Misteri Gelang Kaki (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 November 2016

Kriiinnggg…!!! Bunyi alarm mengejutkanku yang sedang dalam buaian mimpi indah. Dengan gerak lambat dan agak malas, aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Pukul 06.30 aku sudah rapi dan siap berangkat ke sekolah yang tak jauh dari rumah, hanya sekitar 500 meter. Jadi, aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Sesampainya di sekolah, ya sekolahku, SMA Harapan, sudah ramai seperti biasanya. Yang tak biasa adalah mereka mengerumuni papan pengumuman yang ada di depan kantor Kepala Sekolah. karena penasaran aku pun melangkahkan kaki ke arah papan pengumuman. Ternyata akan ada kegiatan Camping yang diperuntukkan bagi siswa kelas XII, yaitu kami.
“Wah, pasti seru”, batinku.

Aku sangat suka camping, karena berkaitan dengan alam. Dari kecil aku paling suka yang namanya jelajah alam, atau sejenisnya. Kesempatan ini tak boleh dilewatkan. Belum sempat aku baca semua isi pengumuman, Toni, sahabatku, memanggilku sambil berjalan menuju arahku dengan kertas di tangannya.
“Wo! Bewo!”, panggilnya.
Aku menyusulnya.
“ada apa Ton?” tanyaku penasaran.
Toni pun menjelaskan maksud dia memamnggilku. Ternyata dia sudah mendapat formulir untuk ikut kegiatan camping yang diadakan di Desa Mamongkara selama 3 hari. Tak lupa Toni mengambil formulir untukku, Yuka dan Oni. Kami bersahabat sejak kecil dan rumah kami pun berdekatan. Di formulir itu dilengkapi dengan pernyataan persetujuan orangtua yang harus ditandatangani orangtua sebagai bukti bahwa orangtua siswa yang ingin bergabung setuju.

Esok harinya saat pengembalian formulir yang sudah diisi kepada panitia penyelenggara Camping. Kami berempat mendapat persetujuan dari orangtua kami masing-masing. Awalnya Ayahku kurang setuju karena beliau pernah mendengar cerita mistis dari Desa Mamongkara. Banyak rumor tentang Desa tersebut. Namun setelah aku bujuk-bujuk, akhirnya Ayah setuju.

Camping tinggal dua hari lagi, jadi dari hari ini harus segera packing-packing agar tidak ada perlengkapan yang tidak dibawa. Dengan bantuan Ibu, semua perlengkapanku telah siap.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami berangkat agak kesorean karena Bus yang kami naiki bannya bocor jadi harus ditambal dulu. Ternyata Desa Mamongkara sangatlah jauh. Sudah magrib, kami belum sampai juga. Kata pak supir, 45 menit lagi akan sampai. Tiba-tiba Bus berhenti mendadak dan kami terhentak di kursi masing-masing bahkan ada yang sampai terjatuh.
“ada apa pak?” tanya bu vita
“anu bu, it itu… itu ada nenek yang nyeberang jalan sembarangan”, jawab pak supir dengan gagap.
Saat dilihat oleh bu Vita, tidak ada siapa-siapa di jalan. Semua keheranan bahkan ada yang mulai pucat wajahnya karena takut.

Perjalanan kami lanjutkan dan soal nenek-nenek tadi, aku masih penasaran. Aku jadi teringat kata-kata Ayah soal cerita mistis di desa ini. Tapi ya sudahlah mungkin itu kebetulan saja.
“gak ada siapa-siapa kok pak. Mungkin bapak salah lihat “,
“gak bu. Saya yakin tadi ada nenek yang menyeberang jalan “,
“tapi buktinya gak ada siapa-siapa kok pak”,
“ya sudah bu, mungkin saya yang salah lihat. Mungkin karena saya kecapan”,
“ya sudah, kita lanjut perjalanannya”,

Sekitar pukul tujuh malam, kami pun tiba di Desa Mamongkara, lebih tepatnya Hutan Mamongkara. Di sana sudah menunggu beberapa penduduk desa. Ada pak Kades dan beberapa penduduk. Mereka datang menyambut kedatangan kami sekaligus memberikan arahan agar tidak merusak hutan sekitar. Namun, ada larangan yang menurut kami aneh. Kami dilarang membawa senjata tajam ke sungai dan anak perempuan dilarang ke sungai. Semua kebingungan dan keheranan, tapi sebagai tamu di desa ini kami harus mentaati peraturan di desa ini. Ketika pak Kades sudah selesai dan pulang, kami pun bubar dan mendirikan tenda kami masing-masing grup dengan bantuan cahaya lampu bus. Setelah selesai kami pun beristirahat sambil bernyanyi mengelilingi api unggun. Lelah bernyanyi kami pun masuk tenda masing-masing dan tidur untuk mengumpulkan tenaga karena besok akan ada kegiatan. Aku satu grup dengan Tono. Ketika hendak tidur, Tono mengatakan hal yang membuat mataku melek.

“ha! serius Ton? Kamu lihat nenek itu?” tanyaku dengan nada yang kutahan agar tak menggangu orang yang sudah tidur.
“iya Wo, serius, aku lihat. Tapi aku takut bilang ke bu Vita atau ke yang lainnya. Nenek itu melotot kepadaku, seakan dia tak suka kita datang kesini Wo”,
“kalo memang benar nenek itu ada, kenapa dia tak suka kita datang ke sini? kita kan Cuma Camping aja. Gak ada maksud mengganggu”,
Kami terdiam lama dan saling menatap. Suara burung Hantu mulai ramai dan dengan gerakan cepat dan serentak kami pun menarik selimut dan tidur.

Aku tercengang melihat sosok yang ada di hadapanku. Memakai baju terusan berwarna putih selutut, wajah pucat seputih kertas, matanya sayu, bibirnya memutih, dan rambutnya panjang tak terurus. Dia menatapku seolah ada yang ingin dia sampaikan. Aku menjauh, namun ia mengikutiku. Aku semakin menjauh dan ia coba memanggilku.
“Wo… Bewo…”, panggilnya dengan suara yang sangat halus.
Aku mempercepat langkahku namun sosok itu selalu ada di belakangku.
“Wo! Bewoo!!”,
Suaranya semakin keras dan aku merasa kalau suara itu semakin dekat bahkan lama-lama aku mengenal suara itu, seperti suara…
“Bewo!!! Bangun udah pagi!!” teriak Toni di telingaku.
Aku terhentak dan langsung bangun. Toni yang ada di depanku telah siap dengan alat mandinya.
“Wo, mandi. Yang lain udah pada ke sungai tu”,
Aku tak menyahut, hanya mengangguk dan mengambil peralatan mandi dan berjalan mengikuti Toni dari belakang.

Jarak tenda ke sungai tak jauh hanya 100 meter saja, namun hutan yang gelap yang dipenuhi pohon yang heterogen dan besar-besar membuat sungai itu tak kelihatan. Aku memandangi sekeliling sambil berjalan. Sekilas mataku menangkap sosok perempuan di balik pepohonan. Saat kulihat kembali sosok itu hilang. Tak mau jauh dari Tono, aku mempercepat langkahku. Sampai di sungai kami langsung mandi. Tak sengaja aku menginjak sesuatu di dasar sungai yang tidak dalam itu. Aku meraihnya dan ternyata sebuah gelang kaki. Gelang kaki yang sangat indah. Mirip rantai ukuran mini yang dipenuhi manik-manik berwarna kuning keemasan. Aku teringat Yuka yang suka dengan aksesoris. Selesai mandi aku menunjukkan gelang kaki itu pada Yuka. Benar saja, Yuka tertarik sekali dengan gelang kaki itu. Lalu, aku berikan saja, toh aku kan laki-laki.

Kegiatan puncak pada Camping hari ini adalah mencari harta karun. Kami dibagi menjadi 5 kelompok, terdiri dari 4 orang setiap kelompok. Aku, Ona, Toni, dan Yuka menjadi satu kelompok. Misinya adalah menemukan Kotak Ungu di dalam hutan dengan peta yang sudah dipegang masing-masing kelompok. Dengan semangat kami menelusuri Hutan mengikuti petunjuk yang sudah disiapkan panitia. Sudah 3 jam kami menelusuri hutan, namun kotak ungu belum kami temukan. Tiba-tiba suara panitia dengan menggunakan alat pembesar suara mengumumkan bahwa kotak ungu sudah ada yang menemukan. Ternyata kami kurang beruntung, tapi kami senang bisa berpetualang di hutan ini. Akhirnya kami putar-balik menuju tenda. Di perjalanan sosok itu membuat aku terkejut lagi. Ekspresi wajahnya berbeda. Kali ini sosok itu seakan marah padaku. Tapi karena aku takut aku alihkan pandangan dan terus berjalan.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Riris Jabat
Facebook: Riris S Sijabat

Cerpen Misteri Gelang Kaki (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tersesat Di Hutan

Oleh:
“Liburan sebentar lagi nih, gak ada niatan buat pergi nih?” Tanya Nanda “Kuy lah ke bogor ke rumah nenek gua mumpung di sono sepi” jawabku. “gua sih mau aja,

Beautiful

Oleh:
Aku sangat membenci wanita yang saat ini juga sedang menatapku, tubuhnya yang gemuk membuatku jijik, belum lagi luka bakar yang ada di sekujur tubuhnya yang sangat mengerikan. Aku sangat

Sudahkah Aku Terbangun

Oleh:
Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan

Misteri Cinta Mautmu

Oleh:
“Selamat bagi kalIan semua yang telah lolos mengikuti tes dan berhasil untuk sekolah di sini. Untuk itu, MOS tahun ajaran 2009/2010 dinyatakan, dibuka!!” Demikian pernyataan yang telah diserukan ketua

Adikku Tumbalnya

Oleh:
Aku mempunyai seorang adik, neira namanya. Aku suka memanggilnya Ira. Sesuai namanya, sifatnya pun sama. Ceria, pintar dan selalu tertawa dalam suasana apapun. Tapi akhir-akhir ini dia berubah, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Misteri Gelang Kaki (Part 1)”

  1. fuu~chan says:

    wah baru hari ini bikinnya ya?
    keren ceritanya, semangat lanjut yaa~

  2. Jennie says:

    ceritanya seru
    ayo terusin ceritanya. semangat yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *