Misteri Gadis Di Loteng (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Elizabeth mengalami kejadian yang sama dalam hari-hari berikutnya. Tawa-tawa itu masih belum juga mau berhenti, dan ia merasa ia bisa gila jika ia terus mendengar suara-suara aneh seperti itu. Kejadian aneh lainnya juga terjadi. Mesin cucinya tiba-tiba berhenti, lalu lampu di dapur tidak dapat dinyalakan, dan masih banyak kejanggalan lain, yang tanpa diduga hilang di hari berikutnya. Mesin cucinya kembali normal, dan lampu di dapur juga tidak mengalami masalah. Saat malam tiba, Elizabeth serasa menjalani sebuah penyiksaan. Suara-suara bisikan di samping tempat tidurnya terus ia dengar. Juga dengan suara berkelotak yang berasal dari loteng itu. Ia baru bisa tidur saat ia memutuskan untuk memakai headphone dan mendengarkan musik dari ponselnya.

John, suaminya, akhirnya pulang saat akhir pekan tiba. Elizabeth pun tak kuasa menahan keinginannya untuk segera menceritakan segala sesuatunya, segala hal yang menurutnya aneh itu pada John. Ia ceritakan mengenai malam pertama saat ia mulai merasa hal ganjil itu, lalu kejadian-kejadian mengenai lampu, laptop, suara-suara di loteng, dan juga bisikan-bisikan yang ia dengar di samping tempat tidurnya. John hanya duduk sambil mendengarkan sederet cerita istrinya itu sambil sesekali mengusap lengan Elizabeth.

“Kau yakin?” tanya John begitu cerita istrinya selesai.
“Kau kira aku berbohong?” Elizabeth sedikit menaikkan nada bicaranya.
“John! Aku.., aku bukan tipe orang yang percaya dengan hal-hal klenik semacam itu. Tapi semua hal ini.., ah! Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.”
“Kau mungkin hanya lelah, Liz. Kau terus bekerja di depan komputer?”
“Tidak ada hubungannya dengan hal itu, oke?” ucap Liz. “Lalu mengenai putri kita, Hana. Mengenai teman khayalannya itu..”

Malam itu John memutuskan untuk melakukan pendekatan pada putrinya, dan mulai bertanya mengenai teman yang selama ini Hana ajak bicara.
“Kau tahu siapa dia?” tanya John sambil memangku Hana.
“Namanya Elizabeth. Dia teman baikku.”
“Namanya seperti nama Ibumu.”
“Ya.” Hana mengangguk. “Tapi dia sedang dalam kesulitan, Ayah. Aku harus membantunya.”
“Kesulitan apa?”
“Dia ingin pulang.” Jawab Hana. “Dia tidak tahu jalan pulang.”
“Di mana dia tinggal?” tanya John lebih lanjut, terus memancing cerita putrinya.
“Aku tidak tahu.” Jawab Hana. “Dia kesepian, dan selalu berada di tempat gelap. Dia meminta tolong padaku.”

John mengernyit. Ia tidak tahu apakah Hana tengah membicarakan teman khayalannya atau teman yang lain. Mustahil bagi Hana untuk mempunyai teman lain mengingat Hana tidak pernah ke luar dari rumah. Namun John juga tidak menganggap apa yang Hana ceritakan adalah kebohongan. Berdasarkan apa yang pernah ia pelajari, anak kecil tidak pernah bisa berbohong. Elizabeth yang duduk di depan suaminya memberikan tatapan bertanya pada John. Apa yang harus mereka lakukan? John hanya mengangkat dua bahunya.

“Mengenai Elizabeth..” ucap John kemudian. “Kapan kau mulai berkenalan dengannya?”
“Sejak kita datang.” Jawab Hana.

Hal-hal yang Hana ucapkan semakin membuat John dan Elizabeth penasaran. Siapa sebenarnya gadis kecil yang mengajak berbicara putri kecilnya ini? Siapa sebenarnya Elizabeth itu? Malam itu Elizabeth memutuskan untuk mengajak putrinya tidur bersama di kamarnya. Ia tidak mau meninggalkan putrinya sendirian berada dekat dengan loteng yang mengerikan itu. Hana sudah tertidur. Namun tidak dengan kedua pasangan suami istri itu. Mereka masih belum selesai membicarakan mengenai keanehan-keanehan yang terjadi di rumah baru mereka.

“Aku sudah bertanya pada pengelola perumahan, dan katanya tidak ada yang salah dengan rumah ini. Rumah ini seharusnya aman.”
“Tapi..” bantah Liz. “Suara-suara itu.., aku terus mendengarnya. Dan mengenai cerita Hana tadi.., mungkin..”
“Kau berpikir terlalu jauh.” Ucap John.
“Tidak mungkin apa yang pernah kau lihat dalam film menjadi kenyataan, kan?”
“Tapi film kadang dibuat berdasarkan kisah nyata.”

John mengusap wajah istrinya, dan meminta agar istrinya tenang. John berjanji bahwa besok pagi ia akan memeriksa loteng itu. Pukul dua dini hari, John harus memaksa kedua matanya untuk terbuka saat ia merasakan guncangan pada lengannya. Ia lihat Liz telah duduk, dengan wajah begitu cemas, penuh dengan ketakutan.

“Liz, apa yang..”
“Suara itu!” bisik Liz. “Kau dengar?”

John mencoba untuk menajamkan pendengarannya. Namun ia sama sekali tidak mendengar apa pun. Yang ada hanyalah keheningan dari suasana malam yang mencekam.
“Kau mungkin bermim..”
“Tidak!” bantah Liz. “Dengar! Itu..”
John tidak mendengar apa pun pada awalnya. Namun beberapa detik kemudian, seluruh otot di tubuhnya menegang. Ia tidak bisa mempercayai apa yang didengar oleh telinganya. Suara itu..

“Oh, tidak.”

Suara itu terdengar pelan, begitu halus, namun begitu jelas. Suara seorang anak kecil yang menyebutkan nama putri mereka, Hana. Suara itu kadang berhenti, kadang timbul lagi. Namun John kini sudah merasa yakin bahwa apa yang didengar oleh istrinya bukanlah bualan atau imajinasi belaka.
“John!” keluh Elizabeth. “Apa yang harus kita lakukan?”
Kedua suami istri itu terlonjak kaget saat sebuah suara berdebum keras terdengar dari arah loteng. Ya. Suara yang begitu jelas mereka dengar.
“Apa itu?”

BRAK!! BUM!!

Suara-suara keras itu terdengar berkali-kali, lalu berhenti. Namun detik berikutnya terdengar kembali. John kali ini yakin bahwa ada yang tidak beres dengan loteng rumahnya itu. “Tidak ada cara lain.” Ucap John seraya turun dari tempat tidur.
“John!” seru Elizabeth dengan penuh kekhawatiran. Ia ikut turun dari tempat tidur, lalu meraih Hana dan menggendongnya.
“Lemari itu.” Ucap John. “Ada yang tidak beres.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Kita akan memeriksanya, Liz. Kali ini, untuk membuktikannya.”

Elizabeth tidak tahu apakah hal itu adalah ide yang bagus untuk dilakukan. Namun ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Ia hanya bisa mengikuti langkah John. John membawa sebuah senter, dan juga sebuah linggis yang sudah ia ambil dari dalam gudang. Dengan gerak perlahan ia mulai berjalan naik ke lantai dua, menyusuri lorong remang itu, kemudian berhenti tepat di depan pintu yang mengarah ke loteng. Suara berdebum itu sudah berhenti sejak beberapa menit yang lalu. John membuka pintu itu dengan perlahan, lalu menyorotkan cahaya senter yang ia pegang ke setiap sudut dari loteng tua berdebu itu. Sama seperti yang Elizabeth lihat pada saat itu, tidak ada yang aneh dengan loteng itu. Namun, detik berikutnya..

BRAK!!!

John secara refleks mengarahkan senternya ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari balik tumpukan kardus, yang kemudian ia lewati, dan berakhir pada sebuah lemari tua berwarna hitam itu. John melihat dengan mata kepalanya sendiri saat lemari itu berguncang. Suara-suara keras terus bermunculan dari dalam lemari tua itu. “John!” seru Elizabeth khawatir dengan apa yang akan dilakukan suaminya. John bergerak maju, menggenggam erat-erat kenop dari pintu lemari, dan menariknya dengan kuat. Usahanya itu sia-sia. Pintu lemari itu terkunci, dan seolah ada sebuah kekuatan jahat yang mencegah pintu itu terbuka. Tapi John, yang ingin membongkar misteri dari lemari itu tidak kekurangan akal. Ia gunakan linggis yang ia pegang, dan menghujamkannya ke pintu lemari.

KRAK!

Sebuah celah terbuka. John kemudian mengerahkan kekuatannya yang lain untuk menjebol pintu lemari itu, hingga akhirnya.. Elizabeth dengan seketika memalingkan wajahnya dan rasa mual mulai mengusik perutnya setelah melihat apa yang ada di dalam lemari tua itu. Bahkan John pun sempat berteriak, lalu mengumpat tiada habisnya. Jasad seorang gadis kecil terlihat telah mengering di bagian dalam lemari tua itu. Sebuah kerangka, yang dibalut dengan sebuah gaun berwarna biru muda, terlihat lebih mengerikan dan menjijikkan dari apa pun. Elizabeth. Mungkin itu adalah nama gadis yang tewas di dalam lemari itu. John dan Elizabeth tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu, dan kenapa jasad gadis itu bisa berada di dalam loteng rumahnya. Yang jelas, cerita dari Hana mengenai Elizabeth yang meminta untuk pulang itu kini menjadi jelas. Mungkin arwah Elziabeth meminta pada Hana agar jasadnya ditemukan, dan dikuburkan dengan benar.

Dua hari telah berlalu sejak John dan Elizabeth menemukan jasad gadis kecil itu. Mereka telah melaporkan penemuan aneh mereka pada pihak kepolisian Blackwood, dan kini masalahnya tengah diurus. Jasad gadis itu pun telah dikuburkan di sebuah pemakaman yang ada di belakang gereja. Lalu bagaimana dengan keluarga itu? Apakah John dan istrinya mau tinggal lebih lama di dalam rumah itu? Jawabannya, tidak. John melirik ke arah spion mobil yang tengah ia kendarai, dan melihat rumah itu semakin menjauh. Ya. Ia memutuskan untuk pindah dari Blackwood setelah apa yang terjadi.

“Dia sudah pulang.” Ucap Hana dengan raut wajah senang. Elizabeth memandang John, dan tersenyum. Ya. Merekalah yang membebaskan arwah gadis itu dari penjaranya. Kini, Elizabeth, gadis kecil itu, dapat beristirahat dengan tenang.
“Semoga rumah baru yang akan kita tempati nanti tidak memberikan mimpi buruk seperti rumah itu.” Ucap Elizabeth. Suaminya itu tersenyum.
“Aku akan memeriksa lotengnya terlebih dahulu.”

John dan Elizabeth tidak akan pernah tahu cerita sebenarnya dari apa yang terjadi pada gadis kecil itu. Mereka sempat mendengar bahwa beberapa tahun yang lalu pernah terjadi sebuah tragedi di rumah yang ia tempati itu, namun mereka mencoba untuk tidak menggali cerita itu lebih dalam. Mereka merasa sudah tenang saat mengetahui bahwa arwah gadis itu bisa terbebas dari penyiksaan dunia ini. Gadis kecil itu, mungkin akan mengucapkan terima kasih pada keluarga itu karena telah membebaskannya. Jika hal itu memungkinkan.

Cerpen Karangan: G. Deandra. W
Blog: mysteryvault.blogspot.com
Kunjungi mysteryvault.blogspot.com untuk cerita lainnya.

Cerpen Misteri Gadis Di Loteng (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia

Oleh:
Hai, Namaku Jeni. Pada malam itu seperti malam biasanya aku berbaring sendirian di kamar sembari mendengarkan musik yang biasa aku putar. Orangtuaku meninggalkan aku sendirian lantaran mereka harus menjenguk

The Based Story of Psychopath

Oleh:
Namaku Aino Nico. Aku baru saja pindah ke Osaka karena pekerjaan orangtuaku yang tidak menetap. Disini aku akan mulai beradaptasi dengan lingkunganku yang baru untuk yang keempat kalinya. “ma..

Kuntilanak Di Rumah Eyang

Oleh:
Halo namaku karin sayidatunnisa, cukup panggil aju karin. Aku senang sekali, hari ini aku akan pergi ke rumah eyangku yang berada di tasik malaya, jawa barat, yang ikut adalah

Rumah Angker

Oleh:
Sore itu, ibu mengajak aku pergi ke pasar untuk membeli sayur untuk makan nanti malam. Sampai di pasar, aku bertemu temanku Roi. “Hai Roi.” Sapaku ketika bertemu dengan Roi.

Sesingkat Pertemuan

Oleh:
Hari ini aku melihat sosok itu lagi, sosok tinggi, tampan dengan kulitnya yang pucat. Wajahnya yang tampak sayu itu pun masih menyisakan sebuah senyum manis yang terlihat dipaksakan. Baju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Misteri Gadis Di Loteng (Part 2)”

  1. Rana Dakka says:

    Nice cerpeennn …
    Top

  2. Elsi Margereta says:

    Keren!

  3. Ardelya Putri Wahyudi says:

    ceritanya bagus!
    i like it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *