Misteri Gadis Di Loteng (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Seminggu telah berlalu sejak kepindahan Elizabeth bersama dengan putrinya, Hana, ke rumah baru mereka yang ada di Blackwood. Memang tidak mudah untuk masuk ke dalam komunitas baru. Namun bagi Elizabeth, hal ini adalah hal terbaik yang bisa ia dapatkan setelah keluarganya dipaksa pindah dari rumah mereka yang lama karena suaminya dipindah tugaskan ke kota lain. Kenapa Blackwood? Itulah pertanyaan yang masuk ke dalam pikiran Elizabeth saat suaminya mengusulkan tempat itu. Sejauh apa yang ia ketahui, Blackwood terkenal dengan cerita-cerita misteriusnya. Keangkeran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan supranatural. Memang sedikit aneh bagi Elizabeth, yang dikenal sebagai wanita yang rasional, untuk dapat mempercayai hal-hal seperti itu. Dan John, suaminya pun telah mengatakan padanya bahwa cerita-cerita buruk mengenai Blackwood hanyalah karangan belaka. Tidak ada yang perlu ditakuti.

Menang benar. Semenjak kedatangannya seminggu yang lalu, Elizabeth akui bahwa Blackwood merupakan kota yang tenang dan sama sekali berbeda dengan cerita-cerita seram yang pernah ia dengar. Kota itu memang kecil, namun memberikan banyak kesempatan baginya untuk dapat memulai karir baru. Elizabeth adalah seorang penulis lepas untuk sebuah surat kabar. Dan dalam kurun waktu satu minggu, ia telah mendapatkan kontrak kerja sama dengan sebuah redaksi majalah di Blackwood. Awal yang bagus. Dan pikiran-pikiran buruknya mengenai Blackwood telah hilang sepenuhnya. Ia tinggal di sebuah rumah kecil dua lantai di tepian kota. Sebuah rumah tua, yang ukurannya lebih kecil dari rumahnya yang lama, namun terasa nyaman untuk ditempati. Lokasi rumahnya itu tidak jauh dari kantor majalah di mana ia bekerja, dan tidak jauh pula dari minimarket terdekat. Lokasinya cukup strategis, dan menurutnya tidak ada yang lebih sempurna dari hal-hal itu.

Elizabeth duduk di depan layar komputernya di suatu malam yang dingin di bulan November. Seperti biasa, ia bekerja hingga larut malam. Saat itu jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas. Ia yang sebelumnya fokus pada pekerjaannya tiba-tiba saja harus berhenti saat ia mendengar sebuah suara ganjil yang datang dari arah atas. Lantai dua. Ia mendengar putrinya, Hana, tengah berbicara dengan seseorang. Tapi siapa? Penghuni rumah itu hanya dirinya dan putrinya. John hanya pulang seminggu sekali.

“Hana?” panggil Elziabeth. Tidak ada jawaban yang ia dengar.

Elizabeth kembali fokus pada tulisannya. Namun beberapa detik kemudian, ia harus menghentikan pergerakan jarinya saat ia mendengar lagi suara aneh itu. Kali ini sebuah suara tawa anak kecil. Suara putrinya? Keadaan aneh yang membuatnya penasaran itu memaksanya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergerak naik untuk memeriksa putrinya. Ia bergerak menyusuri lorong remang di lantai dua itu, hingga akhirnya sampai di sebuah pintu terbuka yang ada di sebelah kanan, yaitu kamar putrinya.

“Hana?”

Elizabeth heran dengan putrinya. Malam sudah begitu larut, namun Hana masih bermain dengan satu set peralatan dapur mainannya, dan tengah menyajikan minuman di meja kecil yang ada di tengah.
“Hana, kenapa kau tidak tidur? Ibu kira kau..”
“Dia masih mau bermain denganku.” Jawab gadis kecil berusia lima tahun itu. Sebuah kepolosan muncul di wajah putri kecilnya itu. “Temanmu?” tanya Elizabeth sambil tersenyum. Ia sudah tidak heran lagi dengan hal itu. Tidak aneh rasanya bagi seorang anak kecil memiliki teman khayalan.
“Tapi sudah malam, sayang. Kau harus tidur.” Ucapnya. Hana, dengan berat hati meninggalkan set mainannya itu dan naik ke atas tempat tidur. Elizabeth menarik selimut menutupi tubuh putrinya, dan memberikan kecupan selamat malam.

“Mimpi yang indah.” Ucapnya kemudian. Ia bergerak ke luar dari kamar seraya mematikan lampu. Namun langkahnya terhenti saat Hana memanggilnya kembali.
“Nyalakan lampunya!” ucap gadis itu.
“Dia tidak suka tempat yang gelap.”
“Dia?” Elizabeth mengerutkan keningnya.
Apakah ucapan putrinya itu mengacu pada teman khayalannya itu? Ia kemudian melihat putrinya itu memberikan sebuah anggukan. “Oke.” Ucap Elizabeth. Ia menyalakan lagi lampu kamar itu. “Berjanjilah kau akan tidur setelah ini, oke?”

Elizabeth kembali turun untuk melanjutkan pekerjaan yang ia tinggalkan tadi. Namun keanehan terjadi di depan kedua matanya. Lampu ruang tengah yang sebelumnya menyala kini telah padam. Bagiamana mungkin bisa terjadi? Apakah dirinya yang mematikan lampu sebelum mengarah ke lantai dua tadi? Namun Elizabeth tidak ingat bahwa ia mematikan lampu. Ia kembali menghadap laptopnya setelah menyalakan kembali lampu ruangan itu. Akan tetapi, dahinya kembali berkerut saat menemukan laptopnya dalam keadaan mati. Ia menekan sembarang tombol, untuk menghidupkan kembali layarnya. Mungkin laptopnya hanya masuk dalam modus tidur. Tapi.. Tidak.

Laptopnya tidak mau menyala. Ia tekan tombol power berkali-kali, namun tetap saja komputernya itu tidak mau menyala. Rusak? Mustahil. Elizabeth selalu merawat komputernya itu dengan baik dan selama ini belum pernah mengalami kerusakan. Setelah mencoba berkali-kali namun gagal, akhirnya Elizabeth menyerah. Ia berencana membawa laptopnya itu ke reparasi besok pagi. Elizabeth memutuskan untuk pergi tidur. Namun malam itu tidurnya dipenuhi dengan mimpi buruk. Ia seperti mendengar suara-suara pelan di samping tempat tidurnya, seperti suara bisikan, desis angin, dan suara-suara lain yang memaksanya untuk membuka kedua matanya dalam ketakutan. Apa yang terjadi?

Keadaan kamar begitu tenang. Sepi, gelap, namun tidak ada satu pun keanehan. Elizabeth berkeringat, seperti baru saja berlari. Karena mimpi buruknya itu, yang ia rasa begitu nyata. Pikiran Elizabeth tanpa sadar mulai menghubungkan keanehan-keanehan yang terjadi dalam beberapa jam terakhir. Tingkah putrinya, lalu lampu ruangan yang tiba-tiba padam, lalu laptopnya yang tiba-tiba rusak, lalu suara bisikan itu. Cerita-cerita mengerikan mengenai Blackwood yang pernah ia dengar dari teman-temannya mulai merasuki pikiran Elizabeth. Apakah cerita-cerita itu benar? Elizabeth mencoba untuk menolaknya dan berkata bahwa tidak ada satu pun keanehan yang terjadi pada dirinya selama seminggu terakhir.

Kenapa baru sekarang keanehan itu terjadi? Semakin lama Elizabeth menolak pemikiran supranatural yang masuk ke dalam otaknya, semakin besar pula rasa penasaran yang timbul dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia mencoba untuk tidur lagi, namun matanya itu tidak mau terpejam. Seolah saat ia memejamkan kedua matanya, ia mendengar lagi suara bisikan-bisikan itu. Tubuh Elizabeth tiba-tiba saja membeku saat telinga mendengar dengan jelas suara aneh yang datang dari arah luar kamarnya. Sebuah tawa kecil, terdengar samar. Siapa? Ia yakin bahwa putrinya telah tidur. Apakah ia hanya salah dengar?

Suara tawa itu semakin jelas terdengar saat Elizabeth mencoba untuk mengabaikannya. Elizabeth kini yakin bahwa suara itu nyata terdengar, dan bukan karena imajinasinya. Rasa penasaran yang besar timbul dalam hatinya. Yang membuatnya bangkit dari tempat tidur, mengambil senter yang ada di laci kemudian ke luar dari kamarnya. Elizabeth berdiri selama beberapa detik di dalam kegelapan rumahnya. Selama ini ia tidak pernah menyadari bahwa keadaan rumahnya di malam hari bisa dibilang sedikit menyeramkan. Cahaya remang masuk dari arah luar, melalui jendela-jendela yang ada di ruang tengah. Elizabeth menyorotkan senternya, lalu bergerak pelan menuju tangga yang mengarah ke lantai dua. Ia yakin bahwa suara-suara yang ia dengar mungkin berasal dari kamar putrinya. Apakah putrinya bangun di tengah malam hanya untuk bermain? Aneh.

Ternyata, dugaan Elizabeth salah. Hana masih tertidur di atas tempat tidurnya dengan tenang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu baru saja bermain. Tapi Elizabeth masih bertanya-tanya mengenai suara-suara tawa itu. Elizabeth menghentikan langkahnya seketika saat telinga mendengar hal itu lagi. Suara itu. Suara aneh, tawa kecil dari seorang gadis yang entah tidak diketahui dari mana asalnya. Elizabeth mulai merasakan perasaan aneh merayap di dalam tubuhnya. Perasaan takut, akan hal-hal ganjil yang baru saja ia alami. Cahaya senter yang ia pegang tanpa sengaja mengarah ke bagian ujung koridor, di mana di tempat itu terdapat sebuah pintu yang menghubungkan koridor dengan tangga yang mengarah ke loteng.

Elizabeth merasa bahwa ada sesuatu yang harus ia periksa. Hatinya mengatakan bahwa ada hal yang ganjil dari dalam loteng rumahnya. Keadaan yang gelap, pengap penuh dengan debu menjadi satu-satunya hal yang dapat ia temukan di loteng rumahnya itu. Tumpukan barang-barang bekas terlihat bertumpuk di beberapa tempat. Elizabeth menyorotkan cahaya senternya ke beberapa sudut loteng, namun ia tidak menemukan sesuatu yang ganjil. Tepat saat ia akan turun kembali ke arah koridor, ada sebuah sekelebatan bayangan yang bergerak cepat di antara kardus-kardus bekas. Elizabeth menyadarinya, namun tidak terlalu cepat untuk mengarahkan senternya. Apa yang baru saja ia lihat?

Elizabeth mengurungkan niatnya untuk kembali ke koridor sebelum ia dapat mengetahui dengan pasti apa yang baru saja ia lihat. Mungkin hanya bayangan seekor tikus? Elizabeth bergerak di antara kardus-kardus yang bertumpuk, hingga akhirnya ia menemukan sebuah benda aneh berdiri di ujung lotengnya. Sebuah lemari tua dengan kayu berwarna hitam. Elizabeth bergerak mendekat, namun seketika menghentikan langkahnya saat sebuah guncangan terjadi dari lemari tua itu. Seperti ada sesuatu yang bergerak dari dalamnya. Hanya beberapa detik, lalu keadaan menjadi tenang kembali. Elizabeth merasakan perasaan yang tidak nyaman di perutnya. Perasaan aneh, yang membuatnya merinding tak jelas. Ia bergerak mendekati lemari tua itu, kemudian menggenggam kenopnya, dan mencoba membukanya.

Tidak.

Lemari tua itu tidak bisa terbuka. Terkunci sepenuhnya. Sekuat apa pun Elizabeth menarik kenopnya, pintu lemari itu tetap tak bergeming. Elizabeth menyerah beberapa detik kemudian. Ia rasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, dan ia sama sekali tidak menemukan keanehan di loteng. Akan tetapi, sesaat sebelum ia ke luar dari loteng itu, sebuah suara berkelotak kembali terdengar dari dalam lemari. Elizabeth menunggu selama beberapa detik, kemudian terdengarlah suara itu. Sebuah suara nyaring dari tawa seorang gadis yang dengan jelas terdengar dari dalam lemari itu. Elizabeth merasakan bulu kuduknya berdiri seketika, dan detik berikutnya, ia berlari ke luar dari loteng itu.

Elizabeth masih belum bisa menjelaskan keanehan-keanehan yang terjadi di rumah barunya itu. Lampu yang padam, laptopnya yang rusak seketika, dan juga mengenai tawa gadis yang ia dengar. Elizabeth mencoba mengabaikan suara tawa itu. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin ia hanya berhalusinasi. Tapi mengenai lampu yang tiba-tiba padam, dan laptopnya yang rusak, ia tidak bisa menjelaskannya. Elizabeth telah bertanya pada pengelola perumahan mengenai listrik yang ada di rumahnya. Pengelola itu mengatakan bahwa tidak ada yang tak normal dengan tegangan listrik di rumahnya yang bisa menyebabkan lampu padam dengan sendirinya. Dan kondisi lampu di ruang tengah itu sendiri pun masih dalam keadaan baru. Yang lebih aneh adalah mengenai laptopnya. Ketika Elizabeth membawa laptop kecilnya itu ke reparasi, laptopnya dapat dinyalakan tanpa ada masalah. Tidak ada satu pun kerusakan yang terdeteksi dari laptopnya. Elizabeth mencoba menghubungi suaminya dan mulai menjelaskan segala keanehan yang terjadi.

“Aneh, kan?” ucapnya begitu ia selesai dengan penjelasannya. “Ku rasa ada hubungannya dengan rumah ini. Entahlah. Aku mulai merasakan hal-hal ganjil.”
“Tapi tidak ada masalah sebelumnya, kan?”
“Ya.” Jawab Elizabeth. “Tetap saja.., dan Hana.., dia mulai bertingkah aneh.”
“Kenapa dengannya?”
“Kau tahu bahwa ia sering bermain sendirian bersama dengan teman khayalannya. Tapi ku rasa kali ini berbeda.”
“Aku tidak mengerti.”
“Ku mohon! Pulanglah! Aku mulai merasa takut.”

Bersambung

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: mysteryvault.blogspot.com
Kunjungi mysteryvault.blogspot.com untuk cerita lainnya.

Cerpen Misteri Gadis Di Loteng (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Yang Terjadi?

Oleh:
Aku carlynda, orang-orang memanggilku linda. Aku sedang duduk di bangku SMA kelas 12. Ketika aku berlibur aku ingin mengajak teman SDku dan sahabatku berlibur. Pada saat itu aku mengajak

Kematian Chily

Oleh:
Di luar rumah terdengar suara seorang wanita sedang menangis. Setelah ditengok ternyata tidak ada siapa-siapa. Angin malam berhembus semilir. Membuat bulu kuduk menjadi merinding. Kembali terdengar seorang wanita menangis.

Tumbal

Oleh:
Aku seorang pelajar SMA, aku mengambil jurusan IPS karena aku memang suka ilmu sosial aku juga suka ilmu psikologi. Aku adalah anak dari keluarga yang berbahagia. Sore itu aku

Boneka Misterius

Oleh:
Seperti biasa aku sekolah, apalagi hari ini adalah hari piketku. “Vika, Jangan lupa! Kamu kebagian bersihin gudang sekolah!” kata ketua piket. “Sabar ya, Vika!” kata temanku Talia menghibur. Ketika

Misteri Ruang Bawah Tanah

Oleh:
Hujan deras mengubah suasana menjadi sepi dan membuatku menjadi lapar. Ku berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan, suasana di tempat itu sangat seram sehingga bulu kudukku berdiri. Apalagi rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *