukan Deq?” sambil mendekati kami.
Dengan cepat aku segera mengikat tangan Dicky di belakang punggungnya.
“lepaskan dia!” teriak Mia padaku.
Bayu mencoba membantu Dicky namun dengan cekatan Davi berhasil menghalanginya.
“Mia tolong aku…” rintih Dicky.
“Mia tetaplah di situ” kataku dengan tenang sambil menjulurkan tanganku untuk memintanya berhenti.
“dan Dicky, the game is over!” kataku dengan lantang “kamu mau mengaku sekarang atau aku yang harus menjelaskan semuanya?”.
“Dedeq! Berhenti berlagak seolah kamu itu Sherlock Holmes!” bentak Mia padaku.
Itu pertama kalinya aku dibentak oleh Mia selama aku mengenalnya. Yang aku tahu dia adalah wanita paling lembut yang aku kenal di sekolah. Dan baiklah, mungkin aku memang terlalu berlagak jagoan di sini. Mungkin aku memang mengalami sakit gila nomer 24 karena merasa diriku detektif Sherlock Holmes. Tapi kebenaran yang aku tahu, yang aku genggam saat ini berkaitan dengan nyawa teman-temanku. Tidak akan kulepaskan si Dicky sampai semua temanku kembali.

“baiklah Dicky, kita aku mulai dari awal” kataku memecah keheningan setelah bentakan Mia padaku.
“kau adalah orang paling aneh di kelas dan tidak seorangpun mau berteman denganmu di sekolah, kecuali Mia. Ide untuk berkemah di hutan ini adalah idemu, sepenuhnya adalah idemu. Aku tahu itu dan aku sudah memastikannya melalui Mia” kalimatku sontak membuat Dicky mengangkat kepalanya menghadapku.
“Mia tidak mungkin mengatakannya padamu!” sahut Dicky memberontak.
“dia memang tidak mengatakannya padaku, tapi kemarin malam sebelum kita berangkat ke sini, saat kami selesai membicarakan masalah liburan di hutan ini. Aku menuliskan namamu di secarik kertas yang aku tunjukan pada Mia, dan dia mengangguk. Itu sudah cukup”. Semua terdiam mendengar penuturanku.
“sebelumnya, aku menduga mereka benar-benar hilang karena ada sesuatu di hutan ini. Mungkin semacam makhluk gaib atau pembunuh berantai. Betapa bodohnya aku berfikir seperti itu. Tapi saat pertama kali mendengar cerita Fitri yang mengatakan bahwa kau datang lalu pergi bersama Hulfah untuk menolong Dina. Aku sudah mulai curiga karena kamu pasti berbohong” kalimatku terhenti.
Pertahanan Dicky mulai melemah. Sambil tersenyum dia bertanya “bagaimana kau tahu itu bohong?”
Aku tidak menggubris pertanyaannya.
Aku melanjutkan deduksiku “dan saat kamu kembali sendiri tanpa Hulfah, aku dapat kesempatan memeriksa lukamu. Pola yang ada di sekita lukamu menujukan bahwa luka itu disebabkan oleh pisau pendek yang sangat tajam dan memiliki pola di ujung gagang dekat mata pisaunya. Aku tahu Hulfah yang menusukmu, mungkin dia melakukan sedikit perlawanan dan kamu tidak tahu tentang pisau itu. Tapi aku tahu”.
“bagaimana kamu tahu?” tanya Mia.
“karena aku yang memberikannya” jawabku dengan singkat.
“baiklah” kata Dicky dengan lemah “aku memang penyebab hilangnya mereka semua, tapi deduksimu tentang lukaku sangat keliru”.
Sontak kalimat Dicky membuat Mia terdiam.

“apa? Apa yang kamu katakan Dicky?” tanya Mia yang sangat terkejut.
“kau berbohong! Tidak ada yang keliru dengan deduksiku tadi” kataku dengan penuh percaya diri.
Mia terlihat sangat terpukul. Dijatuhkan badannya sehingga dia berdiri menggunakan kedua lututnya.
“Dicky?!” katanya “aku tidak percaya! Kamu memanfaatkanku!” teriak Mia.
“aku sangat mempercayaimu, dan kamu hanya memanfaatkanku!” kalimat Mia semakin lemah.
“maaf Mia, karena aku telah mengecewakanmu. Kamu tetaplah matahari dalam hidupku” kata Dicky dengan sangat lembut “dan juga, terimakasih telah memuluskan rencanaku” sambungnya dengan sebuah senyuman.
Mia terbaring lemah, ia tak berdaya menghadapi kenyataan pelik yang baru saja dia ketahui. Namun Davi dengan sigap menangkapnya, kini Mia terbaring lemah di pangkuan Davi.

Dicky kembali bertanya padaku “oh Dedeq, kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau tahu aku berbohong pada Hulfah?”.
“karena” jawabku “aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Dina telah tewas di sebuah lubang buatanmu di bawah jurang yang dangkal tapi terjal itu. Tewas mengenaskan dengan lubang besar di dada kirinya seolah jantungnya telah diambil”. “tidak kusangka Dicky, kamu seorang pembunuh berdarah dingin!” tatapanku tajam menembus dadanya.
Namun ada ekspresi aneh di wajah Dicky. Dia seolah kebingungan dengan pernyataanku tadi, berbeda dengan ekspresinya yang sebelumnya.
“kau hanya menggeretak” katanya santai sambil tersenyum.
“aku sama sekali tidak menggeretak” pangkasku.
“dan beritahu aku! Di mana Anty? Apakah dia masih hidup?” bentakku sambil menarik kerah bajunya.
Dicky terdiam, tatapannya kosong.
“tidak mungkin” kalimat yang terucap dari mulutnya setelah ia seperti bersusah payah menelan ludahnya.
“Dina tidak mungkin mati Deq!” katanya lagi dengan ekspresi agak gemetar.
“katakan padaku kau hanya menggeretakku” rengeknya lagi.
“tidak! Dia benar-benar tewas” jawabku “di tanganmu”.
Aku menatap tajam matanya yang hanya beberapa senti di depan mataku.
“oh tidak” katanya “dia kembali, dia kembali” Dicky mulai meracau bak orang gila yang ketakutan dengan bayangannya sendiri.

Terdengar teriakan Pak Ardi dari kegelapan di belakangku. Dia terus berteriak memanggil nama kami. Davi menyahut dengan sangat keras. Dan suara Pak Ardi perlahan semakin mendekat. Ada banyak suara langkah kaki yang kudengar semakin dekat dari arah yang sama.
Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 5 tepat saat Pak Ardi dan beberapa orang warga serta dua orang polisi tiba di tempat kami. Teman-teman wanita yang kami suruh menunggu di perkemahan juga ikut bersama Pak Ardi. Dia terkejut dengan situasi yang ada, dan semkain terkejut saat mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Akhirnya Mia sadar setelah beberapa saat pingsan. Hal pertama yang ia lakukan setelah sadar adalah berdiri lalu berjalan ke arah Dicky. mia menamparnya dengan sangat keras.
“cepat tunjukan di mana teman-temanku! Kamu memang benar-benar sampah” kata Mia sambil menahan tangisnya.
Dicky tetap tidak mau mengaku bahwa ia telah membunuh teman-temanku yang menghilang. Dia bersikeras hanya menyekap mereka di tempat terpisah yang sudah ia siapkan. Dengan tangan terikat, Dicky menuntun kami semua menuju satu persatu tempat dia menyekap.

Kami menemukan Haris yang setengah sadar tergelantung di sebuah pohon dengan hanya sebelah kiri tangan dan kakinya yang terikat ke pohon. Kami berhasil menurunkannya.
Lina menuntun dua orang warga untuk membawa Haris menuju perkemahan. Setelah itu kami menemukan Ary. Dan kali ini giliran Dian yang menuntun dua orang warga untuk membawa Ary ke perkemahan.
“aku ikut” kata Shaupa dengan pelan “aku ingin ikut kembali ke perkemahan” sambungnya.
“baiklah, sebaiknya Fitri dan Mia juga ikut” kata Pak Ardi.
“tidak pak, aku di sini saja” jawab Mia.
Fitri juga demikian, sepertinya dia lebih nyaman ikut bersama kami.

Sekitar 15 menit kami berjalan dan masih dipandu oleh Dicky menuju tempat penyekapan selanjutnya. Dicky terhenti di bawah sebuah pohon beringin besar.
“Di balik semak-semak itu, ada Shiva di sana. Cepat selamatkan dia, dia lelah menangis ketakutan” kata Dicky dengan santai sambil tersenyum.
Seorang polisi maju memeriksa semak-semak itu. Dia berbalik arah menghadap kami. Dengan sangat jelas terlihat saat kami menyinari tubuhnya dengan senter, jarinya menunjukan angka tiga sembari berkata “ada tiga mayat di sini”.
Sontak membuat semua orang terkejut.
Dicky tak kalah terkejutnya, ia langsung bangkit dan memeriksanya sendiri.
“apa yang aku lakukan?… ini bukan perbuatanku… apa yang terjadi di sini?” kata Dicky meracau tak jelas setelah melihat mayat Hulfah, Shiva, dan Dina tertumpuk sangat mengenaskan.
“Deq! Katakan padaku! Apa yang terjadi di sini?” kata Dicky membentakku.
“kau yang katakan pada kami” jawabku dengan tenang.
“aku tidak tahu… apa yang terjadi…” Dicky mulai meracau lagi
“oh iya… aku mengerti” katanya lagi sambil tersenyum seperti orang gila.
“aku mengerti aku mengerti aku mengerti… ke mana saja aku ini? Kenapa aku tidak bisa berfikir jernih” tambahnya semakin membuatnya terlihat gila.
“celakalah kita semua, tidak ada yang akan selamat” Dicky terus meracau tidak jelas.

Aku diam seribu bahasa memikirkan semuanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi di sini.
Davi menegurku “hei, kamu bisa menejelaskannya padaku? Kenapa mayat Dina bisa ada di sini?”.
Aku hanya diam.
“kamu sudah menyadarinya Deq? Ini semua tidak sesederhana seperti yang kamu jelaskan” kata Dicky sambil menatap tajam mataku.
“ada hal lain di hutan ini, bukan hanya kita yang ada di hutan ini!” tegasnya.
“kalian lihat mayat-mayat itu? Aku tidak akan mampu melakukannya. Lihat jantung mereka telah hilang!” kata Dicky agak berteriak.
“lihat aku Deq! Bukannya aku terlalu bersih untuk melakukannya?” kata Dicky membuatku semakin tersudut.

Suasana jadi semakin mencekam karena angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Terdengar suara-suara aneh yang sangat menyeramkan dari decitan-decitan antar ranting pohon pinus yang memadati hutan ini.
“tunggu dulu, kita tidak perlu berfikir yang aneh-aneh” kata Pak Ardi membuatku memandangnya agak tajam.
Lalu Dicky tertawa kecil.
“maksud bapak, semua ini pasti bisa dijelaskan dengan logis. Anty masih menghilang kan sampai saat ini? Dan Dicky bersikeras tidak menculiknya” kata Pak Ardi lagi
“bisa saja dia yang melakukan semua ini” kata Pak Ardi lagi.
“omong kosong!” bentakku.
Lalu Dicky semakin tertawa lebar “memang guru yang bodoh” katanya.
Pak Ardi hanya terdiam.
“lalu apa yang terjadi di sini?” teriak Pak Ardi agak frustasi.
“ayo berfikir Deq! Bukankah kamu bilang melihat mayat Dina di sebuah lubang?” tanya Dicky semakin menekanku.
Aku kaku menjawabnya.
“aku tidak mengerti” kataku dengan sangat pelan dan penuh tanda tanya.
“hanya ada satu tersangka, hanya ada satu yang bisa melakukannya di sini” kata Dicky dengan wajah yang amat menyeramkan.
Kami semua memandangnya dengan tatapan yang sangat serius.
“Silvia… Silvia Devi Kharisma Putri” kata Dicky diteruskan dengan gelegar halilintar yang membuat semua nyali yang ada menciut.
“kalian, para warga kampung Batok. Kalian lebih tahu kisahnya”. “dan iya aku tahu semua ini karena aku juga berasal dari sini” kata Dicky melanjutkan.

Cerpen Karangan: Erdinsyah Mahendra
Facebook: facebook.com/erdinsyah.mahendra.3

Cerpen Missing (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemutar Waktu

Oleh:
Aku menyesal. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMA ini. Rasanya aku ingin sekali kembali ke SMP. Sekali saja waktu setelah UN SMP itu terulang. Aku bisa

Pembantaian 3

Oleh:
Aku merangkak dalam gelap! Ketakutan semakin mencekam di lantai 3 itu, Dimana ruang kosong penuh misteri terhampar disana. Tak ada yang tahu, Mengapa hanya lantai itu yang dikosongkan! “Serius

Kokok Ayam

Oleh:
Malam semakin larut, tapi Aku masih belum tidur. Aku memang mempunyai penyakit susah tidur saat malam, atau yang biasa Kita sebut Insomnia. Aku masih sibuk dengan sebuah jejaring sosial

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *